Bismillah Kairo

1013 Kata
Mesir, Agustus 2013. Udara panas menyapa. Ketika langkahku ke luar dari pintu besi itu, seakan mendapatkan ombak yang datang dengan tiba-tiba, sapuan angin yang bercampur dengan panas matahari langsung menyengat tiba-tiba. Memberondong menyapu wajahku dan bagian tubuhku. Seakan warna pakaian yang ku kenakan ikut menyimpan rasa panas. Memantulkan dengan panas. Seakan menguliti sebagian wajahku yang tidak tertutup dengan cadar. Kurasa Indonesia adalah negra yang panas, namun ada yang lebih panas dari negaraku itu. Aku tak tahu di suhu berapakah negara ini saat ini. namun ini adalah hal yang membuatku harus menjaga tubuhku dengan ekstra keras, agar tidak terlalu kaget dengan cuaca di sini. Kulihat beberapa bule yang sama denganku turun dari pesawat, sama denganku, mereka kepanasan seperti diriku juga. Kulit mereka memerah secara cepat. Seperti sebuah daging Wagyu yang terbakar di atas penggorengan. Beberapa peluh turun dahi mereka. Menetes dengan deras. Yek Ali membantuku membawa backpacker. Aku hanya membawa tas kecilku saja. Setibanya di dalam ruangan pemeriksaan paspor dan visa, aku melihat sosok Licoln yang juga masuk ke dalam ruangan pemeriksaan paspor dan visa. Dirinya tersenyum kepadaku, aku buru-buru menunduk. “Syafa, ini punya kamu sudah lolos, setelah ini kia akan dijemput dengan muridnya Yek,” sebuah suara itu membuat kepalaku mendongak dengan terkejut. “Ada apa?” tanyanya sesaat setelah aku melihat laki-laki berketurunan Belanda itu melambaikan tangan dalam jarak kami yang terpaut sekitar lima meter. “Siapa?” tanyanya kemudian kepada diriku. “Ndak Yek. ndak. Laki-laki yang tadi duduk di sampingku,” ujarku kemudian memilih untuk jujur. Ada sebuah pertimbangan yang besar dariku. karena aku tahu, apa yang aku rasakan, akan sangat mudah dirasakan juga oleh Yek Ali. “Ayo,” ajak Yek Ali. Aku melihat Licoln melambaikan tangannya. Aku langsung pergi saja tanpa membalasnya. Dia adalah keturunan Belanda yang baik. Sekitar lima belas orang, datang menyambutku di bandara, sesaat setelah diriku keluar dari ruangan besar. Mereka membawa sebuah banner besar dan menyambut kami dengan sangat baik. “Selamat datang di Kairo Syafa,” ujar salah seorang perempuan dari mereka dengan menyambut ku penuh hangat. DIrinya membawa sebuah bunga untukku, dan dikalungkan, aku dipeluk olehnya. Aku melihat Yek Ali yang tersenyum melihatnya. Aku sungguh tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutan ku saat menerima semua ini dari seseorang yang nanti akan menjadi orang-orang terdekatku. “Terima kasih banyak. Aku merepotkan kalian,” ujarku kemudian dengan tidak enak. Mereka sangat heboh menyambut ku, hingga tidak disadari jika Yek Ali tidak disambut. Yek Ali pergi menjauh dariku. “Sebentar,” kataku kepada perempuan yang baru saja memperkenalkan dirinya dengan nama Suryani itu. Aku buru-buru mengejar Yek Ali. “Yek, mau kemana?” tanyaku dengan aak keras. Sembari berlari mengejarnya. Langkah kaki jenjang itu berhenti. “Kamu kesana saja sama temen barumu!” ujar yek Ali dengan nadanya yang sepertinya tidak suka dengan apa yang aku lakukan saat ini. “Yek! katanya ndak akan ninggalin Syafa sampai kapan pun di tanah ini. Kenapa Yek Ali gini sih,” ujarku dengan mendekatinya. Yek Ali membalik. Memandang mataku sesaat aku sampai di hadapannya. Aku sudah ingin menangis saat itu juga. Tidak ada yang bisa aku mintai tolong lagi kecuali dirinya. Aku sangat bergantung kepadanya. “Ada apa?” tanyanya kemudian dengan tampangnya yang tidak masuk akal itu. Kedua tangannya yang membawa tas itu diletakkan begitu saja ke lantai. Lalu memegang kedua bahuku. Air mata yang ada di pipiku seakan akan terjun saat itu juga. namun aku tahan sekuat mungkin. “Shella, dengar Yek. Yek tidak akan kemana pun. Cuma, ada saatnya nanti Yek harus pulang ke Indonesia lebih awal. Kamu di sini itu sudah Syafa yang baru. Kamu adalah Shella yang baru. ndak Shella yang nangisan. Ndak Syafa yang manja dan bergantung kepada orang lain. Shella di sini adalah sudah menjadi Shella yang baru.” “Kenapa?” tanyaku dengan menautkan kedua alisku kemudian. “Coba Shella buka pikiran saja sekarang. Kalau amu ndak bisa buat hidup mandiri, lalu untuk apa. Kamu menjadi pribadi yang berbeda di negara baru ini. dan harus menjadi seseorang yang berbeda, karena bagaimana pun juga, kamu tidak boleh manja dan bergantung dengan orang lain. Kalau soal uang, biar nanti Yek Ali yang transfer ke kamu setiap bulan. Tapi tidak artinya kamu enak-enakan. Kenalilah semua orang. Pelajarilah dari mereka. Kamu akan mendapatkan banyak pelajaran dari sana yang tidak akan kau dapatkan di negara asalmu dulu. Dan itulah mengapa Yek Ali ingin kamu segera beradaptasi dengan orang lain di sini, paham dengan apa yang dikatakan oleh paklikmu ini?” tanyanya kemudian dengan mengusap air mataku yang tadi mencelos. “Tuh kan cengeng. Kalau nanti masih cengeng lagi kayak gini, bakal Yek ali jadikan geprek!” Aku memeluknya kemudian, meski tidak bisa menutupi rasa kesalku kepada laki-laki yang sedang memelukku saat ini juga itu. “Kalau nanti Syafa ada apa-apa, terus Yek Ali tidak mau bantu, gitu?” tanyaku dengan bibir yang menjadi satu. laki-laki yang ada di atasku itu seolah berpikir dengan keras, lalu kemudian dirinya membenarkan apa yang aku katakan barusan. “Iya, kemungkinan. kerena kamu sudah besar SYafa. Ndak anak-anak lagi yang mau gini harus manggil Yek. mau begitu harus minta tolong Yek. Dan semuanya itu, harus kamu lakukan sendiri di negara ini. ndak boleh manja lagi. Mengerti ndak?” tanyanya kemudian. Aku hanya bisa menunduk mendengar apa yang dikatakan olehnya. “Kamu harus sembuh dari luka, dan membuktikan kepada pria b*****t yang ada di sana. Kamu bukan perempuan lemah yang tidak pantas diperlakukan dengan tidak baik. Kamu adalah perempuan terhormat yang diberikan oleh Allah kesempatan untuk mengubah semua tadir yang ada. Usaha doa, dan jangan lupa selalu meminta restu kepada Abi dan Umimu di rumah. Karena tidak ada yang bisa membantumu lagi di sini ketika kauada di sini, kecuali doa dari orang tua,” pesan Yek Ali menyentuh kalbuku. “Kesana, di sana teman-temanmu yang baru. Kamu akan dibimbing sama meereka,” uja Yek Ali kemudian dengan suaranya yang serak. Aku tahu dirinya menahan air matanya. namun tidak bisa menhan suara yang beriak dengan kesedihan dan keharuan. “Iya Yek, Tapii---” “Kamu itu Shel, topa topi, tapi. Ndak ada kata tapi-tapian. lekas kesana dan kamu harus beradaptasi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN