Akhir dari Segalanya

1211 Kata
"Kenapa kalian melakukan ini ...," ucap Linza. Sedari tadi ia memekik melihat kondisi Haris yang tak berdaya di tanah, tetapi sia-sia. Apa dengan memekik Haris dapat bangun? Untuk menyelamatkan Haris pun rasanya mustahil. Di depannya, persis di leher, pisau tajam sudah siap menunggu. Linza berdoa, semoga ada keajaiban. Berulang kali ia meminta kepada Allah SWT. melalui hati. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu yang hina ini. Apa yang harus dilakukan? Hanya menatap lelaki yang dicintai terkapar tak berdaya dengan ceceran darah yang mulai merambat ke bajunya? Mengapa begini? Mengapa Allah memberikan cobaan yang bertubi-tubi? Apa salah mereka? Seperti itulah kira-kira batin Linza. Hatinya remuk, jiwanya porak-poranda saat menatap Haris kesakitan dan merintih tak berdaya. Ya Allah, tolonglah kami, lirihnya dalam hati. "Kamu keterlaluan, Vin!" Aisyah menatap Kevin galak. Kevin tertawa kemenangan, lalu mengangkat satu alisnya, seolah bertanya, kenapa? "Perjanjian kita hanya menakut-nakuti mereka, tidak sampai seserius ini, Vin! Kamu benar-benar gila!" Aisyah menatap Haris pilu, lalu mendekati Haris. Bagaimanapun juga, cintanya kepada Haris belum saja padam. Ia akan melakukan apa saja supaya lelaki itu tidak meninggal. "Hei, kamu masih menyukainya?" Kevin mendecih, menganggap Aisyah gadis bodoh, lalu menatap Linza yang matanya memerah. Kemudian mendekati. "Sayang, mari kita pulang ke Ottawa." Plak! Linza menampar Kevin hingga menimbulkan darah di ujung bibir. Kevin menyeringai, menjilat darah itu, kemudian kembali menatap Linza. Tangan kanannya memegang dagu Linza, mencoba menyejajarkan wajahnya dengan Linza. Air mata Linza kembali menetes, mata berkacanya telah bermetamorfosa menjadi rintikan air mata. Gila! Benar-benar gila! Hati Haris hancur lebur, ingin rasanya menyelamatkan Linza, tapi apalah daya? Untuk bergerak pun susah. Ia memukul-mukulkan tangan kanan ke tanah, seolah sedang marah. Lalu, apa tanggapan Kevin? Kevin tambah senang, menatap Haris benar-benar remeh. "Kenapa? Kamu marah? Bisa apa kamu jika keadaanmu seperti itu? Hah? Menyedihkan!" Kevin meludah tepat di depan muka Haris. Hati Linza teriris, rintikan air mata itu semakin deras. Haris ..., lirih Linza dalam hati. "Hetikan ini, Vin! Kamu benar-benar gi—" Dor! Aisyah tumbang, peluru itu tepat mengenai jantungnya. Ia langsung tewas di tempat, diikuti jeritan histeris dari Linza. Haris kembali memukul-mukul tanah. Dan kembali disambut gelak tawa dari Kevin. Selalu saja menganggap ini lelucon. Peristiwa ngeri macam apa ini? "Wah, benar-benar lemah. Seharusnya orang-orang lemah seperti mereka tidak usah dibiarkan hidup. Menambah populasi saja, cih!" Ia kembali mendecih, meludah tepat di depan Haris. Hati Linza kembali hancur lebur. Siapa yang akan sanggup melihat seseorang yang dicintai sedang dilucuti martabat, diinjak-injak harga diri dengan peristiwa pengkhianatan seperti ini? Maafkan aku, Za .... Mata Haris mulai meredup, bagaimanapun juga, ia sudah termasuk hebat karena telah berhasil bertahan dalam serangan pistol selama itu. Dua detik berikutnya, mata Haris tertutup. Sebelum benar-benar ia memejamkan mata, sebuah sirine mobil polisi memenuhi gendang telinganya. "Haris ...!" Mata itu terpejam. *** Suasana rumah sakit seperti biasa. Ramai ketika masuk jam-jamnya kunjungan. Seorang lelaki terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang dorong. Suster-suster yang bertugas dengan cekatan mendorongnya menuju ruang ICU. Linza menatap pilu dari luar. beberapa alat dicobakan kepada Haris. Suster-suster datang ke ruang itu satu-dua. Dilihat dari luar, wajah-wajah mereka cemas. Serius menatap luka Haris. Hancur. Aku hancur, Ris! Linza menangis dalam hati, menatap Haris dari jarak kurang lebih sepuluh meter dengan keadaan seperti itu sudah cukup menghujam d**a. Setiap dua menit, dokter itu menyeka keringat di dahi, kemudian menyuruh seorang suster untuk menutup tirai pintu. Tirai pintu ditutup. Mata Linza berkaca, ia menangis tersedu di depan ruang ICU. Siapa peduli orang yang akan melihatnya? Biarkan mereka melihat Linza menangis seperti ini. Agar mereka tahu bagaimana isi hati yang tak mampu dideskripsikan lewat kata-kata. Jangan tinggalkan aku. Aku masih membutuhkanmu, kumohon. Linza bersender di tembok. Hatinya pilu, sesak rasanya. Ingin menangis sekeras-kerasnya. Di samping Linza ada Rizal. Rizallah yang menelepon pihak polisi saat itu. Untung restoran Rizal dekat dengan lokasi. Tiba-tiba dari arah kanan, umi, abi, dan Zahra datang. Umi menjerit histeris, beberapa kali pingsan. Abi mencoba menenangkan umi, walaupun dalam hatinya juga ikut menangis. Zahra mencoba menguatkan Linza yang banjir akan air mata. Hatinya ikut menangis, menatap tiap beberapa menit umi memasang wajah frustrasi. Tiap beberapa menit, Linza memasang wajah pucat pasi. Abi mengacak rambut frustrasi. Gundah gulana menerpa hati. Nanti anaknya jika kenapa-napa bagaimana? Cemas menyelinap di hati. Pandangan Linza kosong menatap keramik. Jiwanya hampa. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Matanya kembali berkaca. Ya Allah, kuatkanlah hamba-Mu ini, Ya Allah ... Setelah menunggu beberapa jam, sekitar pukul 3 dini hari, pintu itu terbuka, menyembullah seorang dokter bersama perawat lainnya. "Bagaimana, Dokter?" tanya Linza menyambar. Dua detik legang. Dada mereka berdebar tak karuan. "Selamat, Tuan Haris masih bisa diselamatkan." Dokter itu tersenyum. Embusan napas lega terdengar dari mereka. Umi mengelus d**a. Suasana di sekitar mereka mengharu biru. "Tetapi ada sesuatu," katanya sebelum benar-benar pergi. "Maafkan kami, kaki Tuan Haris terpaksa kami amputasi karena peluru mengenai betis sampai di tulang kering." Dokter itu akhirnya pergi. Deg! Mereka yang semula mengharu biru sekarang kembali sesak. Seperti terbang ke angkasa lalu jatuh ke dasar samudera. Sakit. Seorang suster keluar, menatap mereka sembari tersenyum. "Bolehkah kita masuk, Suster?" Ia mengangguk, lalu mempersilakan masuk dengan catatan tidak boleh dari satu orang, agar tidak mengganggu ketenangan pasien. Mereka semua saling tatap. Siapa dulu yang akan ke sana? Linza, istri Haris Abi, yang menyekolahkan Zahra, adik tercinta Ataukah, umi? Wanita yang paling dicinta Haris, yang selalu merawat Haris? Dua menit legang. Mereka kalut dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Siapa yang akan didahulukan? Linza kembali mengembuskan napas pelan. Tiba-tiba lirihan umi sampai di telinganya. "Za ...." Linza menoleh, menatap mata umi sayu. "Haris pasti merindukanmu ... bergegaslah ke sana." Linza kembali menatap mata tua nan sayu itu, mengangguk. Apakah ia yang akan memberitahukannya? Dengan lincah ia menggiring badan masuk ke ruang ICU Ia menatap Haris yang lemah. Pandangannya berkunang-kunang. "Ris ...," ucap Linza. Haris menoleh, menatap istrinya beruraian air mata. Haris tersenyum, mengulurkan tangan untuk menyeka air mata Linza. "Aku suka kamu menangis karena mengkhawatirkanku." Ia terkekeh lemah. Linza cemberut, memajukan bibir beberapa senti, menatap Haris marah. "Kamu jahat!" Kali ini lelaki itu tertawa pelan, menatap Linza yang marah kepadanya. Kapan terakhir kali wanita itu marah kepadanya? "Kamu baru saja mengalami kejadian yang dapat meregang nyawa, kenapa malah tersenyum? Menyebalkan!" Linza melipat kedua tangan ke d**a, memasang wajah bete kuadrat. Bagaimana ia akan mengatakan itu kepada Haris? "Aku bersyukur karena Allah masih menyelamatkanku." Haris tersenyum lembut. Linza menunduk. Mulai dari mana ia akan mengatakan itu kepada Haris? "Maafkan aku," lirih Haris sembari mengusap jilbab Linza lembut. Linza mendongak. "Maafkan aku karena aku sudah tidak bisa melindungimu." Haris menatap kaki kirinya, Linza menunduk. "Aku sudah memperkirakan ini sejak aku ditembak oleh Kevin. Tidak usah berusaha memberi tahuku seperti itu." Linza kembali menunduk. Linza benar. Haris adalah lelaki hebat yang pandai akan semua ilmu. Bahkan kedokteran. Tak terasa air mata wanita itu jatuh. Pelupuknya basah. "Jangan menangis, aku akan berusaha melindungimu semampuku. Yang terpenting, Allah telah memberikan suatu kenikmatan hidup untuk melihatmu dan dunia pun aku sudah cukup." Hampir-hampir saja semalam Haris kehilangan banyak darah karena penanganan yang lambat. "Maafkan aku." Linza menangis. Haris memeluk Linza, membiarkan wanita itu menangis di pelukannya. "Tidak ada yang perlu disesali. Ini sudah takdir bagiku." Haris mengelus dahi Linza lalu mencium kening lembut. "Aku mencintaimu, Ris." "Aku juga mencintaimu, Za."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN