CP Episode 18

579 Kata
Pagi harinya Hermanto tetap bekerja sebagaimana mestinya. Cuma di belahan perasaannya masih diliputi kegelisahan. Juga tidak terlepas dari perasaan bersalah. Sekarang ia dituntut untuk menentukan sikap dan pilihan. Tetap mempertahankan cinta berarti harus berani menghalau rintangan. Menghadapi kenyataan bagaimanapun sulitnya. Menebalkan muka alias tak tahu malu. Atau meneruskan cita-cita yang hampir hilang semangatnya. Itulah sebabnya Hermanto jadi senantiasa bimbang dan gelisah. Hal yang dialaminya kini bukan masalah yang sepele. Karena ini menyangkut kehidupan rumah tangga orang lain.Merusak pagar ayu. Subekti masuk ke ruang kerja Hermanto sambil tersenyum. Dan Hermanto agak heran melihat senyum Subekti yang mengandung misteri hari ini. "Ada sesuatu, Pak?" tegur Hermanto. "Beberapa hari ini Direktris kita nampak murung dan kurang ceria," kata Subekti sambil senyum kecut. Hermanto diam saja. la pura-pura tak mau tahu dengan apa yang dialami Direktrisnya. "Kalau beliau murung begitu, tak ada satu pun karyawan di sini yang macam-macam. Semuanya bekerja tanpa banyak bicara." "Memangnya Direktris kita galak?" "Sebenarnya sih tidak. Cuma kalau ada yang menganggap sepele pekerjaan dan tidak dapat diselesaikan dalam jangka yang tepat akan diberi peringatan tegas. Tiga kali tetap begitu dikeluarkan dari kantor ini." Hermanto manggut-manggut. Dewi memang berhasil membentuk sikap sebagai pimpinan yang berwibawa dan kreatif. Maka perkembangan kemajuan perusahaan ini berjalan pesat. Dia berhasil dalam bidang bisnis, tapi gagal membina rumah tangga yang bahagia. Sungguh sangat disayangkan. Pintu ruang kerja Hermanto terbuka lagi. Muncul Lila di ambang pintu. "Pak Hermanto disuruh menghadap Direktris," kata Lila. "Baik." "Her, mudah-mudahan kau tidak kena marahnya." Hermanto cuma tersenyum, lalu berjalan keluar ruangannya. Dengan perlahan Hermanto membuka pintu ruang Direksi. Setelah ia menutup pintu itu, memandang Dewi yang duduk di belakang meja. la tak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya pada wanita itu. Cuma ia tahu bahwa wanita itu sangat berarti baginya. Mata wanita itu menimbulkan pesona. Memancarkan bara cinta yang senantiasa tak kunjung padam. Juga basah digenangi air mata menjadikan berkaca-kaca. "Kunci pintunya rapat-rapat, mas Her," kata Dewi. Hermanto mengunci pintu itu, kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Dewi. "Kenapa mas Her jadi berubah?" kata Dewi mengeluh. Hermanto memandang wanita yang duduk di depannya. Wanita yang penuh wibawa bila di hadapan semua karyawannya. Tapi kini wanita itu seperti tak berdaya menghadapinya. Seperti orang yang memohon belas kasihan. Maka perasaan Hermanto jadi terharu. "Dewi jika boleh kukatakan padamu, aku telah merasa kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri. Semangat dan cita-citaku hampir punah karena menghadapi masalah cinta yang membuatku bersalah. Aku jadi tak kuasa menentukan apapun atas semuanya ini." "Jadi kau ragu-ragu dan tak mempunyai keberanian." "Sudah kukatakan semuanya tergantung suamimu. Aku tak mau menyakiti perasaannya, karena dia harus kita kasihani." "Tapi dia merelakan kita hidup bersama, asalkan tidak terjadi perceraian." "Itu suatu hal yang tidak mungkin terjadi, Dewi. Dan kalau saja kita menempuh jalan itu, sama halnya menghukum Himawan dalam api neraka. Menyakiti perasaannya dan secara tidak langsung kita akan membunuhnya perlahan-lahan. Aku tidak mau sekejam itu." Dewi merasa amat kecewa. "Aku jadi menyesali pertemuan kita, mas Her. Sekian lama aku memimpikan kehadiran lelaki seperti dirimu. Namun setelah kutemukan dan aku mencintaimu, yang kualami kini hanya merupakan sebuah angan-angan." "Dewi, jodoh tak dapat dikejar dan dipaksakan. Kau harus menyadari apa yang kau alami pada dirimu sendiri. Bukankah kau tak menghendaki perkawinanmu dengan Himawan? Barangkali kau juga tak pernah memikirkan jika kau akan mendapatkan suami seperti Himawan. Jadi kehendak dan usaha manusia tak akan lepas dari takdir Tuhan. Apalagi mengenai jodoh. Kita pasrah saja kepada tuhan, jika memang DIA merestui kita, seluruh kehidupan ini rangkaian kemungkinan. Kita bisa membina rumah tangga, karena di perkuat dengan cinta. TBC.........!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN