Wanita Bule

1072 Kata
Hujan menyapa. Sore hari ketika kami perjalanan ke candi Borobudur. Yek Ali dengan sebutan Kang Kebonya itu, dia setia tidur di mobil. Entahlah, aku tidak tahu berapa jam dihabiskan olehnya untuk berhibernasi. Mungkin lebih lama dari beruang kutub. Sedangkan aku, Aku masih setia untuk membuka kelopak mataku. Tidak ada satu detik pun terniat untuk tidur. Dengan sebuah tasbih digital yang melingkar di salah satu ibu jariku. Hatiku berdzikir atas nama sang pencipta. “Mau masuk atau gimana nih?” tanya Gus Azizi ketika mobil miliknya ini parkir di salah satu tempat parkir. “Ya, terserah Gus, saya ikut mawon,” ujarku dari belakang. Setelahnya, terdengar suara sendawa dari Yek Ali yang kebetulan tidur di bagian kursi belakang. Dirinya mulet sebentar dan lalu duduk. Melihat ke sana dan kemari. Memastikan dirinya sendiri ada di mana. “Sudah sampai Yek. Ini ma uke dalam langsung atau cari café buat makan sore?” tanyaku kemudian. Sembari merapikan cadarku. “Ke café, Yek tahu kalau Syafa nggak bisa nahan lapar. Perut kadut kan,” timpalnya kemudian. Kalimat yang terakhir sungguh tidak benar. Aku hanya makan dengan teratur, tidak dengan ususku yang lebar. Yek Ali dari dulu pandai memfitnah. “Masih hujan tapi,” kataku kemudian. “Wedi tenan karo udan. Jarene udan kuwi rahmat. Kathik nggawe status. Wayah e kon metu, Bersatu karo udan, malah wedi. Dasar!” sarkasnya. Dia menyindir diriku yang baru lima menit yang lalu membuat sebuah story di w******p, ‘Hujan adalah rahmat ilahi’ dengan foto rintik air di samping jendela. (Takut sekali sama hujan. Katanya hujan itu rahmat. Sama buat status. Waktunya disuruh keluar, Bersatu sama hujan, malah takut. Dasar) “Yek sudah lihat statusnya Syafa? Kan nomor Yek Ali Syafa sembunyikan,” kataku. Benar, aku menyembunyikan statusku dari pria ini. entahlah, selalu dikomen ketika membuat status, membuat diriku risih dan bercampur malu. Semuanya adalah karena dia pandai mengejek dan pandai untuk membuat lawan perangnya terdiam. “Lailahaillallah, Muhammadur rasulullah. Dia lupa kalau Yek Khasyaf,” ujarnya dengan nada sombongnya. Khasyaf yang dimaksud oleh Yek Ali adalah khasyaf khayali atau terbukanya tabir hati hingga mampu mengetahui kondisii di luar alam indrawi seperti melihat jin, malaikat, menembus alam ruhani, mengetahui rahasia makluk dan lain-lain. Dan juga seperti yang dibilang olehnya tadi, Yek Ali mampu untuk melihat statusku meski dirinya sedang aku kecualikan dari statusku. Sedangkan, selain khasyaf khayali, ada juga khasyaf hissi yaitu terbuknya pandangan dengan penglihatan mata. Seperti orang biasa. “Ya, tapi kan itu tidak boleh digunakan buat berbuat salah Yek,” sanggahku dengan panik. Aku tak bisa membela diri sendiri kecuali menyerang personal. Kuketahui aku salah, tapi kalau sudah terjepit seperti ini, dan malu juga didengar sama Gus Azizi, mau gimana lagi kan. “Lho lho lho, siapa yang berbuat salah. Yek Ali selalu menempatkan kekhasyafan Yek Ali dengan benar. Kamu percaya kalau Yek Ali berangkat dari Mesir dua hari yang lalu? Ndak Syafa, Yek Ali mempersiapkan sudah dari jauh-jauh hari. Sudah sepuluh hari yang lalu, untuk mengurus keberangkatan semuanya. Semuanya itu, karena hati Yek Ali ada di kamu. Adik yang mau menikah sama orang yang tidak tepat. Sudah, sekalian, pasti Yek tahu kalau kamu itu bakalan sedih, galau, merana, ditinggal sama Kang Asyfi tercinta,” ujarnya dengan lagi dan lagi menggunakan nada mengejek, itu sungguh thengil. “Yek,” teriakku sambil memukul tubuhnya dengan bantal yang aku gunakan untuk menyokong leherku. “Bercanda, bercanda … yok keluar makan,” ujarnya kemudian. Lagsung melompat dari belakang hingga sampai di kursi sampingku. Dengan berbekal sebuah jaket yang dirinya punya, aku keluar dengna dilindungi oleh leki-laki itu dengan hati-hati. “Kadang kalau diperlakukan sama Yek Ali begini, Syafa juga bisa meleleh. Hahaha,” kataku di sela-sela kami berjalan menuju kafe yang dituju. “Kamu ndak tahu saja kalau Yek punya sepuluh cewek di Mesir.” “Dih, kalau berkhayal jangan tinggi-tinggi dong Yek, nanti jatuh pasti sakit. Orang-orang seperti Yek ini emangnya laku? Lhawong lalat buah saja ndak akan mau dekat sama Yek Ali, hahaha. Lagian nikah paling banyak kan empat. Memangnya kuat, kalau sepuluh, hahaha. Angka perceraian di Indonesia meski hanya punya satu istri saja sudah banyak. Apalagi sepuluh kan. Dipikir dulu Yek, kalau mempermainkan wanita.” Kami akhirnya sampai di tempat duduk. Karena kami berdua ngobrol terus selama berjalan, Gus Azizi telah sampai terlebih dahulu di tempat yang sudah dirinya duduki. Di sana ada banyak wisatawan yang datang. Mereka sama seperti kami. berteduh untuk menghindari air hujan. “Angka perceraian di Indonesia itu tinggi, bukan karena cowoknya nikah hanya satu perempuan terus ndak kuat terus cerai. Ndak itu. Mereka itu bodoh. Bodohnya begini, sebelum nikah, apa pernah mereka memikirkan soal ekonomi. Lhawong buat makan satu bulan setelah menikah mereka masih minta ke orang tua. Selain ekonomi, yang dipikirkan juga harus tanggung jawabnya. Ngasih apa ke istrinya. Apakah bisa bagi waktu, apakah bisa saling percaya satu sama lain. Apakah istrinya bisa dinasehati. Semuanya itu tahu tanggung jawab. Nikah ya nikah, ekonomi tetap diperhitungkan sebelum ijab.” Aku tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Yek Ali. Bagaimana pun apa yang dikatakannya benar. Bahkan benar sekali. Kami—orang yang tahu agama, biasanya hanya mengerti tentang berkah saja. Tentang keutamaan menikah dan segala rizki yang akan keluar nanti bersamaan dengan jalan pernikahan. Namun, tetap saja. Masalah duniawi semuanya ada ilmunya sendiri. Iya, ilmu dunia dan akhirat di bagian sisi yang lain tidak bisa untuk dikaitkan satu dengan yang lain. “Yek, Yek, ingat umur. Nikah dulu baru kasih wejangan,” kali ini yang berkata bukan diriku. Melainkan Gus Azizi. “Hehehe, nanti secepatnya. Ini pulang juga mau ngasih tahu keluarga,” jawab Yek Ali dengan suaranya yang membela dirinya sendiri kemudian. Kami bertiga tertawa selanjutnya. Keadaan berubah ketika ada seorang bule cantik yang datang di sela-sela kami. “Excuse me, can I sitting in here?” tanyanya dengan Bahasa Inggris. Wanita itu hanya menggunakan pakaian yang minim. Dengan celana yang hanya sampai ke pahanya, dan kaos yang sangat ketat. Pemandangan terkejut, jelas aku lihat dari Gus Azizi yang langsung mengedarkan pandangannya. Berbeda dengan Yek Ali yang langsung berdiri. Menyilakan wanita itu untuk duduk di dekatku. “Yeah, you can. Sit with my cousin,” titahnya. Bule itu tersenyum sekilas, dan langsung duduk di sampingku. Aku memberikan senyumanku lewat balik cadarku. “You have a scraft, like a terrorist,” Aku tidak bisa memahami Bahasa Inggris dengan baik. Namun, cukup kata terakhir, aku mengetahuinya. Tatapan terkejut diberikan oleh kedua laki-laki yang ada di depanku juga. seolah mereka juga tidak bisa mempercayai soal ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN