CP Episode 08

2024 Kata
Lima hari kemudian. Di suatu senja yang hampir temaram, Her- manto nampak melangkah memasuki pekarangan rumah. Suasana di dalam rumah itu kelihatan sepi. Tidak seperti biasanya Jarot ataupun peng- huni kost lainnya ada di teras rumah. Hal itu membuat Hermanto agak ragu-ragu masuk. Tidak mustahil penghuni di rumah itu yang belum membayar uang kost telah diusir. Tapi kemudian ia berpendapat lain bila ingat sifat orang tua Mira yang bijaksana dan murah hati. Maka ia meneruskan langkah masuk ke rumah. Baru saja ia masuk ke ruang tamu, sudah disambut gembira oleh pembantu rumah itu. "Eee. . . nak Hermanto sudah kembali. Apa kabar?" tegurnya. "Kabar buruk, Bik. Kok kelihatan sepi pada kemana?" "Sedang keluar." "Jarot juga keluar?" "Ada di dalam kamar." Hermanto segera melangkah menuju ke kamar Jarot. "Hallo!" sapa Hermanto berdiri di pintu kamar Jarot. "Hay... kau sudah kembali. Apa kabar Her?" Jarot yang sedang berbaring sambil membaca buku langsung melompat turun dan menghampiri Hermanto. "Kita berbicara di kamarku saja," ajak Hermanto. Mereka berdua menuju ke kamar yang letaknya di paviliun. Hermanto membuka pintu kamarnya dan bersama Jarot masuk. Tas ransel itu dilemparkan ke atas meja. Lalu ia duduk di pinggir tempat tidur sambil melepaskan sepatunya. "Bagaimana kabar ayahmu, apakah sudah sehat lagi?" Hermanto tertunduk sedih. Kelopak matanya dirasakan hangat. Sedangkan perasaannya bagaikan tersayat sembilu. "Dia sudah kembali ke pangkuan Illahi," kata Hermanto parau. "Inna lillahı wa inna ilaihi rojiun," gumam Jarot ikut bersedih. "Keadaanku semakin memburuk. Ibuku hidup menjanda dan guna menyambung hidupnya mengharapkan dari kerja kerasku. Sedangkan sampai kini aku belum mendapatkan pekerjaan." "Her, kau mendapat surat panggilan dari P.T. Dwipa Jaya." Hermanto tersentak mendengar keterangan Jarot. "Mana surat itu." "Aku ambilkan sebentar di kamarku." Jarot bergegas pergi. Hermanto termenung harap-harap cemas mendengar kabar itu. la berdoa semoga surat panggilan itu merupakan jembatan hidupnya dan diterima lamarannya. Jarot datang lagi menyerahkan surat itu. Hermanto segera membuka amplopnya. Lalu dibaca isinya. "Aku dipanggil untuk menjalani test. "Aku akan berdoa semoga kau diterima." Hermanto menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Hatinya berkata sembari berdoa; "Tuhan tolonglah hambamu ini." Keesokan harinya Hermanto berdandan serapi mungkin. Di dalam hatinya tidak lepas berdoa agar dapat diterima bekerja di perusahaan itu. Jarot memperhatikan Hermanto yang sedang menyisir rambutnya. Dia pun ikut berdoa untuk keberuntungan kawannya ini. "Mira seringkali menanyakan kau," kata Jarot. "Dia tidak mengatakan apa-apa padamu?" "Mengenai uang kostmu tidak perlu dipikirkan."Dan dia mengatakan padaku, bahwa ayahnya akan menerimamu bekerja di kantornya. "Oh ya? Kalau bagiku aku cukup gembira. Misalnya tidak dapat diterima oleh PT. Dwipa Jaya bisa bekerja di kantor ayahnya Mira. Bekerja apapun jadilah." "Itu memang lebih baik. Tapi aku yakin kau akan diterima oleh PT. Dwipa Jaya setelah selesai menjalani test." "Mudah-mudahan. Aku pergi dulu, Rot." "Doaku selalu menyertaimu." Dengan setumpuk harapan di dalam d**a, Hermanto meninggalkan rumah. la berdiri di pinggir jalan menunggu bis kota yang lewat. Matahari di langit cukup terik memancarkan sinarnya. Waktu masih belum siang benar. Sangat tepat bila ia datang memenuhi surat panggilan untuk test itu. Sebuah mobil sedan berhenti di depan Hermanto. Seraut wajah wanita cantik menyembul di pintu mobil. Bibirnya tersenyum manis. "Hallo, mas Her!" sapa gadis itu. "Kau, Siska." "Mau ke mana?" "Salemba." "Yuk, sekalian kuantar." Hermanto langsung naik ke dalam mobil. Lumayan, tidak perlu berdesak-desak naik bis kota, pikirnya. Mobil meluncur lagi. Siska yang duduk di belakang stir memàndang sekilas padanya. Ada pancaran pesona di dalam mata gadis itu melihat kerapian dan ketampanannya hari itu. "Makin nampak ca'em aja mas Her hari ini. Mau menemui pacar ya ke Salemba?" "Tidak. Mau menjalani test masuk kerja. Perlu rapi kan?" "Jadi mas Her mau ditest? Mudah-mudahan diterima deh." Hermanto tersenyum kalem. "Kalau sudah bekerja, bagaimana dengan kuliahmu?" "Bisa diatur. Kan bisa ambil kuliah sore." Siska menganggukkan kepalanya. Mobil telah meluncur di jalan Salemba. "Itu kantornya," Hermanto menunjuk gedung bertingkat tiga. Siska membelokkan mobilnya dan masuk ke halaman kantor itu. "Mungkin aku agak lama. Kau tak perlu menungguku," kata Hermanto sambil membuka pintu mobil. "Tak apa-apa, aku akan menunggumu sampai selesai." "Tapi kau mau menunggu di mana?" Siska melihat sekeliling tempat dan Akhirnya ia menemukan sebuah restauran di sebrang jalan. "Aku akan menunggumu di restauran itu." "Terserah. Aku masuk dulu ya?" Hermanto melangkah masuk ke gedung bertingkat tiga itu. Udara sejuk terasa menyusup ke dalam pori-pori kulitnya karena seluruh ruangan itu ber-AC. Di bagian information Hermanto menerangkan maksud dan tujuannya ingin menghadap kepala personalia. Seorang gadis yang berparas cantik di bagian information itu mempersilahkan Hermanto naik ke lantai tiga. Dengan perasaan tak menentu dan dag dig dug kakinya melangkah di anak tangga. Dia mengamati seluruh ruangan kantor itu begitu bersih dan megah. Banyak juga.karyawan perusahaan itu yang berjalan mondar-mandir dengan kesibukannya masing-masing. Di ruang lantai tiga Hermanto bertanya dengan karyawan wanita. "Dapatkah saya bertemu dengan bapak Harun Subekti?" "Itu bapak Subekti yang memakai dasi biru," kata wanita itu sambil menunjuk ke meja yang ada di sudut ruang. "Terimakasih." Hermanto mendekati Subekti dengan hormat. "Maaf,, Pak. Saya mengganggu sebentar," kata Hermanto ramah. "Silahkan duduk." Hermanto duduk berhadapan dengan Subekti. "Saya datang memenuhi surat panggilan lamaran pekerjaan, Pak." Hermanto menyodorkan surat panggilan itu. Subekti meneliti kebenaran surat panggilan itu. Sementara itu Hermanto mengedarkan pandang ke langit-langit ruangan. Dan ia melihat di pojok plavon di depannya ada camera perekam gambar Tivi. Berarti kedatangannya sudah disorot dan diketahui direktur kantor itu. "Tunggu sebentar, saya akan menemui direktris kami." "Baik, Pak." Subekti segera bangkit dan berjalan masuk ke ruang direktris. Sementara itu Hermanto duduk gelisah menunggu. Di dalam hatinya selalu berdoa agar bisa diterima. Tak lama kemudian Subekti sudah keluar dari ruang direktris. la duduk kembali ke kursinya, berhadapan dengan Hermanto. Perasaan Hermanto berdebar-debar. "Anda diterima bekerja di sini, tanpa menjalani test lagi," kata Subekti mantap. Hermanto tercengang haru dan gembira. Apa yang dihadapi dan keterangan Subekti sungguh di luar dugaannya. Padahal ia sudah membayangkan jika test itu akan mempersulit baginya. Tapi kenyataannya ia malah diterima tanpa ditest lagi. "Kapan saya dapat mulai masuk bekerja, Pak?" "Besok." Langsung saja Hermanto mengulurkan telapak tangannya. Di saat berjabatan tangan dengan Subekti, perasaannya meletup-letup kegembiraan yang tiada bertepi. Dan ia mohon diri. Setelah berada di luar gedung ia melihat mobil Siska masih diparkir di halaman kantor. Tapi Siska masih belum nampak. Hermanto memandang ke seberang jalan sambil melambaikan tangan. Siska berlari keluar dari restauran itu dan menuju ke arahnya. "Sudah selesai?" tanya Siska. Hermanto mengangguk. Siska membuka pintu mobil. Mereka berdua masuk dan duduk bersebelahan di jok depan. Sambil menghidupkan mesin mobil, Siska memandang Hermanto dalam-dalam. Senyumnya menghiasi bibir. "Cepat sekali testnya. Kau diterima?" "Ya. Malah tanpa menjalani test." "Syukurlah. Aku turut gembira. Sekarang acaramu mau ke mana?" "Pulang." "Mau kan menemani aku?" "Kemana?" "Melihat villa di Puncak yang baru seminggu kubeli. Karena villa itu perlu dirawat lagi supaya megah. Aku akan menyuruh tukang kebunku memperbaikinya yang rusak-rusak." "Tapi. . ." ucapan Hermanto agak berat menolak. "Aku membutuhkan teman, mas Her. Kuminta jangan kau menolak ajakanku ini, aku mohon dengan sangat," pinta Siska merengek. Hermanto menarik nafas panjang, dan dengan terpaksa ia memenuhi ajakan Siska. Dengan terpaksa ia memenuhi ajakan gadis itu. Udara Puncak terasa sejuk manakala Hermanto baru saja turun dari mobil. Dan ia memperhatikan villa yang terpacak megah itu dengan diliputi berbagai macam pertanyaan. Pertanyaan mengenai diri Siska yang mampu membeli villa semegah ini. Belum habis ia bertanya dalam hati, jari-jari lembut Siska memegang lengannya. Lembut dan mesra. "Ayo masuk," ajak Siska. Seorang laki-laki setengah baya menyambut kedatangan Siska dengan penuh hormat. "Selamat datang, Nona," sapa laki-laki itu. "Bukakan pintu depan. Dan aku bicara padamu." "Baik, nona. Lelaki penjaga kebun itu sangat patuh sekali dengan perintah Siska. Dia buru-buru membuka pintu villa itu. Siska menggandeng Hermanto masuk ke dalam-dalam. Seisi ruangan tamu perabotannya sérba lux. Lalu Siska duduk di kursi tamu bersama Hermanto. "Pak Simin, cari tukang untuk memperbaiki dinding villa yang perlu diperbaiki. Dan warnacatnya semua dirubah putih." "Baik, Nona." "Nih, uang untuk membeli kebutuhan yang diperlukan. Siska memberikan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah kepada pak Simin. "Cepat kerjakan." Simin berjalan terbungkuk-bungkuk meninggalkan ruang tamu. "Mas Her mau minum yang hangat atau dingin?" tanya Siska manja. "Yang tepat bisa menghangatkan tubuh." "Okey." Siska berjalan ke ruang dalam. Hermanto kembali diliputi tanda tanya mengenai diri Siska. Sehebat inikah keberhasilan gadis itu dalam hidupnya? Sedangkan sampai detik ini Hermanto masih belum mengetahui pribadi Siska. Cuma ia masih teringat anjuran Mira, bahwa ia tak direlakan bergaul erat dengan gadis itu. Jadi kenapa sebenarnya? Hal itu membuat Hermanto merasa ingin tahu. Siska kembali ke ruang tamu dengan membawa wishky dan bir. Begitu juga pakaian yang dikenakan sudah berganti daster tipis. Hermanto cukup tercengang melihat pakaian yang dikenakan gadis itu. Betapa tidak, bentuk tubuhnya yang indah menerawang di balik daster tipis itu. "Kurasa dengan minuman ini bisa menghangatkan tubuh kita," ujar Siska. Siska menuangkan minuman itu ke dalam gelas. "Sejak perkenalan kita, aku merindukan saat seperti ini. Kita bisa ngobrol santai dan menikmati hidup ini dengan segala keindahannya," kata Siska lembut. "Berbahagialah bagi orang yang dapat hidup senang dan tidak serba kekurangan. Seharusnya kau bersyukur atas karuniaNya, sehingga kau dapat hidup seperti ini." "Tapi masih belum lengkap, kalau tanpa seseorang yang kudambakan selama ini." "Siapakah dia?" Siska tertawa manja. la semakin merapatkan duduknya ke sebelah Hermanto. Sedangkan tangannya mengelus-elus pahanya yang kenyal, padat dan putih mulus itu. Sempat mata Hermanto bersinggah pandang ke paha gadis yang duduk di sampingnya. Sergapan gairah kelelakiannya mulai tergetar. "Aku telah menyiapkan hiburan segar untukmu. Kau pasti akan menyukainya, sembari bangkit. Kemudian ia berjalan dengan gemulai. Pinggulnya bergoyang melenggak-lenggok. la mendekati pesawat Tivi dan memutarkan kaset video. ujar Siska "Pintu dan gordinnya tolong ditutup rapat rapat. Mas. Sinarnya yang masuk akan mengganggu." Hermanto menuruti perintah Siska. Pintu dan gordinnya ditutup rapat-rapat. Keadaan ruangan itu jadi redup. Makin romantis. Siska dan Hermanto duduk berdampingan lagi. Layar tivi mulai menampakkan gambarnya. Siska menyodorkan gelas minuman yang berisi wishky kepada Hermanto. Mereka saling meneguk minuman itu. Pertunjukan di layar tivi makin menggairahkan. Hermanto makin terpukau menyaksikan sepasang remaja yang sedang bergumul di atas tempat tidur. Siska menuangkan minuman keras itu ke dalam gelas Hermanto. Lalu disodorkan kepada Hermanto. "Minum lagi, Mas." Hermanto menuruti saja. Pertunjukan di layar tivi makin seru. Sepasang remaja itu mulai membuka pakaiannya. Terus bercanda di atas tempat tidur dengan bugil. Terus b******u hangat dan selanjutnya Hermanto memejamkan mata. la mendengar rintihan manja penuh kenikmatan. Saat itu ia merasakan jari-jari Siska membelai rambutnya. "Kalau mas Her tadi bertanya mengenai seseorang yang kudambakan tak lain kaulah orangnya. Aku mencintaimu, mas Her," Kata Siska lembut dan mesra. Mata Hermanto terbuka lagi. Pandangannya tertuju ke layar tivi. Di sana ia melihat adegan yang makin.membakar gairahnya. Sekujur badannya menjadi kejang karena darahnya bagaikan membeku. Pori-pori kulitnya serasa menguapkan sari-sari napsu birahi yang menerjang-nerjang. Sementara gadis yang duduk di sebelahnya kian agresif. Hidung gadis itu mencium pipinya. Dan menempel dengan penuh kelembutan, Dengus nafasnya terasa hangat dan harum. Hermanto menoleh ke arah gadis itu. Kecupan hangat bibir Siska telah melumat bibirnya. Lengan gadis itu memeluk lehernya. Dan Hermanto tak tinggal diam. la membalas lumatan bibir itu sembari mendekap erat tubuh gadis itu. Mereka merebahkan diri di atas kursi panjang dan bergumul di situ. Saling meremas, melilit, menggelinjang dan tak mau melepaskan dekapannya. Sampai akhirnya lelaki itu membawanya ke kamar. Dibaringkan di atas tempat tidur. Satu demi satu kancing baju Hermanto dibuka oleh jari-jari tangan gadis itu. Begitupun tangan Hermanto membuka daster Siska. Pakaian mereka terlempar satu demi satu ke lantai. Mata Siska terpejam manakala tangan Hermanto menjalari bagian-bagian tubuh gadis itu. Dekapan erat Siska bagaikan tak mau lepas. Terengah-engah napas Siska tak beraturan. la merintih panjang, namun rintihan itu cepat dihentikan dengan ciuman Hermanto yang hangat dan Menggelora. Siska bergeser memberikan peluang laki-laki itu. Peluang itu merupakan kesempatan yang memang diharap. Kemudian, hanya terdengar rintihan panjang dari bibir Siska. la mendekap erat tubuh Hermanto sambil merapatkan mata. Saat itu ia bagaikan terbang. Terbang ke suatu tempat yang penuh keindahan. Kenikmatan. Sukar baginya untuk melukisnya. Hanya dalam keadaan setengah sadar, dengus nafas mereka terdengar memburu. Memburu bagaikan dipacu oleh sesuatu yang gersang menanti tetesan air hujan. Dan hujan yang turun akan membasahi tempat yang gersang. Membuat tanah yang ditumbuhi rerumputan kering akan kembali subur, setelah sekian lama tak tersirami. Membuat pohon cemara yang panjang meliuk-liuk kejang kena sentuhan angin. Menusuk langit yang warnanya merah jingga di waktu senja. TBC.......! (Next episode selanjutnya ya sobat....)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN