CP Episode 10

1583 Kata
Hari silih berganti. Lengkapnya delapan hari sudah Hermanto bekerja di perusahaan itu. Dan hari ini tugasnya membuat gambar bangunan telah selesai. Meski pekerjaan yang telah diselesaikannya itu cukup teliti dan rapi, ada sedikit rasa kurang puasnya. la bagaikan dihadapkan sebuah misteri. Misteri mengenai Direktris yang memimpin perusahaan ini. Siapakah sebenarnya dia itu? Dan mengapa sampai kini sulit untuk ditemui? Pintu ruangannya yang selalu tertutup dibuka oleh Subekti. Laki-laki setengah baya itu menghampirinya. "Sudah selesai, Her?" tanya Subekti. "Sudah, Pak." "Hasil pekerjaanmu akan dilihat oleh Direktris kita." "Silahkan, Pak." Sebelum gambar bangunan itu digulung untuk ditunjukkan kepada pimpinannya, Subekti terlebih dahulu mengecek. la cukup terbengong melihat bentuk kontruksi dan model bangunan yang diciptakan Hermanto. "Memang kau patut diistimewakan, Her." "Ah, bapak, terlalu memuji saja." "Sungguh, Her. Pasti Direktris kita akan senang melihat hasil pekerjaanmu." Hermanto tersenyum kecil sambil menggulung gambar itu. Dan Subekti segera membawanya keluar. Dengan perasaan dag dig dug Hermanto duduk beristirahat. la menunggu hasil penilaian Direktrisnya, apakah gambar itu akan disetujuinya. Tak lama kemudian Subekti masuk lagi ke ruangan Hermanto. Wajahnya ceria dan senyum-senyum sambil membawa map berisi kertas folio. "Bagaimana penilaian Direktris kita, Pak?" tanya Hermanto tak sabar lagi. "Bagus. Dia memuji hasil pekerjaanmu. Dan sekarang kau diserahi tugas untuk membuat konstruksi dan gambar bangunan bertingkat sebelas." Hermanto menghela napas lega. Subekti Talu menyerahkan berkas dan catatan yang harus dikerjakannya. "Kerjakan lebih baik, Her." "Terima kasih, Pak." Setelah Subekti keluar dari ruangannya, timbul di benak Hermanto penafsiran yang bukan-bukan. Kenapa tugas yang harus kulakukan melalui pak Subekti? Kan seharusnya pihak pimpinan bisa secara langsung menyuruhku menghadap. Mungkin memberikan saran-saran atau menunjukkan di mana letak kekuranganku. Tapi yang kualami tidak demikian. Atau mungkin Direktris perusahaan ini orangnya sok tinggi dan angkuh, sehingga tidak mau bertemu muka dengan stafnya. Apalagi aku masih tergolong karyawan baru di mana belum saatnya untuk bertatap muka dengannya. Maka ia cuma bisa menghela napas karena belum bisa menemukan jawabannya. Di waktu jam makan siang Hermanto berniat turun dan membeli rokok. Mulutnya dirasa kian asam disebabkan dari pagi ia tidak merokok, Lagi pula tanpa dibantu merokok ia kurang konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaannya. Maka Hermanto bergegas turun dari lantai tiga. Warung penjual rokok letaknya di seberang jalan. Dan Hermanto membeli rokok di sana sambil menghabiskan jam istirahatnya dengan duduk di kursi. la memandang kendaraan yang berlalulalang di depannya. Hal itu dilakukannya untuk membuang segala macam kecamuk di benaknya mengenai Direktrisnya. Misteri yang belum diketemukan jawabannya. Tanpa disengaja pandangannya tertumbuk pada sebuah mobil Honda Accord putih yang melintas di depannya. Dan seorang wanita yang duduk di jok belakang rasanya pernah bertemu. Pernah berkenalan. Tapi ia masih berusaha mengingatnya. Akhirnya ia ingat, bahwa wanita itu adalah Dewi Ratnasari yang pernah ditolongnya. Maka Hermanto jadi tersenyum sendiri, bila ingat suster rumah sakit itu mengatakan wanita yang baru saja lewat itu istrinya. Dan bagi Hermanto yang hampir melupakan wanita itu seperti tergugah akan kerinduan. Kerinduan ingin berjumpa. Sebab wanita yang hampir dilupakannya itu telah mampu menggetarkan perasaannya. Benih cinta ada di lubuk hatinya. Dan kini ia jadi memiliki suatu keberanian untuk mendekatinya. la sudah bukan lagi Hermanto yang kemarin, tapi Hermanto yang sudah menjadi karyawan. Sepulangnya kuliah malam Hermanto berniat ingin berkunjung ke rumah Dewi. Kebetulan memang rumah mereka tidak terlampau jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Niatnya itu disebabkan karena tadi siang melihat wanita itu melintas di depannya. Membangkitkan kerinduan di hatinya. Selesai mandi dan berdandan rapi ia akan segera berkunjung ke rumah idamannya itu. Tapi keburu Jarot masuk ke kamarnya. "Hoyy... tumben malam ini nampak rapi mau ke mana?" tegur Jarot heran. "Mau ke rumah teman." "Waah, pasti ke rumah cewek. Di kantormu sekretarisnya pasti cantik dan kau pasti mau ke sana," ledek Jarot sambil tertawa. "Tenang, tunggu saja tanggal mainnya." "Asal jangan lupa bawa oleh-olehnya." "Apa?" "Bekas kecupan di leher!" "Ngurusin orang sinting, bisa jadi ikut sinting!" Hermanto melangkah pergi dan Jarot kembali ke kamarnya. Langkah Hermanto berpijak di pekarangan rumah yang hendak ditinggalkannya. Sementara ia melangkah menuju trotoar jalan, perasaannya jadi timbul kebimbangan, keraguan untuk berkunjung ke rumah Dewi. Sebab wanita itu menempati rumah bagai istana. Dan pasti tidak sembarang menerima kedatangan tamunya. Sedangkan aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa selain hanya main-main. Sekedar ngobrol dan melampiaskan kerinduan. Tapi sejenak pikiran Hermanto jadi berubah. Bagaimana andaikata tanggapan Dewi dengan kunjungannya itu, dianggap menuntut balas jasa atas pertolongannya kemarin? Waah, alangkah memalukan. Maka Hermanto menghentikan langkahnya. la cuma berdiri mematung di pinggir jalan. Tak tahu apa yang musti diperbuatnya. Tiba-tiba sebuah mobil Lancer biru berhenti di depannya. Hermanto jadi tersentak. Ila mengamati pengemudi mobil itu. "Hay. . . selamat malam," tegur pengemudi itu dengan suara merdu. "Hay. . . Juga," balas Hermanto dengan tertegun memandang seorang gadis yang duduk di kursi pengemudi. Dan seketika wajahnya berseri-seri. "Kau ... kau ... Dewi?" "Iya. Mas Herman mau ke mana?" Hermanto jadi gelagapan menjawab. Lidahnya jadi kaku. "Ma ... mau ke rumah ...," suaranya tersumbat. Dewi buru-buru membukakan pintu mobil untuk Hermanto. "Ayo naik, akan kuantar sampai tempat tujuan." Dengan dilanda perasaan tak menentu Hermanto bergegas naik ke dalam mobil. Duduk bersebelahan dengan wanita itu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hermanto bagaikan sedang bermimpi. Dewi segera meluncurkan mobilnya. "Kita sudah sekian lama tak pernah berjumpa. Dan sampai kini pun aku belum mengucapkan terima kasih atas segala pertolonganmu," kata Dewi lemah lembut. "Ah, itu cuma secara kebetulan. Lupakan saja." "Masih ingat kata-kata Suster itu?" Hermanto jadi tersenyum. "Ya." "Rasanya lucu. Tapi justru aku tak dapat melupakannya." Hermanto melirik Dewi sambil tersenyum. Rambut wanita itu terurai lepas dan pakaian yang dikenakan sangat serasi. Celana Levis dengan kaos berlengan panjang biru bergaris-garis putih. Dia laksana Dewi khayangan yang muncul diantara rembulan dan bintang-bintang. Wajahnya yang cantik dan anggun bagai sukar dicari bandingnya. "Sekarang mas Herman mau ke mana?" "Se... sebenarnya..." suaranya terhenti dan berat untuk meneruskannya. "Nggak usah malu-malu, terus terang saja," desak Dewi lunak. Senyumnya menghiasi bibir yang merah delima itu. "Ke rumahmu ... Hermanto memandang Dewi, menanti reaksinya gadis itu. Dan Dewi melempar pandangan, sehingga pandangan mereka berpadu. Hermanto menemukan pancaran mata yang resah. Sepasang mata yang indah berbulu lentik itu, bagai diselimuti kabut misteri. "Kukira mas Herman tidak usyah berkunjung ke rumah," katanya dengan berat hati. Hermanto termangu. la agak kecewa mendapat jawaban begitu. "Kenapa?" "Tak apa-apa." "Karena aku miskin?" "Bukan itu." "Lantas?" "Kau tak perlu tahu urusan pribadiku." Ucapan Dewi dirasakan oleh Hermanto bagaikan empedu yang diteguk. Pahit. Tapi ia kemudian sadar, bahwa memang tidak seharusnya perlu banyak mengetahui urusan pribadi wanita itu. "Maaf. .. barangkali pertanyaanku kurang berkenan di hatimu." Dewi menoleh ke arah lelaki yang duduk di sampingnya. Lelaki itu menatapnya. Pandangan mata mereka saling berbenturan. Dan Dewi membuang pandang cepat-cepat ke muka. Memandang jalan yang hendak dilalui mobilnya. Mukanya berseri-seri dan bibirnya yang senantiasa mengulum basah itu tersungging senyum manis. Ada kata maaf di situ dan ada suatu harapan membukakan pintu hatinya, untuk lelaki yang duduk di sampingnya. Sedangkan Hermanto memperhatikan langit yang bertaburan bintang-bintang. la seperti dapat merasakan getaran yang tak salah lagi. Getaran itu dirasakan oleh setiap insan yang tumbuh benih-benih cinta. Dan jika aku tak salah, pikirnya, hati gadis itu sudah terbuka untuk diisi. Maka seperti ada yang menggerakkan wajahnya, keinginannya, untuk memandang gadis yang duduk di sampingnya. Dari samping ia melihat kehalusan profil gadis itu. Raut wajahnya yang lonjong berhidung mancung, bulu mata yang lentik dengan bola mata bening, bibir yang merah jingga senantiasa mengulum basah serta menyimpan magnit dan dagu halus tergantung di atas leher yang jenjang. Wajah yang mencerminkan sebagai seorang gadis yang perasa dan lembut. Anggun dan penuh kasih sayang. "Kalau kau menghendaki kita makin intim masih banyak jalan," gumam Dewi bernada membuka kesempatan. Memberikan harapan. "Bagaimana caranya?" Gadis itu menatap Hermanto dan mengulum senyum lagi. Senyum yang penuh arti. Dan sepasang matanya berbinar-binar ingin selalu berdekatan dengan lelaki ini. Dan pada belahan perasaannya memuja ketampanan lelaki yang duduk di sampingnya. Kejantanan yang senantiasa diharapkan bagi lelaki type Hermanto. Lembut, simpati dan mata yang dimiliki lelaki itu memancarkan kehangatan. Mampu mengusir sepi dan meluluhkan kebekuan hatinya. "Kita berjanji untuk saling bertemu di luar rumah," kata Dewi terdengar merdu di telinga Hermanto. "Kau tidak berbohong?" sahut Hermanto girang sekali. Dewi menggelengkan kepala. "Kapan lagi kita bisa pergi bersama, Dewi?" "Kapan kau mau." Tawaran gadis itu menyebabkan Hermanto jadi tambah girang. la tersenyum-senyum seorang diri. Perasaannya teramat bahagia, karena apa yang diimpikan selama ini akan menjadi kenyataan. "Ada yang lucu kok senyum-senyum terus?" tegur Dewi. "Sungguh tak kusangka, jika kenyataan akan berubah begini. Jadi sangat indah dan sukar untuk diucapkan dengan kata-kata." "Kau bisa memberi tahuku, apa sebabnya?" "Seorang gadis yang dapat kuibaratkan Dewi malam hadir di depanku, memberikan sebentuk harapan yang teramat bahagia. Dewi tersenyum sambil tersipu. Getaran aneh pun ia rasakan sebagaimana yang dirasakan lelaki itu. "Besok malam kita bertemu?" kata Hermanto mengajak. Dewi terdiam sejenak. la sedang berpikir untuk menjawab ajakan lelaki itu. Lalu ia menoleh memandang Hermanto. Bibirnya yang merah delima tersungging senyum manis. Matanya yang indah dan bening itu memandang sayu, kemudian kepalanya mengangguk mantap. "Tunggu aku di pinggir jalan depan rumahmu." "Jam berapa?" "Seperti tadi." "Okey." "Jadi sekarang kita pulang saja." "Sebenarnya kau mau ada acara kemana?" Dewi melirik dan tersenyum lagi. Wajahnya berubah merah jambu. "Ke rumahmu." "Sindiran padaku ya?" Dewi tertawa geli. Suara tawanya itu terdengar manja dan merdu. la jadi gemas, lalu mencubit lengan Hermanto. "Aku berkata jujur!" seru Dewi sambil tertawa. "Kalau begitu kita ketemu jodoh nih." Kedua insan itu saling tertawa ceria. Mobil yang sejak tadi tak tentu tujuannya membelok ke jalan yang menuju ke rumah mereka. Tak ada lagi kata-kata yang terucapkan, namun senyum dan lirikan Hermanto bagai mengungkapkan sejuta kebahagiaan. TBC........! (Lanjut sobat 1 Episode lagi setelah itu saya update terus deh...)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN