Sore itu Hermanto sehabis mandi duduk santai di teras rumah sambil membaca koran Sinar Harapan. jangan lupa membaca iklan tentang dicarinya tenaga ahli. Ternyata ia menemukan iklan sebuah kontraktor bonafide yang membutuhkan beberapa tenaga ahli di bidang gambar bangunan dan sekretaris. Belum habis Hermanto membaca iklan itu, tiba-tiba Jarot muncul. Dirampasnya koran yang dibacakan Hermanto.
"Gantian!"
"Tunggu! Aku masih belum selesai membaca alamat iklan itu."
"Mau melamar jadi pelayan toko?, Tapi kau lebih pas jadi pelayan klub malam, Di sana banyak nyonya rumah cantik-cantik!" Ejek Jarot sambil terkekeh.
"Sialan! Sini berikan selembar koran pada halaman iklan."
"Nih!"
Hermanto kembali membaca alamat perusahaan itu. Kemudian ia mengambil agenda di dalam kamarnya dan ditulisnya nama perusahaan serta alamatnya. Jarot mengintip di balik halaman koran yang masih dipegangnya ketika Hermanto sedang menulis.
"Pantas dipasang repot amat, sebab ada lowongan pekerjaan. Tapi sudah berapa banyak nama dan alamat perusahaan yang kau catat di bukumu itu? Tak satu pun lamaran yang kau ajukan diterima," ketus Jarot.
"Siapa tahu lamaranku kali ini berhasil. Enggak ada salahnya kan, kalau aku tetap berusaha dan tawakal?"
"Tapi setiap perusahaan membutuhkan pegawai yang sudah berpengalaman. Minimal dua tahun, Her."
"Buktinya Rudy tanpa pengalaman bisa diterima menjadi pegawai. Padahal bidang administrasi bukan faknya. Dia kan dari Arsitektur," Hermanto bersikeras. Tak mau kalah.
"Itu lantaran koneksi. Bego amat sih kamu ini, Cok! Percuma saja kau tinggal di Jakarta hampir setahun, masih belum tahu sistem koneksi atau family. Pulang sajalah kau ke kampungmu!" kecam Jarot dengan logat bataknya.
Hermanto jadi tertawa.
Sementara itu di jalan aspal yang membentang di depan rumah Hermanto, nampak sebuah mobil sedan biru meluncur perlahan-lahan. Dan tepat di depan pagar halaman rumahnya mobil itu berhenti.
Perhatian Hermanto dan Jarot tertuju ke mobil itu. Seorang gadis berambut panjang membuka pintu mobil dan melangkah turun. Maka Hermanto segera tahu jika gadis itu adalah Siska. la bangkit dan menyambutnya.
"Hallo, Hermanto," sapa Siska manja.
"Tak kusangka kau akan datang juga. Ayo silahkan masuk."
Siska menghempaskan pintu mobil dan berjalan masuk ke halaman rumah. Hermanto membarengi langkah Siska menuju ke teras rumah sambil senyum-senyum. Jarot yang sejak tadi duduk jadi termangu melihat tamunya Hermanto. Gadis yang berparas cantik dan manja sekali.
"Jarot, kenalkan ini kawan baruku." Jarot dan Siska saling bersalaman. Lalu mereka duduk santai di teras.
"Kenapa waktu pulang dari pesta tidak memberi tahu aku? Padahal aku mencarimu," kata Siska agak kecewa.
"Aku terburu-buru. Lagi pula aku tidak ingin mengganggu keasyikanmu sedang ngobrol dengan teman-temanmu," tidak mau berterus terang mengenai Mira yang malam itu marah dan mengajak pulang.
"Bagaimana kabarnya Mira?"
"Sejak itu aku jarang bertemu dengannya."
"Kita main ke rumahnya yuk?!"
"Wuuuaah ... gawat!" celetuk Jarot tiba-tiba. Siska heran mendengar sahutan itu.
"Memangnya kenapa?"
"Jangan hiraukan orang sinting itu, sebab kadang-kadang bicaranya ngawur," Hermanto segera menimpali.
"Sama seperti yang baru saja bicara. Malah lebih parah," balas Jarot sambil tertawa. Siska ikut tertawa kecil.
"Kita ke rumah Mira bersama-sama."
"Ayo Jarot. Katanya kau ingin bertemu dengannya. Dan temanilah aku ke sana."
"Kan sudah bersama Siska."
"Jika ditambah kamu makin syiiip, Ayolah!"
Hermanto langsung menarik lengan Jarot dengan paksa. Mereka bertiga berangkat menuju ke rumah Mira.
Senja makin terbenam menyongsong datangnya malam. Mira duduk di depan meja sambil mencoret-coretkan Bolpointnya. la tak tahu apa yang musti ditulisnya. Dan tak tahu harus berbuat apa. Perasaannya dilanda kebimbangan. Kesepian gampang sekali menggeluti perasaannya, meski ia berusaha membuang jauh hal itu. Semua itu penyebabnya lantaran dari Hermanto. Laki-laki yang tak mau mengerti perasaan seorang wanita. Tak dapat merasakan getaran jiwanya.
"Mira, ada temanmu ingin bertemu." Mira menoleh ke belakang, ternyata Mamanya sudah berdiri di ambang pintu kamar.
"Aku akan melihatnya dulu."
Mira bergegas bangkit dan berjalan keluar kamar. Mamanya membuntuti di belakang. Di ruang tengah Mira mengintip di balik gordin. la melihat di ruang tamu: Hermanto, Jarot dan Siska sedang tersenyum-senyum. Perasaan Mira bagai dihimpit duri pedih. Sedangkan di kelopak matanya bergenang air tipis. la berusaha menahan kepedihan hatinya dengan menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Lekaslah temui mereka, Mira," desak Mamanya.
"Ka.... katakan kepada mereka, aku tidak ada di rumah," kata Mira serak.
"Tapi Mama sudah mengatakan kau ada di rumah."
"Mira tidak ingin menemui mereka, Mama!" ketus Mira sambil berlari ke kamarnya.
Melihat perubahan sikap Mira, wanita setengah baya itu jadi bingung. Dengan terpaksa ia tetap menunjukkan seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. la menemui teman-teman Mira di ruang tamu. Meski agak canggung, Mama Mira memberi tahu.
"Ng.... Sebenarnya Mira tidak ada di rumah," kata wanita itu dengan berat hati.
Hermanto saling berpandangan dengan Jarot. Dalam sorot mata kedua pemuda itu meragukan keterangan Mama Mira.
"Kira-kira ibu tahu ke mana perginya Mira?" tanya Hermanto.
"Ibu tak tahu, Nak Her."
"Baiklah, Bu. Kami permisi. Tolong sampaikan saya datang mencarinya. Wanita setengah baya itu mengangguk ramah.
Hermanto beserta kawan-kawannya mohon diri. Setelah berlalunya Hermanto, wanita itu menemui putrinya di dalam kamar. Ditemuinya Mira berbaring di atas tempat tidur sambil membenamkan wajahnya di atas bantal. Dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang wanita itu membelai rambut putrinya.
"Ada apa sebenarnya antara kau dan Hermanto, Nak?" tanya Minarti ibunya Mira. la merasa heran melihat perubahan putrinya itu.
"Tidak ada apa-apa."
"Kenapa tidak mau menemuinya?"
"Mira sedang malas."
Minarti tersenyum. la mulai dapat menduga bahwa putrinya sedang dihinggapi panah asmara. Memang begitulah bawaannya bila seorang gadis remaja mulai tumbuh benih cinta. Minarti menya- dari. Maka ia menasehati Mira.
"Seharusnya kalau ada sedikit salah faham dengan Hermanto, kan bisa diselesaikan baik-baik. Mungkin saja dia datang kemari untuk meminta maaf," tutur Minarti. Mira bangun dan memandang Mamanya.
"Ma, Mas Hermanto tidak punya salah apa-apa. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Sungguh?" Mira mengangguk.
Minarti tersenyum sambil membenahi jurai-jurai rambut Mira yang menutupi keningnya. Setelah itu Minarti beranjak pergi dari kamar itu. Dan Mira kembali membanting dirinya di atas tempat tidur. Perasaan pedih yang bercampur kebencian bergejolak di dalam d**a. Pedih akan kurangnya pengertian Hermanto akan dirinya. Benci pada Siska yang berhasil menggaet Hermanto.
Ruang kamar sepi. Hermanto masih mengerjakan surat lamaran pekerjaan yang disertai daftar riwayat hidup. la merasa gundah, sebab kenyataan yang dihadapinya merupakan teka teki yang meragukan. Dari sorot mata dan keterangan ibu Mira, rasanya tidak jujur. Padahal semula wanita setengah baya itu mengatakan, bahwa Mira ada di rumah. Namun setelah masuk ke ruang dalam dan kembali lagi, dia mengatakan Mira pergi entah ke mana. Pasti keterangan itu atas permintaan Mira. Tapi kenapa? Apakah dia telah benar-benar membenciku?
Hermanto memikirkan perubahan Mira di dalam dadanya. Dan selama ini yang ia rasakan, gadis itu terus berusaha menjauhinya. Hal ini jadi membuatnya serba salah. Ingat segala kebaikan gadis itu. Dulu pertama kali ia menginjakkan kaki di Jakarta, Mira merupakan jembatan pertolongan baginya. Dia menawarkan jasa baiknya untuk tinggal di rumah yang kini ditempati Hermanto, sampai kemudian Hermanto diterima menjadi mahasiswa setelah lulus test masuk perguruan tinggi. Lalu ia bersama beberapa kawannya, termasuk Jarot mengambil inisiatif untuk indekost di rumah ini. Sebetulnya, kedua orang tua Mira tidak setuju Hermanto dan kawan-kawannya dengan sistem Indekost. Malah dari kemurahan hatinya, membiarkan rumah yang dulunya kosong itu di tempat secara cuma-cuma. Tentunya kemurahan hati kedua orang tua Mira memandang Hermanto masih teman kuliah putrinya.
Bukan cuma kemurahan yang datang dari kedua orang tua Mira. Mira sendiri sering menolong kesulitan Hermanto apabila kiriman uang dari orang tuanya datangnya terlambat. Jadi menurut Hermanto, ia merasa banyak berhutang budi dengan keluarga Mira.
Mempersoalkan masalah budi, sebenarnya ia tidak ingin selamanya menjadi parasit. Sudah banyak usahanya untuk melamar dan mencari pekerjaan. la sadar, kehidupan orang tuanya tak akan mampu membiayai sampai kuliahnya selesai. Dan kalau saja nilai hasil ujiannya di SMA tidak bagus dan test masuk perguruan tinggi tidak surprise, mungkin ia akan gagal tinggal di Jakarta. Untung segala prioritas didapat dan ia sendiri memang genius.
Hermanto memijit-mijit pelipisnya. Kepalanya jadi pening. Ila menatap surat lamaran pekerjaan yang telah selesai dikerjakan. Terus ia berdoa penuh harapan agar diterima bekerja, sampai terdengar suara derit pintu kamarnya dibuka orang dari luar.
"Melamun dan mengkhayal adalah pekerjaan yang mengasyikkan," suara Jarot memecahkan kesunyian.
Hermanto menoleh ke belakang.
"Asal jangan keterlaluan, nanti bisa menambah jumlah pasien di rumah sakit jiwa!" balas Hermanto sambil tertawa kecil.
Jarot menghampiri Hermanto dan duduk di atas tempat tidur.
"Menurut pendapatmu, apakah Mira sudah membenci kita?" tanya Jarot.
"Aku sendiri belum bisa memastikan. Cuma yang kuketahui kini, ia semakin menjauhiku."
"Karena kau tak mau mengerti perasaannya. Mustinya kau harus bisa mengimbangi kehendaknya."
"Maksudmu?" kening Hermanto berkerut.
"Kurasa dia mencintaimu. Tapi kau hanya menganggapnya teman biasa." Hermanto mengeluh.
"Jarot, mencintai seseorang itu tidak dapat dipaksakan. Padahal aku juga ingin berlaku sebagaimana orang yang jatuh cinta padanya. Namun perasaan dan naluriku hampa. Tak merasakan getaran apa-apa jika berada di dekatnya. Cuma sebagai seorang sahabat."
"Sedikit demi sedikit kau pasti dapat mencintainya. Aku yakin, Her. Mira seorang gadis yang berhati tulus dan baik. Selama ini kita tak akan dapat berpaling dari kenyataan. Kita sudah terlampau banyak menerima kebaikannya. Juga dari keluarganya."
Hermanto termenung. Perasaannya dilanda gundah gulana. Berkecamuk kebimbangan diantara keraguan. Sementara di lubuk hatinya tetap dingin untuk tumbuh benih cinta terhadap Mira. la sendiri agak heran. Kurang cantikkah Mira? Tidak. Gadis itu punya paras lembut dan dari sorot matanya penuh kesetiaan. Cuma gampang cemburu. la menyadari, cinta tidak terlepas dari perasaan cemburu.
"Apa yang kau kemukakan memang tak dapat kusangkal. Perasaan laki-laki memang batu gunung yang keras. Tahan benturan dan kokoh. Lain bila dibandingkan dengan wanita. Bila pada mulanya seorang wanita tidak mencintai calon suaminya, namun setelah dia hidup berumah tangga dengan laki-laki itu, lambat laun cintanya ibarat akan tumbuh. Dia akan pasrah menerima nasib dan kenyataan. Tapi jika seorang laki-laki, cinta yang dipaksakan akan menjadi bibit kehancuran kelak. Dia akan tetap tak tergoyahkan. Bahkan dia akan berbuat sesuka hatinya. Nyeleweng, mabok-mabokan, mungkin kawin lagi dengan pilihan hatinya atau ditinggal minggat, misalnya demikian."
Hermanto menghentikan bicaranya. la mengambil sebatang rokok dan disulutnya. Dihisapnya dalam-dalam asap rokok itu, lalu dihembuskan panjang.
"Rokok?" Hermanto menawarkan rokoknya kepada Jarot. Jarot mengambilnya sebatang dan disulutnya.
"Aku justru mencegah jangan sampai terjadi hal itu di antara aku dan dia. Meski demikian aku akan berusaha memberikan pengertian padanya. Tentunya dengan alasan, kehidupanku jauh berbeda dibandingkan dengan kehidupannya."
"Alasan itu tidak gampang diterima. Suatu misal, dia mengatakan; cintaku padamu tidak memandang harta. Kau mau berkata apa?" Hermanto tercenung.
"Satu-satunya jalan, aku minta bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Cobalah kau dekati Mira. Sedikit demi sedikit koreklah isi hatinya. Bila dia bertanya mengenai aku, katakan sampai kini aku masih belum punya keberanian untuk mencintai gadis manapun. Yang lebih kuutamakan mengenai study. Kau mau kan?" Jarot mengangguk.
"Besok aturlah bagaimana caramu mendekati Mira. Kebetulan besok aku akan menyerahkan surat lamaranku ke kantor PT. Dwipa Jaya."
"Beres."
TBC....
(Bagaimana Jarot menyampaikan pesan Hermanto untuk Mira tunggu kelanjutanya sobat...! Dan jangan lupa Lovenya terima kasih..)