Suara siulan yang terdengar sayup-sayup sampai ke telinga Jarot. Dibarengi suara langkah kaki bersepatu kian mendekat. Jarot mengenali benar bunyi langkah itu. Siapa lagi kalau bukan Hermanto. Maka ia buru-buru keluar dari kamarnya.
"Girang amat kau malam ini, Her. Lamaranmu diterima dan kau langsung diangkat jadi direktur ya?!" ledek Jarot.
Hermanto tidak menghiraukan teguran Jarot. la malah berteriak girang.
"Ciihuuuiii!"
"Hee! Kesurupan setan darimana kau?!"
"Kamu anak kecil nggak boleh tahu!"
"Laaah?! Aku dikatain anak kecil, lalu kapan lagi gedenya?? Hai Cok, macam mana kau ini! Maboknya duluan minumnya belakangan!"
Hermanto sengaja mau mempermainkan Jarot. la berlari kecil ke kamarnya. Jarot mengejarnya dari belakang.
"Dari pagi pergi, pulangnya malam, eh jadi sinting!" celetuk Jarot.
"Pokoknya syiiiip."
"Apanya dong?"
"Ketemu jodoh." Jarot ngakak.
"Pasti jodohmu lebih jelek dari Mira."
"Jangan menghina. Di dunia ini cuma dia segala-galanya bagiku."
Hermanto menghenyakkan p****t di pinggiran tempat tidur. Lalu ia membuka sepatunya.
"Oh ya, kau sudah bertemu dengan Mira?" tanya Hermanto.
"Ya."
"Lantas bagaimana?"
"Dia masih belum mau berterus terang. Cuma dia titip pesan untuk disampaikan padamu."
"Pesan apa?"
"Dia tidak rela melihatmu bergaul akrab dengan Siska."
"Alasannya?"
"Tidak mau dikemukakan."
"Kau tanya dia membenci aku?"
"Ya."
"Lalu jawabnya?"
"Dia menyayangimu."
"Gadis yang aneh. Berusaha menjauhi tapi dibilang menyayangi. Sungguh nih? Jangan-jangan kau ngarang sendiri."
"Dengkulmu, Nyong! Biar disambar geledek kalau aku membohongimu."
"Syukurlah. Kalau begitu besok aku akan menemuinya.
"Itu lebih baik."
"Sekarang aku mau mandi dulu. Dan malam ini aku mau menantangmu main catur."
"Boleh. Apa taruhannya?"
"Yang kalah jadi tukang pijit."
"Setuju. Pasti kau yang mijitin aku sampai pagi," ejek Jarot sambil ngakak.
Siang itu tidak seterik kemarin, Sengaja Hermanto menghadang Mira keluar dari gedung fakultas sastra. Hentakan-hentakan kebimbangan serta keraguan memenuhi rongga dadanya. la merasa selama ini gadis itu berusaha menjauhi dan hubungan persahabatannya makin renggang. la gelisah, la takut, kalau-kalau gadis yang hendak ditemuinya tak mau menghiraukan. Bukan hal yang mustahil dugaannya itu bisa saja terjadi. Bisa saja Mira mendampratnya sebagai pemuda yang tak tahu malu. Tak tahu balas budi, atau seorang laki-laki yang tak mau tahu perasaan seorang gadis.
Hermanto mendesah. Dan denyut jantungnya semakin kencang, ketika pintu fakultas sastra terbuka dan keluarga mahasiswa dan mahasiswi. Dengan sepasang mata bersorot resah, ia memperhatikan setiap siswa yang keluar dari pintu itu. Ada beberapa mahasiswi yang mengenal Hermanto menegurnya dengan manja. Centil. Dibalasnya dengan santai olehnya. Sampai selanjutnya gadis yang ditunggu keluar dari pintu itu.
Mira agak tersentak melihat Hermanto berdiri di depannya. Dan mata mereka saling berpandangan. la melihat seulas senyum Hermanto yang lembut dan kalem. Senyum yang tak pernah berubah seperti dahulu kala, pada saat mereka pertama mereka bertemu.
"Haaaeeii..." tegur Hermanto ramah.
"Haeii ..." balas Mira dingin.
Gadis itu meneruskan langkahnya. Hermanto membisu mengikuti langkah gadis itu. Seonggok perasaan tak menentu bergayut di dalam dadanya. Sementara hasrat hati untuk mengajak berbicara gadis itu terus berdetak kencang.
'Kau laki-laki pengecut! Tidak gentelman! Masak sama gadis itu saja kau tak berkutik. Tidak mempunyai keberanian. Ayo! Ayo' Dalam bisik Hermanto panjang.
Bisikan Hermanto membuat gadis itu melirik ke arahnya sekejap. Dan, lirikan itu berbenturan dengan pandangan matanya.
"Aku ingin bicara denganmu, Mira," kata Hermanto serak.
"Soal apa?"
Hermanto tertunduk memandangi tanah yang dipijaknya. Mereka berjalan menuju ke tempat parkir kendaraan. Gadis yang ada di sebelahnya berjalan gemulai. Paling-paling ia hanya berani melirik, namun tenggorokannya terasa sulit untuk berbicara.
"Ayo katakan," desak Mira dingin.
"Sekarang sikapmu banyak berubah."
"Oh ya?" Mira tersenyum kecut.
Mereka telah sampai di tempat parkir kendaraan Pembicaraan Hermanto bagai terbendung karena gadis itu akan segera meninggalkannya. Perasaan Hermanto jadi gundah gulana. Padahal masih banyak yang akan dibicarakan, sehingga ia hanya dapat mengeluh dalam hatinya.
"Kau tak punya waktu beberapa jam saja untuk berbincang-bincang denganku?" tanya Hermanto.
Mira memandang Hermanto. la menemukan pancaran mata pemuda itu bermakna permintaan, Kesediaannya mau memenuhi. Dan perasaan iba menyusup ke lubuk hatinya.
"Baik. Pembicaraan itu bersifat pribadi?" tanya Mira. Hermanto mengangguk.
"Di sini bukan tempatnya untuk membicarakan hal itu."
Mira membuka pintu mobil. Sedangkan Hermanto merasa sudah kehilangan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan gadis itu. Apalagi Mira masuk ke dalam mobil dan duduk. Maka Hermanto cuma garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Tapi yang dilakukan kemudian oleh gadis itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo masuklah!" perintah Mira.
Hermanto termangu girang. Hal itu di luar dugaannya.
"Heyy! Kenapa masih bengong?" tegur Mira heran.
Buru-buru Hermanto masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah gadis itu. Kunci kontak mobil diputar oleh Mira, mesinnya hidup dan mobil itu meluncur meninggalkan tempat parkir.
Mobil yang dikemudikan Mira meluncur di antara kepadatan kendaraan lainnya di jalan raya. Matahari yang sejak tadi bersembunyi di balik awan kelabu menampakkan kembali dirinya. Teriknya membakar permukaan bumi. Meski begitu Hermanto yang ada di dalam mobil merasa sejuk karena AC. la menoleh memandang Mira yang konsentrasi mengemudikan mobil.
"Kita mau ke mana?" tanya Mira.
"Terserah. Asal tempatnya tenang dan bisa berbincang-bincang dengan santai."
Mira melarikan mobilnya menuju ke Ancol. Setibanya disana Ombak di pantai saling mengejar, Menghempas ke batu-batu gunung yang bertumpuk-tumpuk di sepanjang pinggiran pantai. Buih-buih putih pun muncrat membentur batu-batu itu.
Hermanto sejak tadi memperhatikan percikan air itu dengan mulut masih terkatup. Lalu ia menoleh gadis yang duduk di sebelahnya juga sedang termenung memandang lautan. Mungkin dia juga mempunyai kecamuk di dalam perasaannya. Seperti apa yang dialami oleh Hermanto. Kecamuk itu yang jelas sangat berlainan.
"Selama ini perubahanmu banyak sekali. Maukah kau mengatakan sebabnya?" kata Hermanto lunak.
"Aku tak merasakan hal itu."
"Tapi aku merasakannya, Mira. Kau berusaha menjauhi aku. Sikapmu tak semanis dulu."
Mira tertunduk, la memandang pasir yang dipijak sepatunya. Lalu menghirup udara sepenuh dadanya, karena ada semacam pertimbangan yang membuat ia malu pada diri sendiri.
"Cobalah jelaskan apa sebabnya, mungkin dengan penjelasanmu aku dapat mengintrospeksi perbuatanku selama ini. Barangkali ada yang kurang berkenan di hatimu. Lain tidak agar persahabatan di antara kita tetap berjalan baik. Tidak semakin renggang."
"Saat ini aku sedang memikirkan diriku sendiri, mengapa khayalanku tak pernah menjadi kenyataan. Seseorang yang senantiasa kusayangi mengabaikan begitu saja, tak pernah mau mengerti perasaanku." kata Mira sambil menghembuskan nafasnya
"Yang kau maksudkan aku?"
"Jadi mas Her selama ini belum merasa?"
"Jangan salah mengerti, Mira. Aku merasakan hal itu, bahkan kuresapi sampai lubuk hatiku."
Angin bertiup mengurai rambut Mira, Di depan mereka melintas sepasang muda-mudi berjalan berpelukan mesra. Bercanda dalam bahagia. Dan kehadiran sepasang remaja itu membuat perasaan Mira bagai dililit kepedihan. Andaikan ia bisa seperti mereka, tentunya dengan laki-laki yang duduk di sampingnya, alangkah bahagianya. Namun apa yang dialami tidak demikian. Hermanto selalu membatasi diri dan menganggapnya se bagai sahabat.
"Cuma sampai kini aku masih ragu, benarkah waktu aku datang ke rumahmu kau tak ada di rumah?"
Mira diam.
"Aku yakin kau ada di rumah waktu itu. Dan kau sengaja tak mau menemuiku."
Mira membuang muka ke samping.
"Katakanlah apa sebabnya,"
desak Hermanto.
"Aku tak mau melihat kau bersama Siska!"
"Kenapa? Bukankah dia juga teman kita?"
"Aku tidak rela kau bergaul akrab dengannya."
"Ada sesuatu yang tak kau sukai tentang dirinya?"
"Ya. Jangan tanya lebih dalam mengenai Siska."
"Baik. Tapi sekarang kau harus jujur mengutarakan sebab dirimu berusaha menjauhi aku."
"Tak ada gunanya. Sebab sampai kini kau tetap menganggapku sebagai sahabat."
"Persahabatan lebih kekal dibandingkan insan yang bercinta, Mira. Kalau kau menghendaki lebih dari itu, perlu kau pertimbangkan dengan masak. Bagi diriku selalu menyadari segala kekuranganku untuk mencintai seseorang. Aku lebih mementingkan study dibandingkan bercinta. Aku dilahirkan sebagai anak orang miskin, yang harus berjuang untuk masa depan. Sampai detik ini belum ada satu pun wanita yang tertanam dalam hatiku,"
Mira agak terenyuh mendengar ucapan Hermanto. Begitu polos dan terus terang. Tapi getaran perasaan yang dialaminya setiap berada di samping pemuda itu begitu bahagia. Mendambakan kasih sayang dan cintanya.
"Tak tahu, apakah selayaknya sebagai seorang gadis aku terlebih dahulu mengutarakan cinta? Bahwa aku mencintaimu, mas Her." Hermanto tersenyum. Lalu ia merangkul bahu gadis itu lembut sekali dengan penuh kasih sayang.
"Mira, aku sendiri belum pernah jatuh cinta. Namun yang kuketahui dari kehidupan ini, cinta adalah anugerah Tuhan yang dimiliki oleh setiap manusia. Kapan cinta itu akan datang dan bersemi tak dapat disadari dengan pasti. Jika kau merasa tidak selayaknya mengutarakan cintamu, itu tak dapat dibenarkan. Siapapun, termasuk dirimu berhak untuk mengutarakan terlebih dahulu. Cinta adalah letupan naluri yang tak dapat dielakkan.
Hermanto membelai rambut Mira penuh kasih sayang. Dan gadis itu menyandarkan kepalanya di d**a Hermanto. Sepasang matanya mulai dibasahi air bening yang berkilau-kilau.
"Aku sangat terharu mendengar keterus- teranganmu. Namun sebaliknya aku membenci diriku, mengapa sampai kini getaran cinta tak kurasakan terhadapmu. Meski demikian kuharap kau jangan kecewa. Mungkin tuntutan keberhasilan study lebih kuutamakan, karena aku dilahirkan sebagai anak orang miskin. Aku anak satu-satunya yang merupakan tumpuhan harapan kedua orang tuaku." Isak tangis Mira mulai terdengar.
la bagaikan terbenam dalam kesedihan. Kesedihan memikirkan diri Hermanto yang mengarungi realitas kepahitan. Mira memang tahu pasti, bahwa Hermanto hidup di Jakarta serba kekurangan. Dia harus bergelut melawan realitas untuk mengatasi hidup di Jakarta. Maka timbul kesadarannya, jika Hermanto tak patut dibencinya. Tak patut disalahkan. Dia harus mengakui secara jujur, bahwa Hermanto tidak gampang terpengaruh dan tergiur oleh kemewahan. Dia mempunyai prinsip dan kepribadian yang kukuh.
TBC......!
(Apa yang telah terjadi setelah Hermanto pulang dari pantai yaa. Ikuti terus ceritanya sobat)