Bab 7

1171 Kata
"Maafkan Jia, Ma. Banyak orang yang mengatakan kalau di sini ada es krim gratis. Kita bisa makan es krim sepuasnya walaupun tidak memiliki uang." jawab Jia polos. Saat itu juga, perasaan Adrian kembali merasa tercubit. Entah kenapa, setiap mendengar ucapan Jia rasanya sangat memilukan. Kalau bisa, Adrian ingin sekali membawa Jia ke kedainya setiap hari untuk bisa mewujudkan ke inginan anak kecil itu. "Tidak boleh seperti itu, Jia! Kita masih belum pantas berada di tempat ini. Jia tahu sendiri kan kalau Mama juga selalu membelikan Jia es krim jika Mama sudah mempunyai uang. Jia mau kan bersabar sampai Mama mempunyai uang?" Ratna meraih kedua lengan Jia lalu menatapnya nanar. "Iya, Ma. Jia minta maaf." Jia kembali memeluk Ratna. Tapi, bayang-bayang banyaknya es krim di atas meja masih belum menghilang dari benaknya. Raut wajah sedih tidak bisa di sembunyikan lagi di wajah Jia. "Kita pulang sekarang ya!" "Ma, Om itu tadi sudah menyiapkan es krim untuk Kak Jio, katanya Jia boleh membawa es krim itu untuk Kak Jio." Jia menunjuk beberapa kotak es krim yang diminta Adrian pada pelayan tadi. Jia menatap lekat wajah mamanya dengan tatapan penuh permohonan. "Sayang, Mama kan tadi sudah bilang kalau Mama akan membelikan es krim untuk kalian dengan uang Mama sendiri. Kak Jio juga pasti mengerti dan mau bersabar." Ratna memangku tubuh Jia untuk segera meninggalkan tempat itu, dadanya akan merasa semakin sesak jika terus berada di tempat itu. Tak lupa ia juga meraih kedua tongkat Jia yang bersandar di samping kursi. Sambil memangku Jia dan sebelah tangannya menenteng dua buah tongkat, Ratna segera berbalik lalu mulai melangkah menuju pintu. "Tunggu!" ucap Adrian saat Ratna hampir tiba di ambang pintu. Ia segera berdiri setelah mengambil beberapa kotak es krim di atas meja lalu melangkah cepat menghampiri Ratna dan Jia. Adrian memberikan beberapa kotak es krim itu kepada Jia yang kini berada dalam pangkuan Ratna. Adrian hanya menatap punggung Ratna yang sama sekali tidak mau membalikan tubuhnya dan hanya menghentikan langkahnya saja. Namun, ia tetap berusaha untuk tersenyum dan mencubit gemas pipi Jia. "Bawa pulang juga es krimnya, ya! Om sudah menyiapkan ini untukmu dan Kakakmu. Bilang sama Kakak kamu, kalau dia juga boleh datang kesini kalau dia ingin makan es krim." "Tolong ambil kembali es krim itu, aku akan membelinya dengan uangku sendiri nanti!" Ucap Ratna yang kini terpaksa membalikan tubuhnya. "Hanya Jia yang bisa menolak pemberianku, karena aku memberikannya untuk Jia, bukan untukmu." Tatapan Adrian kini beralih pada Jia. "Kamu mau kan menerima es krim pemberian Om?" Ucap Adrian seraya mengukir senyum. Jia kini kembali menatap Mamanya dengan tatapan penuh permohonan. Meski ia merasa takut tapi saat ia teringat dengan sang kakak ia mencoba untuk memberanikan diri. "Mama boleh ya aku bawa es krimnya pulang untuk Kakak. Kakak juga suka sekali dengan es krim. Tadi aku sudah makan es krimnya di sini tapi Kak Jio belum. Bukannya Mama pernah mengatakan, aku harus ingat pada Kakak jika aku mendapatkan apapun dan membagikannya dengan Kakak." Bibir Adrian kembali mengukir senyum setelah mendengar ucapan Jia. Jia memang anak yang baik dan sangat menyayangi Kakaknya dan Adrian sangat menyukai itu. "Baiklah, tapi Jia tidak boleh berbuat seperti ini lagi. Jia tidak boleh datang lagi kesini tanpa sepengetahuan Mama." Jawab Ratna tanpa menatap Adrian sama sekali. "Iya, Jia janji tidak akan kabur dari rumah lagi dan membuat Mama khawatir." Jia mengangguk cepat dengan senyum yang merekah. "Bilang terima kasih sama Om itu, setelah itu kita pulang." "Terima kasih, Om. Nanti aku bilang sama Kakak kalau es krim ini Om yang kasih." "Iya, Sayang. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi." Adrian kembali mencubit gemas pipi Jia, namun setelah itu entah kenapa rasanya sakit sekali untuk melepas kepergian anak kecil itu. Adrian kini hanya bisa terpaku sambil menatap langkah demi langkah Ratna yang masih bisa terlihat dari balik pintu kaca. Adrian kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi yang sempat di dudukinya dengan Jia. Tatapannya kini tertuju pada sebuah sendok yang berada di kolong meja yang sempat dijatuhkan Jia saat melihat kedatangan Ratna. "Aku sama Kakak suka banget makan es krim, tapi Mama hanya bisa membelinya setelah Mama mendapat gaji." "Wah, hebat banget, andai aku bisa makan es krim setiap hari." "Om, jangan biarkan dia ada disini. Dia pasti kesini karena mau mencuri es krim." "Apa mereka hidup dalam serba kekurangan sampai untuk beli es krim saja harus menunggu sampai mendapatkan uang gaji?" batin Adrian terus bertanya-tanya. Setelah menyadari itu, Adrian bergegas bangkit dari duduknya lalu melangkah lebar untuk keluar dari kedai. Setelah tiba di halaman kedai, Adrian mengedarkan pandangannya menatap ke sekitar untuk mencari keberadaan Ratna dan juga Jia. Hingga pandangannya kini tertuju pada Ratna dan Jia yang berada tidak jauh dari sana. Adrian yang merasa sangat penasaran dengan kehidupan Ratna terpaksa mengikuti Ratna dan Jia dari jauh agar mereka tidak menyadari kehadirannya. Adrian bahkan harus beberapa kali menyembunyikan tubuhnya saat Ratna terlihat menyadari jika ada seseorang yang sedang mengikutinya. Adrian menghentikan langkahnya saat dari kejauhan ia melihat Ratna dan Jia memasuki sebuah rumah. "Jadi tempat tinggal mereka tidak jauh dari kedaiku?" Adrian bergumam pelan sambil terus memperhatikan dari kejauhan. Entah kenapa dadanya kembali merasa sesak saat melihat rumah yang di tempati oleh Ratna dan Jia sangat jauh dari kata layak, bahkan gerak-gerik Ratna di dalam sana masih bisa terlihat karena jendela rumah itu hanya tertutup tirai tipis. *** Di kediaman Adrian, Adrian kini tengah menikmati kesendiriannya di ambang jendela kamar sambil menatap rintikan hujan yang turun di luar sana. Setelah bertemu dengan Ratna dan Jia tadi pagi membuat Adrian terus saja memikirkan ibu dan anak itu. Meskipun Adrian sudah mencoba melupakannya dengan melakukan kegiatan lain, tetap saja raut wajah sedih Ratna dan Jia selalu menghantui pikirannya. Ingatannya kembali berputar pada masa lalu, di mana dirinya dulu sangat mengagumi paras seorang Ratna, sampai akhirnya karena hasutan dari seseorang rasa kagum itu berubah menjadi benci. Saat itu, Adrian mendengar jika hari itu Ratna akan berulang tahun dan berniat memberinya kejutan dengan menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam. Namun, sayang tepat di hari ulang tahunnya Ratna, Adrian melihat Ratna keluar dari mobil bersama dengan seorang pria dan memasuki sebuah penginapan. Hal itu membuat Adrian berfikiran buruk tentang Ratna dan mengurungkan niatnya untuk memulai sebuah hubungan bersama dengan Ratna. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" suara orang itu berhasil membuat Adrian tersadar dari lamunannya. "Iya, aku mau kamu mencari tahu indentitas seseorang." "Baik, Tuan." Jawab pria itu. Adrian lalu menyodorkan selembar foto yang sempat ia ambil beberapa tahun lalu. "Namanya Ratna Grisela. Aku mau kamu mencari info tentang dia dan juga anak-anaknya. Aku mau informasi itu secepatnya dan juga selengkap mungkin." "Baik, Tuan. Apa hanya itu saja yang perlu saya lakukan." "Iya, untuk sementara itu dulu." Rasa penasaran kini semakin di rasakan oleh Adrian. Apalagi, setelah ia tanpa sengaja mendengar jika Ratna adalah seorang jalang yang memiliki dua orang anak tanpa di ketahui siapa ayahnya. "Aku akan mencari bukti apakah Ratna memang benar-benar seorang wanita jalang. Aku juga harus mencari tahu siapa sebenarnya Ayah dari kedua anak Ratna. Aku akan menyeret pria itu karena sudah berani menelantarkan Ratna dan kedua anaknya." ********** **********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN