Pilu

891 Kata
Sore menyeret Sang Matahari. Bersamaan dengan senja yang semakin terlihat jingganya sejauh mata memandang. Seseorang duduk di samping ranjang sembari tersenyum bahagia, mengelus perutnya yang masih rata. Angannya menerobos ruang khayalan. Mengandai-andai bisa menatap wajah buah hatinya kelak. Seseorang lain datang menghampirinya. "Apa yang kamu lakukan di situ?" Ia menatap manik mata istrinya itu, lalu beralih ke bawah, melihat istrinya yang asyik mengelus perutnya. Ia tersenyum, lalu duduk berjongkok di depannya. "Assalamualaikum, anak abi. Baik-baik ya di sana," kata Haris sambil mengelus perut Linza penuh sayang. Linza tersenyum, mengingat kejadian semalam, saat ia dilarikan ke rumah sakit dan mendapati kabar bahagia bahwa ia akan mempunyai buah hati. "Kamu jangan kerja yang berat-berat dulu, ya?" Linza mengangguk, tersenyum kepada Haris. Haris mengelus jilbab tosca Linza, lalu mengecup dahinya. "Kamu harus makan, aku sudah mengambilkan makanan untukmu." Haris menunjuk nakas. Linza manyun, "aku tidak lapar, Ris." Haris menggeleng, duduk di samping ranjang, tepat di depan Linza, lalu merangkup pipi mungil Linza. "Kamu tidak lapar, tetapi anak kita lapar." Haris tersenyum lembut. Haris dengan cekatan membawakan makanan itu ke arah Linza, lalu menyuapinya. Awalnya Linza menolak, tetapi karena Haris mengancam akan kembali ke Kanada dan meninggalkannya sendiri di sini, akhirnya ia urungkan usaha berontaknya. Haris dengan sayang menyuapi istrinya itu. Sekali-kali ia menyodorkan s**u kepada Linza. "Tidak enak susunya." Linza menahan mual. Hampir saja Haris ingin berbicara, sudah dipotong Linza. "Ingin mengatakan jika anak kita yang membutuhkan?" Linza mendengkus. Haris tersenyum, menatap isrinya yang sedang memajukan bibir. Cup! Haris refleks menciumnya. Semburat rona warna merah menerpa pipi Linza hingga seperti kepiting rebus. "Minum, Sayang. Kasihan bayi kita. Nanti kalau kamu tidak minum ini, sama saja kamu menyiksa anak kita. Dia butuh asupan gizi yang lebih banyak dari apa yang kamu makan. Kita tidak mau kan terjadi apa-apa dengannya?" "Tapi, kan masih dua bulan." Linza berontak, merasa mual saat mencium aroma khas s**u untuk ibu-ibu hamil. "Mau seberapa kecil umur anak kita sekarang ini, dia masih punya hak untuk hidup, Sayang. Nggak kasihan sama debay-nya nanti?" Haris menyipitkan ke dua matanya. Lalu menggeleng gusar. "Iya, iya. Ini aku minum." Linza malas berdebat dengan Haris. Haris tersenyum lembut. "Umi mana?" Haris menunjuk ke arah dapur. Linza bergegas menuruni anak tangga menuju dapur. "Umi, biar Linza bantu." Linza datang menghampiri uminya itu yang sedang sibuk memasak. "Nduk Sayang, wis, ndak usah wae. Kamu ki pasti capek nanti, mesakke janinmu nanti kelelahan." Umi tersenyum lembut, menatap perut Linza. Beliau adalah salah satu orang yang paling bahagia dengan kabar semalam. Bahkan Ummi sampai mengadakan syukuran berskala kecil-kecilan. "Mau makan apa, kamu, Nduk?" tanya umi sambil masih sibuk dengan panci gorengnya. Linza berdeham panjang, memikirkan apa yang ia inginkan saat ini. Setelah tidak menemukan apa yang ia inginkan, ia menggeleng. "Umi jadi tidak mengundang tetangga ke sini?" Abi datang dari ruang tamu menghampiri Ummi yang sedang memasak. Ummi mengangguk pasti, "ya sudah jelas, tho, Bi. Orang kabar bahagia gini kok, kita mau punya cucu kok, nggak diundang." Abi hanya mengangguk, lalu pergi lagi. Begitulah umi Haris, yang selalu saja meribetkan segala urusan. Belum apa-apa saja sudah syukuran. Seperti dulu saat ia belum melamar Linza, kata Zahra, umi sudah epyek mengundang tetangga-tetangga untuk diajak pengajian kecil-kecilan. Haris ingin tertawa rasanya saat mengingat itu. Terdengar suara salam melengking dari depan. Zahra yang baru pulang dari kuliahnya, buru-buru meletakkan tas dan menghampiri Linza. Haris yang menatap mereka dari kejauhan hanya bisa geleng-geleng kepala. Biasanya kalau mereka berdua kumpul, dan ditambah uminya, pasti akan bahas sesuatu yang tidak penting. Seperti bagaimana alur cerita drama Korea yang semalam dilihat, berapa harga kaos kaki sepasang, hingga berapa harga ayam potong bagian sayapnya saja. Mungkin memang wanita seperti itu, suka mendiskusikan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Ia hanya mengelus d**a saat beberapa kali melihat uminya berkata, "Harga lombok saiki larang, sekali. Umi kemaren ke pasar lihat cabai merah yang kecil-kecil itu harganya sekilo dua pulih ribu rupiah." Linza dan Zahra mendengar cerita uminya itu antusias, kadang ditambah oleh Zahra, pun Linza juga. Haris hanya menggeleng saat tak sengaja mendengar percakapan mereka bertiga. Namun, ini berbeda. Raut wajah Zahra terlihat sangat cemas. Ia menghampiri Linza yang terduduk di meja makan dengan terburu-buru. "Kakak, Kak Azizah.' Linza menatap Zahra heran, apalagi ketika ia mendengar kata Zahra yang menggantung. Batinnya berkecamuk rasa yang tidak-tidak kepada sahabatnya itu. Ia menunggu jawaban dari Zahra, tetapi Zahra masih saja belum mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia menatap wajah Zahra yang sepertinya ragu untuk mengungkapkan sesuatu. "Zahra, Azizah kenapa?" katanya halus. Ia mencoba menetralisir kecemasan yang kecamuk di dadanya itu. Ia yakin pasti sahabatnya itu tidak apa-apa, walaupun hatinya bertolak belakang. "Kak Azizah ." Zahra menunduk. "Dia kenapa?" tanyanya sekali lagi. "Dia telah tiada, Kak," kata Zahra sambil masih menunduk. Deg! Hati Linza seperti berhenti berdetak, siklus nadinya berhenti mengangkut darahnya. Waktu seakan berhenti bagi Linza. Kakinya seperti ingin roboh. Hatinya seperti terhujam beribu pedang, campur aduk. Pelupuk matanya masih memutar memori beberapa kenangan saat bersama dengannya. Hatinya sakit tatkala sesungging senyum simpul Azizah terputar di otaknya. Setetes air mata jatuh di pipinya. Ya Allah, Engkau telah mengambil orang-orang yang aku sayangi lagi, lirihnya dalam hati. Tiba-tiba kepalanya pusing, kakinya seperti ingin roboh. Badannya oleng. Sebelum ia mendengar teriakan gadis, dan suara laki-laki yang memanggil namanya. Setelah itu, ia tak ingat apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN