Pria Belanda

1000 Kata
“Maaf, apakah aku bisa pergi ke toilet?” tanyaku kepada laki-laki yang ada di sampingku, sesaat aku merasakan rasa yang tidak nyaman itu. Pria itu tidak menjawab. Dirinya hanya melihat sekilas kepadaku. Lalu dengan menyerongkan kedua kakinya dirinya memberikan jalan kepadaku. Aku bisa keluar dari tempat duduk dan menuju ke toilet. Kubuka jilbabku dan membenarkan rambutku agar terasa ringkas. Aku bisa melihat mata kesedihan yang melekat di sana. Namun, tidak seharusnya aku menangis disini kembali. Aku sudah lebih dari cukup untuk terus menangis bukan. Semua orang memiliki waktu untuk melakukan hal yang lebih lagi. Ketika aku akan keluar, pesawat yang kami tumpangi, seperti berguncang pelan. Guncangan itu cukup berarti untukku, karena aku mengalaminya sesaat sebelum duduk dengan tenang. “Allahu akbar, Ya Allah lindungilah kami.” Aku melanjutkan langkah, pesawat berjalan dengan seimbang kembali. Setelah melangkah ke dalam badan pesawat, apa pun yang terjadi. Segala hal. Kematian dan kecelakaan adalah risiko paling besar. Semuanya terjadi atas izin Allah. Dan kepergian diriku dari Indonesia untuk ke Kairo bukan tanpa niat. Aku memiliki niat yang tulus dan suci. Memberantas kebodohan, dan yang tak dapat aku nafikkan adalah perkara kesedihan yang mendera. Kadang, seseorang perlu hijrah untuk hatinya agar tenang bukan. Yek Ali tidur. Ia pulas dengan bantal leher yang digunakan di depan lehernya. Jika orang-orang pada umumnya menaruh bantal itu di belakang leher, maka dia adalah kebalikannya. Mungkin fungsinya yang benar adalah demikian. Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Melihat jika dirinya berada di antara dua perempuan, rasa-rasanya tidak ada masalah jika aku berada di tempatnya. namun, nyatanya, dia sedang tertidur. Laki-laki itu selalu tidur di setiap waktu. Selain mulutnya yang tidak berhenti mengunyah makanan. Kombinasi untuk mengatakan jika dirinya adalah makhluk spesies koala dengan wujud manusia yang berakal. Sesaat kembalinya aku berada di tempat dudukku kembali, aku melihat laki-laki yang berada di sampingku itu sibuk dengan laptop yang ada di depannya. “Permisi,” ujar ku dengan menggunakan bahasa Inggris. Dirinya tidak banyak bicara, namun dia langsung memiringkan kedua kakinya langsung. Laki-laki itu memang sedikit bicara menurutku. Aku pandangi di dekat jendela. Pemandangannya sama. Biru laut dengan kombinasi putih. Hari masih siang rupanya. Terdiam, aku hanya melakukan dzikir selanjutnya. Memohon agar hatiku selalu dalam kedamaian, di mana pun dan kapan pun itu kepada Gusti Allah. Nyatanya, dua puluh tiga jam bukan waktu yang sedikit, aku harus menghabiskan waktuku itu denan melakukan sesuatu. Kakiku yang menggelantung, rasanya lelah juga. Ada keinginan untuk bisa membaringkan tubuh juga. Aku salut dengan nenek tua renta yang masih cukup semangat dengan perjalanan kami kali ini. Entahlah, sepertinya memang dirinya terbiasa dengan perjalanan jauh seperti ini. Tak ada suara adzan terdengar di sini, namun aku bisa memanfaatkan teknologi. Handphone yang ada dengan sambungan WiFi pesawat sudah cukup untukku mengerti tentang waktu sholat. Sholat di dalam pesawat, sama seperti sholat saat perjalanan jauh lainnya. Aku melakukan gerakan dengan tetap duduk dengan tenang. apa yang aku lakukan ternyata menyita perhatian seorang lelaki bule di sampingku. Dirinya seperti melongo sejak tadi. “Siapa namamu?” tanya tiba-tiba laki-laki di sampingku dengan langsung menutup laptopnya. Dirinya menyodorkan tangannya kepadaku. mengajak diriku untuk berjabat tangan. Keadaan hening sejenak. Ukuran tangan dari pria bule tak aku sambut dengan baik. Salah satu alisnya baik sebelah. Aku menjadi seseorang yang seperti serba salah di sini. Aku hanya menolak uluran tangan itu dengan menangkupkan kedua tanganku di depan d**a, lalu tersenyum sembari menunduk kepada laki-laki itu. “Namaku Syafa,” jawabku kemudian dengan menggunakan bahasa Inggris. laki-laki itu kecewa dengan apa yang aku lakukan sepertinya. Seolah menolak uluran tangannya adalah hal yang besar dan membuat hatinya sedikit tersinggung seperti itu. “Mengapa harus begini?” tanyanya kemudian dengan mempermasalahkan dengan apa yang telah aku lakukan tadi. Dirinya tidak tertarik sama sekali dengan namaku. “Hanya untuk saling menghormati, agamaku mengajarkan hal ini,” ujar ku kemudian dengan senyuman di balik cadar. “Aku keberatan untuk itu.” “Dan itu adalah salah satu ajaran agamaku untuk menjaga perempuannya,” jawabku kemudian. Pria itu menggelengkan kepalanya, seperti apa yang telah aku katakan, ini hanyalah sesuatu yang tidak berguna. Entahlah, aku seperti sedang berprasangka buruk kepadanya setiap saat. Sejak pertama kali aku menatapnya dengan tatapan yang tidak suka. “Kamu seorang muslim?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk mengiyakan apa yang menjadi pertanyaannya itu. “Aku seorang Muslim,. Ada yang salah?” tanyaku kemudian. “Tidak. Sebuah keyakinan tidak ada yang salah. Tidak ada agama yang salah. Semuanya benar, dan aku tahu itu. Namun, tahukah kamu tentang segala hal yang ada di negaraku. Banyak dari mereka yang rasis dengan agama yang kau anut,” aku bisa langsung menyimpulkan dari apa yang dirinya bicarakan sebelumnya. Ini adalah hal yang menarik untuk kami bicarakan, setelah sekian jam kami saling terdiam satu dengan yang lain. “Ohh, aku tahu itu. Aku tidak mengingkari sebuah pandangan. Pandangan dan kepercayaan itu hampir serupa. Keduanya tidak bisa untuk dipengaruhi. Mereka memiliki hal yang mirip dan sama. Keyakinan adalah kepercayaan dari dalam hati, dan pandangan adalah sesuatu yang keluar dari akal pikiran.” Pria itu tersenyum dan membenarkan tempat duduknya. Mengangguk dan membenarkan apa yang aku ucapkan. “Iya, aku mengetahui ha itu. Semuanya yang berhubungan dengan akal dan hati tidak bisa untuk dikehendaki dengan paksaan,” dirinya berucap dengan bijak. “Aku bisa memastikan jika dirimu berada di dalam pesawat ini, telah melakukan pemeriksaan. Tidak ada hal yang perlu aku cemaskan kembali bukan,” dirinya tertawa dengan renyah. “Ya, mungkin.” “Aku manusia biasa, agama dalam kehidupanku adalah hal yang utama. Kami warga Indonesia memiliki kepercayaan penuh atas adanya Tuhan. Seperti halnya orang-orang barat yang percaya akan teori-teori, kami sama, memiliki kepercayaan yang begitu besarnya terhadap dalil-dalil yang telah disusun ke dalam sebuah lembaran yang bernama mushaf. Pegangan hidup umat beragama agar bisa untuk terus memperbaiki diri di jalan Tuhan.” “OHH, kau berkata dengan sangat manis,” katanya kemudian. Diam, seseorang memberikan makanan kepada kami. Rasa-rasanya, semenjak diriku berada dalam masalah yang besar, aku selalu telat untuk makan. Jam makan ku tak teratur, begitu juga dengan jam tidurku. Semuanya kacau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN