Disya memandang selembar kertas dengan tatapan sendunya, tatapan yang mengartikan inilah akhir penantiannya. Walaupun Disya masih berharap pada suaminya dan ingin mempertahankan pernikahannya, namun egonya berkata lain. Egonya berkata tidak ada lagi kesempatan itu, semuanya sudah usai. Ia memilih berakhir dengan kesetiaan yang ia miliki. "Disya," Namira memanggil anak perempuannya dengan lirih. Ia tahu dan bisa merasakan kesakitan yang Disya rasakan. Namira yakin, keputusan yang Disya ambil adalah keputusan yang benar. Ia begitu bukan karena ia mendukung anak dan suami anaknya berpisah, tentu saja bukan. Ia yakin dengan keputusan anaknya adalah keputusan yang tepat. Alasannya adalah, karena di dalam pernikahan ada dua orang yang menjalankannya, jika hanya pihak kedua yang mempertahankan h

