"Saya gak peduli sama hp dan jas mahal saya. Hanya saja, di dompet saya itu ada KTP, dan surat-surat penting lainnya. Ada black card saya juga di sana," ucap Kevin.
"Kita harus cari si b******k yang udah ngambil barang-barang Anda, Pak Kevin," timpal Rizal merasa geram. "Kalau perlu, kita laporin masalah ini sama polisi, saya yakin pelakunya akan cepat ketangkap."
Kevin menoleh dan menatap wajah Rizal. Apa yang dikatakan oleh sang asisten benar, tapi masalahnya orang yang mengambil barang-barang miliknya itu adalah kakak kandung Evelyn. Mana mungkin dirinya melaporkan hal tersebut mengingat bahwa Evelyn sudah menolongnya semalam.
"Gak usah, Rizal. Biarin aja," jawab Kevin, dengan berat hati akan mengiklaskan barang-barang berharga miliknya. "Saya bisa memblokir black card saya. Kalau masalah KTP, saya bisa bikin yang baru."
"Tapi, Pak--"
"Sttt! Kalau saya bilang gak apa-apa, ya ... gak apa-apa!" sela Kevin, tegas dan penuh penekanan.
"Tapi kalau Tuan Besar nanyain masalah ini, gimana?"
Kevin menoleh dan menatap wajah Rizal dengan tajam, bahkan sangat tajam bak busur panah yang siap ditembakkan. "Kamu asisten saya, Rizal. Udah lebih dari tiga tahun kamu kerja sama saya. Sekarang saya mau tanya sama kamu. Sebenarnya kamu kerja sama saya atau sama Daddy?"
Rizal terdiam, menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal, merasa bingung harus menjawab apa atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh sang majikan. Ya, ia memang bekerja untuk Kevin Sanjaya, tapi Hendra Sanjaya adalah orang yang memberinya pekerjaan itu. Dirinya pun dituntun untuk menjaga bahkan melaporkan apapun yang dilakukan oleh Kevin.
"Kenapa kamu diem aja?" tanya Kevin, tatapan matanya kian tajam dalam menatap wajah Rizal.
"Sudah cukup," pinta Evelyn seraya memijit pelipis wajahnya yang terasa pusing. "Mendingan kalian pergi dari sini, kepala gue pusing."
Kevin mengalihkan pandangan matanya kepada Evelyn. "Apa perlu kita ke Rumah Sakit? Saya takut kamu kenapa-napa," tanya Kevin dengan khawatir. "Lagian, kakak macam apa yang tega menganiaya adiknya sendiri. Mana cewek lagi."
Evelyn menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Gak usah, gue gak apa-apa. Gue cuma perlu istirahat doang. Mendingan lo pulang, Vin. Gue janji bakalan ganti semua barang lo yang udah diambil sama Abang gue."
"Gak usah dipikirin. Kamu juga gak usah ganti barang-barang saya," jawab Kevin, menatap lekat wajah Evelyn. "Saya tinggal beli yang baru. Mendingan kamu pikirin luka di muka kamu."
"Gue baik-baik aja, mendingan kalian pulang sekarang," jawab Evelyn dengan dingin.
Kevin tidak memiliki pilihan selain mengikuti keinginan Evelyn. Tatapan matanya nampak lekat dalam memandang wajah wanita itu. Mengapa rasanya berat meninggalkannya sendirian terlebih dalam keadaan terluka seperti ini? Padahal, mereka belum lama saling mengenal.
"Baiklah, saya pulang sekarang, tapi saya janji bakalan balik lagi ke sini, oke?"
Evelyn hanya mengangguk dengan wajah datar.
***
Keesokan harinya tepatnya pukul 17.30, Kevin kembali ke kediaman Evelyn karena merasa khawatir dengan keadaan wanita itu. Kali ini ia tidak ditemani oleh Rizal. Dirinya datang sendiri dengan mengendarai motor gede yang sengaja ia beli siang ini. Kendaraan beroda dua itu mulai melipir lalu memasuki halaman sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras. Kevin menatap sekeliling seraya menuruni motor miliknya lalu melangkah menuju pintu.
"Evelyn, ini saya. Apa kamu ada di dalem?" seru Kevin dengan nada lantang seraya mengetuk pintu.
Akan tetapi, keadaan rumah sederhana itu benar-benar sepi dan hening. Jendelanya pun masih tertutup tirai gorden. Kevin mengerutkan kening, kembali mengetuk pintu.
"Permisi! Evelyn, ini saya," serunya, seraya memutar kenop pintu.
Anehnya, pintu tersebut dapat dengan mudah ia buka. Kevin memasuki rumah dengan rasa penasaran, kembali menyerukan nama sang pemilik rumah.
"Ev ..." seru Kevin, melangkah dengan ragu-ragu seraya mengedarkan pandangan matanya.
Kevin seketika terkejut saat melihat Evelyn tengah berbaring di sofa masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin. Sepertinya, wanita itu tidak melakukan kegiatan apapun bahkan tidak berganti pakaian.
"Ya Tuhan, Evelyn!" seru Kevin, melangkah cepat lalu berjongkok tepat di depan sofa. "Kamu kenapa, Ev? Bangun!"
Kevin mengguncangkan tubuh Evelyn dengan pelan mencoba untuk membangunkan. Namun, wanita itu sama sekali bergeming. Matanya terpejam, pelipis wajahnya pun berkeringat. Kevin meletakan punggung tangannya di kening Evelyn.
"Ya Tuhan, kamu demam, Ev," gumam Kevin lalu berdiri tegak, meraih ponsel canggih miliknya kemudian menelepon ambulans saat itu juga.
***
Tiga jam kemudian tepatnya pukul 20.30 WIB, Evelyn menggerakkan jari-jarinya pelan, kesadarannya mulai kembali usai pingsan selama beberapa jam. Anehnya, tangannya terasa berat untuk digerakkan, sesuatu yang tajam seakan menancap di pergelangan tangannya membuat dahinya mengernyit dan mencoba untuk membuka kedua mata.
"Gue di mana?" gumamnya, menatap langit-langit ruangan lalu mengangkat pergelangan tangannya di mana jarum infus tertanam di sana.
"Kamu udah bangun, Ev?" tanya Kevin, berdiri di samping ranjang.
Evelyn menatap wajah Kevin seraya mengedipkan matanya dengan lemah. "Gue di mana, Vin? Terus, kenapa lo bisa ada sama gue?"
Kevin meraih telapak tangan Evelyn lalu menggenggamnya erat. "Kamu di Rumah Sakit, Ev. Kamu demam dan saya yang bawa kamu ke sini."
Evelyn memejamkan matanya sejenak, lalu hendak menarik jarum infus yang tertanam di tangannya.
"Kamu mau ngapain, Ev?" tanya Kevin, menahan telapak tangan Evelyn.
"Gue harus pulang, Vin. Buat apa lo bawa gue ke sini segala? Gue gak punya uang buat bayar biaya Rumah Sakit," lemahnya dengan mata memerah.
"Saya yang akan menanggung semua biaya pengobatan kamu, Ev. Kata Dokter, kamu terkena gejala tipus, bahaya kalau gak dirawat di sini."
"Gue baik-baik aja. Gue mau pulang sekarang."
Kevin menggenggam erat telapak tangan Evelyn, memandang wajahnya dengan sayu. Kesedihan terlihat jelas dari sorot matanya. Kesan pertamanya tentang wanita itu salah ternyata, ia pikir Evelyn adalah wanita tomboi yang kuat, gaya bahasanya yang agak kasar seolah mencerminkan jiwa yang penuh kebebasan. Namun, hal tersebut terbantahkan.
Evelyn terlihat rapuh dan mengenaskan, tatapan matanya penuh dengan keputusasaan. Kevin meletakan telapak tangan di satu sisi wajah wanita itu, mengusap permukaan kulit wajahnya dengan lembut masih dengan tatapan mata yang sama.
"Kamu tenang, ya. Gak usah mikirin biaya Rumah Sakit. Saya yang akan membiayai pengobatan kamu sampe kamu sembuh," ucapnya dengan lembut.
Evelyn balas menatap wajah Kevin dengan mata memerah. "Tapi gue gak mau punya utang budi sama lo, Vin. Barang-barang lo yang diambil abang gue aja belum bisa gue balikin," ucapnya dengan lemah.
"Saya udah ikhlasin semuanya. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu, Ev. Kata Dokter, kamu bisa aja kehilangan nyawa kalau saya terlambat bawa kamu ke sini."
Evelyn terdiam, melihat ketulusan dari sorot mata Kevin bahkan mendengar kesungguhan dari setiap kalimat yang baru saja diucapkan oleh pria itu. Begitu rapuh jiwanya hingga mendapatkan secuil perhatian dari seorang pria saja sudah membuat hatinya bergetar. Evelyn menggigit bibir bawahnya keras seraya memalingkan wajahnya ke arah lain bersama buliran bening yang luruh dari kedua matanya.
"Sebenarnya mau lo apa, Vin? Kenapa lo baik sama gue?" tanya Evelyn menahan isakan.
"Karena saya pengen kayak kamu, saya ngerasa menemukan jati diri saya sejak ketemu sama kamu, Evelyn."
Bersambung ....