Bab 16. Kesepakatan

1056 Kata
Kevin terdiam, nama Edwin terdengar familiar. Namun, pikirannya sedang tidak stabil. Otaknya tidak mampu berfikir dengan benar. Ia hanya merasa tidak asing dengan nama itu, tapi dirinya tidak tahu siapa dan di mana ia pernah mendengar atau bahkan mengenal pria bernama Edwin yang merupakan pacar Celine, wanita yang dijodohkan dengannya. "Edwin," gumam Kevin, menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. "Rasa-rasanya saya pernah denger nama itu." Celine tersenyum hambar. "Ada banyak cowok dengan nama Edwin, mungkin salah satu karyawan di kantor kamu ada yang namanya Edwin," decaknya. "Kayaknya gak mungkin kamu kenal sama Edwin-ku." Kevin mengangguk-anggukkan kepala, apa yang Celine ucapkan masuk akal juga. Ada banyak laki-laki bernama Edwin di negara ini bahkan ada ribuan laki-laki dengan nama yang sama di dunia ini. Ia tidak terlalu memikirkan hal tersebut. "Tapi rasanya gak mungkin kamu kenal sama Edwin, pacarku. Dia bukan orang spesial seperti kamu, Vin. Dia cuma cowok biasa," ucap Celine masih dengan senyuman yang sama. "Justru karena itu aku gak yakin kalau hubungan kami bakalan direstui sama orang tuaku. Mereka maunya aku nikah sama pria hebat seperti kamu." Kevin tersenyum sinis. "Jangan panggil saya dengan sebutan pria hebat, penampilan tak mencerminkan jati diri seseorang dan bagi saya, setiap manusia sama saja dihadapan Tuhan," decaknya. Sedari kecil, ia dituntut untuk menjadi laki-laki sempurna, memiliki nilai yang sempura, tidak boleh ada cela sedikit pun dalam hidupnya dan itu amat sangat membuatnya tertekan. Itu sebabnya ia tidak suka disebut laki-laki hebat. Gelar itu hanya membuatnya semakin tercekik karena dituntut harus selalu berhati-hati dalam melangkah. "Ya, ya, ya, kamu benar. Setiap manusia sama di hadapan Tuhan, tapi pemikiran orang tua kita tak setebuka itu," timpal Celine. "Bagi mereka, bibit, bebet, bobot itu penting dan hal yang paling utama. Apalagi status sosial, bagi mereka orang kayak Edwin tak pantas dan tak layak jadi menantunya." "Apa mereka tau kamu punya pacar?" Celine menggelengkan kepala. "Nggak, aku gak berani kasih tau mereka. Aku takut." "Takut mereka akan mencabut semua pasilitas yang kamu pake selama ini? Takut nama kamu akan dicoret dari ahli waris, begitu?" Celine menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Rasanya pengen menyangkal pernyataan kamu, tapi seperti itulah yang aku rasakan. Kayaknya, aku gak bakalan bisa hidup susah." Kevin tersenyum menyeringai. "Terus, kenapa kamu pacaran sama orang kayak si Edwin?" "Entahlah, kita tak bisa memilih kepada siapa cinta kita akan berlabuh, dan cinta itu buta, Vin," jawab Celine tersenyum lebar. Kevin mengangguk pelan. "Oke, sepakat." Celine mengerutkan kening. "Sepakat?" "Tadi kamu minta kira pura-pura menerima perjodohan ini, 'kan?" tanya Kevin, menatap lekat wajah Celine. "Oke, saya mau. Kita pura-pura menerima perjodohan ini dan selama gak ketauan, kita jalani aja hubungan dengan pacar masing-masing." "Kalau sampe ketahuan, gimana?" "Kita pikirkan itu nanti," jawab Kevin. "Sekarang kamu akan saya kenalkan sama pacar saya. Dia pasti lagi kerja sekarang." Celine mengangguk dengan senyum lebar seraya mengulurkan telapak tangannya untuk bersalaman. "Oke, deal," ucapnya. Kevin menerima uluran tangan wanita itu dan menjabat tangannya. "Kayaknya, kamu gak cocok dijadikan istri, tapi lebih cocok dijadikan teman." "Nggak, aku gak mau berteman sama kamu," tolak Celine, segera melepaskan jabatan tangan mereka. "Gak ada yang namanya pertemanan antara cowok dan cewek. Kita hanya partner bisnis, paham?" Kevin tertawa nyaring. "Hahahah! Oke, saya suka pemikiran kamu. Kita hanya sebatas partner bisnis, tak kurang dan tidak lebih." *** Setelah sepakat akan berpura-pura menerima perjodohan mereka, Kevin membawa Celine ke bengkal tempat di mana Evelyn bekerja. Semoga saja kekasihnya itu tidak salah paham dan mengerti keadaan mereka. Mobil yang ia kendarai pun akhirnya mulai melipir lalu berhenti tepat di depan bengkel. Evelyn yang sedang mencuci kedua tangannya yang menghitam karena oli seketika tersenyum lebar saat melihat kendaraan beroda empat itu. Rasa rindunya akhirnya terobati, meski baru pagi ini mereka berpisah, tapi rasa rindu itu sudah memenuhi relung kalbunya dan rasanya benar-benar bahagia ketika melihat laki-laki yang sedang ia rindukan keluar dari dalam mobil. Akan tetapi, senyuman yang mengembang di kedua sisi bibir seorang Evelyn seketika sirna saat melihat wanita cantik keluar dari mobil yang sama dengan Kevin. Wajah Evelyn seketika memerah, rasa panas tiba-tiba datang membakar hatinya. Terlebih, wanita itu berpenampilan peminim dengan gaun merah terang, penampilan berbanding terbalik dengan dirinya yang apa adanya bahkan hanya mengenakan seragam bengkel yang sudah kotor. "Wanita itu siapa? Maksudnya apa coba Dateng ke sini sama cewek cantik?" gumam Evelyn menahan rasa cemburu, mengeringkan telapak tangannya menggunakan kain lap. Kevin tersenyum lebar, berlari menghampiri Evelyn dengan perasaan senang. "Hai, Cinta. Apa perkejaan kamu udah selesai hari ini?" tanyanya, segera memeluk tubuh Evelyn sesaat setelah ia tiba di sana. "Saya kangen banget sama kamu, Sayang. Eu ... saya mau ngenalin kamu sama seseorang." Evelyn mengurai pelukan dengan wajah masam. "Lepasin, apaan sih?" decaknya dengan kesal. Kevin menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan. Ia paham dengan sikap sinis dan dingin kekasihnya itu. Wajahnya yang memerah karena terbakar api cemburu membuat wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan. Sementara Celine, melangkah menghampiri mereka dengan senyum lebar. "Jadi dia pacar kamu?" tanyanya, menatap Evelin dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Kenalin, namaku Celine, tunangan pacar kamu. Ups, maksud aku tunangan pura-puranya pacar kamu." Evelyn mengerutkan kening, hatinya semakin panas terbakar api cemburu menatap wajah Celine lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Kevin. "Jelasin sama aku, Vin. Apa ini? Kamu punya tunangan dan kamu mengenalkan tunangan kamu sama aku?" Kevin sedikit gelagapan. "Hah? Eu ... jangan salah paham dulu, Ev. Saya bisa jelasin," jawab Kevin dengan gugup. Celine tersenyum ramah, mengulurkan telapak tangannya untuk bersalaman. "Ternyata Kevin gak bohong, Evelyn. Kamu beneran montir cantik." Evelyn terdiam, menatap telapak tangan Celine dengan kikuk. Kulit tangannya seputih salju dengan kutek berwarna merah yang mewarnai kuku lentiknya. Berbanding terbalik dengan tangannya yang kusam bahkan masih tersisa bekas oli motor di sana. Celine meraih telapak tangan Evelyn tanpa sungkan lalu menjabat tangannya dengan senyum ramah. "Gak usah takut, aku gak bakalan ngerebut pacar kamu, Ev. Kami cuma pura-pura nerima perjodohan orang tua kami," ucapnya, kembali melepaskan jabatan tangan mereka. "Aku juga punya pacar ko." Evelyn tersenyum canggung seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. "Maaf, aku gak ngerti." "Biar nanti pacar kamu yang jelasin," jawab Celine. "Yang pasti, kamu beruntung dicintai secara ugal-ugalan sama pacar kamu ini. Saran aku, pegang erat tangan Kevin, jangan sampe melepaskan dia apapun yang terjadi. Kalian cocok. Hmm, aku ngerasa lagi ngeliat serial Romeo and Juliet di dunia nyata. Semoga cinta kalian tetap kokoh sekeras apapun badai menerjang." Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN