Benar kata orang, bandara adalah tempat yang nyata untuk seseorang melihat tentang kepergian. Melihat tentang bagaimana perasaan cinta dan kasih yang harus direlakan di depan mata untuk dilepas pergi.
DI antara derai air mata haru seseorang di sana, aku tidak bisa menutupi perasaan sedihku juga.
Abi mengantarku, engan keluargaku yang lain. Keluarga yang tak lain adalah Gus Azizi dan Mas Danu, yang adalah suami dari salah satu misananku.
Aku di antar merea sampai di bandara.
“Jaga ponakanmu ya,” pinta Abi yang dari matnya sebenarnya itu, tidak bisa disembunyikan perasaan ketdakrelaan itu.
“Abi ndak sedih, lihat Syafa mau pergi?” tanyaku kemudian. Kepada sosok yang berada di samping Yek Ali.
“Sedih sih ndak Nduk. Lhawong putirnya mau belajar kok disedihi, gimana. Abi cuma ndak nyangka saja kalau secepat ini Syafa besar.
Bawa nama baik keluarga, bawa nama baik agamamu, dan negaramu ya Nduk. Kamu di sana harus bisa untuk jaga diri,” ujar Abi dengan senyuman. Aku mengangguk membalas senyum kembali.
“Doakan Syafa nggeh Bi,” jawabku kemudian.
Suara announcement dari spaker yang ada di bandara membuat tanganku beanjak dari kursi tunggu. Aku mengambil tangan Abi, menciumnya kemudian. Memeluk laki-laki terhebatku itu. Aku merasakan harunya. Menangis aku di pelukannya.
“Sudah Nduk, sudah. nanti malah ketinggalan pesawatnya. Jangan lupa jaga sholatnya nggeh,” kata Abi mengusap air mataku ketika kami saling pandang satu dengan yang lain.
Aku mengangguk berulang kali, sembari mencium tangannya sekali lagi. Kali ini dengan perasaan yang penuh haru. Sama harusnya seperti yang lalu.
Perpisahan itu nyata.
Perlahan lenganku ditarik oleh Yek Ali, perlahan raut wajah sedih itu hilang dari pelupuk mata.
Jika ini adalah sebuah takdir terbaik yang telah diberikan oleh Gusti Allah kepadaku, maka ini adalah yang sesungguhnya. Ini adalah takdir yang terbaik yang harus aku jalani.
Di dalam pesawat. Yek Ali memberitahuku di mana aku harus duduk. Ternyata, aku mendapatkan tempat yang berbeda darinya. Jaraknya tidak begitu jauh, namun tetap ada perasaan yang kurang juga,.
Sembari menunggu semuanya bersiap-siap. Aku mempersiapkan perjalanan terbaikku nanti.
Lima menit aku memandangi jendela. Berharap jika pemandangan terakhirku di tanah ini adalah raut Abi, sayangnya memang Abi telah berada jauh. Hingga bayangannya tidak bisa dilihat sama sekali.
Aku lalu mengambil mushaf, membacanya agar bisa lebih tenang. Ini adalah salah satu hal yang selalu aku lakukan ketika aku dalam kegelisahan.
Sosok laki-laki masuk ke dalam pesawat dengan rautnya yang gugup. Wajah kaukosoid yang begitu terlihat ketika suaranya yang memang keras itu cukup menganggu indra pendengaraku.
Laki-laki itu bertanya kepada salah satu pramugari.
Aku melihat ke sekeliling, semua tempat duduk telah terisi. Hanya dua tempat duduk saja yang belum terisi di kelas ekonomi ini.
Salah satunya adalah di sisiku.
Ketika pramugari menunjuk ke arahku. Aku sedikit terkejut, aku seperti mendapatkan sesuatu hal yang begitu mengejutkan, karena ditatap seperti tatapan yang tak suka dari laki-laki kaukosoid itu.
Laki-laki itu seperti mengajukan sebuah prtanyaan dalam bahasanya. Aku tak begitu peduli. mataku kembali menyisir mushaf yang ada di tanganku saat ini. Ohh, ada peasaan penasaran untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Yek Ali. Sebelum benar-benar aku membaca Al Quran, kulihat pria itu yang telah ttidur pulas dengan headset yang ada di telinganya.
Aku hanya bisa menghela napas sembari menggelengkan kepala. Dasar kebo.
Sseorang laki-laki yang tadi sempat berdebat dengan salah satu pramugari itu, akhirnya menyetujui dirinya duduk di sebelah diriku. Seperti ada perasaan yang tak suka, namun aku tak begitu peduli dengan hal itu.
Satu sisi yang ada di paling ujung adalah tempat duduk seorang perempuan tua yang usianya seperti sudah melewati setegnah abad.
Seperti penerbangan yang lain, sebelum kami terbang, ada penjelasan tentang keselamat diri penumpang dan apa saja fasilitas yang adda di dalam ruang dengan sisi besi ini.
Aku menutup mushafku, memperhatikan apa yang dijelaskan oleh seorang pramugari di sana.
Sedangkan, laki-laki yang ada di sampingku, dirinya sibuk dengan ponsel, sibuk dengan barangnya juga. Kebingungan seperti seseorang yang belum siap akan terbang. Seperti sangat terburu dirinya akan pergi dan tanpa persiapan. Iya, dirinya hanya membawa sebuah tas kecil saja.
Penerbangan dimulai. Aku mulai membaca beberapa doa. Di antaranya adlaah doa perjalanan, ayat kursi tiga kali agar aku diberikan perlindungan oleh Allah atas perjalananku ini. terakhir adalah membaca Al Fatihah yang aku kriimkan kepada keluarga yang ada di rumah, semoga Allah senantiasa memberikan keselamatan juga untuk mereka, dan menghapus rasa kecemasan.
Setegnah perjalanan, aku masih bersama dengan mushaf di tanganku. Aku membacanya tidak menggunakan suara. Aku menghormati orang yang ada di sampingku. Aku membacanya dengan suara dalam.
Dua puluh tiga jam bukan perjalanan yang sebentar. Akan ada banyak hal yang terjadi di dalam pesawat.
Dua jam setelah aku membaca mushaf, aku tertidur. Tubuhku cukup merasakan penat. Setelah sebelumnya ke Jogja, langsung mengurus segala keperluan yang ada di dalam rumah karena sebuah musibah itu. Mempersiapkan mental yang masih begitu belum bisa menerima semuanya. Cukup sulit, namun aku harus sadar dengan apa yang ada. Sembuh dari luka harus secepatnya didapatkan, untuk kehidupan yang lebih bercehaya selanjutnya.
Aku terbangun, seperti mendapatkan panggilan untuk melakukan sholat.
Benar saja, aku membuka handphone yang barus dibelikan oleh Gus Azizi untuk alat komunikasi. Selama ini, aku hanya menggunakan handphone milik Umi. SElain karena aku tidak membutuhkannya begitu intens, aku juga tidak terbiasa dengan bergantung dengan ponsel itu.
Tidak boleh menyalakan pesawat mode, namun aku masih bisa mengakses data dari wifi yang ada di pesawat. Namun seperti biasanya, jaringan yang ada di pesawat ini tidak stabil. Itu lebih baik, karena aku bisa memberitahu apa yang aku lakukan kepada Yek Ali yang berada beberapa meter dariku.
“Kalau dikasih makan sama pramugari, makan. Jangan ditolak, kau akan kelaparan nanti,” sebuah pesan masuk kepadaku dari Yek Ali.
Aku memandang sebuh makanan yang ada di depanku. Ohh, sejak kapan ada makanan itu di depanku. Mataku lalu melirik ke arah kananku, di sana ada kotak makanan yang hanya ada kotaknya saja.
“Syafa belum memakannya. Baru bangun tidur Yek, Hehehe.” balasku cpat.
Aku melihat apa yang ada di dalam kotak itu. Nasi goreng dengan lauk ayam.
“Ambil saus yang sudah Yek Siapkan di sisi tas kecilmu,” ponselku bergetar dengan nama yang sama Yek Ali.
Ohh, mungkin tidak ada salahnya dengan apa yang dikatakan oleh Yeek Ali, aku harus memakan nasi goreng di ketinggian berapa meter ini dengan nsi yang katanya biasanya hambar.
Dan benar saja, entah sejak kapan saus itu ada di tasku, namun sepertinya memang Yek Ali dengan sebutan copet handalnya itu, dia tidak memerlukan kesulitan untuk bisa menyelundupkan barang yang dirinya mau kepadaku. Itu adalah hal yag mudah, mengiingat dirku mudah juga ditipu dan tidak sadar dengan hal-hal kecil.