Tidak ada yang mudah untuk bisa melupakan begitu saja. Tidak mudah bagi siapa pun merelakan kepergian manusia yang ada di dekatnya.
Kepergian Alvi memukul telak sebuah kenyataan yang tidak bisa untuk semua orang yakini. Bunuh diri adalah sebuah hal pilihan kematian yang sangat tidak tepat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Sebesar apa pun masalahnya, Bunuh diri tidak dibenarkan dalam hal apa pun.
Bisakah, semuanya yang ada di depan mata itu adalah hanyalah sebuah ilusi. Nyatanya, sesaat aku tertidur dengan lelap karena ketidaksadaran diriku mengetahui segalanya, aku terbangun ketika wajah perempuan itu telah terbungkus dengan kain kafan.
Seluruh lubang pada raga yang telah kehilangan nyawanya itu, ditutup oleh kapas.
Aku tidak bisa menghayal segala hal yang telah terjadi kepada perempuan itu. Ohh, Gusti cobaan apa lagi ini yang ada di depan mataku.
Kepalaku berat, meski demikian, aku ingin ikut menyolati dirinya. Tangan Umi mencekal diriku. Dirinya tidak mengizinkan aku ikut dalam prosesi pemakaman.
“Istirahatlah, itu lebih baik untukmu nduk,” ujar Umi dengan nadanya yang lembut.
Aku menggeleng. “Ndak Umi, bagaimana aku bisa untuk begitu saja melepskan Alvi, sedang dirinya adalah adikku Umi, adikku sendiri.”
Umi hanya bisa menghela nafas panjangnya. Air mata yang ada di pelupuk matanya di lap dengan cepat.
Di bagian yang lain, Abi yang ikut akan menggotong jenazah untuk segera disholati, dirinya tampak tagah. Meski bagaimanapun juga dirinya tampah sedih juga atas kepergian salah satu keponakannya itu.
Di sisi yang lain, ada Paklik. Yang terakhir kulihat sebelum aku pergi dari rumah ini, dialah yang paling marah. Kali ini, dirinya tampak pasrah dengan segala hal yang telah terjadi.
Seperti seorang ayah yang telah telah merelakan kesalahan yang telah diperbuat oleh Alvi dulu.
Kakiku berputar, sesaat mengingat sesuatu.
“Anak Alvi bagaimana Umi?” tanyaku kembali kepada Umi yang masih di ruang keluarga itu.
Umi yang mendengar pertanyaanku itu, sontak terkaget.
“Anaknya ikut meninggal di dalam rahimnya. Kami memutuskan untuk tidak mengoperasi, karena akan hanya melukai jenazah,” jawab Umi dengan tegar.
Aku memeluk perempuan tegar itu. Dia terduduk lemas kembali, mengingat jika memang Alvi sedang mengandung, dan di dalam kandungannya ada sebuah nyawa yang hidup, namun, Gusti Allah mengambil nyawanya juga. Untuk menemani sang Ibu yang meninggal dunia itu.
Jenazah Alvi di sembahyangkan di mushola yang berada di depan rumah kami. TIdak jauh dan itu hanya memakan waktu beberapa saat juga.
“Sederek, nyuwun panyaksenipun, jenazah niki sae nopo sae?”
(Saudara mohon saksinya, jenazah ini baik atau baik)
“Sae … “
Alvi adalah sosok gadis periang. Semua orang tahu itu, meski tidak dipungkiri selama hidupnya dirinya seperti pemudi yang lain juga.
Jenazah Alvi digotong setelah disholati. Suara tahlil menggema seiring keranda yang berjalan di antara embun pagi yang menyapa di depan pengiring jenazah.
Bulik tidak bisa untuk menyembunyikan tangisnya. Dirinya ambruk ketika melihat jenazah anaknya digotong di pembaringan terakhir.
Umi membopongnya ke dalam.
***
Kematian datang kapan saja, dan akan menyatroni seluruh manusia yang hidup di dunia ini.
Aku mengetahui tentang hal itu, namun rasanya tidak bisa rela melihat seonggok tanah yang di dalamnya adalah tempat yang digunakan untuk gadis secantik Alvi di dalamnya.
Isakku tidak bisa terbendung.
“Alvi, Mbak ndak bisa buat tidak memungkiri. Samean pasti masih bisa dengar dengan apa yang dikatakan oleh mbak ini. Tidak bisa untuk melupakan begitu saja.
Namun yakinlah, MBak sudah ikhlas dengan segalanya. Tak perlu dipikirkan atas segalanya. kau sekarang tenang di alam sana.
Jangan sedih lagi ya. Mbak di sini sudah baik-baik saja kok. Kau adalah orang baik. Kau disana bersama dengan anakmu. Jaga sepuupuku ya,”
aku berkata sembari tersenyum. Memeluk nisan dengan ncat yang masih setengah basah di sana.
Hatiku lagi dan lagi harus mencelos karena kepergian Alvi yang sangat tiba-tiba di dalam kehidupanku ini. Tidak perah terbayang jika semua ini bisa terjadi.
“Jangan ditangisi, dia sudah tenang di sana,” suara laki-laki yang membuat aku dengan cepat menghapus air mata yang keluar.
Aku tidak meminta untuk dijemput.
Seseorang yang bersamaan dengan tundukan kepalanya itu, menghela napas panjang.
Wajahnya yang datang dengan mentari pagi itu membuat mataku silau.
Barulah, ketika tubuhnya dengan canggung menunduk, dan tubuhnya yang tinggi itu duduk bersejajar denganku. Baru kutahu jika laki-laki itu tak lain adalah Kang Asyfi.
Aku akan beranjak pergi, namun kembali lagi, lagi dan lagi. tangannya itu mencekal tanganku.
“Kang, kumohon jangan membuat Alvi disana semakin terluka dengan apa yang Kang Asyfi lakukan ini. Tolong hargai perasaan Syafa dan Alvi yang sudah tenang di sana,” kataku dengan dingin.
Kudengar dirinya menghela napas panjangnya.
“Dia sudah pergi, tidak ada yang mengganggu pernikahan kita bukan?” suara laki-laki itu mengalun, bersamaan dengan desis udara pagi yang berhembus.
“Maksudmu?” tanyaku dengan kedua alisku yang saling bertaut satu dengan yang lain.
“Iya, Apalagi yang kita takuti, semua sudah digariskan oleh Allah buat kita bersama,” katanya kembali dengan nadanya yang cukup mengentengkan.
PLak …
Tanganku berhasil menampar pipinya dengan keras.
“Tabban Lak! kau buta apa kang? kau tak melihat tempat Alvi dibaringkan masih sangat basah di sana? kau tak melihat cat yang digunakan untuk menulis nama Alvi masih basah. Kau tak lihat! bunga dan dedaunan yang ada di kuburan itu masih segar?
Dan bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Mana Kang Asyfi yang dulu pernah aku kenal? Di mana?
Jika kau tidak bisa untuk menghargai diriku. Cobalah untuk untuk menghargai sebuah kematian yang akan datang setiap saat kepada manusia. Tanpa memilih. Termasuk dengan dirimu Kang!”
Jari telunjuk ku menunjuk hidungnya. menuding hidungnya yang sama sekali tidak pantas allah memberikan wajah kepada laki-laki itu. Setelah mengetahui jika dirinya memiliki perilaku yang bahkan lebih biadab dari hewan pencuri mangga di malam hari itu.
“Saya tidak peduli Dik. Saya hanya peduli dengan pernikahan kita. TIdak ada yang lain daripada itu.”
Kang Asyfi berkata dengan salah satu sisi bibirnya yang miring sebelah.
“Innalillah Kang. Setan apa yang telah masuk dan menyusup ke dalam tubuhmu. Hingga dirumu seperti ini! setelah semua yang tlah kamu perbuat Kepada Alvi kepada semua keluarga kami. Kau yang telah membunuh Alvi.”
“Dia mati karena bunuh diri. Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali.”
“Kamu memang tidak menyentuh untuk membunuh dirinya. namun, kamu memperkosa dirinya, kau membuat Alvi hamil di luar nikahmu, kau yang membuat rasa cintaku kepadamu runtuh atas nama alvi. kau yang membuat perempuan kecl itu tidak berdaya atas kehamilan di luar nikah. Dengan keluarga yang tidak--”
“Aku tidak memprkosanya jika dirinya tidak menggoda Dik. Dia yang menggodaku terlebih dahulu.”