bc

Cinta Pertama

book_age18+
109
IKUTI
1K
BACA
HE
others
drama
sweet
bisexual
asexual
like
intro-logo
Uraian

Cinta PERTAMA adalah pengalaman paling indah bagi semua insan. Cinta pertama penuh keindahan, dunia baru yang serba aneh, tapi penuh dengan taburan perasaan bahagia yang memenuhi seluruh sisi kalbu, memenuhi dunia dengan pelangi warna-warni, juga semua rahasianya, sehingga ia akan melupakan segala penderitaan kehidupan ini. Kali ini kisah pemuda pintar cerdas giat bekerja nan rajin dan ia jadi perebutan oleh semua gadis gadis sexy dan kaya raya tetapi dia tetap tangguh dan mengacuhkannya lalu pemuda ini sedang jatuh cinta dan menaruh perasaan dengan seorang wanita yang memiliki suami gimana kelanjutan ceritanya ikuti terus kisahnya ya jangan lupa tekan ♥️ Dan commentnya sobat...!!

chap-preview
Pratinjau gratis
CP Episode 01
Jam beker yang berdiri di atas meja belajar di kamar Hermanto berdering keras. Suara dering itu membangunkan Hermanto yang masih tidur nyenyak secara mengagetkan. Sambil menggerutu Hermanto melompat turun daru tempat tidurnya dan menekan tombol jam beker itu supaya berhenti berdering. Kemudian ia memandang jarum jam itu dengan perasaan kesal. "Masih jam lima pagi," gumamnya sambil mengeluh. Dan ia kembali berbaring di atas tempat tidur. Namun matanya tidak mau terpejam lagi untuk meneruskan waktu istirahatnya. Sebab di dalam dadanya masih terdapat sisa-sisa kejengkelan, merasa tidurnya yang nyenyak di ganggu oleh suara dering jam beker. Merasa baru beberapa detik tertidur nyenyak sudah dikusik oleh dering itu. 'Kurang ajar!' Umpat Hermanto penuh emosi. Sejenak Hermanto termenung dan coba menerka siapa gerangan yang suka usil di rumah ini. Beberapa teman kost di rumah ini yang sering masuk ke kamarnya memang hampir semua temannya. Dan Hermanto setiap saat memberikan kebebasan kepada mereka. Tapi untuk kali ini Hermanto merasa kesal. Ia langsung menduga Jarot lah yang melakukannya. Pemuda itu sering berbuat usil terhadap seluruh penghuni rumah kost ini. Tapi Jarot merupakan salah satu yang paling suka humor dan memang sikapnya sering mengundang tawa. Oleh karena itu, Hermanto jadi menghela nafas panjang. Ia tak akan bisa marah pada Jarot. Kalau toh ia berniat marah pada Pemuda itu, tapi setelah bertemu muka marahnya hilang dan malah tertawa. Akhirnya Hermanto beranjak turun dari tempat tidur. Tubuhnya masih kelihatan letih kurang tidur. Semalam ia tidur tengah malam karena mengerjakan gambar kontruksi bangunan dalam rangka studynya di bidang arsitektur. Ia salah seorang mahasiswa yang rajin dan pandai. Dengan langkah lesu Hermanto membuka daun jendela kamarnya. Udara berhembus menyapu wajahnya yang kurang b*******h. Di luar suasana masih sepi. Langit masih kelabu, Hermanto memandang keluar melalui jendela yang terpantang. Ia melihat seorang wanita berambut panjang sedang mendorong kursi roda yang di duduki seorang laki-laki. Perhatian Hermanto makin terpusat pada wanita dan laki-laki yang duduk di kursi roda itu. Sejak Hermanto tinggal di rumah ini, baru menyaksikan hal ini untuk pertama kalinya. Dalam sorotan lampu pagar halaman yang dilalui, wajah wanita itu terlihat begitu cantik dan anggun di mata Hermanto, dan membuat Hermanto sampai terpaku melihatnya. Dari sekian banyak gadis yang di kenalnya, rasanya tak mampu menandingi kecantikan wanita tersebut. Hermanto terus mengawasi wanita yang mendorong kursi roda itu sampai lenyap di tikungan jalan. Hermanto menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lalu ia berbalik badan berjalan menghampiri meja gambarnya, ia meneruskan sedikit gambar kontruksi bangunan itu yang di rasa kurang sempurna. Sementara waktu terus melaju dan sinar matahari pagi menerobos melalui jendela kamarnya yang terpantang. Pintu kamar di ketuk dari luar, Hermanto mengentikan sejenak kesibukannya menggambar. Ia segera membuka pintu kamarnya, seorang wanita tua mengantarkan kopi s**u. "Minum dulu kopi susunya, nak Her," kata wanita tua itu. "Terima kasih. Taruh saja di meja, mbok." Pembantu rumah itu menaruh gelas berisi kopi s**u itu di atas meja beserta beberapa potong roti yang di olesi mentega lalu meninggalkan kamar itu. Hermanto menghampiri meja dan meneguk kopi s**u, lalu mengambil sepotong roti. Ia mengunyah potongan roti itu sambil duduk santai di kursi. Telinganya menangkap suara ribut ribut di kamar sebelah. 'Pasti Jarot dan Darto, kedua manusia itu setiap bangun tidur selalu saja bercanda sambil tertawa' umpat Hermanto. Terutama manakala minuman kopi s**u dan roti mentega dibagi-bagikan ke setiap kamar. Belum habis Hermanto memakan roti, Jarot sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, pemuda itu cengar cengir persis kera mabok terasi. "Semalam mimpi indah?" Tegur Jarot. "Gundulmu peang! Kau yang pasang jarum jam beker berdering pagi-pagi kan?!" Tanya Hermanto kesal "Eeeeh... enak aja menuduh orang." "Jadi siapa?!" "Mana aku tahu!" "Kalau aku tau persis orang yang suka usil, akan kupotong burungnya!" Ancam Hermanto. "Lahhh...pagi-pagi sudah sewot, pasti semalam kau kerasukan jin dalam botol," Ujar Jarot sambil cekikikan. "Jangan ngeledek!" "Kalau misalnya yang suka usil itu Mira, apakah kau tega memotong burungnya?" Timpal Jarot sambil ngeledek dan cekikikan. Hermanto cuma melotot tak bisa menjawab. "Kau tahu pasti yang berbuat usil itu mira?" Tanya Hermanto lagi. "Iya itukan misalnya!" "Kapan dia Datang?" "Kemarin, dia mencarimu masuk ke dalam kamar ini dan kau sedang pergi." Jawab jarot. Hermanto menggaruk dagunya yang tidak gatal. "Bagaimana? Apa sekejam itu kamu pada mira?" Tanya Jarot ngeledek sambil tertawa ngakak sambil meninggalkannya. "Woi kurang ajar mau kemana kau?!" Kesal Hermanto meneriaki Jarot. Daun cemara dengan tangkainya yang kering jatuh berterbangan di tiup angin. Meskipun matahari bersinarterik ke permukaan bumi, suasana di gedung kantin Universitas Trisakti begitu sejuk. Angin yang berhembus menyusup ke seluruh ruangan kantin semilir lembut. Suasana jadi tambah nyaman. Sebagian mahasiswa dan mahasiswi sedang santai mengobrol di situ sambil menikmati minuman ataupun makannan yang di pesannya. Hermanto bersama Jarot berjalan bersisian menuju kantin. Tangan kiri Hermanto memegang map dan tangan kanannya di masukkan kedalam saku celananya. Ia berjalan santai di sisi Jarot, nampaknya kedua pemuda itu sedang terlibat pembicaraan yang serius. "Jangan ragu untuk mengambil keputusan, Her. Selama ini kau tak pernah serius terhadap gadis-gadis yang menaruh hasrat padamu. Kalau menurut penilaianku, mereka cantik-cantik dan juga anak orang kaya. Jangan kau sia-siakan kesempatan baik ini. Kau tinggal pilih si Tutik, Rina, atau Mira," desak Jarot. Hermanto hanya menarik nafas panjang, ia tertunduk sambil memandangi tanah yang akan di pijaknya. "Aku belum menemukan pilihan hati yang tepat, Jarot." "Sombong kali si Ucok ini!" Kata jarot menjuluki Hermanto si Ucok dengan logat batak. Hermanto pun tertawa ngakak. "Mau cari macam mana lagi kau, Cok. Yang begitu masih kurang tepat, aku khawatir kau malah dapat yang tidak punya hidung!" Kata si Jarot. Dan Hermanto ngakak, di dorongnya bahu Jarot. Jarot sempoyongan sembari memaki Hermanto. Hermanto dan Jarot sampai di kantin, beberapa pasang mata gadis-gadis yang ada di kantin itu memandang Hermanto. Pandangan yang menyimpan binar-binar pesona akan ketampanan pemuda itu. Ingin mendapatkan sepercik harapan cinta dari sang arjuna. Namun Hermanto selalu bersikap wajar dan berhati-hati tidak mudah memberikan sebentuk harapan, jika nalurinya belum menemukan pilihan yang di anggapnya tepat. Segerombolan gadis-gadis menegur Hermanto manja. "Hallo" "Hallo juga," balas Hermanto. "Ngobrol sama kita dong!" "Sorry banget, masih ada hal serius yang sedang saya bicarakan dengan teman saya." "Jangan terlalu serius, nanti cepat tua, Her!" Gurau seorang gadis. Hermanto tersenyum kalem sambil berlalu. Ia mengajak jarot duduk di sudut ruang kantin. "Mau minum apa?" Tanya Hermanto kepada Jarot. "Es Jeruk." Hermanto segera memanggil pelayan kantin, pelayan kantin datang dan Hermanto memesan dua gelas es jeruk. "Bagaimana pendapatmu tentang Mira?" Tanya Jarot. "Dia baik hati." "Kurasa sangat cocok denganmu." "Aku belum tahu." "Susah benar mengajak tukar pendapat dengan si Ucok ini! Semua demi masa depanmu, bukan untuk siapa-siapa, Cok! Pertama, dia itu putri rumah indekost yang kita tempati. Kedua, dia cantik dan anak orang kaya. Ketiga, pasti kau bakal gratis tanpa bayar uang kost kalau mau jadi pacarnya. Termasuk aku juga! He...he...he..." "Otakmu Kotor!" Maki Hermanto sembari tertawa. "Dalam hidup hidup ini kita harus bisa mempergunakan kesempatan. Jangan cuma melewati hari-hari dengan naluri, tapi dengan rasio ngerti?! Nanti kau keburu tua masih aja perjaka. Ingat Her, segala sesuatu yang bertele-tele akan ketinggalan kesempatan." "Sudah...sudah! Aku jadi pusing mendengar pembicaraanmu yang memojokkan aku. Yang jelas, aku tidak akan menjual cinta dan harga diriku untuk gadis yang bukan pilihanku." "Nah...kalau kebetulan gadis yang menjadi pilihanmu itu jatuh pada gadis anak orang kaya bagaimana?" "Pada dasarnya kamu saling mencintai titik." Wuaaah...betapa agungnya cinta dalam nalurimu. Menurut pendapatku, ini menurut pendapatku loh yaa..." "Apa?!" Potong Hermanto serius. "Kau tidak tepat menjadi insinyur. Lebih tepatnya jadi seorang pengarang." "Alasannya?" "Selalu mendambakan dan mengagungkan cinta," ujar Jarot sambil ngakak. Suara tawa Jarot mengundang perhatian segerombolan gadis-gadis itu saling berbisik-bisik membicarakan Hermanto yang nampak senyum-senyum keki kepada Jarot. "Kau memang suka ngeledek orang, kalau saja aku mudah naik darah, sudah ku hajar habis habisan dari kemarin!" "Sabarlah, Cok. Tenang..." Mata Jarot melayangkan pandang ke halaman kantin. Di antara sari-sati panas bumi akibat sinar terik matahari, Jarot melihat seorang gadis berjalan berlenggak-lenggok menuju ke kantin. Rambut gadis itu terurai di tiup angin melambai-lambai. "Dengan tenang... cobalah tengok ke belakang," perintah Jarot. "Ada sesuatu?" "Lihatlah sendiri!" Hermanto menoleh kebelakang, ia agak terpaku melihat kedatangan Mira yang menuju ke arahnya. Dan gadis itu melambaikan tangannya dengan manja. Hermanto pun tersenyum menyambutnya, sedangkan Jarot membalas lambaian tangan Mira dengan penuh semangat. "Apanya dong, yang masih di rasa kurang?, gadis begitu kok masih di bilang bukan pilihan yang tepat!" Kata Jarot menyindir Hermanto. "Diam nyong!" Bentak Hermanto kesal. Jarot pun cekikikan. Mira menghampiri Hermanto Dan Jarot. "Bolehkah aku bergabung dengan kalian berdua?" Tanya mira dengan lembut. "Tidak ada tanda larangan duduk saja," sahut Jarot "Silahkan Mira." Hermanto menarikkan kursi untuk Mira. Mira segera duduk di kursi yang bersebelahan dengan Hermanto. Jarot berusaha menyimpan senyumnya, Hermanto memandang Jarot dengan gemas. "Kemarin aku datang ketempat mas Her, tapi mas Her tidak ada di rumah. Kemana sih?" Tanya Mira manja. "Ada urusan di luar," sahut Hermanto. "Biasa... urusan bussines. Mas Her kan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan," sindir Jarot sambil nyengir. Hermanto mendelikkan mata lebar-lebar ke arah jarot. "Oh ya? Sebenarnya mira sih cuma ingin menyampaikan undangan pesta, barangkali mas Her punya waktu senggang mau menemaniku." "Jangan khawatir kalau mas Her sibuk ada ban serepnya," Jarot langsung menimpali. "Ban serep?" Gumam Mira terbengong. "Yah, nih ban serepnya."Jarot menunjuk pada dirinya sendiri. Mira tertawa. Hermanto makin gemas tapi geli. "Tak usah ya? Yang aku ajak kan mas Her, bukannya kamu," sergah Mira manja. "Itu misalnya kalo ban serepnya di perlukan. Kalau tidak ya biarkan aja sampai tua." "Jangan layani orang sinting itu!" Hermanto mengejek Jarot, yang di ejek cuma terkekeh. Mira tersenyum manis sambil melirik Hermanto. "Mas Her punya waktu senggang kan?" Tanya Mira. "Kapan Mira?" "Malam minggu ini." Hermanto berpikir sambil menimbang-nimbang antara ya atau tidak. 'Kalau tidak pasti Mira pasti akan kecewa' dalam hati Hermanto. Maka Hermantopun berusaha agar gadis itu tidak kecewa. "Bagaimana, mas Her?" "Okey." Jarot langsung berdehem, Hermanto jadi agak tersipu malu, sedangkan Mira merasa begitu gembira atas kesediaan Hermanto yang mau menemani ke pesta itu. Dari dulu Mira ingin mengajak Hermanto pergi bersama, namun baru sekarang ajakannya itu di terima oleh pemuda itu. Pantulan keceriaan nampak jelas di wajah Mira yang cantik itu dan di bagian kedua pipinya agak merah jambu. "Mas Her hari ini ada mata kuliah lagi?" Hermanto memandang Mira sekilas, wajahnya menggeleng. "Kalau begitu kita pulang bersama yuk!" Ajak Mira. Di kolong meja kaki Jarot menendang kaki Hermanto. Hermanto jadi Kaget, matanya melotot. Sedangkan Jarot memberi isyarat supaya ajakan Mira jangan di tolak oleh Hermanto. "Kok kaget ada apa, Mas?" Hermanto tersenyum nyengir. Senyum yang menahan rasa ngilu di tulang kakinya di sebabkan oleh tendangan jarot tadi. "Nggak apa-apa. Ayolah kita pulang bersama." Hermanto meninggalkan selembar uang sepuluh ribu rupiah di atas meja sebagai pembayaran dua gelas es jeruk. Lalu mereka bertiga meninggalkan kantin itu. Sementara pandangan seluruh gadis-gadis yang ada di kantin merasa iri hati karena Mira di sangka telah berhasil menggaet hati sang Arjuna ini. TBC... (Mau tau kelanjutanya Hermanto Mencari Kekasih Ikuti terus ceritanya ya jangan lupa tombol lovenya sobat..!!) (Update lagi besok malam)

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menjadi Orang Ke Tiga

read
5.5K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

JANUARI

read
48.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Scandal Para Ipar

read
707.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook