CP Episode 03

2626 Kata
Bintang di langit laksana berkedip-kedip. Cuaca malam minggu yang ditunggu oleh Mira demikian cerah. Secerah wajahnya yang penuh keceriaan malam ini. Sedalam keinginannya untuk pergi berdua di malam panjang dengan Hermanto akan menjadi kenyataan. Maka malam ini Mira berdandan secantik mungkin. Tak lain agar Hermanto menaruh hati padanya. Selama ini yang diketahui Mira tentang sikap pemuda itu senantiasa wajar saja. Atau barangkali dia merasa rendah diri pada diriku? Pikir Mira setengah menduga-duga. Mungkin, karena keadaan dari keluargaku kaya raya. Lalu dia merasa minder. Takut mendapat perlakuan yang menyakitkan. Takut mendapat hinaan. Ah, sebetulnya kau tak boleh mempunyai pemikiran seperti itu, mas Her. Seharusnya kau tahu, jika selama ini perhatianku sudah terlampau berlebihan padamu. Dari sorot mataku, kau pasti tahu getaran jiwaku. Selalu ingin berada di dekatmu. Mira menghela napas panjang. la mencoba membuang kebimbangan yang meronta dalam d**a dengan tersenyum di depan cermin. Pantulan wajahnya di cermin dirasakan amat manis. Dan memberikan dorongan jiwa dan hasratnya untuk bisa mendapatkan balasan cinta pemuda itu. Selesai berdandan ia meninggalkan kamarnya. Di ruang tengah ia berpamitan kepada Papa dan Mamanya yang sedang duduk santai menonton acara televisi. "Papa, Mama, aku mau pergi," pamit Mira. Kedua orang tua itu memandang putrinya setengah termangu. Mengingat tidak seperti biasanya Mira berdandan secantik itu. "Kau mau kemana malam ini?" tegur Papanya. "Menghadiri pesta ulang tahun teman kuliahku." "Dengan siapa kau pergi?" Mamanya menimpali. Mira tertunduk malu. "Tak selayaknya seorang gadis datang ke pesta seorang diri. Kau harus mengajak temanmu, kata Papanya. "Dengan...em..." ucapan Mira terhenti di kerongkongan. "Siapa, Nak?" "Mas Hermanto." "Siapa pemuda itu?" "Yang indekost di rumah kita." "Ooo.. . dia. Pergilah darı hati-hati di jalan." "Pulangnya jangan larut malam," Mamanya mengingatkan Mira. Mira mengangguk. Lalu ia bergegas pergi ke garasi. Lampu-lampu di sepanjang jalan yang dilalui mobil Mira menyala terang. Mobil dan kendaraan lainnya memadati jalan raya. Selama perjalanan menuju ke rumah Hermanto tak jarang Mira digoda pemuda-pemuda iseng. Namun bagi Mira setiap pemuda yang menggodanya sambil mengendarai mobil, tak ada satu pun yang dapat mengalahkan ketampanannya dibandingkan dengan Hermanto. Maka Mira tak acuh pada setiap pemuda itu. Baginya Hermanto adalah segala-galanya. Sedangkan Hermanto yang saat itu duduk di teras rumah sambil menunggu jemputan Mira, mempunyai kegelisahan sendiri. Kegelisahan yang datangnya dari bayangan wajah seorang wanita tak dikenalnya. Dan sebentuk harapan yang bakal sia-sia. Lamunan Hermanto buyar manakala mendengar derum mobil yang disusul suara klakson. la segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri mobil Mira yang berhenti. "Mas Her sudah siap?" tegur Mira manja sambil melongokkan wajah keluar dari jendela mobil. Hermanto mengangguk. la berjalan memutari depan mobil dan segera membuka pintunya. Sembari duduk di samping Mira, sesungging senyum kalem menghiasi bibirnya. Mira pun membalas senyuman itu dengan manja. Senyum dan lirikan Mira membuat perasaan Hermanto menjadi bimbang dan resah. la tak tahu musti berbuat apa terhadap gadis yang duduk di sebelahnya. Sikapnya jadi canggung dan ragu-ragu. Mobil meluncur, Hermanto menyandarkan kepalanya di sandaran tempat duduk sambil merokok. Mira mengemudikan mobil dengan tenang. Sebentar-sebentar gadis itu melirik Hermanto. Namun sikap pemuda itu masih kelihatan dingin. Maka diam-diam Mira mengeluh dalam hati. "Jarot tidak nampak batang hidungnya kemana, Mas Her?" tanya Mira memecah kebekuan suasana itu. "Sejak tadi sore dia sudah apel ke rumah pacarnya. "Dan mas Her sendiri kenapa tidak?" Hermanto tersenyum kecut. "Aku masih takut jatuh cinta." Mira tertawa manja mendengar ucapan Hermanto. "Takut patah hati ya?" "Tidak." "Lantas apa dong?" "Takut salah pilihan. Cintaku akan bertepuk sebelah tangan. Dan punya kekasih tidak setia." "Jadi takut dikhianati." "Begitulah." Perasaan Mira dijalari kesejukan mendengar keterus terangan Hermanto. la semakin yakin pada suatu ketika akan mendapat balasan cinta dari pemuda itu. Cuma prosesnya mungkin akan lamban. la tahu sifat Hermanto yang selalu hati- hati dan penuh perhitungan. Justru sifat itulah yang disukai oleh Mira. Mobil yang dikendarai oleh Mira telah sampai di tempat tujuan. Di sepanjang jalan di depan rumah itu, mobil berhenti berderet panjang. Suasana di halaman rumah itu telah ramai dikunjungi para tamu undangan. Mira bersama Hermanto segera turun dari mobil. Di pintu halaman mereka berdua disambut oleh keluarga Siska yang sedang berulang tahun. Pesta yang meriah, pikir Hermanto. Mira dan Hermanto langsung menjumpai Siska dan menyerahkan kado dan ucapan selamat ulang tahun. Pada saat Hermanto bersalaman sambil mengucapkan selamat ulang tahun kepada Siska, telapak tangannya digenggam hangat oleh gadis itu. Dan pancaran sinar mata Siska menyimpan makna getaran perasaan. Pada perjumpaan itu, Siska telah terpaut hatinya pada Hermanto. Melihat sikap Siska yang demikian, diam-diam Mira menyimpan perasaan cemburu. Maka Mira langsung menarik lengan Hermanto. Siska agak kecewa. Tamu-tamu lainnya segera menyalami tangan Siska. Meski Siska membalas jahatan tangan para tamunya, perhatiannya selalu saja tertuju kepada Hermanto yang duduk bersama Mira. Mata Siska tak mau lepas memandang Hermanto. Bagi Mira sikap Siska itu membuat perasaannya jadi gelisah. la takut Hermanto terpaut hatinya kepada Siska. Dan hal itu bisa saja terjadi karena Siska cantik. Kecantikan gadis yang sedang ber- ulang tahun makin mempesona pada malam ini. Diam-diam Mira juga terus memperhatikan sikap Siska yang tak mau lepas memperhatikan Hermanto. Kendati Hermanto tetap dingin dan seolah-olah biasa saja. Dengan melihat sikap Hermanto yang begitu, perasaan Mira agak tentram. Musik terdengar keras berirama disco. Acara bebas akan dimulai. Dan beberapa pasangan anak- anak muda turun ke arena disco untuk memeriahkan pesta itu. Lampu di ruangan itu pun berubah menjadi redup. Hanya sinar-sinar lampu disco yang berkedip-kedip meneranginya. "Kau suka berdisco?" tanya Mira kepada Hermanto. "Aku lebih senang berdansa." "Aku juga." "Kau mau berdansa denganku?" "Jantungku menggelepar keras." "Kenapa?" "Saking senangnya menerima ajakanmu." Hermanto tersenyum. "Kau seperti anak kecil." "Memang. Aku merasa berubah seperti anak kecil yang girang menerima tawaran kembang gula." Kegembiraan Mira menjadi terhalang. Kegelisahan mulai merayap lagi di dalam d**a. la melihat Siska berjalan menghampirinya. la sudah menduga jika Siska mempunyai maksud tertentu. Benar saja. Siska menyodorkan telapak tangannya ke arah Hermanto. "Sebagai kehormatan, aku ingin mengajak anda berdansa," pinta Siska lembut dan manja. Hermanto agak ragu-ragu menuruti permintaan Siska. Tapi belum sempat Hermanto mengemukakan alasannya, Siska telah menarik tangannya. Tinggal Mira seorang diri duduk terbengong memandang Hermanto yang berdansa dengan Siska. Ingin rasanya Mira menjerit. Menangis. la amat kecewa. Apa yang dibayangkan sebelumnya dapat berdansa dengan Hermanto sambil berpelukan erat, tinggal bayangan. Pemuda pujaannya telah digaet oleh Siska. Sedang Siska merasa amat bahagia bisa berdansa dengan Hermanto. Memeluk tubuh pemuda itu dengan penuh gairah. "Kau teman kuliah Mira?" tanya Siska lembut. "Ya." "Boleh aku tahu namamu?" "Hermanto." Siska menatap wajah Hermanto yang tampan dalam-dalam. Wajah seorang laki-laki yang menjadi dambaan gadis-gadis. Tampan dan simpati. Sambil memandang wajah Hermanto, jari-jari tangan Siska mengelus-elus lembut d**a pemuda itu. Mencubit manja, lembut dan sayang. Tubuh Hermanto jadi diserang demam mendadak. Apalagi di saat mata mereka saling bertemu pandang. Hermanto dapat melihat seraut wajah cantik dan mengundang gairah napsu. Bukan sebentuk getaran cinta. Tingkah laku Siska yang manja dan agresif merupakan penyebabnya. Bibir yang selalu mengulum basah seolah-olah menantang, menanti serbuan ciuman Hermanto. "Bersedia kalau kita berkawan lebih erat?" suara Siska terdengar merdu. "Aku tak pernah menolak siapapun yang ingin berkawan denganku." "Di mana alamat rumahmu?" Hermanto segera memberi tahu alamatnya. "Boleh aku berkunjung ke rumahmu?" Pintu rumahku selalu terbuka untuk tamuku." "Bila aku datang tengah malam?" "Telah kurapikan tempat tidurku untuk menerima kedatanganmu," kata Hermanto sambil tertawa kalem. Siska mencubit pinggang Hermanto gemas-gemas sayang. "Kamu genit ah!" ketus Siska manja. Senang. Hermanto menggeliat geli. Bulu-bulu di sekujur kulitnya jadi merinding. Musik lembut terus mengalun. Sementara itu Mira membuang muka dan tak ingin melihat Hermanto berpelukan dengan Siska. Hatinya pedih bagaikan tersayat sembilu. Ingin melampiaskan kejengkelannya namun di sini bukan tempatnya. la jadi serba salah. Di dalam gejolak perasaannya yang tak menentu itu, hadir .di depannya seorang pemuda. Dia menawarkan untuk mengajak- nya turun berdansa. Spontan Mira langsung menolaknya. Menolak secara halus. "Maaf, aku tidak bisa berdansa." "Jangan malu-malu. Aku akan mengajarimu." Mira menggelengkan kepala, Pemuda itu mengeluh dan berlalu dari hadapannya. Kembali ia termenung seorang diri. Waktu terasa lama berlalu dan bergeser. la berharap pesta itu akan segera usai. Sebab ia sudah bosan karena dilanda kejengkelan. Kepedihan. la merasa bahwa Hermanto telah dimonopoli oleh Siska. Berjam-jam ia ditinggalkan olèh Hermanto duduk seorang diri tanpa teman. Dan apabila datang seorang pemuda kehadirannya cuma ingin mengajak turun berdansa. Sudah enam orang pemuda yang ditolak Mira setiap mengajak melantai. Kejengkelan semakin menumpuk di dalam d**a. Tak lama kemudian, Hermanto dan Siska menghampiri Mira yang duduk seorang diri. "Sorry, Mira. Aku pinjam Hermanto agak la- ma," kata Siska sambil berkelakar. "Tak apa-apa," sahut Mira dingin. "Terima kasih ya." Mira mengangguk malas. Hatinya bagai ditusuk duri. Sebelum Siska berlalu, ia mencium pipi Hermanto. Lalu menghampiri teman-teman lainnya untuk mengobrol. Hermanto duduk di samping Mira. la memandang wajah gadis itu yang nampak murung. "Kau berdansa dengan siapa, Mira?" tanya Hermanto. Mira diam. Murung. la seperti tengah diperma- inkan Hermanto. Alangkah kesalnya. Sakit hatinya. "Kita pulang saja!" ketus Mira tak dapat lagi membendung kejengkelannya. Kini giliran Hermanto yang terdiam. la memberanikan diri memandang Mira dalam-dalam. Ditemukannya kegelisahan di mata gadis itu. Dan Sepasang mata gadis itu mulai nampak bergenang air tipis. Hermanto termenung. Di dalam dadanya menyusup kegelisahan. Bahkan kegelisahan yang ada di dalam d**a Hermanto lebih bergejolak. Cuma karena ketenangan dan senyumnya, Mira tak dapat menduga apa yang dirasakan Hermanto. "Mau tunggu apa lagi?!" bentak Mira. "Kau marah padaku, Mira?" Mira menatap tajam wajah Hermanto. Tapi kemudian membuang muka kesal. "Maaf, kalau tadi aku membiarkanmu seorang diri. Aku mengira kau juga berdansa dengan pemuda lain." "Kau kira aku ini gadis apaan, mas Her?!" "Jangan marah dulu, manis. Sebagai pengobat rasa kecewamu, mari kita melantai," ajak Hermanto lembut. "Tidak. Kita pulang saja!" Mira langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Hermanto buru-buru mengejarnya. Sepasang muda-mudi itu meninggalkan kemeriahan pesta ulang tahun yang tengah berlangsung. Mira duduk di belakang stir. sambil membanting pintu mobil kencang. Hermanto menyusul duduk di sebelahnya. Mobil meluncur. Mira murung dan diam selama mengemudikan mobilnya menuju rumah Hermanto. "Kau kalau marah tambah cantik, Mira." Hermanto berusaha membuat Mira tidak lagi marah. "Diam, ah!" "Marah sungguhan ya?" Mira tidak menyahut. Pandangannya terarah ke depan. la melarikan mobilnya makin cepat. Menyalib mobil-mobil lainnya yang searah lajunya. Hermanto jadi ngeri. "Emosi selamanya akan membuat orang menyesal setelah sadar. Seharusnya kau tahu hal itu," tutur Hermanto. "Kau tak mau mengerti perasaan orang lain!" "Siapa yang kau maksudkan?" "Pertanyaanmu seperti anak kecil." "Yang senang ditawari kembang gula?" Tawa Hermanto berderai. Mira memandang Hermanto yang masih tertawa. la mengurangi kecepatan lajunya mobil. Ucapan Hermanto mengenai kembang gula dan tawanya terasa menggelitik perasaan Mira. la jadi ikut tertawa. Sebagai pelampiasannya, dicubitnya paha Hermanto kesakitan. Cubitan Mira dirasa menyakitkan. "Sekarang kita akur lagi. Cubitanmu kurasa cukup untuk membalas rasa kecewamu." "Masih kurang." "Apalagi?" "Nanti saja." "Waah gawat. Pasti lebih menyakitkan." Mobil berhenti di depan rumah Hermanto. Mira memandang Hermanto. Pemandangan yang agak lain dirasakan oleh pemuda itu. "Kau harus sportif. Aku masih kurang puas membalas rasa kecewaku," tandas Mira. "Aku akan menerima apapun yang akan kau lakukan. Asal kau benar-benar tidak marah padaku." Mira terdiam. la cuma memandang wajah Hermanto dengan sayu. Sementara di belahan perasaannya masih timbul keraguan. Kebimbangan. Namun di belahan lainnya, perasaannya menggebu-gebu ingin melaksanakan niatnya. "Ayo lakukan, tunggu apalagi?" desak Hermanto. Mira malah tertunduk. Hermanto memegang dagu Mira. Mengangkat wajah Mira perlahan-lahan. Mata mereka saling bersitatap. Pada pancaran mata sang pemuda siap menunggu reaksi, sedangkan pada pancaran mata sang gadis berbinar-binar bara cinta. Bagai ada dorongan magnit, wajah Hermanto kian mendekat. Dan lebih cepat bibir Mira sudah melumat lembut bibir Hermanto. Semula Hermanto agak terkejut menerima ciuman itu. Tapi kemudian ia menjadi terlelap akan lumatan lembut bibir Mira. Akhirnya kedua remaja itu terpagut erat dalam kemesraan. Bagi Mira kesempatan mendapatkan ciuman Hermanto seperti saat ini sungguh berarti, Maka ia enggan mengakhiri ciuman itu. Sambil memejamkan mata in meresapi kelembutan ciuman itu. Meresap ke dalam hati sanubarinya yang paling dalam. Saat itu merupakan kebahagiaan yang tiada taranya. Sampai kedua tangannya memeluk erat leher Hermanto. Mengelus-elus rambutnya penuh kasih sayang. Sorot sinar Ilampu dari mobil yang kebetulan lewat dari arah depan, membuat ciuman mereka berakhir. Dan pengemudi mobil itu yang sempat menyaksikan mereka berciuman berkata; "Enggak ada tempat yang romantis, Bung!" Ciuman itu berakhir. Mira tertunduk. Kedua pipinya merah jambu dan tersipu malu. Hermanto membelai rambut Mira lembut sekali. "Pintaku, rasa kecewamu akan impas malam ini," kata Hermanto. Nada ucapannya seperti seorang kakak kepada adiknya. Mira tidak menjawab. Masih menundukkan muka. la menyimpan kebimbangan yang sukar teruraikan dari nada ucapan Hermanto yang polos. Lugu. Sebagaimana seorang sahabat. Tak ada nada cinta di dalamnya. Sebenarnya Mira menerimanya dengan berat hati. Kecewa. Apa yang diharapkan setelah memberikan ciuman itu, sama- sama meresapi getaran cinta. Hermanto akan mencintainya. Namun yang diharapkan tetap bayangan kelabu, "Masih ada yang kau pinta lagi dariku?" tanya Hermanto. Pertanyaan itu justru memukul perasaan Mira. Bagai duri yang menusuk hatinya, sehingga dikelopak matanya bergenang air tipis. "Terima kasih atas tawaranmu, mas Her, suara Mira bergetar serak." "Tapi kenapa kau menangis?" "Tak perlu kujelaskan sekarang." "Selamat malam dan sampai jumpa lagi, Mira." Hermanto segera turun dari mobil. Mira menyentakkan lajunya mobil meninggalkan Hermanto yang masih berdiri mematung. Sebenarnya apa yang dilakukan Mira hanya sebagai rasa pelampiasan. la menyesal. Ternyata Hermanto tetap menganggapnya sebagai sahabat. Bukan sebagai seorang kekasih. Hermanto melangkah sembari tersenyum, meninggalkan kampus. Ingatannya melayang pada kejadian tiga hari yang lalu. Kejadian yang dianggapnya aneh tapi berkesan. Dan ia tersenyum kecil mengingat tingkah laku Mira yang seperti anak kecil. Yang manja, gampang marah dan murung. la menyadari bahwa gadis seusianya memang senang diperhatikan, disayang dan dicintai. Tapi sejak kejadian pada malam itu, sikap Mira terhadapnya jauh sekali berubah. Lebih nampak berusaha menjauhi dan selama ini pula Hermanto jarang bertemu dengannya. Mungkin ada sesuatu penyebabnya? pikir Hermanto menduga-duga. Hermanto berjalan menuju ke halte bis kota. Dan ia berhenti tatkala namanya dipanggil. "Hai, Hermanto!" Hermanto menoleh ke belakang. Jarot berlari- lari menyusulnya. "Sekarang kalau pulang sendirian saja, ya? Sombong!" sindir Jarot setengah mengecam. "Jangan bikin gara-gara!" balas Hermanto. "Tidak bersama Mira?" "Sejak beberapa hari ini dia berusaha menjauhiku." "Pasti ada masalahnya." "Memang, kemarin dia marah." "Benar kan? Terus bicara yang banyak." "Tapi sebetulnya di antara dia dan aku sih sudah akur, Permintaannya sudah kupenuhi." "Permintaan apa yang kau sudah turuti?" Hermanto tersenyum kecil sambil melangkah. Suara bising knalpot bajaj dibiarkan lewat dulu. Jarot menunggu penjelasannya. "Sebuah ciuman." Jarot ngakak. "Itu baru kejutan. Obat paling tepat bagi cewek yang suka marah memang itu, Cessspleng!" "Tapi herannya setelah itu ia jarang mau menemuiku. Pernah sekali berpapasan jalan, dia malah tertunduk." "Dia malu. Lalu apa reaksi perasaanmu sejak berciuman dengannya?" "Biasa saja. Kuanggap dia tetap sahabatku yang baik." "Pada saat itu dia tidak mengutarakan cintanya padamu?" Hermanto menggelengkan kepala. "Cuma yang kulihat di matanya bergenang air bening." "Kau ini seorang pemuda yang sudah matang tapi bego!" "Haei, jangan kurang ajar berani ngatain aku bego ya?!" "Buktinya kau tak bisa mengerti kalau Mira amat kecewa atas sikapmu. Dia mencintaimu, țahu?!" "Itu dia kan? Tapi aku menganggapnya sahabat." "Sudah berbicara dengan orang egois macam kamu! Pilihnya menang sendiri. Sudah, sudah. Batalkan saja bicaramu yang banyak itu. Percuma saja, karena kau tidak mau menerima pendapat orang lain." "Kok jadinya kita salah faham?" "Itu bis kotanya sudah datang!" Hermanto dan Jarot bergegas naik ke dalam bis kota. Penumpang di dalam bis itu penuh berdesak-desak. Maklum, kendaraan umum bis kota pada saat sore seperti ini dipadati penumpang. Hermanto dan Jarot berdiri di pintu bis kota. "Kalau kau mau menerima saranku, sebaiknya kau dekati lagi Mira. Dia sangat banyak menolong kita. Tanpa kemurahan hatinya, bayar indekost kita bisa lebih mahal. Di samping itu supaya jaminan jatah rokok kita tetap mengalir. Kita kan orang miskin, Her. Jangan sok pilih-pilih madu dapatnya nanti empedu." "Jadi cintaku akan kau jual belikan untuk kesejahteraanmu?!" "Aku tidak bermaksud begitu, nyong! Cuma robahlah sikapmu yang jual mahal itu, menjadi sedikit murah dan ramah." Hermanto ngakak. Semua penumpang bis kota itu perhatiannya beralih ke Hermanto dan Jarot. Apalagi yang berdiri di dekatnya. Mereka mengira kedua pemuda itu kurang waras. TBC....! (Seperti apa ya kelanjutan Hermanto dan Mira tunggu kelanjutan ceritanya dan jangan lupa Lovenya sobat...!)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN