Belum Berakhir

1166 Kata
Berhenti!" Suasana semakin mencekam, derap langkah itu memperparah suasana. "Hei, how are you?" sapa seseorang dari luar lewat kaca mobil. Suaranya terdengar khas. Ia menyeringai, menatap mereka berdua. "Kev ... vin ...." Linza membelalakkan mata sempurna, menatap Kevin yang memakai topi hitam lengkap dengan jas dan dan celana senada. Orang yang melihatnya pasti akan salah kira ia hanyalah lelaki yang akan pergi ke acara resmi atau sekadar berlibur melepas penat. Benar-benar penyamaran yang sempurna. Orang-orang tidak akan tahu jika ia membawa senjata api yang disimpan rapat-rapat. "Kamu kenapa ke sini?" tanya Haris, menatap Kevin yang masih menyeringai menatapnya rendah. "Hei, kawan. Bukankah kita masih punya urusan yang belum terselesaikan?" Kevin kembali menyeringai, menatap raut wajah Linza yang ketakutan. "Senang bertemu denganmu lagi, Linza ...," katanya diiringi gelak tawa merendahkan. "Apa maumu?" Haris melirik Kevin sekejap, kemudian kembali menatap ke depan. Mobil pick up itu mengangkut seorang pria paruh baya yang berbadan kekar. Otot-ototnya terlihat sempurna, seperti atlet tinju kelas dunia. "Diam kamu! Berani-beraninya kamu bertanya seperti itu kepada Tuan Kevin. Sekali lagi kamu bertanya, aku akan memenggal leher—" Kevin mengangkat tangan, mengisyaratkan agar anak buahnya diam, lalu kembali menatap remeh ke arah Haris. "Mari kita selesaikan masalah kita, Ris. Bukankah aku pernah berjanji jika lukaku sudah sembuh aku akan menghabisimu?" Haris tak minat menatap Kevin. Hanya saja, genggaman pelukan erat dari Linza hadir dan merasakannya. Ia tahu, wanitanya sedang mencemaskannya. "Jangan Ris .... Jangan ...," kata Linza tepat di telinga Haris dengan intonasi khawatir. Tangan kanannya dengan cepat memegang kepala Haris, melepaskan pelukan. Membelai rambut Haris, suaranya bergetar, menatap wajah Haris remang berkat bantuan dari cahaya rembulan. "Berjanjilah kepadaku, jangan mengikuti perintah orang gila itu. Kita pergi dari sini." Linza menatap kilatan mata Haris. "Tapi, Za. Jika kita...." "Hei, aku tidak memperbolehkan kalian berbicara! Enak saja malah membuat pertunjukan drama." Haris menatap keadaan luar dari kaca spion. Satu, dua, tiga. Kevin membawa tukang pembunuh jarak dekat bayaran sejumlah tiga, empat jika dengannya. Ia menghela napas pelan. Tetap saja melawan empat orang sekaligus tidaklah mudah. "Oh iya, aku hampir lupa sesuatu ...," katanya memecahkan lamunan Haris. "Keluarlah ... kubawakan dia untukmu. Bukankah sudah lama kamu tidak bertemu dengannya?" Deg! Atmosfer di sekitar mereka semakin menegangkan. Di mobil pick up itu, keluar seseorang dengan memakai pakaian serba merah. "Senang bertemu dengan kalian lagi, Ris, Za," kata seseorang itu dengan suara dan wajah yang tak asing. Haris dan Linza membelalakkan mata sempurna. Aisyah? batin mereka bersamaan. Aisyah memakai kaus atasan merah dan celana merah. Dan yang paling mengejutkan adalah, rambutnya ia biarkan tergerai tak ditutup oleh jilbab sehelai pun. "Ba-bagaimana bi–bisa?" tanya Linza terbata. Kenyataan ini cukup membuat mereka kaget. Setelah Kevin yang berada di sini, sekarang Aisyah yang harusnya ada di penjara. "Ah, Sayang. Kamu tidak tahu, ya? Atau lupa? Harus kuceritakan dari mana?" Kevin berdeham panjang, seolah memikirkan sesuatudia membuat-buatnya. "Setelah pulang dari rumahmu itu, aku mulai belajar tentang ilmu bela diri. Mahal sekali harganya. Aku harus pergi sampai daratan Jepang hanya untuk menguasai beberapa teknik itu. Genap setahun, saat aku telah merampungkan teknik-teknik itu dan menguasainya, aku datang ke bibimu. Bibi Latt, namanya, bukan? Ah, aku lupa ...." "Bi–ibi Latt. Apa yang kamu lakukan!" bentak Linza. Matanya menatap Kevin galak. Jelas-jelas sekali Kevin orang gila yang tersasar di hidupnya. "Aku melakukan apa memangnya? Aku hanya memaksa ia untuk memberikan alamat rumahmu. Dan karena ia menolak, jadi sedikit kuberi pelajaran. Mungkin seperti mematahkan tulang orang tua itu?" Bruk! Haris memukul kaca mobil. Kevin tertawa nyaring. "Hei, bukankah orang tua itu sudah sepantasnya patah tula—" "JAGA UCAPANMU! KAMU BENAR-BENAR GILA!" Haris menatap Kevin yang sedang menertawai dan menyeringai kepadanyaseringai mengejek. "Kemudian, ia memberitahuku. Aku telah menguntit kehidupan kalian beberapa bulan terakhir ini. Hingga kabar Aisyah yang kamu ceraikan dan masuk ke penjara. Aku membebaskannya, lalu mengajak bekerja sama ...." "Oh iya, satu lagi," lanjutnya. "Aku ikut berduka cita atas meninggalnya anakmu." Ia kembali tertawa keras-keras, seperti monster. Tawanya menggelegar, seperti menembus cakrawala malam. Haris geram, meremas tangan kuat-kuat. "Jadi, mari kita bertarung?" Kevin mengangkat satu bahu, membujuk Haris untuk keluar. Haris menatap Linza. Linza menggeleng, air matanya terjun hingga ke pipi. "Jangan ...." Seperti itu mungkin lirihnya dalam hati. "Jika kamu tidak mau, aku akan menembak kalian satu per satu dari depan." Haris kembali menatap Linza, meminta persetujuan. Sayang, seberat apapun itu, Linza tetap tak akan mengubah pendirian itu. Ia tak akan mengizinkan Haris keluar. Itu sangatlah berbahaya. "Satu ...." Sebuah pistol teracung ke arah Linza. Kevin menyeringai. Deg! Badan Linza kaku. Keringat dingin keluar di sekujur tubuhnya. Bibirnya pucat pasi. Benarkah ia akan mati saat ini? Persis dua detik setelahnya, Haris keluar. Ia menatap Kevin yang kemudian menurunkan pistol. "Mari kita menyelesaikan masalah kita terlebih dahulu." "Mari membuat kesepakatan," kata Haris, menatap pistol yang dibawa Kevin. Kevin menatap arah pandang Haris. "Oke aku akan meletakkan ini." Kemudian Kevin meletakkan senjata api itu ke mobilnya. Haris menatap jejak langkah Kevin sekilas. Kemudian kembali lurus ke depan. Dilihatnya pembunuh bayaran itu mengirimkan sebuah tinju. Haris mengelak pukulan tinju itu lalu membalas. Sedangkan di bagian kanan, disambut oleh pembunuh bayaran lain yang mengirim pukulan bertubi-tubi hingga mengenai perut. Sedetik, rasanya isi perut Haris ingin keluar. Ia mengirimkan kembali pukulan ke lawan yang berada di depan. Memlintir lengannya hingga detik berikutnya terkapar tak berdaya. Napasnya memburu, menatap pembunuh bayaran itu. Tangan dan kakinya dengan gesit berpindah-pindah untuk mengirimkan beberapa pukulan untuk melumpuhkan lawan. Lima menit berlalu. Kini tinggallah Kevin. Ia menatap Haris takjub, lalu bertepuk tangan. "Mereka tidak berguna ternyata. Untuk apa aku membayar mereka mahal-mahal. Ah, tetapi, kuakui, kemampuanmu benar-benar mengagumkan ...," kata Kevin sembari mendekati Haris. Tiba-tiba ia mengirim pukulan ke arah Haris. Sasarannya adalah perut. Dengan lincah ia meninju perut Haris. Sayang, sebelum itu terjadi, Haris telah membuat tangkisan yang hebat. Tangannya menangkis gerakan Kevin sehingga menggagalkan rencana Kevin. Kevin mendecih, kemudian putar otak, mencari teknik yang pas untuk melawan Haris. Saat pertanahan yang lemah itulah Haris memukul perut Kevin. Kevin ambruk, napasnya terengah, merasakan ngilu di sekujur tubuh. "Aa!" Tiba-tiba terdengar pekikan dari Linza. Di sana, Aisyah sedang mengacungkan sebilah pisau yang tajam di leher Linza. Bibir Linza pucat pasi, ia menangis tersengal. "LINZA!" Haris membelalakkan mata, menatap Linza yang sedang menangis tersedu. Bagaimanapun juga, ia harus menyelamatkannya. Menyelamatkan istrinya! Terdengar dari arah belakang, Kevin terkekeh pelan. "Benar-benar seperti drama. Aku muak melihat kalian!" Ia mengoceh sembari bangkit. "Aisyah! Apa yang kamu lakukan?" tanya Haris geram. Bagaimana bisa? Ia hampir membunuh Linza dua kali. "Bukankah sudah kukatakan, tidak ada yang boleh memilikimu?" Ia menyeringai, tertawa. Tawanya menggelegar di gelapnya malam, memecah kesunyian yang tercipta. Kevin kembali tertawa, walaupun terbatuk. Haris segera berlari menghampiri Linza. "Jangan mendekat! Kamu mau dia mati, hah?" Linza menggeleng, bibirnya semakin membiru. Inikah takdir matinya? Haris memberhentikan langkah. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ya Allah, aku harus apa? Haris menangis dalam hati. Diam. Senyap. Hingga lima detik berikutnya, suara pistol mengisi keheningan malam itu. Dor! Tubuh Haris oleng, lemah tak berdaya. Sesuatu seperti besi panas telah menembus kulitnya. Kemudian, diikuti tawa pecah dari Kevin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN