Satu hari telah berlalu, Audrey terbangun dari tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya,
hujan deras yang mengguyur dari sore hari membuatnya terjebak di kampus, mobilnya pun sedikit ada masalah, Bram menjemput dan membawannya ke apartemen untuk menginap, karena perintah Owen. Namun antara Audrey dan Bram sudah saling melakukan hubungan yang terlalu dalam. Suasana dingin masih membelenggu jiwa. Yang begitu haus akan kerinduan sebuah dekapan hangat. Audrey terbangun namun tak lagi melihat Bram.
"Bram kemana ya? Apa dia udah berangkat ke kantor sepagi ini. Astaga semalam... aku dan Bram sudah melakukan itu, tetapi benar - benar beda sich, aku sama Bram seperti sama - sama haus hasrat yang udah lama nggak terlampiaskan. Ahhh apaan si gue, kenapa jadi kotor gini pikirannya, ahh tahu ahh."
Tiba - tiba suara bel apartemen terdengar. Audrey merapikan pakaiannya dan merapikan rambutnya. Saat melihat ke dalam lubang pintu, ternyata Owen yang datang.
"Heii, pagi Audrey sayang, pulang yuk, aku baru aja sampe langsung jemput kamu." ucap Owen sembari memberikan kecupan lembut di kening Audrey
"Owen kamu apaan sich, malu tahu nggak kalah ada yang liat. Lagian aku masih ngantuk banget asal kamu tahu , males pulang. Lagi pula udah enak di sini deket ke kantor kan."
"No ya...ini apartemen Bram lho, nggak baik kamu berduaan sama dia, aku nggak mau, pulang aku bilang, aku unggu di mobil ya."
"Ya udah iya aku ganti baju dulu."
"Cepet ya nggak usah pake lama, aku nggak suka orang lelet."
Sesampainya di Golden Mansion, dengan tegas Audrey melepaskan genggaman tangan Owen, yang membuat Owen bingung akan perubahan sikap Audrey
"Owen lepasin nggak, aku capek mau istirahat."
"Tunggu.... kamu kenapa sich, kamu kayak nggak suka gitu, aku jemput, ada apa kamu hah?"
"Udah ya aku capek, aku mau hubungan kita ini selesai, aku kembaliin semua uang kamu, aku udah nggak nyaman sama kamu."
"Oh... gitu okay kamu maunya pergi dari sini, apa jangan - jangan kamu ada hubungan sama Bram! Jawab?" tanya Owen dengan tegas
"Ya... kalau memang aku ada hubungan kenapa, ada masalah apa memangnya, inget ya Owen, kita ini bukan suami istri, jadi kamu nggak berhak atur - atur hidup aku. Aku hanya istri percobaan kamu."
"Apa kamu bilang! Enteng kamu ya bicaranya, aku sayang beneran lho sama kamu. Sedalam apa hubungan kamu sama Bram?"
"Sudah dalam dan semalam sudah terjadi. Apa kamu mau nampar aku, mau ngatain aku wanita nggak bener, silahkan. Sayang itu tidak akan menyakiti pasangannya sendiri."
"Audrey, kamu lho yang udah mau juga memberikan kesucian kamu sama aku, saat itu aku langsung jatuh hati sama kamu, asal kamu tahu, tetapi kamu malah jadi liar, dah mirip kupu - kupu malam di luar sana."
Owen hanya menggelengkan kepalanya, dan mendorong tubuh Audrey hingga terkena tembok, tangannya mulai meraih dagu Audrey dengan penuh amarah.
"Heh... kamu itu ya inget satu hal, tidak ada yang bisa mempermainkan Owen Johnson, kamu pikir dengan kamu mengkhianti aku, terus aku usir kamu, oh nggak Audrey. Tetapi aku akan langsung menikahi kamu sekarang juga, secara resmi, dan dalam pernikahan ini tidak ada lagi rasa aku, untuk menyayangi kamu, tetapi bersiap akan semua hukuman dan penderitaan yang akan kamu rasakan dalam pernikahan ini, karena kamu sudah coba main - main sama aku, inget itu."
"Pak satpam... cepat datang ke sini, bawa penghulu, karena saya dan Audrey akan menikah." pinta Owen dengan tegas
"Dan untuk kamu Audrey, sekali lagi kamu buat ulah sama aku, jangan salahkan aku, kalau kamu akan menyesal, urusan kita belum selesai, aku Owen Johnson, sudah muak sama kamu, benci setengah mati, paham kamu. Itu balasan yang setimpal karena kamu mencoba mengkhianati aku."
"Aku pun tidak pernah takut ya Owen, silahkan aja kalau kamu mau siksa aku silahkan, toh ada masanya nanti aku bisa keluar dari sini, dan aku akan buat kamu lebih menderita, itu janjiku sama kamu." saut Audrey dengan menatap dekat dengan penuh amarah ke arah Owen
Dua jam berlalu, akhirnya penghulu datang dan menikahkan Audrey dan Owen Johnson, kebencian di wajah Owen terus terlihat, bahkan seiring berjalannya waktu, Owen terus menyiksa Audrey, bahkan saat di atas ranjang pun, Owen sangat kasar sama Audrey. Lima tahun berlalu, saat Audrey sudah muak dengan semua perlakuan Owen, dia pun tidak bisa kemana - mana sendiri, baik kemana pun harus dikawal oleh supir. Pernikahan yang tidak sehat ini , sudah benar - benar melelahkan buat Audrey. Bukan masalah hubungan intim saja Owen kasar, melainkan Owen sering membawa banyak wanita sewaan yang sengaja dia bawa dan tiduri di depan mata Audrey dan itu sudah berangsur selama lima tahun.
Audrey menangis, lelah dan ingin segera mengakhiri ini semua, saat dia lihat di laci dapur, melihat sebilah pisau, Audrey sudah tidak lagi berpikir panjang, karena percuma melawan, semakin mencoba keluar dari rumah itu, semakin Owen terus menyiksanya. Audrey akhirnya menyayat tangannya dan penuh darah, dia pun terjatuh di area dapur dan tak sadarkan diri.
Salah satu asisten rumah tangga masuk, lalu berteriak melihat Audrey sudah terjatuh dengan banyak darah di tangannya.
"Maaf Tuan, tadi saya .... tolong tuan, Mba Audrey.. itu."
"Kamu itu kenapa si Bi Imas, tenang dulu ada apa hah, teriak - teriak, saya lagi cek kerjaan, ganggu aja kamu ya."
"Mba Audrey pingsan, jatuh dan banyak keluarin darah, sepertinya habis bunuh diri Tuan."
"Hah! Apaan, Audrey . Akh tidak ...." Saut Owen dengan sigap menggendong dan
Owen berlari menuju dapur, dan benar saja dia melihat Audrey sudah terbujur kaku dengan luka sayatan di tangannya. Owen berteriak dengan penuh penyesalan, dia merasa selama ini sudah menghukum Audrey terlalu kejam dan tidak manusiawi. Owen menggendong Audrey dan memasukan ke dalam mobil, membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Drey.. jangan pergi please. Maafin aku, aku tahu, aku udah keterlaluan selama lima tahun ini." ucap Owen sembari menyetir dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit milik keluarga, Audrey langsung ditangani dengan cepat dan menjahit luka sayatan di tangannya itu. Satu hari telah berlalu, Audrey pun terbangun, dengan tatapan pusing, sedangkan Owen masih tertidur di kursi.
Mengangkat tangannya, dan mencoba membangunkan Owen, walau rasanya semua rasa sakit Audrey sudah tidak terobati lagi.
"Owen... bangun, Owen." pangilnya dengan pelan
"Astaga, sayang kamu udah sadar, bagaimana apa masih ada yang sakit."
"Untuk apa kamu selametin aku hah." dengan tatapan yang kosong. Harusnya kamu biarin aja, kan bukannya itu yang kamu mau menyiksaku sampai aku meregang nyawa."
"Aku tahu aku sudah kelewatan.. maafin aku sayang."
"Stop ya udah, jangan pernah ngeluarin kata - kata menjijikan itu, aku muak sama kamu, aku mohon lepasin aku, aku mau bebas, aku capek Owen, kita bercerai aja udah."
"Nggak... aku nggak mau, aku janji akan menebus semua kesalahanku, aku tahu kalau semua perlakukanku udah kelewatan."
"Hah, telat semua itu, aku udah terlalu muak, hati aku sakit, ngapain kamu bawa aku ke rumah sakit segala, ngapain?" jawabnya dengan cucuran air mata
"Heiii ssttt, maafkan aku sayang, tolong please jangan pernah tinggalin aku."
"Kenapa baru sekarang kamu menyesal setelah semua luka kamu kasih ke aku, hah kenapa?" ucap Audrey yang terus menolak pelukan Owen
"Okay aku akan lepasin kamu, jika memang itu bisa membuat kamu tenang, aku akan wujudkan setelah kamu sembuh ya, aku janji, kita tidak akan bercerai, biar semua yang urus pengacara."
"Okay aku harap kanu tepatin janjimu Owen."
Satu bulan kemudian, Owen tengah menunggu Audrey keluar dari kamarnya, dia sudah memegang surat gugatan perceraian, dan sudah merapikan semua barang - barang milik Audrey.
Melangkah pelan dengan senyuman manis di wajahnya, hasrat hati Audrey begitu teramat membenci Max, namun saat Owen begitu perhatian dan merawatnya sampai sembuh, bahkan Owen rela tidak ke kantor dan tidak makan sebutir nasi pun, wajahnya terlihat semakin pucat.
"owen..." sapa Audrey dengan penuh lembut
"Ya, sini duduk, ini surat gugatan cerai yang kamu mau, aku udah tanda tangan, kamu silahkan tanda tangan, biar perceraian kita cepat diurus.
Krekkk ==== suara robekan kertas, Audrey merobek surat gugatan perceraian itu, dan memeluk erat Owen
"Drey kamu gimana sih, kenapa dirobek."
"Owen.. udah ya, aku masih mau melanjutkan pernikahan ini, aku nggak mau cerai sama kamu, terima kasih karena udah selalu merawat aku sampai aku sembuh."
"Kamu yakin! Bukannya kamu mau kita pisah, kamu udah membenci aku kan,"
"Ya, tetapi apa aku ini benar - benar nggak punya hati, tidak mungkin aku sekejam itu, entah rasa sayang ini tumbuh sendiri Owen, terus kamu kenapa jadi kurus gini."
"Aku nggak apa - apa sayang, sangking terlalu fokus rawat kamu, mas sampai lupa ngantor, lupa makan juga."
"Ngapain kamu nyiksa diri begitu, nanti kamu sakit gimana." ucapnya dengan memberikan kecupan lembut di hidung Owen
Mereka pun akhirnya tidak jadi bercerai, karena Audrey sudah sangat menyayangi Owen, Owen pun sebaliknya makin sayang dengan Audrey