Bab 6

1235 Kata
"Beneran Om?" "Iya, Sayang. Semuanya buat kamu. Kalau kamu masih mau, kamu boleh membawanya untuk di rumah. Om juga kasih spesial buat kamu, kamu boleh datang lagi ke sini setiap kamu mau makan es krim. Pelayan di sini akan memberikannya secara gratis buat kamu." Ucap Adrian seraya menyodorkan sebuah sendok pada Jia. Dengan sedikit malu-malu Jia pun meraih sendok yang disodorkan Adrian lalu memakan es krim di hadapannya dengan sangat lahap. Dan hal itu semakin membuat Adrian merasa iba, entah kehidupan sesulit apa yang dihadapi anak kecil di hadapannya ini, sampai untuk memakan es krim saja ia harus menunggu ibunya mendapatkan gaji. Perasaan Adrian turut merasakan sakit saat membayangkan kehidupan yang dijalani anak kecil itu. Meskipun Adrian hanya menatap anak kecil makan dengan lahap, sudah berhasil membuat bibir seorang Adrian mengukir senyum. Sebuah hal yang jarang sekali dilakukan Adrian, karena selama ini Adrian dikenal sebagai seseorang yang dingin dan pendiam, meski sebenarnya ia adalah orang yang lembut dan baik hati. Begitu juga dengan Jia. Selama ini ia belum pernah merasakan perhatian seorang ayah. Dan entah kenapa ia bisa merasakan kehangatan itu dari seseorang yang kini berada di hadapannya. "Jangan belepotan makannya, Nak." ucap Adrian lirih, lalu menyeka bibir yang kini sudah dipenuhi es krim. "Gimana? Enak gak es krimnya?" "Enak banget, Om. Apa Om sendiri yang membuat es krim ini?" "Tidak, Om hanya memberi tahu para pekerja Om cara membuatnya saja." "Wah Om hebat banget. Coba aku bisa makan es krim seperti ini setiap hari. Aku pasti akan jadi anak yang gemuk. Tidak kurus seperti ini." Perasaan Adrian kembali merasa teriris setelah mendengar jawaban Jia. Jia pasti hidup dalam keadaan serba kekurangan, karena hanya untuk makan es krim yang biasanya juga tersedia di warung-warung, harus menunggu ibunya mendapatkan gaji. Adrian menyeka di ujung matanya saat air mata itu akan segera menetes, lalu menyodorkan segelas milk shake rasa coklat dengan whip cream di atasnya. "Ini pertama kalinya aku kembali merasa bahagia? Entah kenapa anak ini membuatku kembali merasakan perasaan yang dulu pernah aku rasakan." "Emm ... Es krimnya enak banget, Om. Andai Kak Jio juga ada disini, dia juga pasti bisa ikut makan es krim." "Apa dia saudara kembarmu? Nama kalian hampir sama." Tanya Adrian. "Iya, Om. Kata Mama, kami memang kembar." Adrian kembali tersenyum, sambil terus memperhatikan Jia memakan es krimnya. Anak kecil itu tengah asyik memakan es krim sambil sesekali mengayunkan kakinya yang kini duduk di sebuah kursi tinggi. Mendengar ucapan Jia, Adrian jadi teringat pada saudara kembarnya juga. Mereka juga dulu saling menyayangi satu sama lain. "Kamu pasti sangat menyayangi Kakakmu itu?" Jia menganggukan kepalanya. "Kalau begitu, nanti Om akan meminta pelayan untuk menyiapkan beberapa es krim juga buat Kakakmu." "Makasih, Om." ** ** Di tempat lain, Ratna tengah melangkah lebar ke arah kedai. Ratna terdiam sejenak setelah tiba di halaman kedai yang kini masih di padati banyak orang. Ratna benar-benar merasa takut bertemu dengan Adrian, seorang pria yang pernah merenggut kesuciannya di masa lalu sekaligus membuatnya melahirkan Jia dan Jio. "Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengan pria itu?" Ratna terus memilin ujung dasternya dengan jantung yang berdegup kencang. Kilasan ingatan masa lalu kini kembali terekam jelas dalam kepalanya. Sebuah malam kelam saat dirinya berniat menyelamatkan Adrian dari jebakan saudarinya sendiri. Namun, kini ia justru harus berakhir seperti ini. Ratna bahkan masih mengingat ucapan kasar Adrian, meski dirinya tengah mencumbunya malam itu. Adrian terus mengatakan kalau dirinya hanyalah seorang wanita jalang yang rela melakukan apapun hanya demi uang. Tanpa Adrian sadari kalau ucapannya itu tertuju pada seseorang yang kini tengah dicumbunya. Ratna menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayang-bayang masa lalu yang sejak tadi sempat memenuhi isi kepalanya. Baginya saat ini adalah menemukan keberadaan Jia yang paling penting. Meski ucapan Adrian malam itu masih terpatri jelas dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Setelah merasa siap untuk kembali melanjutkan langkah kakinya, Ratna kembali melangkah lebar untuk memasuki kedai itu. Meskipun dia harus kembali dipertemukan dengan seseorang yang sudah menorehkan luka dalam di hatinya. Setibanya di dalam, Ratna mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. "Jia!" teriakan Ratna menggema di tengah-tengah banyaknya orang yang memenuhi kedai itu. Dengan raut wajah cemas, Ratna terus mencari keberadaan Jia di ruangan luas itu. Ratna semakin merasa frustasi saat melihat banyaknya orang di tempat ini, membayangkan putri kecilnya yang harus berdesakan di antara kerumunan orang-orang dengan kondisinya yang kurang sempurna. Apalagi Jia, memiliki riwayat penyakit jantung bawaan yang membuat kondisi fisiknya sedikit berbeda dari anak-anak lainnya. "Jia!" Ratna kembali berteriak dengan lebih kencang, sehingga membuat Adrian yang lebih dulu menyadari kehadirannya. Keduanya kini bertemu tatap saat Ratna juga sudah menyadari keberadaan Adrian. Keduanya sama-sama menatap satu sama lain dengan mata yang berkaca-kaca. Di sudut ruangan itu, Ratna bisa melihat Jia yang kini duduk berhadapan dengan Adrian, yang tanpa Jia ketahui bahwa itu adalah ayah kandungnya yang selama selalu ia tanyakan pada sang ibu. Tubuh Ratna seketika seolah kehilangan pijakannya, tubuhnya nyaris saja tumbang, jika saja tidak ada seseorang yang berhasil menopangnya. "Ratna Grisela?" gumam Adrian yang kini menatap Ratna tanpa bisa berkedip. Jia seketika menoleh setelah mendengar nama mamanya disebut. Raut wajah Jia yang sebelumnya terlihat riang kini seketika berubah takut. Jia berfikir kalau sang ibu akan menghukumnya karena sudah kabur dari rumah. "Mama!!" panggilan Jia membuat Adrian menatap Ratna dan Jia bergantian. Waktu seolah terhenti saat itu, sekujur tubuh Ratna seolah membeku dengan jantung yang berdegup dengan cepat. Pandangannya mulai buram seiring air mata yang menggenang di pelupuk mata. Rasa takut kini menyergap relung hati. Ternyata mengurung anak-anaknya di dalam rumah tidak mampu menghalangi takdir untuk menyatukan ayah dan anak dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Ratna menarik napas dalam-dalam untuk mengembalikan akal sehatnya yang sempat hilang, tangannya dengan cepat menghapus bulir bening yang sempat luruh membasahi pipinya. Kedua kakinya perlahan menghampiri Adrian yang juga merasakan hal yang sama seperti Ratna. Mulutnya seolah terkunci tanpa bisa berkata apa-apa. Dengan tatapan mata yang masih belum mampu berpaling dari seorang perempuan tampak lusuh yang kini melangkah menghampirinya. Setelah enam tahun berpisah ternyata tak mampu membuat seorang Adrian Baskara melupakan wajah perempuan yang sempat menarik perhatiannya. Dulu, mata indah seorang Ratna Grisela seolah mampu menghipnotis Adrian Baskara kedalam dunia yang berbeda. Namun, sekarang mata itu terlihat sayu dengan tatapan sendu dan bahkan sedikit sembab. "Ratna Grisela?" gumam Adrian seraya menatap Ratna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ratna masih tetap sama seperti dulu, hanya saja penampilannya kini berubah kumal dengan kulit yang sedikit gelap. Terlihat dari daster lusuh yang ia kenakan dengan rambut yang di gulung asal. "Jia ...." Suara lirih itu membuat Jia semakin menundukan kepalanya tanpa berani menatap sang ibu. Sendok yang tengah berada dalam genggaman Jia terjatuh ke lantai, dan membuat Adrian tersadar dari lamunan dan padangannya beralih pada Jia. Wajah yang sebelumnya sempat terlihat senang kini kembali berubah sendu dan kembali memilin ujung bajunya di bawah meja. "Mama!" Ucap Jia lirih. Ucapan lirih itu membuat Ratna yang sebelumnya sempat merasa kesal seketika berubah iba, Ratna bersimpuh di hadapan Jia lalu memeluknya dengan erat. Bahunya mulai berguncang seiring eratnya pelukan Ratna memeluk tubuh kecil Jia. Adrian menatap dua wanita yang kini sama-sama berderai air mata di hadapannya. "Jadi Jia adalah anaknya Ratna? Ternyata Ratna selama ini sudah menikah?" tanya Adrian dalam hati. "Kenapa kamu nekat pergi tanpa sepengetahuan Mama? Kamu bisa saja berada dalam bahaya, Sayang!" ucap Ratna setelah melepas pelukannya. Ratna menghapus deraian air mata yang sempat mengalir di kedua pipi Jia lalu merangkum kedua pipinya disusul dengan ciuman sayang di dahi anak kecil itu. ************ ************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN