Valencia Venhaag

1140 Kata
Suasana menjadi agak canggung setelah itu. orang-orang barat memiliki pandangan yang berbeda dengan pakaian yang aku kenakan. Aku tak menghakimi hal itu. ini adalah sebuah penilaian dari seseorang yang awam. Yang kulakukan saat itu terkejut. Sementara, Gus Azizi dengan raut wajahnya yang merah, kuketahui jika dirinya mulai tidak suka dengan perempuan yang ada di tengah-tengah kami itu. Raut berbeda, ditunjukkan oleh Yek Ali yang bahkan dengan wajah polosnya dirinya menatap wanita itu sambil tersenyum. Bibirnya bergerak sebentar, seperti mengisyaratkan sesuatu padaku. “Jangan dihakimi dulu,” desisnya dengan suaranya yang mengalun. “Can I order something for you?” tanya Yek Ali yang seperti ingin menjauh pergi. “Akum au ke toilet dulu,” dan disela oleh Gus Azizi yang seperti hampir bersamaan. Bule cantik yang ada di sampingku hanya mengangguk. Dia mengerti dengan salah satu kata yang diucapkan oleh Gus Azizi. “Toilet? And you want to ordering something for me? Its oke. But, I have make sure I’m safe with her. Can you give a id card?” tanya bule itu kemudian. Yek Ali dengan senyumnya yang tertahan itu, langsung mengeluarkan dompet. Membawa beberapa uang dari dalam. Dan menyerahkan dompet itu kepada bule tersebut. “Best choice,” kata bule itu. kedua laki-laki itu pergi setelah mendapati hal yang begitu tidak rasional di depannya. Rintik hujan semakin deras turun. Aroma wangi tanah yang bersentuhan dengan air dari langit begitu membangkitkan rasa. Aku suka dengan aroma itu. ditambah sebuah wangi cappuccino latte yang semerbak memenuhi isi café dan resto ini. aku bisa merasakan semua hal dengan baik. Jika di rumahku dulu ada café seperti ini, aku akan kesana saat hujan seperti ini. agar aku bisa merasakan gelora emosi yang ada. mengungkapkannya meski dalam hening dan sepi. “What ‘s your name?” tanya bule itu. Suaranya menggantung begitu saja. Di antara suara rintik hujan yang berbenturan dengan benda-benda. “Assyafa … kataku kemudian. And you?” tanyaku. “Do you know about the bombing incident at a café in Bali a few years ago?” tanyanya menjurus. Aku tak bisa mengelak tentang prasangkanya terhadap pakaian yang aku kenakan. Dengan sebuah peristiwa besar dulu yang ada di Bali. “Ya, I know.” Jawabku singkat. Sangat singkat. “What your opinion?” “Pengeboman oleh oknum yang tidak bisa bertanggung jawab. Yang tidak bisa memiliki rasa kemanusiaan yang begitu besar. yang tidak bisa menerima perbedaan dan identitas kami sebagai warga Indonesia. Kami memiliki banyak perbedaan namun kami bisa Bersatu. Apa ada yang kurang?” Tempat duduk wanita itu dibenarkan. Kedua tangan wanita itu bertaut satu dengan yang lain, lalu dengan punggungnya yang tegap dirinya mencoba untuk mendengarkan diriku dengan lebih baik. “Maksudmu?” tanyanya dengan Bahasa Inggris. “Semua orang di negara ini memiliki banyak perbedaan. Namun, apakah kau sejak berada di negara ini kau merasa tidak nyaman? Kau minoritas bukan?” aku mencoba untuk memberikan beberapa pertanyaan yang semoga bisa dirinya jawab dengan baik. “Ya, aku minoritas di sini.” “Apakah kau pernah mendapatkan perilaku buruk?” “Bukan. Aku hanya keberatan dengan apa yang kau pakai. Aku tahu, negara ini mayoritas adalah muslim. Namun, mereka tak sama sepertimu yang memakai pakaian yang sangat tertutup. Menurutku itu terlalu berlebihan,” ujarnya. Aku tersenyum kemudian. “Kau melihat pakaianku karena orang lain pernah memakainya saat peritiwa pengeboman terjadi?” “Ya, setidaknya itu adalah ciri-ciri mereka.” Jawabnya kemudian. Aku lalu menarik napasku panjang, dan membuangnya dengan perlahan. Menatap matanya dengan penuh kedalaman. Ini bukan hanya tentang sosok dua wanita yang berbeda pandangan. Namun ini lebih kepada kami adalah saudara, tak seharusnya ada buruk sangka. “Fashion. Kau tau dunia fashion bukan? Kau dengan pakaianmu yang minim, orang kami yang memakai pakaian kebaya, atau orang india yang memiliki pakaian adat. Itu adalah sebuah pilihan. Apakah yang bertindak kejahatan hanya orang-orang yang memakai pakaian yang seperti kami? tidak. Ada banyak wanita di luar sana yang membunuh suaminya, atau bahkan yang membunuh anaknya. Apakah mereka memakai pakaian yang sama dengan kami? tidak. Yang serba salah dari manusia adalah berprasangka. Kau lihat diriku, ya diriku, jangan apa yang melekat dari orang lain dan kau pandang diriku dengan hal yang sama.” Kataku kemudian. Bule itu sempat berpikir. “It’s logical, but—” Suaranya terpotong. “Hot Chocolate ready. One for you, one for my cousin, and one for me,” ujar Yek Ali dengan suaranya yang riang menyambut di antara kami dengan membawa tiga coklat panas. Kami saling senyum kemudian. Dan menggeser minuman kami. selanjutnya, seseorang datang yang tak lain adalah karyawan dari café ini. memberikan makanan. Sekotak pizza dengan garpu dan peralatan makan yang lain. “Yek … “ aku melotot melihat kea rah laki-laki yang saat ini tersenyum. “Memuliakan tamu,” desisnya singkat. Pizza adalah makanan special untuk kami. bahkan bisa dihitung jari aku bisa memakannya. Bukan maksudku untuk melarang memakan makanan itu karena hokum syariat dan apa pun. Aku tahu, semua makanan yang ada di café Indonesia meski yang makananya dari luar negeri itu bisa terjamin halal. Ini masalahnya adalah soal perut. Apakah bisa, seorang manusia jawa tulen memakan pizza sepotong dan bisa langsung kenyang? Perutku dan perut Yek Ali adalah perut kadut. Yang memang hanya bisa untuk memakan nasi dengan porsi yang lumayan banyak. Makan roti sama dengan makan camilan. Dan hal itu bukan merupakan sebuah makanan yang sakral. “Nasi gudeg nanti malam. Ganjal aja dulu,” Yek Ali bisa membaca pikiranku. Gus Azizi pun datang. Dirinya cukup tercengang juga dengan makanan yang ada di atas meja kami. kembali Yek Ali mengingatkan. Aku hanya mengedip untuk memberikan isyarat. Perbincangan di antara bule itu dan Yek Ali terbilang cukup renyah. Perbincangan dari negara A terbang ke negara B, hingga ke negara C bisa dengan baik dicerna dan saling mengerti satu dengan yang lain. Yang tidak paham di sini adalah dirku dan Gus Azizi. Kami hanya bisa saling pandang, tersenyum, dan tertawa jika ada scene yang lucu. Ketika bule itu selesai makan, dan dirinya akan meninggalkan uang. Seirama dengan rimis hujan yang telah perlahan berhenti, wanita itu akan beranjak. Namun sebuah uluran tangan mneyambut. “Aku akan ke hotelmu jika kau mau. Apa kau ingin menetap di Jogja lebih lama? Ambillah kartuku ini. aku adalah seorang youtuber. Kau bisa melihat wajahku di sana,” ujarnya kemudian. Memberikan sebuah kartu kertas yang terlaminasi dengan plastic. Seperti sudah disediakan banyak. Kubaca di sana. “Valencia Verhaag,” ujarku menyebut salah satu nama di sana. “Itu adalah namaku. Aku dari Belanda. Sampa bertemu kembali. Aku akan menunggu kau menghubungi diriku terlebih dahulu … “ katanya kemudian lalu berlari dengan melambaikan tangan. Aku tersenyum. Dan melambaikan tangannya kepadaku kembali. “Siapa Namanya? Ada i********:? f*******:?” itu adalah suara Yek Ali yang mulai ganjen. “Eits, enak saja. Zina mata samean Yek. Jangan gitu, ndak boleh!” kataku dengan menyahut kembali kartu itu dari tangan Yek Ali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN