“Gus Rahmat,” kalimat itu mengalun begitu saja. Seketika aku menunduk. Aku tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutanku. Beliau adalah salah satu putra terbaik di Jawa. Kedatangannya ke tanah Mesir ini pernah aku ketahui juga. Namun, telah lama. Sekitar lima tahun yang lalu. Putra Kyai Anwar. Anak yang diangkat dan disekolahkan hingga ke Mesir. Aku mengetahuinya. “Sama-sama Bojonegoro ya,” ujar Gus Rahmat. “Shella kenapa Shel?” itu adalah pertanyaan Yek Ali yang sepertinya ingin mempermalukan diriku. “Ini temen kamu dulu pas di majlisan kan. Jangan sungkan-sungkan. Dulu Yek tau kalian itu sering jajan bareng. Sering mainan bareng juga. duduk Gus monggo,” Yek Ali mempersilakan lelaki itu untuk duduk. Aku melinting ujung hijabku. Berharap jika waktu bisa cepat berganti. Bisa cepat berlal

