bughh .... Bughh … Bughh …
Tendangan, ditambah dengan jotosan itu datang tiba-tiba dari seorang laki-laki yang kukenal penyabar dan periang itu.
“Innalillah, Yek, sudah Yek … Sudah … “
Aku terpekik kaget dengan apa yang telah dilakukan oleh Yek Ali. Gerakannya sangat cepat, sehingga aku tidak bisa untuk mencegah duel antara dua laki-laki itu.
Kang Asyfi telah terkepar lemas di atas tanah. Sedangkan Yek Ali masih terus menghabisi dirinya. Semburat otot yang membelah di antara dahinya itu menjadi pertanda jika dirinya dalam keadaan yang sangat marah.
“Tolong … tolong … “
Aku berteriak meminta pertolongan kepada warga sekitar.
Sesaat melihat pria itu benar-benar tidak sadar, Yek Ali beranjak. Dirinya langsung mencekal tanganku. Menarikku dengan paksa, sebelum akhirnya aku dimasukkan ke dalam mobil.
Yek Ali mengemudi dengan ugal-ugalan.
Tidak ada perbincangan yang begitu berarti. dirinya hanya diam. Tanpa suara.
***
Desas desus terkaparnya kang Asyfi karena dipukuli oleh Yek Ali langsung didengar oleh keluarga.
Dari pada keluar, aku lebih memilih untuk terdiam di dalam kamar. Berusaha untuk menenangkan diriku sendiri. Tidak bisa tertidur, hanya bisa menenangkan diri di antara lantunan ayat suci yang berkumandang di salah satu audio. Sembari tanganku tak henti-hentinya memutar tasbih.
Krieettt …
Pintu terbuka, Yek Ali masuk ke dalam kamarku dan menutup pintunya saat itu juga. Laki-laki itu duduk di salah satu ujung kamar tidurku. Duduk dengan rapi di sana.
Aku segera mengakhiri kegiatan dzikirku. Berjalan ke arahnya.
“Bagaimana?” tanyaku kepadanya kemudian.
Yek Ali tidak langsung menjawab, laki-laki itu memandangku sekilas, baru kemudian tangannya bergerak mengusap rambutnya.
“Bagaimana yang bagaimana? Seharusnya Yek Ali yang bertanya kepadamu. Bukan kamu yang tanya ke Yek Ali.
Bagaimana hatimu, bagaimana mentalmu, bagaimana masa depanmu, bagaimana planning mu?”
Kali ini aku yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Yek Ali barusan. Aku tak tahu bagaimana keadaan mentalku, hatiku, bahkan untuk merencanakan apa yang akan kulakukan nanti, sungguh tidak terpikirkan. Aku hanya memikirkan diriku saat ini. Bersama dengan masa lalu yang seperti enggan pergi dariku.
Bersamaan dengan rasa putus asa yang selalu ada di dalam hatiku tak bisa aku mengingkari jika cinta yang sejati telah hilang persamaan dengan semua hal yang ada dalam kehidupan begitu jahat.
Apalagi saat ini aku tidak percaya akan adanya cinta akan adanya sebuah kasih sayang dari seorang laki-laki yang nanti akan menjadi pendamping dalam hidup bukan ini hanya untuk merasakan rasa cinta dari sang Maha kuasa untuk bisa terus berjuang.
"Kita akan pergi besok. Yek sudsh ada tiketnya," ujar Yek Ali kemudian dengan senyumnya yang ditahan.
"Yek, apa Ndak kita berangkat nanti saja kalau sudah minimal tujuh harinya Alvi, gimana Yek?" Tanyaku kemudian. Berharap jika mendapatkan jalan keluar dari masalah ini
Ini bukan hanya masalah aku dan diri Yek Ali, ini untuk semua hal yang ada di dalam kehidupan. Semua harus berjalan kembali. Namun.
"Kita Ndak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh pria b******k itu Syaf.
Kau tak pernah tahu kan apa yang direncanakan oleh pria b******k itu.
Kita harus antisipasi sebelum hal-hal terjadi." Ujarnya.
Klinting …
Dering handphone milik Yek Ali membuat pandangan mata di antara kami buyar. Berganti dengan fokus itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ya Akhi,"
Aku bisa menyimpulkan jika dirinya sedang menerima telepon dari salah seorang kawannya yang ada di Mesir.
“Kita harus berangkat ke Mesir besok Kamu siapkan semuanya. Barang-barang, biar menghemat biaya perjalan, kamu pakai backpape saja berangkatnya. Jangan pakai koper seperti orang-orang ya. Hemat dua puluh lima persen sudah lumayan banget kan,” titah Yek Ali.
Aku mengangguk mengiykan apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu, meski sejujurnya di dalam hatiku ada beragam penolakan.
Bagaimana dengan bebera rangkaian acara selamatan yang ada di rumah Alvi.
“Masalah surat0surat biar dipersiapkan sama Gus mu,” ujar Yek Ali kembali membuka pintu.
“Ohh iya Yek,” jawabku seadanya.
Tanganku beranjak untuk mengambil sebuah backpaper yang ada di ujung lemari, membuka plastiknya dan kemudin memasukkan beberapa peralatan dan baju ke dalamnya. Seolah apa yang aku kerjakan sudah ada yang menuntun, meski aku melakukannya dengan keadan yang tidak menyadari apa pun. Aku berhasil memasukkan segalanya ke dalamnya. menutupnya sebelum akhirnya aku melangkah untuk ke belakang. Di sana aku mendengar sebuah isak tangis dari seseorang yang begitu diriku sayang.
Umi menangis dengan berpelukan dengan adik perempuannya. Seolah mereka saling menguatkan satu dengan yang lain.
Aku yang berdiri dengan jarak sepuluh meter dari mereka, ikut membatin.
“Bilang ke Syafa ya Mbak, bilang ke Syafa. Alvi punya banyak salah ke Syafa. Aku ndak tahuharus bagaimana lagi. Tolong ya Mbak,” isaknya dengan menderu-deru dengan setengah kesadaran.
Aku bisa merasakan kesedihan itu yang masih bisa begitu terasa.
Aku di antara kain gorden yang ada di depanku, ikut melinangkan air mata kembali. aku tidak bisa memungkiri kesedihan itu masih begitu terasa di antara hatiku.
Erat aku mencengkeram kain yang ada di sana.
Rasanya masih belum percaya jika Alvi telah tiada. Aku berlari kembali, berniat untuk masuk ke dalam kamarku lagi, namun, sosok tubuh menabarakku.
“Maafkan Syafa Abi,” ujarku ketika ku menyadari seseorang itu adalah Abiku.
Abi tak berkata apa pun. Dia mencoba untuk mengangkt daguku. Mataku dipaksa untuk melihat mamniknya. Namun aku tidak bisa untuk memperlihatkan linangan air mataku di depan matanya.
“Maafkan Syafa Bi,” kataku kemudian dengan terisak.
Abi hanya merespon dengan senyuman, baru setelahnya kedua tangannya mengajak diriku untuk duduk di salah satu sofa keluarga yang ada di ruang tengah itu.
“Tangis itu tidak ada yang salah. Gusti menciptakan air mata itu juga untuk dijadikan bahan curahan. Air di lautan, bisa kering. Namun, tidak dengan air mata manusia.
Samean tahu, air mata manusia itu tidak bisa kering mengapa?” tanya Abi yang sontak membuat pandanganku hanya terfokus kepadanya.
“Kenapa Abi?”
“Ya, karena masih belum ditimpakan oleh Allah berupa rasa kebencian dan kekecewaan.
Orang yang mudah kecewa, mudah benci, mereka tidak akan diberikan air mata yang sama dengan air mata orang yang memiliki rasa kasih sayang dan rasa cinta begitu besar kepada makhluk Nya, kau tau itu kan Nduk?”
“Ndak perlu menyembunyikan air mata untuk terlihat kuat di depan orang lain. Karena sejatinya, manusia tempatnya rapuh.”
Aku melihat mata Abi dengan berkaca-kaca. Aku langsung memeluknya ketika kalimat itu dikatkan.
Sebenarnya aku tidak mau terlihat rapuh di depannya. Namun, keadaan berkata lain, seolah berhianat kepadaku. Perasaan manja itu lagi dan lagi membuat diriku hanyut kepada sebuah pelukan hangat dari seorang Abi yang begitu sayang kepadaku.
“Sebentar lagi, kamu mau ke Mesir. Sudah dipersiapkan semuanya?” aku mengangguk. “Kalau di sana, jaga diri baik-baik ya. Di daerah yang asing, acapkali kita akan merasakan kesusahan dengan segaanya. Namun, kau harus ingat, di sana, meski Abi tidak ada secara langsung buat meluk Syafa seperti ini, tapi iNsya Allah Abi akan tetap selalu berada di dalam hati Syafa.
Yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk tiada, atau harus meninggalkan kehidupanmu, berarti itu sudah merupakan ketetapan Gusti Allah, sebagai manusia, kita hanya ditugaskan untuk ikhtiar selanjutnya. Ndak perlu menengok ke belakang secara penuh. Karena yang berhubungan dengan masa lalu, kadang hanya akan membuatmu, lagi dan lagi terjebak ke dalam lubang jurang yang menyesatkan."