bc

Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa

book_age18+
60
IKUTI
1.0K
BACA
dark
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
brilliant
city
childhood crush
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Kevin Sanjaya, putra orang terkaya di Indonesia. Selain kaya raya, Hendra Sanjaya sang Ayah adalah orang yang paling disegani bahkan tidak sedikit pejabat takluk karena kecerdasan, karisma dan kemampuan berbisnisnya.

Kevin dituntut untuk hidup sempurna, ia dipaksa untuk menjadi orang lain. Melakukan sesuatu yang tidak disukainya dan dipaksa mewarisi perusahaan sang Ayah. Kevin memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan Ayahnya. Ia berjiwa bebas dan tidak suka berbisnis. Kevin lebih menyukai hal-hal berbau otomotif. Menjadi pembalap terkenal adalah mimpinya sejak kecil.

Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki hobi yang sama dengannya. Evelyn, wanita berusia 22 tahun, berjiwa bebas, tomboi dan kerap melakukan balap liar. Evelyn mengajarkan Kevin apa itu cinta, ketulusan dan memotivasinya untuk menjadi diri sendiri dan keluar dari bayang-bayang sang ayah. Sayangnya, cinta mereka terhalang tembok tinggi yaitu, status sosial

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Kabur Dari Asisten Pribadi
"Ka-kamu siapa? Kamu apain saya, hah? Kenapa saya telanjang kayak gini?" tanya Kevin dengan wajah memerah, menatap gadis asing dengan wajah polos. "Emangnya lo gak ingat apa yang terjadi semalem?" tanya gadis tersebut masih dengan ekspresi wajah yang sama. "Kalau gue tau lo lagi mabuk, gak bakalan gue tolongin lo. Dasar cowok sialan!" *** Beberapa jam sebelumnya. "Sudah waktunya pulang, Pak Bos. Udah jam 10 malam," bisik seorang laki-laki kepada majikannya yang sedang duduk di bar sembari menikmati segelas whisky. "Sebentar lagi, Rizal. Baru juga jam 10. Masih siang," jawab sang majikan, meneguk sisa minuman beralkohol yang masih tersisa di gelas kaca yang ia genggam. "Tapi, Pak. Tuan Hendra meminta kita jangan pulang terlalu malem, besok Anda ada meeting penting pagi-pagi sekali." Kevin Sanjaya pria berusia 29 tahun seketika memejamkan matanya dengan tangan mengepal. Ia merasa seperti anak TK yang selalu diawasi kemana pun dirinya pergi, tidak memiliki waktu sendiri bahkan jam malam pun dibatasi. Lehernya seakan tercekik, hidupnya seolah bukan miliknya lagi, melainkan milik Hendra Sanjaya, sang ayah. "Tunggu saya di luar, saya bayar tagihan dulu," jawab Kevin seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, menahan rasa kesal. Rizal mengangguk patuh. "Baik, Pak. Saya tunggu Anda di luar." Pria itu berbalik lalu melangkah meninggalkan bar. Sementara Kevin, menatap gelas kaca yang sedang ia genggam dengan wajah datar, memutarnya pelan sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja. "Sumpah, saya capek hidup kayak gini," gumamnya seraya mengusap wajahnya kasar. Kevin terdiam sejenak, tatapan matanya nampak kosong seolah tengah menatap bartender yang tengah membersihkan gelas-gelas kaca, bahkan tidak segan menunjukan keahliannya dalam memainkan barang pecah belah itu. Jika lengah sedikit saja, gelas itu bisa saja terlepas dari genggaman tangannya, meluncur bebas kemudian jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping "Mas, apa di sini ada jalan pintas buat keluar dari sini?" tanya Kevin kepada bartender tersebut. "Ada, Pak, tapi khusus karyawan," jawab sang bartender. Kevin menatap sekeliling tidak ingin aksinya dilihat oleh Rizal yang merupakan orang kepercayaan ayahnya. Rizal adalah asisten merangkap supir pribadinya, tapi bagi Kevin, pria itu tidak ada bedanya dengan Baby sister yang menjaganya ke manapun ia pergi bahkan melaporkan segala hal yang ia lakukan tidak terkecuali. "Saya kasih kamu 500ribu asalkan kamu mau antar saya keluar dari sini lewat belakang tanpa ketahuan pengawal saya, gimana?" bisik Kevin. Sang bartender nampak terdiam, menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan mencoba untuk berfikir. 500ribu adalah uang tips yang lumayan. Tidak semua pelanggan yang datang ke sana memberinya uang tips sebanyak itu. Ia hanya perlu mengantarkan pria yang sudah dalam keadaan setengah mabuk itu keluar dari pintu belakang tanpa diketahui oleh atasannya. "500ribu, ya," ucap sang bartender seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Yes, 500ribu. Apa kamu mau saya kasih uangnya di muka?" tanya Kevin, merogoh saku jas hitam yang ia kenakan, meraih beberapa lembar uang seratus ribuan lalu memberikannya kepada bartender tersebut. "Ini 500ribu pas. Antar saya keluar sekarang juga." Bartender itu menerima uang tersebut seraya menatap sekeliling dan segera memasukkannya ke dalam saku celana yang ia kenakan. "Oke, ikuti saya," ucapnya dan segera dijawab dengan anggukan oleh Kevin Sanjaya. *** 15 menit kemudian. "Akh, akhirnya saya bebas," ucap Kevin, seraya merentangkan kedua tangannya, berdiri di trotoar tidak terlalu jauh dari bar yang baru saja ia tinggalkan. "Saya harus cari taksi sebelum si Rizal ngeliat saya." Kevin menoleh ke kiri dan ke kanan berharap ada taksi yang melintas di sana, tapi sayangnya tidak satupun taksi yang kosong. Semua taksi yang kebetulan melintas nampak terisi dengan penumpang. Sampai akhirnya, seorang laki-laki terdengar menyerukan namanya dari kejauhan seketika mengejutkan. "Pak Kevin!" seru Rizal berlari menghampiri. "Sial!" umpat Kevin, segera memberhentikan sepeda motor yang kebetulan melintas di hadapannya. Pengendara motor dengan helm berwarna hitam itu sontak menginjak rem karena Kevin mendadak berdiri di tengah jalan seraya merentangkan kedua tangannya. "Dasar b******k, apa-apaan lo?" bentak pengendara tersebut. Bukannya menjawab pertanyaan orang tersebut, yang dilakukan oleh Kevin adalah berlari mendekat lalu menaiki sepeda motor bermerk Kawasaki Ninja itu. "Cepat bawa saya pergi dari sini, saya lagi dikejar penjahat," pintanya seraya menoleh kebelakang menatap Rizal yang sudah semakin mendekat. "Cepetan, astaga!" Pengendara motor itu segera memutar gas lalu melaju kencang meninggalkan tempat itu sesaat sebelum Rizal benar-benar tiba di sana. Kevin melingkarkan kedua tangannya di perut sang pengendara. "Sebenarnya yang tadi itu siapa?" tanya sang pengendara, suaranya terdengar samar-samar tersapu angin jalanan. "Hah? Kamu bilang apa? Saya gak denger!" tanya Kevin dengan nada lantang. Pengendara tersebut hanya menggelengkan kepala, sepertinya percuma berbicara dalam keadaan seperti ini. Ia akan bertanya nanti ketika mereka sudah benar-benar menjauh dari orang yang mengejar pria asing tersebut. Sampai akhirnya, kendaraan beroda dua itu berhenti di tepi jalan setelah ia rasa aman dan penjahat yang dimaksud tidak lagi mengejar. "Udah aman, sekarang turun!" pinta sang pengendara kepada Kevin. Kevin bergeming, kepalanya terkulai lemas di bahu sang pengendara dengan mata terpejam, kedua tangannya pun nampak melingkar kuat di perut sang pengendara. Sepertinya, Kevin benar-benar terlelap, tidak peduli meskipun kendaraan beroda dua itu melaju dengan kecepatan maksimal. "Hey, cepetan turun!" bentak pengendara itu dengan kesal. Namun, Kevin sama sekali bergeming, hanya suara helaan napasnya saja yang terdengar samar-samar. "Dasar sial, malah molor lagi." Gas pun kembali diputar, sepeda motor itu kembali melaju kencang membawa Kevin yang benar-benar terlelap. "Kalau sampe lo jatuh, bukan salah gue, ya," gumamnya seraya memegangi telapak tangan Kevin yang melingkar di perutnya. *** Keesokan harinya. Tubuh Kevin menggeliat, merentangkan kedua tangannya dengan mulut dibuka lebar. Matanya perlahan mulai berkedip pelan dengan kening dikerutkan menahan rasa pusing. "Argh! Kepala saya pusing banget," gumamnya seraya membuka kedua mata. Kevin bergeming, menatap langit-langit ruangan di mana lampu LED nampak terang menyilaukan mata. Pria itu menatap sekeliling kamar yang memiliki ukuran 10 kali lipat lebih kecil dari kamar milikinya dengan perasaan bingung karena dia bangun di tempat asing. Ranjang yang ia tiduri bahkan lebih kecil dari ranjang yang berada di kamar pribadinya. Kevin perlahan mulai bangkit lalu duduk tegak. "Ya Tuhan, saya di mana?" gumamnya seraya memijit pelipis wajahnya yang terasa pusing. Akan tetapi, ia dibuat terkejut saat melihat tubuhnya sendiri. Kevin Sanjaya menundukkan kepala dengan mata membulat saat menyadari tubuhnya dalam keadaan setengah telanjang, hanya mengenakan celana boxer berwarna hitam. "Haaaa!" teriak Kevin, segera menutup tubuhnya menggunakan selimut tebal. Pintu kamar tiba-tiba dibuka dari luar, seorang wanita dengan mengenakan kaos oblong berwarna putih lengkap dengan calana pendek berwarna hitam dan rambut di ikat di ujung kepala memasuki kamar dengan wajah masam. "Apaan sih teriak-teriak? Berisik tau," tanyanya dengan dingin, berdiri di depan pintu. "Ka-kamu siapa? Kamu apain saya, hah? Kenapa saya telanjang kayak gini?" tanya Kevin dengan wajah memerah, menatap gadis asing dengan wajah polos tersebut. "Emangnya lo gak ingat apa yang terjadi semalem?" tanya gadis tersebut masih dengan ekspresi wajah yang sama. "Kalau gue tau lo lagi mabok, gak bakalan gue tolongin lo. Dasar cowok sialan!" Bersambung ....

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook