KETIKA TUAN AROGAN JATUH CINTA (8)
Dua hari kemudian pak Sobri datang, pemilik rumah mewah itu meminta kami menemuinya.
Aku dan Ibu duduk berhimpitan di hadapan Tuan Barra. Kami seperti pesakitan yang yang tengah diadili. Rasanya sangat tak nyaman. Ibu makin gelisah karena menahan kemih. Ruangan ber AC ini terlalu dingin.
Tuan Barra diapit Pak Sobri dan dua orang yang mengenakan setelan jas hitam. Aku baru ini melihat mereka. Laki-laki tinggi dengan kepala botak sesekali berdiskusi dengan Tuan Barra. Seorang lagi berkacamata tebal fokus pada laptop yang berada di depannya.
Dalam hati aku mulai bertanya-tanya siapakah sebenarnya Tuan Barra? Pak Sobri dan Bu Sarinah sudah mengakui mereka bukanlah orangtua kandungnya. Hubungan mereka seperti apa, aku dan Ibu tak berani bertanya lebih jauh.
Aku mulai menghubungkan kedatangan orang-orang berpakaian hitam itu dengan keberadaan Tuan Barra di kampung ini. Seperti apa sesungguhnya hubungan laki-laki berkursi roda ini dengan Pak Sobri dan istrinya.
Apa masalah Tuan Barra dan orang-orang itu? Apa mereka terlibat bisnis haram, misalnya n*****a? Atau laki-laki yang kerap memaki siang malam ini seorang buronan polisi? Aku menduga-duga.
Mereka baru kembali setelah seminggu lebih di luar kota. Kudengar hal itu rutin dilakukan untuk pengobatan laki-laki berwajah pucat itu.
Baik Pak Sobri maupun istrinya tak pernah terbuka perihal sakit yang diderita Tuan Barra. Lelaki itu sekarang tengah menatap kami dengan wajah datar. Dingin. Bbrrrr.
Aku menceritakan semua yang kami saksikan malam itu. Selama beberapa hari rumah mereka gelap gulita karena tak ada yang berani masuk atau sekedar memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Sekilas tak ada kerusakan yang berarti baik di pagar ataupun pintu rumah. Kecuali jendela atas yang dipecahkan.
“Coba diingat-ingat, apa ada tanda khusus yang Ibu lihat selain pakaian yang dikenakan mereka?” Pria botak sebelah Pak Sobri bertanya hal yang telah kami ceritakan berulangkali.
Aku melirik Rio yang tengah disuapi Bu Sarinah. Adikku tambah akrab dengan pemilik rumah ini. Ah, Rio bikin malu saja. Datang-datang bilang mau makan.
Aku dan Ibu menggeleng berbarengan.
Aku mulai bosan melihat mereka mendiskusikan sesuatu dari tadi. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Ada benda yang kutemukan ketika berangkat mengajar keesokan harinya. Benda itu tersimpan dalam tas kerja. Aku bergegas ke rumah bermaksud menunjukkan pada mereka.
Wajah Tuan Barra berubah kelam saat memperhatikan benda yang kutunjukkan. Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal. Napasnya memburu. Ibu yang selama ini tak percaya saat kuceritakan perangai laki-laki ini semakin gelisah dalam duduknya.
“Kami boleh pulang? Semua yang kami lihat sudah diceritakan semua. Mungkin ada info lain yang bisa Tuan tanyakan ke Pak RT atau warga lain. Semua melihat saat mereka masuk ke mobil terburu-buru malam itu.”
Kami berpamitan setelah susah payah membujuk Rio pulang. Dari ekor mata kulihat Tuan Barra berbicara ke pria botak dengan wajah tegang.
Alamat malam ini akan kacau seperti biasa. Aku membatin dalam hati.
Kami turun ke bawah diantar Pak Sobri dan Bu Sarinah. Ketika melangkah menuju pintu keluar rumah, lift kembali berdenting. Tuan Barra dan dua orang bersamanya menyusul.
“Tunggu! Apakah setelah kejadian itu kau merasa diikuti orang asing?” pertanyaan Tuan Barra membuat otakku berpikir jauh.
Aku menggeleng. Tepatnya tak tahu. Semuanya nampak normal. Tiba-tiba aku merinding.
“A-apa maksudnya? Apa tujuan orang-orang itu bukan untuk mencuri atau mengambil benda berharga dirumah ini?”
Laki-laki itu membalas pertanyaanku dengan sorot matanya yang tajam. Ada kilat aneh kutemukan di sana.
“Pulanglah, semua baik-baik saja.” sahutnya setelah beberapa detik kami beradu pandang. Ia menarik napas panjang. Memperhatikan kami bertiga.
Aku mengekori langkah Ibu dan Rio dengan hati bertanya-tanya.
“Sepertinya mereka punya masalah serius, Nak,” Ibu berbisik saat kami bersisian menuju rumah. Aku mengangguk.
“Baru ini Ibu melihatnya dari dekat. Iya seram. Seperti yang pernah kamu bilang.”
Aku tertawa. “Mudah-mudahan hatinya baik, Bu,” Entah kenapa aku berucap begitu. Padahal selama ini aku tak menyukai tabiatnya.
Insting saja. Aku meyakini dia sebenarnya baik, hanya mungkin penyakit yang diderita dan kondisinya yang payah membuat emosi turun naik tak terkendali.
Seperti yang diakui tetangga kanan kiri selama ini mereka kerap memberikan bantuan kepada warga sekitar. Semoga itu bukanlah kedok untuk menutupi kejahatan yang mungkin saja mereka lakukan.
*
‘Tolong, jangan ganggu suamiku. Bukankah Mbak sendiri yang memilih berpisah. Tak mau dipoligami?’
Dahiku berkerut-kerut membaca pesan masuk dari nomor tak dikenal. Jari kuarahkan ke foto profil yang terpasang di kontak WA tersebut.
Emosiku merayap naik. Widya!
Apa maksudnya dengan kata-kata itu. Dengan jengkel aku melempar HP asal . Jika menuruti hati ingin kubalas dengan kata-kata lebih kasar.
Tapi, sudahlah. Aku tak mau mengotori lisan meladeni istri mantan suamiku itu.
Hahhh. Apalagi yang mereka inginkan.
Belum puas melihat aku dan Mas Dimas bercerai? Aku mengingat wajah Mas Dimas saat terakhir bertemu sore itu. Apa iya, Mas Dimas bercerita habis menemuiku? Tak mungkin ujug-ujug Widya berkirim pesan jika tak mengetahui apapun.
Jika tak punya malu, tentu aku memanfaatkan kondisi Mas Dimas saat ini.
Tapi, ku sama sekali tak tertarik dengan barang milik orang lain, apalagi ini mantan yang sudah aku lepaskan. Tak ada juga keinginan membalas keburukan dengan keburukan. Ayah menanamkan padaku untuk tidak gegabah dalam bersikap dan bertindak.
Pagi datang. Kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. Sepagi ini Rio sudah ribut ingin makan. Dia menirukan suara ayam jago dari kandang tetangga yang berkokok tak henti sembari menunggu masakan Ibu matang.
Rio menghabiskan nasinya dengan cepat karena ingin bermain di luar.
Kami berjalan ke arah kiri yang sedikit menurun. Menyapa beberapa pengendara motor yang melintas menuju kebun. Belum ada jam enam namun mereka telah berjibaku mengais rezeki.
Menuju arah pulang aku membiarkan Rio berjalan di depan. Ketika melewati rumah Pak Sobri tiba-tiba pintu besi itu terbuka sendiri. Tanpa dapat kucegah Rio berlari melesat ke dalam.
“Rioo ...!!!” cegahku. Aku menyusulnya sebelum pintu tertutup.
Langkahku langsung terhenti melihat Rio berlari mengitari Tuan Barra. Laki-laki itu menatap Rio yang tertawa-tawa gembira. Detik berikutnya tanpa kuduga Rio duduk dipangkuan tuan Barra.
Aku sontak teriak.
“Rio, jangan begitu!!”
Tuan Barra menatapku. Mungkin dia terkejut mendengar aku berteriak.
“Maafkan Rio, mohon dimaklumi keadaannya.” Aku menarik Rio agar menjauh. Takut laki-laki itu marah dengan kelakuan adikku. Rio tak mengerti siapa yang diajaknya bermain.
“Kenapa? Apa kami tak boleh bermain?”
“Oh, eh, bukan begitu. Takut anda tak nyaman, dia berat.” jawabku jujur. Tuan Barra memandangku tajam.
“Kau kira aku selemah itu?”
“Bukan begitu, nanti Tuan memarahinya,” aku mencari jawaban sekenanya.
“Dia anak yang menyenangkan. Tidak sepertimu.” Balasnya dingin.
Sialan.
Aku beranikan diri menatap wajahnya. Jujur saja wajahnya memang tidak setampan pria-pria kaya di TV, namun tidak bisa juga dikatakan jelek. Hanya sayang, bermulut tajam.
“Pulanglah! Biarkan dia di sini!” dia mengusirku.
“Heh, enggak! Ayo pulang, Dek!” Aku bersikeras. Menarik Rio yang masih duduk seenaknya dipangkuan laki-laki itu.
“Maen, yok, Om! Ngeeng ... ngeeeng ....”
“Oke, kita ambil kursi satu lagi.”
Tuan Barra menekan tombol di kursi rodanya, tak lama Pak Sobri keluar mendekati kami.
“Dia mau mobilan,” tunjuknya ke Rio. Pak Sobri mengangguk dan melihatku sekilas.
Aku menarik napas.
“Iyo, ayo pulang. Kakak mau kerja,” aku membujuk Rio. Dia malah menggeleng. Aku kehilangan kesabaran.
“Kau keras kepala sekali, ya. Tapi lebih bagus begitu dari pada menangis di jendela.”
“Bukan urusan Anda!” sengitku tak suka.
Wajahnya mengeras mendengar jawabanku.
Lelaki itu memanggil Rio yang mulai mendorong kursi roda di paving. “Rio! mau pulang atau main sama Om?”
“Maen, maen, maen ...!” Rio tertawa-tawa gembira. Ia mendorong kursi roda mengitari palem botol ditengah taman.
“Kau dengar? Telingamu belum tuli, kan?” seringainya tipis. Bibirnya terangkat seolah mengejek. Aku melengos putus asa.
“Terserah, aku tak bertanggungjawab jika Anda kewalahan menghadapinya.” Aku menuju pagar.
Begitu sensor bekerja dan pagar terbuka aku segera angkat kaki. Sudahlah, biar Ibu yang membujuknya. Wajah laki-laki bermulut pedas itu membuatku jengkel.
Baru berjalan sekitar tujuh langkah aku mendengar suara keras. Braakkk! Lalu jerit kesakitan Rio. Dengan cepat aku kembali dan menggedor pagar.
“Rioo!! Kenapa?"
“Hei,Tuan! Buka pintunya ...!!”
Bersambung.