Bab.3 Tuan Bram

1363 Kata
Pagi yang begitu cerah ditemani dengan senyuman sebuah mentari membawa sinarnya. Audrey bersiap pergi ke kampus tempat Cleo kuliah, dan setelah itu dia sudah mengatur janji dengan Adrian untuk bertemu di rumah Adrian. "Pagi Tuan Owen, aku mau pamit berangkat ada urusan sebentar." "Pagi juga, hei salam kenal ya Audrey, Owen sudah berangkat ke Singapore. Aku Bram, adiknya Owen." "Oh salam kenal ya, Tuan Bram." "Ya, ayo sarapan bareng." Seketika Audrey terdiam, melihat lelaki yang juga tidak kalah tampan dengan Owen, suara halus lembutnya Bram membuat semua wanita terbawa suasana. Yang sangat berbeda dengan karakter kakaknya yaitu Owen Johnson. "Heii, koq bengong, ayo makanlah." "Akhh, ya maaf aku hanya mikirin sesuatu aja." "Apa! Cerita aja, mana tahu aku bisa bantu kan." "Aku nggak bisa bawa mobil, palingan nanti naik taxi online aja sich." "Oh mau dianter pergi maksudnya, maaf ya bukannya aku nggak mau nganter kamu, aku mau ada meeting ini mau jalan. Kamu minta supir aja antar kamu ya." "Nggak usah deh, aku bisa naik taxi online aja." "Lho kan banyak supir, tinggal bilang aja kamu mau kemana." "Hmm aku belum terbiasa sepertinya, jadi aku naik taxi online aja." "Oh, ya sudah terserah kamu aja sih, aku jalan dulu ada meeting sama klien ya, ini nomor teleponku, selama Owen pergi, aku yang berjaga di sini, kalau butuh apa - apa bilang ya." "Ya Tuan Bram makasih, aku juga mau jalan." "Hati - hati, panggil aja aku Bram." Audrey pun menaiki taxi online yang sudah dia pesan , dan dari kejauhan Bram hanya tersenyum manis memandangi Audrey yang begitu mandiri. Bram pun berangkat, dengan mobil sportnya. Kampus Cakrawala Bangsa, tempat di mana Audrey pernah kuliah, Cleo salah satu teman dekatnya, mendekat ke arah Alexa. "Wih tumben pagi bener, aura - auranya kayak abis nangis nich hayo kenapa?" tanya Cleo dengan penuh penasaran "Apaan sih , gue nggak apa - apa, cuman kurang tidur aja, pusing kepala." "Oh, ya udah kirain loe abis nangis Drey." "Nggak Cleo, udah deh jangan bawel bisa nggak." "Dah dari pada bete, mending tar malam kita balapan deh, hadiahnya gede banget, tapi kalau kalah taruhannya motor kita ilang, gimana?" tanya Cleo pada Audrey "Nggak bisa kayaknya, gue dah kerja sekarang, jadi aspri Golden Grup Company." "What are you seriously! Ih curang ya loe, nggak ajak - ajak gue, eh tapi mana boleh gue kerja, nyokap sama bokap mau gue cepet lulus, secara gue dah jadi mahasiswi abadi. By the way loe ada salam tuch dari Bryan." "Hah, Bryan si playboy itu, males banget. Dah stop bahas masalah balapan, justru gue lagi pusing." "Pusing kenapa lagi, kan loe udah enak, dah lulus sarjana, udah kerja juga jadi aspri perusahaan gede lagi." "Tuan Owen, minta gue putusin Adrian, biar gue fokus kerjanya." "Hah, apa urusannya sama Adrian, terus kenapa juga loe harus nurut, mana ada boss segitu detail larang karyawannya, untuk nggak boleh pacaran, is not make sense nggak sich." "Itu dia yang mau gue ceritain, tetapi loe pasti bakalan nggak percaya." "Apaan, ada apa sebenarnya, jangan buat gue jadi penasaran Drey." "Ya, gue dah jadi istri percobaan Tuan Owen, dia dah bayar banyak buat gue, dan gue udah melakukan hubungan itu sama dia semalam, di dalam mobil tepatnya, jadi kalau gue nggak nurut, maka kasus penggelapan uang yang dulu ibu gue lakuin, akan di angkat ke media dan gue akan dijebloskan ke penjara." "What... gila ini sich, tetapi memang sulit, karena apapun alasannya, nyokap loe tetap salah." "Ya walau alasannya dulu buat berobat adek gue, Bastian, tetap aja, penggelapan uang itu tidak dibenarkan, dan akhirnya usia adek gue tetap nggak lama." "Hmm terus kasarnya loe jadi simpenan gitu ya." "Entahlah, dia hanya bilang, kalau gue bisa buat dia nyaman dan sayang banget sama gue, kasta gue sebagai istri percobaan akan naik menjadi istri sah, dia udah lelah, karena gue udah jadi wanita yang ke dua puluh satu." "Wih edan ya memang, kalau udah raja sultan, susah hahahha." "Tetapi kira - kira alasan apa ini, gue hari ini juga udah harus mutusin Adrian." "Ya ellah Drey, gitu aja loe susah, bilang aja, gue dah bosen sama loe, karena hubungan ini udah hambar gitu aja. By the way ganteng kan si Tuan Owen itu." "Ya bisa dibilang gitu, handsome but nyebelin , dan sok casanova gitu deh, sok pinter rayu dengan kata - kata manis, hueeek mau muntah gue, amit - amit pokoknya, arogan , nyebelin." "Eh awas tar kalau terlalu benci jadi cinta lho." "Amit - amit nggak bakalan, gue punya kriteria sendiri kali cowok idaman." "Enaknya hidup loe itu ya, jadi istri simpanan miliarder kan, hufftt uangnya nggak akan abis ratusan turunan kali ya." "Sstt diem nggak loe, ampun ya ini mulut lama - lama gue plester mau, loe mau semua orang tahu, yang ada mereka bisa jadiin gue bahan gosip.Ya dah ahh sana, masuk kelas, gue mau ke rumah Adrian dulu." "Okay hati hati Drey." Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi , Audrey pulang diantarkan oleh Adrian, dengan sebuah mobil sederhana. "Drey, kamu yakin, nggak mau aku anterin sampe dalam." "Nggak usah, udah makasih ya, mulai sekarang tolong jangan cari aku lagi ya. Hubungan kita cukup sampe di sini." "Sayang... kamu serius mau putus sama aku, kita udah mau tunangan lho, kalau memang aku membosankan, cerita, di mana letak kebosanan kamu, biar aku perbaiki." "Adrian, aku lagi butuh uang banyak, kamu nggak bakal bisa juga kan kasih aku." "Bukannya aku nggak bisa, kalau seratus dua ratus juta aku ada, tetapi lima miliar, nggak bisa, belum di acc sama kepala banknya sayang." "Udah ya Adrian, please, jangan membuat aku tambah ilang mood, aku udah bosen juga sama kamu, hambar tahu nggak. Dah kamu pulang sana." jawab Audrey dengan menutup pintu mobil dengan keras. Dia segera memasuki rumah. "Audrey, dari mana saja kamu, jam segini baru pulang." tegur Owen dengan tegas "Duh mati gue, Owen bukannya lagi di Singapore, kenapa udah pulang aja sich." gumamnya dengan lirih "Ditanya malah komat kamit sendiri." "Ehmm dari bertemu Cleo sama menyelesaikan urusan sama Adrian." "Dua - duanya pacar kamu ya, jawab?" "Hadehh bukanlah Owen, Cleo itu temen kuliahku dulu, tetapi dia belum lulus, dia perempuan, terus sepulang itu aku ke rumah Adrian, dan aku sudah memutuskannya." "Hmm yakin ya kamu nggak berbohong kan." "Nggak, aku udah mutusin hubunganku dengan Adrian." Seketika Owen menarik Audrey, menuju kamarnya. Memberikan kecupan lembut dan memeluk erat Audrey. "Kamu kenapa lagi si Owen, pasti ada maunya ya, mulai deh sok casanova." "Diem dulu bisa nggak. Maafin aku , kalau kata - kata aku semalam buat kamu nangis, aku kadang suka lupa kontrol , nggak usah diambil hati, nggak akan aku marah lebih dari satu hari, sekarang bilang sama aku, kenapa tadi kamu naik taxi online, kan ada mobil baru buat kamu." "Aku nggak bisa nyetir, jadi aku pesan taxi online aja. Aku belum terbiasa, jadi ratu." "Terus ehmm, bagaimana masalah Adrian, apa beneran kamu sama dia udah putus." "Sudah walaupun alasanku tidak masuk akal. Dia itu lelaki baik, bukan sepertimu." "Baik dalam hal apa, kalau nggak bisa bahagiakan kamu seumur hidup, aku sudah cek siapa dia, dia hanya pegawai bank swasta kelas manajer kan. Coba kasih tahu aku, apa bisa hanya dengan cinta hubungan itu akan bermakna, semua butuh uang, Audrey." "Hah! Kamu segitunya sampe ngecek siapa Adrian." "Ya, semalam saat kamu tidur, aku cek nomor ponsel dia, dan melacaknya, dan see dia hanya pegawai rendahan." "Ya dia pegawai rendahan bagi kamu, tapi dia begitu bisa menjagaku tanpa menyentuhku. Udah ahh aku mau istirahat, aku capek." "Heh, dasar aspri bandel kamu ya, nyindir aku terus, aku kan dah minta maaf, ya aku salah, tetapi nggak juga kan kamu harus pulang selarut ini, kamu udah buat aku cemas tahu nggak." "Kan kamu sendiri yang minta aku putusin Owen, kamu pikir bicara masalah mengakhiri hubungan itu mudah, itu sulit, asal kamu tahu aku sama dia mau tunangan." "Hmm, nggak penting buat aku, cium nich, aku sayang banget sama kamu tahu nggak , aku marah biar kamu itu disiplin." "Dah ahh bodo amat, aku capek, aku mau tidur." "Ya dah tidur aja, tinggal tidur, temani aku." Audrey pun tertidur dalam pelukan hangat Owen Johnson. Owen begitu bahagia, wanita yang saat ini menjadi istri percobannya, benar - benar membuat hari - harinya berwarna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN