CP Episode 02

892 Kata
Suara detak jarum jam beker terdengar seolah-olah memenuhi kamar Hermanto. Suasana masih sunyi dan hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok lapat-lapat. Di pagi hari menjelang subuh itu, Hermanto masih nyenyak tidur. Seluruh penghuni rumah itu pun sama seperti yang di alami Hermanto. Namun jarum jam beker itu tak pernah merasa lelah dan berhenti. Terus berputar dari detik ke menit dan sampailah ke pukul lima tepat pagi hari. Sepontan dering jam beker itu terdengar nyaring. Memecah kesunyian kamar Hermanto, membangukan Hermanto dari tidurnya secara mengagetkan. Dan pemuda itu langsung melompat turun dari pembaringan. 'Lagi-lagi suara dering jam beker sialan!' Umpat Hermanto sambil menekan tombol jam itu. Lalu jam beker itu siap di bantingnya saking jengkelnya, tapi niatnya membanting jam beker itu jadi urung, karena mendengar lapat-lapat suara seorang wanita yang tengah bercakap-cakap di luar jendela kamarnya. "Tak ada gunanya menyesali apa yang terjadi, Mas. Toh aku tidak pernah mengeluh melakukan hal ini setiap pagi hari." Pembicaraan itu membuat Hermanto jadi penasaran. Nada suara wanita itu alangkah lembut dan merdunya sampai ke telinganya. Segera saja di taruhnya jam beker ke tempat semula dan perlahan ia membuka daun jendela kamarnya. Maka Hermanto melihat wanita yang kemarin di lihatnya. Tepat pada seperti ini. Ya, jam lima pagi, jam beker selesai berdering. Dan entah mengapa kehadiran wanita di pelupuk matanya itu membangkitkan perasaan aneh dalam nalurinya. 'Mungkin di sebabkan wanita itu teramat cantik? Anggun? Atau bentuk tubuhnya yang indah itu? Ditambah setiap kali Hermanto melihat wanita itu selalu rambutnya yang panjang di ikat dengan jepitan imitasi? Lalu lehernya yang jenjang terlihat mempesona? Ah... segalanya yang ada dimiliki wanita itu alangkah sempurnanya,' dalam hati Hermanto. Meski sepintas dalqm pandangan Hermanto, cukup baginya untuk menilai pribadinya. Pasti wanita yang memiliki cinta kasih dan kesetiaan begitu mulia. Wanita itu menoleh ke arah Hermanto yang masih mengawasi di jendela kamar. Sempat mata mereka saling bertemu pandang. Jantung Hermanto jadi berdetak keras. Sekujur tubuhnya bagaikan diserang demam mendadak. Dan ia jadi salah tingkah. Bergegas wanita itu mendorong kursi roda yang diduduki seorang laki-laki. Nampaknya wanita itu lebih cepat meninggalkan tempat itu lebih baik. Dia mendorong kursi roda itu dengan cepat. Masih sempat bagi Hermanto untuk memandang pinggul wanita itu berlenggak-lenggok menjauhi dan menghilang di tikungan jalan. Setelah hilangnya si wanita itu, Hermanto termenung seorang diri. la memandang langit yang kelabu. Sementara di dalam perasaannya timbul pertanyaan yang berendeng. Pertanyaan mengenai siapa gerangan wanita itu? Sudah hampir sembilan bulan ia menempati rumah ini baru dua kali melihatnya. Itu pun pada pagi hari seperti ini. Lalu di manakah tempat tinggalnya? Dan siapakah sebenarnya laki-laki yang duduk di kursi roda itu? Suaminya, tuannya, atau kakaknya? Bagi Hermanto masih ragu-ragu untuk memastikannya. Cuma yang jelas ia berhasrat sekali ingin berkenalan dengan wanita itu. Keinginan yang didorong oleh hasrat hati ingin berkenalan membuat Hermanto mempunyai keberanian. Sekalipun keberanian itu masih diliputi kegelisahan. Kebimbangan. Gejala ini justru menimbulkan gelora yang sukar dikendalikan. Membuat dirinya sukar mengontrol tingkah lakunya yang aneh-aneh. Apalagi bagi Hermanto belum mengetahui tempat tinggal wanita yang menjadi idamannya itu. Matahari sudah mulai menyengat ke permukaan bumi. Sepanjang jalan dilaluinya hanya untuk mencari tempat tinggal wanita itu. la tak perduli dalam sengatan sinar matahari. la cuma berharap dapat mengetahui dan berjumpa wanita itu. Dalam bayangannya, harapannya, siapa tahu bisa berselisih jalan dengan wanita itu. Atau barangkali ia melihat wanita itu kebetulan ada di teras rumahnya. Semuanya yang dibayangkan hanya secara kebetulan. Yah, memang itu tumpuhan harapan Hermanto ibarat menunggu jatuhnya bintang dari langit. Langkah kaki Hermanto yang mengenakan sepatu menepak-nepak di trotoar jalanan. la berusaha mengikuti langkah wanita itu. Tepat di tikungan jalan membelok ke kanan. Ya, begitulah manakala ia melihat di setiap pagi wanita itu mendorong kursi roda. Maka Hermanto meneruskan langkahnya sambil meneliti setiap rumah yang berderet di sepanjang jalan itu. Sebentar menengok ke kiri. Sebentar lagi menengok ke kanan. Yang itu atau yang ini. Dan akhirnya Hermanto jadi pusing sendiri. Rumah-rumah yang berderet di pinggir jalan aspal itu hampir semuanya megah dan mewah. Pada kenyataannya yang tinggal di bilangan Menteng ini memang begitu. Kecuali seperti Hermanto yang indekost beramai-ramai dengan teman- temannya. Itu pun secara kebetulan karena Mira teman kuliahnya. Orang tuanya mempunyai rumah kosong dimanfaatkan untuk menjadi tempat indekost. Terutama teman-teman kuliah Mira. Sudah cukup jauh Hermanto berjalan di sepanjang trotoar itu. Sengatan siang matahari cukup membuat tubuhnya berkeringat. Namun demikian hasrat hatinya yang meletup-letup dalam d**a tak jua dapat terkendalikan. la merasa yakin akan bertemu dengan wanita yang diinginkannya itu. Setengah melamun Hermanto meneruskan langkahnya dengan santai. Tiba-tiba langkah Hermanto terhenti di depan pintu pagar halaman sebuah rumah besar yang megah. Seorang penjaga kebun berlari-lari kecil membukakan pintu halaman itu. Dan sebuah mobil Mercy Tiger meluncur meninggalkan halaman rumah itu. Sempat mata Hermanto melihat seorang wanita cantik dan anggun duduk di jok barisan belakang. Meski sekilas pandangannya, bahwa wanita itu adalah yang dicarinya. Spontan jantung Hermanto menggelepar keras. la laksana patung hidup berdiri kaku sambil memandang semakin menjauhnya mobil yang membawa Ketika ia sadar akan dirinya, helaan napas panjang menghembus dari hidungnya. Untuk sesaat Hermanto memandang rumah besar yang megah terpacak diam itu. Rumah yang bentuk bangunannya meniru ala Belanda dan dicat serba putih. Di antara rumah-rumah di sekitarnya, rumah itu paling megah. Taman dan kolam ikan di halamannya sangat indah. Hermanto jadi berpikir, bahwa dirinya dapat diibaratkan si Pungguk merindukan bulan. Maka ia dengan perasaan bimbang dan ragu melangkah pergi. Dan ia kembali ke tempat indekostnya. TBC... (Masih penasaran dengan kelanjutanya ikuti terus perjalanan Hermanto dan jangan lupa lovenya ya sobat...!)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN