Tanah sudah seperti lautan. Penuh dengan air yang berada di mana-mana. Keadaan masih bergeming di antara mereka berdua. "Ris?" Perkataan Linza akhirnya membuat senyap itu berakhir. Mata indahnya melihat bola mata suaminya yang teduh. Dia tersenyum manis, padahal hatinya sangat terpukul. "Maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu." Di ujung ranjang Linza mendekat, tangannya meraih wajah Haris yang menyimpan seribu kebahagiaan yang palsu. Dia mendekatkan kepalanya tepat di depan Haris. Mata kedua insan yang atas izin Allah telah berumah tangga itu bertemu. Sedih. Senang. Khawatir. Cemas. Mereka telah melaluinya. Asam garam kehidupan sudah mereka lewati, tetapi Linza tahu jika hati Haris belum bisa merelakan semuanya. Wajar, bukan? "Ris...." Lirihnya. Matanya berkaca

