"Gak usah marah-marah kayak gitu. Cukup jelaskan apa yang terjadi semalem! Gak ada yang terjadi di antara kita, 'kan? Saya gak ngapa-ngapain kamu, 'kan?" tanya Kevin, menutup tubuh polosnya menggunakan selimut tebal.
"Dasar b******k," decak wanita itu, tatapan matanya kian tajam dalam memandang wajah Kevin. "Kamu beneran gak ingat apa cuma pura-pura gak ingat, hah?"
Kevin semakin bingung, matanya seketika terpejam kembali mengobrak abrik otak kecilnya mencoba mengais ingatan yang ia lupakan. Sampai akhirnya, Kevin Sanjaya mengingat kejadian yang tidak terduga. Suara rengekan dan isakan, rintih kesakitan wanita bahkan mulai mengingat seperti apa nikmatnya saat ia berhasil mengoyak kesucian wanita asing yang tengah berdiri dihadapannya membuat kepalanya berdenyut pusing dan mulai dihantui penyesalan.
"Astaga, apa yang udah saya lakukan?" gumamnya seraya mengusap wajahnya kasar.
"Gimana, udah ingat sekarang?" tanya wanita itu dengan nada putus asa. "Dosa apa yang udah gue lakuin hingga gue ketemu sama lo? Lo udah--"
"Oke, saya ingat dan saya minta maaf," sela Kevin bahkan sebelum wanita itu menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan. "Saya salah, sekali lagi saya minta maaf."
"Apa dengan lo minta maaf akan mengembalikan apa yang udah lo renggut dari gue?"
Kevin terdiam dengan perasaan bingung.
"Jawab pertanyaan gue. Apa dengan meminta maaf, lo bisa mengembalikan kesucian gue, hah?" bentak wanita tersebut dengan mata memerah dan berair.
"Terus, saya harus gimana? Saya gak sengaja ngelakuin itu, sungguh!" ujar Kevin dengan putus asa.
Ia sama sekali tidak menyangka akan melakukan kesalahan yang sangat fatal. Meniduri wanita yang tidak dikenal bahkan namanya saja ia tidak tau. Hal yang wajib dilakukan oleh seorang laki-laki setelah merenggut kesucian wanita adalah bertanggung jawab. Ya, meskipun ia melakukannya di bawah pengaruh minuman beralkohol. Lantas, apa ia akan menikahi wanita yang sama sekali tidak ia kenal hanya karena kesalahan yang tidak ia lakukan? Kevin larut dalam lamunan, terjebak dalam situasi sulit.
"Nikahi gue, itu yang harus lo lakuin, b******k!"
Kevin terdiam dengan perasaan hancur. Memikirkan banyak hal, berusaha untuk mencari jalan keluar. Namun, sekeras apapun ia berusaha untuk berpikir, jawaban yang tepat untuk masalah yang tengah ia hadapi adalah dengan bertanggung jawab dan menikahi wanita itu. Ia bukan laki-laki b******k yang akan lari dari tanggung jawab setelah melakukan kesalahan. Masalahnya adalah, apakah Hendra Sanjaya, sang ayah yang merupakan orang terkaya di negara ini akan merestui pernikahan mereka? Kevin kembali larut dalam lamunan.
"Siapa nama kamu?" tanya Kevin, memandang wanita berpenampilan sederhana dengan rambut diikat di ujung kepala.
"Namaku Evelyn," jawab wanita itu dengan datar. "Gue gak mau tau, pokoknya lo harus tanggung jawab kalau nggak--" Evelyn menahan ucapannya, matanya yang memerah semakin tajam dalam memandang wajah Kevin. "Kalau nggak, gue bakalan laporin lo sama polisi atas tuduhan pemerkosaan."
Kevin semakin bingung, jika Evelyn melaporkan masalah ini kepada polisi, maka nama baik yang sudah ia jaga selama ini akan hancur. Belum lagi, ia akan mendapatkan kemurkaan dari sang ayah yang selalu mewanti-wanti agar dirinya selalu berhati-hati dalam melangkah.
"Saya minta waktu, Evelyn," ucap Kevin dengan lemah.
Evelyn mengerutkan kening. "Waktu?" tanyanya.
"Saya janji akan bertanggung jawab, tapi saya butuh waktu. Kita gak saling kenal, mana mungkin kita menikah gitu aja," jelas Kevin. "Gimana kalau kita melakukan penjajakan dulu, kita saling mengenal satu sama lain?"
Kali ini Evelyn yang terdiam, apa yang diucapkan oleh Kevin tidak sepenuhnya salah dan tidak seluruhnya benar. Ia pun tidak ingin menikah tanpa cinta. Menjalani mahligai rumah tangga dengan pria yang tidak jelas asal-usulnya. Tidak ada salahnya melakukan pendekatan dan penjajakan terlebih dahulu. Namun, bagaimana jika pria itu lari nantinya? Evelyn seketika dilanda rasa dilema.
"Apa kamu takut saya lari dari tanggung jawab?" tanya Kevin seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Evelyn.
"Apa yang akan menjamin kamu gak akan lari dari tanggung jawab?" tanya Evelyn menahan rasa sesak.
Kevin menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, memejamkan matanya sejenak lalu kembali memandang wajah Evelyn. "Saya gak akan lari, saya janji, Evelyn. Sekarang kembaliin pakaian saya, saya bisa masuk angin kalau kelamaan telanjang kayak gini."
"Baju lo udah dicuci, noh lagi dijemur."
"Dicuci pake tangan?"
"Ya pake tangan-lah, masa pake kaki."
Mata Kevin seketika membulat. "What? Jas mahal saya kamu cuci pake tangan?"
Pria itu tiba-tiba melompat dari ranjang lalu berlari keluar dengan menutup bagian bawah tubuhnya menggunakan selimut tebal.
"Astaga, ni orang kenapa sih?" decak Evelyn dengan kesal, sebelum akhirnya berbalik lalu mengejar Kevin yang sudah berada di halaman.
Kevin menatap jas mahal berharga puluhan juta miliknya yang tengah dijemur di bawah sinar matahari, dasi berikut kemeja berwarna putihnya pun nampak berjejer di atas jemuran yang sama. Kevin memejamkan mata, menoleh dan menatap wajah sang wanita yang sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Apa kamu tau berapa harga jas ini?" tanyanya dengan kesal.
Wanita itu hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah polos.
"Jas ini harganya 25juta, gak boleh dicuci pake tangan apalagi dijemur di bawah sinar matahari langsung. Jas ini biasa dicuci diloundry lho, eh ... ini malah dicuci pake tangan, bisa-bisa rusak jas mahal saya," decaknya seraya menarik napas dalam-dalam.
"Lo marah cuma gara-gara takut jas mahal lo rusak, lalu gimana sama kesucian gue yang udah hilang, hah? Apa sebanding dengan jas mahal lo ini, hah?"
"Oke, saya pinjem baju kamu kalau gitu."
Evelyn mendengus kesal lalu berbalik dan berjalan memasuki rumah. Hal yang sama pun dilakukan oleh Kevin, pria itu melangkah mengikuti seraya menatap motor Kawasaki Ninja berwarna hitam yang sempat ia tumpangi semalam.
"Hmm! Kayaknya tuh cewek tomboi, kalau nggak mana mungkin dia bawa motor gede kayak gitu? Mana stelan motor balap lagi," gumam Kevin tersenyum kecil.
***
10 menit kemudian, Kevin sudah berpakaian. Kaos oblong berwarna hitam dan celana boxer dengan warna yang sama nampak membalut tubuh kekarnya. Pria itu menatap tubuhnya sendiri dari pantulan cermin dengan senyum lebar. Rasanya benar-benar aneh melihatnya mengenakan kaos oblong biasa, bahkan warnanya pun sudah sedikit pudar.
"Astaga, mimpi apa saya semalem," gumamnya masih dengan senyuman yang sama. "Saya, Kevin Sanjaya pake baju kayak gini? Tapi ko rasanya aneh, saya lebih nyaman kayak gini dari pada pake jas mahal!"
Kevin merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri. Ia merasa nyaman dengan pakaian yang ia kenakan, terkesan santai dan tanpa beban. Jas hitam dengan dasi yang selalu ia kenakan setiap hari seolah membuat lehernya tercekik. Kevin Sanjaya merasa menemukan apa yang ia inginkan, mendapatkan jawaban atas rasa tertekan yang selama ini ia rasakan. Ya, dirinya hanya ingin terbebas dari bayang-bayang sang ayah, menjadi boneka yang jalan kehidupannya sudah diatur. Kevin ingin menjadi dirinya sendiri, menemukan jati diri dan bebas melakukan apapun yang ia sukai.
Suara ketukan di pintu utama seketika terdengar nyaring. Namun, Kevin sama sekali bergeming karena berfikir bahwa tidak mungkin ada tamu yang mencarinya ke rumah tersebut. Tidak berselang lama, suara pintu dibuka pun terdengar hingga akhirnya ia mendengar suara seorang laki-laki yang sangat ia kenal.
"Di mana Kevin?" tanya pria di luar sana kepada Evelyn yang baru saja membuka pintu.
Kevin menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. "Rizal?" gumamnya dengan bingung. "Nggak, gak mungkin Rizal tau saya di sini."
Tanpa berpikir panjang, Kevin segera melangkah keluar dari dalam kamar dengan rasa penasaran. Benar saja, pria yang sedang berdiri di depan pintu adalah Rizal asisten pribadinya. Ia bahkan tidak sendiri, dua ajudan berpakaian serba hitam nampak berdiri di belakangnya.
Sementara Evelyn nampak mengerutkan kening, menatap ketiga laki-laki berpakaian layaknya bodyguard. "Kalian siapa?" tanyanya dengan bingung.
"Dia nyari saya, Ev," ucap Kevin melangkah menghampiri lalu berdiri tepat di samping Evelyn.
Evelyn seketika menoleh dan menatap wajah Kevin dengan perasaan bingung. "Sebenarnya lo siapa? Kenapa mereka bisa tau lo ada di sini?"
"Silahkan ikut sama kami, Pak Kevin. Tuan besar udah nungguin Anda di rumah," timpal Rizal dengan wajah datar.
Bersambung ....