Kembali ke Kampung Halaman

1295 Kata
Suara desingan pesawat terbang yang hendak melandas menemani keindahan sunset yang terpancar dari ketinggian dua meter. Linza mengembuskan napas kasar. Menatap keindahan ini bukan berarti ia melupakan kejadian tahun lalu. Tempat di mana ia mulai kehilangan separuh hatinya. Tempat di mana ia menyandarkan kepalanya di bahu Margareth. Apakah dia setuju jika Haris menjadi suaminya? Batinnya terus bertanya-tanya. Tiba-tiba seseorang membuyarkan lamunannya. "Tidak baik melamun." Linza mengangguk sebagai jawaban. Pandangan Linza kosong saat melewati koridor bandara. Batinnya masih terngiang kejadian pahit yang dialaminya di sini.  Tentang mommy, tentang Bibi Margareth, tentang daddy. Semua ingatan pahit itu berputar di otak Linza layaknya sebuah film. "Sayang." Haris merangkul bahu istrinya itu. Linza menoleh. "Aku boleh meminta sesuatu?" Linza menaikkan satu alisnya, seolah bertanya apa. Belum sempat Haris menjawab, sudah terpotong oleh Zul dan Rizal yang berdehem bersama. "Pengantin baru, panggilnya sayang-sayangan." Haris nyengir kuda. "Sudah kukatakan, kalian segeralah menikah." Linza tertawa. Perbincangan mereka selesai saat sampai di terminal bus. Zul dan Rizal menuju arah yang bersamaan. Sedangkan Haris dan Linza menunggu mobil jemputan. "Apa yang kamu lamunkan sedari tadi, Sayang?" "Tidak ada." Linza berbohong. "Kamu, tadi ingin sesuatu apa?" Linza menengok Haris, semburat merah menerpa pipi Haris. "Tidak jadi." Dua kalimat yang terlontar dari bibir Haris. Linza memutar bola matanya jengah. Dikerjain lagi. Setelah lama menunggu, akhirnya sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Sepasang suami-istri datang menghampiri mereka. "Assalamualaikum, wah menantu umi." Umi Haris memeluk Linza, Linza tersenyum kikuk. "Kok kamu tambah kurus begini?" lanjutnya setelah menyadari dan meneliti tubuh Linza. Linza tertawa, Ummi Haris mendelik ke arah Haris. "Bagaimana sih kamu, ini istri kamu kayak kurang gizi." Haris melengos. "Harusnya yang gimana itu Umi, yang disambut duluan harusnya Haris, bukan Linza. Anaknya Umi sebenarnya Haris, atau Linza?" "Terserah umi dong. Ya, Nduk cantik," katanya sambil merangkup pipi mungil Linza. Linza lalu tersenyum dan menatap Haris yang cemberut, mungkin cemburu. "Sudah, sudah . Mau Magrib ini. Cepat, masuk mobil." Abi Haris menengahi, mereka lalu masuk ke dalam mobil. Mobil melejit sempurna di antara hiruk-pikuk Yogjakarta. "Kapan Ris, kamu buatin umi cucu?" Rangkaian kata yang membuat Linza dan Haris memiliki rona merah di pipi mereka. Linza tersenyum kikuk, salah tingkah, sedangkan Haris, pura-pura menatap ke luar jendela, seraya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Melihat kedua manusia itu berlaku aneh, umi dan Abi Haris tertawa. "Mbok yo ojo kesusu, Mi. Semua Allah yang ngatur." "Umi capek, Bi. Belum ada cucu. Memangnya Abi nggak pengen rumah kita rame?" Abi Haris terkekeh. Lalu menatap Haris dari kaca. "Bagaimana dengan pekerjaanmu di sana, Ris?" "Haris sudah minta cuti Bi. Sekitar dua bulanan di sini, Alhamdulillah pimpinan Haris orangnya baik." Abi Haris manggut-manggut. *** "Umi." Haris menatap lembut Linza yang sedang mencopot jilbab. Linza menatap Haris heran. "Umi?" Haris mengangguk senang. "Umi dari anak-anakku kelak." Haris cengengesan.  Linza mencubit hidung Haris. "Iya, Abi ." Linza mengedip-kedipkan matanya, menggoda Haris. Linza memajukan tubuhnya, ingin memeluk Haris, tetapi Haris lebih dulu menghindar. Linza manyun, memajukan bibirnya beberapa senti. "Ayo makan malam." Linza diam. "Jadi ceritanya ngambek nih, terus bibirnya dimajuin. Eh bibirnya minta dicium ya? Sini." Linza refleks menolak saat Haris menghampirinya. Walaupun ia ingin, tetapi lebih baik ia menolak. Harga diri, kan? Ia tak ingin merendahkan harga dirinya sebagai wanita. "Hem, baiklah sepertinya kamu tidak mau," kata Haris saat melihat reaksi Linza, lalu dia berjalan ke luar kamar. "Nggak peka ! Kapan dia peka?" katanya pelan. Ia memasang wajah bete kuadrat. Tangannya ia lipat di d**a. Tanpa dia sadari, Haris menguping dari balik pintu sembari cengar-cengir. Ia tahu bahwa istrinya itu malu-malu kucingDengan pedenya dia kembali menuju kamar dan langsung mengecup dahi Linza penuh sayang. "Ayo makan malam, di bawah makanannya sudah disiapkan oleh ummi." Haris keluar dari kamar dan Linza mengekorinya. Langkahnya ia coba sejajarkan dengan Haris yang langkahnya panjang. Berkali-kali ia berjalan cepat hanya untuk menyejajarkan langkahnya dengan Haris.  Haris yang menyadari akan hal itu tersenyum, memperlambat langkahnya, menunggu Sang istri berada di sampingnya. Saat Linza sudah berada di sampingnya, ia langsung merangkulnya menuruni anak tangga. Linza terkejut tatkala Haris melakukan itu. Sepanjang anak tangga ia mengomel kepadanya tak jelas, yang disambut tawa gemas dari Haris. Menurutnya istrinya itu sangat lucu. Omelan Linza berhenti ketika melihat ibu mertuanya masih pontang-panting membawa beberapa makanan menuju meja makan. Linza tersenyum, dengan sigap ia membantu mertuanya itu. Haris memilih duduk di meja makan, membiarkan istrinya itu membantu umi. "Umi, ada yang bisa Linza bantu?" katanya menawarkan diri sambil tersenyum manis kepada mertuanya itu. Ia dapat melihat dari guratan matanya. Bersimbolkan lelah yang tiada tara kala itu. Tangannya yang sudah mulai keriput dengan telaten membawa piring-piring yang sudah terisikan makanan lezat. "Tidak usah, Za. Kamu habis perjalanan pasti capek, duduk saja sana sama Haris. Sama Abi juga sana," katanya sambil menunjuk Abi Haris yang duduk di meja makan, sedang meminum kopi di samping Haris. Lalu kembali ke dapur sambil menyeka keringatnya di pelipis. "Tidak apa Umi," kata Linza sedikit memaksa. Ummi mengangguk tersenyum. "Ini ada semur jengkol kesukaan Haris, letakkan saja di tempat yang kiranya masih ada." Linza mengangguk, membawa serantang semur jengkol kesukaan Haris. Haris menatap penuh minat rantang putih yang dipenuhi dengan jengkol itu. Tak disadarinya ia meneguk lidahnya saat mencium aromanya. "Umi kalau masak pasti enak. Dari baunya saja sudah pasti ketebak," ujar Haris sambil masih belum berhenti menatap rantang yang tersungkur di depan Abinya itu. Ia mengelus perutnya yang keroncongan minta diisi. Abi yang mengetahui itu langsung terkekeh. "Bilang saja kamu itu rindu tho sama masakan umimu itu? Seenak-enaknya makanan luar negeri, masih enakan makanan dalam negeri, Ris. Apalagi jika umimu yang masak, beehh," katanya sambil mengacungkan jempol. Umi yang masih berada di dapur tertawa renyah. "Bisa saja abimu itu Ris." Linza dan Haris ikut tertawa kecil. Mereka masih saja romantis walau umur mereka semakin bertambah, dan usia mereka semakin berkurang. Terbesit dalam hati Linza, jika suatu saat ia dan Haris akan tetap seperti ini walaupun sampai mereka tua. Mereka tetap akan mempertahankan bahtera rumah tangga yang sudah mereka rajut selama ini. Setelah semua menu makanan tertata rapi di atas meja, mereka akhirnya memulai makan malam. Haris langsung menyambar menu kesukaannya setelah diambil oleh abinya. Memang prinsipnya seperti itu, dahulukan orang tua, baru kita. Linza yang melihat tingkah laku Haris tertawa geli. "Echo sanget niki, Mi," kata Haris sambil masih memasukkan beberapa potong jengkol ke dalam mulutnya dengan lahap. Umi Haris tersenyum. "Kalau makan itu jangan sama bicara, Haris. Tidak sopan." Haris cengengesan, memperlihatkan deretan gigi-giginya. Benar kata Haris, Linza juga dengan lahap memakan bandeng goreng yang dimasak umi. Entah itu benar atau tidak firasatnya mengatakan selera makannya kali ini tinggi. Masakan umi enak, mungkin itu yang membuat selera makannya membaik. Obrolan mereka hangat, kadang-kadang diselingi oleh lelucon. Apalagi saat Zahra bergabung, dia pulang dari kuliah sore, membuat suasana keluarga itu semakin harmonis. Tiba-tiba Linza merasakan ada sensasi mual di perutnya. Suhu badannya meningkat. Wajahnya pucat pasi. Ia memakai tangan kanannya untuk menutup mulutnya, lalu pamit menuju kamar mandi. Mereka berempat yang tadi tertawa dengan hangat mendadak wajahnya melukiskan rasa kekhawatiran terhadap tingkah Linza. Terlebih Haris. Ia segera menyusul Linza menuju kamar mandi. "Kamu tidak apa-apa? Apa yang sakit?" tanyanya dengan suara khawatir saat melihat Linza mual-mual. Linza menggeleng lemah, ia menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan rasa mual yang ada di perutnya. "Dia kenapa, Ris?" tanya umi yang menghampiri mereka. Umi Haris juga terlihat cemas dengan keadaan Linza. Haris menggeleng, lalu berulang kali menatap Linza yang berusaha memuntahkan apa yang ingin keluar. Tapi nihil, sia-sia. "Kamu bawa dia ke dokter!" ummi memerintah dengan nada cemas. Haris mengangguk, menatap umi yang menghampiri abi untuk menyuruhnya siap-siap mengantarkan Linza. Abi mengangguk, dengan cekatan mengambil kunci mobil Haris. Sejak Haris ke luar negeri, Haris sudah resmi tidak menjadi bagian dari kosan tersebut. Pun Linza, ia berhenti dari kuliahnya sebelum ia pergi ke Kanada. "Lebih cepat, Bi!" Haris berseru, saat sudah seperempat jalan menuju rumah sakit, lalu menatap wajah istrinya yang pucat pasi. Abi mencoba menenangkan Haris, tapi begitulah Haris, selalu keras kepala. Beberapa hal-hal aneh muncul di benaknya. Ia takut hal-hal yang muncul yang tidak baik itu menjadi kenyataan. Ia memegang dadanya, menutup matanya, lalu berdoa kepada Sang Khalik. Ya Allah, semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Lirihnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN