Bab 2 : Awal dari Semua

1677 Kata
BAB 2 Suara pecahan piring menyadarkanku dari tidur. Setelah semalaman tersiksa dengan mimpi buruk, pagi ini aku terbangun dengan suara yang paling kubenci di sekitarku, suara berisik. Bergegas sambil masih terhuyung, aku menuruni ranjang dan berteriak kepada sumber masalah ini semua. “Max, kalau kau masih memecahkan semua barangku, aku tak segan mengusirmu kembali ke Australia!” Terlihat pecahan piring masih di sekitar kaki Max yang ternyata terpaku menatap satu sosok. Bagaimana bisa aku lupa kalau sekarang ada anak itu di rumah. Senia, anak dari Nadia, anakku juga. Anak itu berdiri dengan rambut basah – selesai mandinya – dan masih memakai piyama tidur. Wajahnya yang tanpa riasan membuatnya jauh terlihat lebih muda, bahkan terlihat masih sangat ‘anak-anak’. Sial! Apa-apaan semburat merah di wajah Max itu? Selama bocah ini tinggal bersama denganku, dia tidak pernah sekalipun menunjukkan semburat merah di wajahnya pada siapapun. Bahkan wanita terseksi yang pernah merayunya. Walaupun itu menjadi keuntunganku karena menggantikan Max untuk memuaskan hasrat wanita itu. “Pak, kenapa ada anak perempuan ini di sini?”  Kami datang ketika malam, setelah segala perdebatan itu, ketika Max sudah tidur sehingga aku lupa untuk memberitahunya. Senia tersenyum memberi salam pada Max kemudian mengulurkan tangannya, meminta bersalaman. Aku melihat Max menjengit terkejut seakan menghindar dari Senia dan itu membuat wajah Senia sedikit keheranan. Dasar bocah bodoh. “Max, dia Senia,” aku mengenalkan Senia dan wajah Max berubah menjadi sangat terkejut. Sementara Senia melihat kesal ke arahku. Entah apa yang dia harapkan. “Anaknya,” lanjut Senia sambil meraih tangan Max dan memaksa berjabat tangan. Kemudian kembali melirik kesal ke arahku yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran. “Anak dari Hendrik Falevi.” “Jadi dia betul-betul anak anda, Pak? Artis itu? Tunggu jangan mendekat!” Max berteriak kepada Senia, “Maaf, tapi di sini banyak pecahan kaca. Biar kubersihkan dulu.” “Cepat bersihkan dan siapkan aku sarapan!” teriakku pada Max. Aku mulai memasak air dan membuat kopi untukku sendiri. “Biar aku yang membuat sarapan,” tawar Senia. “Kalian mau makan apa?” “Tidak, kamu duduk saja. Sarapan itu bagianku!” sanggah Max, sambil terus membersihkan pecahan kaca di lantai. “Senia, tinggalkan dapur dan segera kemari. Ada yang mau kubicarakan,” panggilku. Anak itu berjalan gontai ke arahku dan duduk berhadapan denganku di meja makan. “Ada apa, Pa?” tanyanya manis. Setiap dia mengucapkan kata ‘Papa’ hatiku terasa geli. Itu menyebalkan karena aku tidak tahu bagaimana cara menggaruknya. Membuat rasa geli itu tetap ada di sana. “Bisa berhenti manggil aku dengan sebutan Papa? Itu...,” aku langsung berhenti saat melihat mata coklat di hadapanku membesar, melotot lebih tepatnya, ke arahku. Jelas itu sebuah keberatan dan entah bagaimana aku tidak bisa melawannya. Membuatku segera mengalihkan pembicaraan soal panggilan kepadaku. “Apa ibumu yang menyuruhmu untuk menemuiku?” Dia terdiam sejenak, menunduk menatap kedua lututnya. “Mama sudah meninggal semenjak aku berumur 10 tahun,” jawabnya sedih. “APA?” jawabku dan Max bersamaan. Aku menoleh ke arah Max yang sudah ada di sebelahku membawakan roti untuk sarapan. Mau apa dia ikut-ikut dalam pembicaraan ini? Salah, mau apa dia menguping pembicaraan ini? “Mama meninggal karena sakit dan selama ini aku diasuh Tante Ira, yang saat ini juga mendampingiku sebagai manajerku,” jawabnya lagi. Nadia meninggal? “Kenapa? Apa yang membuat Nadia meninggal?” tanyaku cemas. “Kenapa Papa mau tahu?” sebuah senyum tersungging di wajahnya. Sialan! Ini bukan karena aku merasa bersalah atau karena aku memikirkan Nadia. Aku hanya penasaran! “Lalu bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ada di sini dan aku…,” aku menelan ludah getir sebelum melanjutkan perkataanku kembali, “…aku Papamu?” Sekali lagi Senia terdiam mendengar pertanyaanku. Dia menggigit kuku ibu jarinya seenak kemudian menatapku kembali. “Tante Ira yang kasih tahu!” dia sedikit gugup menjawab pertanyaanku “Lalu darimana…” belum sempat aku selesai bicara, Senia langsung mengalihkan pandangannya ke Max. “Max, namamu Max kan? Aku Senia Pradipta, kenalkan!” tiba-tiba dia memotong ucapanku dan menjulukan tangannya ke arah Max. Bukannya mereka tadi sudah berkenalan? Max terlihat malu-malu dan menerima jabatan tangan Senia sembari mengucapkan namanya, “Max Feas.” “Kamu dari…?” “Australia. Di sini aku belajar mengelola cafe dari Pak Hendrik.” jawab Max senang. Dia terlihat bersemangat menghadapi Senia “Kamu, memang kamu tidak sekolah? Kamu masih lima belas tahun kan?” tanyaku mulai menyelidik lagi. “Aku menunggu pengumuman kelulusan, Pa,” jawabnya. “SMP?” “SMA, Pa,” jawabnya sambil mulai mengambil roti untuk sarapan. Sementara itu Max mulai mengisi gelas Senia dengan air. “Akselerasi…,” gumam Max dan sebuah anggukan dari Senia menyetujuinya. Aku berdehem pelan berusaha menghentikan kegiatan saling memandang di antara mereka. Perasaanku memberi alarm bahwa Max memiliki perasaan pada gadis kecil ini, dan itu tidak boleh. Semua kekacauan ini akan berhenti dua bulan ke depan dan tidak boleh lagi ada hubungan setelah itu. “Pa, aku akan membantu Papa di Cafe. Aku akan ikut ke semua kegiatan Papa,” ujarnya tiba-tiba. “Apa? Tidak! Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” sanggahku. “Aku mau terus besama Papa selama dua bulan ini. Hanya dua bulan, Pa!” “Lalu bagaimana kegiatan ‘artis’mu? Bagaimana juga dengan gosip-gosip yang mungkin muncul kalau kamu ada di dekatku!” “Selama aku nggak pakai make up, kita aman kok Pa!” rengeknya. “Iya, kamu juga lebih cantik tanpa make up!” sergah Max. Senia terlihat tersipu malu mendengar perkataan Max. Sialan anak ini, dari semua perempuan kenapa dia malah memilih Senia. Aku menyentak kepala Max dengan telunjukku sembari melotot ke arahnya, dan itu membuat Max bersungut-sungut sebal.  Aku meminum kembali kopi buatanku dan menatap wajah Senia. Pengalaman bersama berbagai wanita selama beberapa tahun membuatku merasakan sesuatu dari anak ini. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. ****   “Hai Tampan, masih ingat aku?” Suara manja itu menyadarkanku dari lamunan. Bibir merah, kulit putih dan d**a yang besar sedikit menyembul di dalam kaos berwarna putih ketat yang tertutup cardigan tersaji di depanku. d**a sebesar itu, cukup melihatnya aku sudah bisa mengetahui siapa pemiliknya. “Rowena, bagaimana kabarmu sayang?” aku memeluk dan mulai mengecup pipinya yang kemerahan. Sial, aku benci bau make up, itu selalu membuatku ingin bersin. Setelah beberapa hari didera pkiran yang sempat membuatku stres, paling tidak malam ini aku bisa melepaskan semuanya. Rowena, si seksi yang manja ini akan siap menjadi pelepas rasa stres-ku. Aku sudah merasakan sesuatu di s**********n menegang membayangkan geliat Rowena di ranjang. Menegang dan bergetar. Sial, itu ponselku yang bergetar! “Sayang, tunggu dulu aku di meja. Setelah ini aku akan menemuimu,” pintaku sembari menerima panggilan dari seseorang di bagian pengeringan kopi. Sembari berbicara aku melihat kaki Rowena yang indah dan jenjang karena hanya memakai rok mini. Dia duduk dan mulai menggodaku dengan pose seksinya di kursi. Sekali lagi si kecil di selangkanganku mulai membesar. Sabar nak, kita akan bersenang-senang nanti malam. Tunggu dulu. Mau apa Senia dengan nampan berisi jus jeruk itu? Perasaanku semakin tidak enak, apalagi setelah Senia semakin mendekat ke arah Rowena. Sial, aku bisa melihat seringai di wajahnya itu. Perasaanku mengatakan itu sangat buruk. Sialan! Dada Rowena yang begitu montok sekarang sudah basah dengan jus jeruk. Kaosnya yang berwarna putih sekarang berwarna kuning dan terlihat tetesan jeruk dari ujung kaosnya. Kulit wajah Rowena yang putih berubah merah padam menahan marah. Dia terlihat siap menerkam Senia dengan kukunya yang berwarna merah darah. “Maaf...maaf saya benar-benar tidak sengaja!” teriak Senia panik. “Kamu...!” Rowena menggeram kesal. Dia terlihat sangat marah. “Astaga, d**a anda basah, maafkan saya!” ujar Senia masih terlihat panik. Dia mengambil tisu dan berusaha membersihkan d**a Rowena. “Ini keras, anda memakai silikon? Astaga maafkan saya!” “Apa katamu? Lepaskan!” teriak Rowena berusaha menyingkirkan tangan Senia. Aku berlari mendekati mereka berusaha menenangkan Rowena yang terus terlihat mengamuk dan hampir memukul Senia. Rowena terlihat sangat malu dan hampir mengamuk sedangkan Senia hampir menangis. Ketika Rowena hendak mendekatiku, Senia tiba-tiba berlari ke arahku dan memelukku. “Kau kurang ajar! Lepaskan dia! Hendrik, anak itu…” “Papa, maaf! Senia bener-bener nggak sengaja.” Bagus! Rowena melotot tak percaya mendengar ucapan Senia yang baru saja. Aku cuma bisa meringis melihat Rowena yang terlihat semakin marah. Bisa kurasakan si kecil yang tadinya membesar dan menegang mulai mengendur. Bayangan tentang betapa panasnya ranjangku mulai memudar dan semakin menghilang. “Anakmu?” suara Rowena terdengar bergetar dan seakan tak percaya. Aku kembali hanya bisa meringis, tak mampu bicara. “oke, aku nggak peduli. Tapi anak ini sudah kurang ajar sama aku. Hajar dia, Hendrik!” “Astaga, Papa mau hajar Senia buat cewek silikon ini?” kepalaku langsung terasa berat. Tidak bisakah Senia diam dan membiarkanku mengatasi semuanya? Bagaimana bisa dia malah mengatakan hal yang semakin membakar kemarahan Rowena. “Sayang, dia cuma anak-anak. Stay calm, ok! Dengan cepat Rowena mengambil gelas yang masih terisi separuh jus yang tadi ditumpahkan Senia dan menyiramkannya kepadaku. Seluruh wajahku basah oleh jus, sementara Senia sudah terlebih dahulu menghindar sebelum Rowena menyiramkan jus itu. “Dasar b******k!” ujar Rowena sambil pergi meninggalkanku. Bahkan punggung Rowena masih terlihat, tapi Senia seakan tidak peduli dan sibuk mengelap meja yang berisi ceceran jus. Mimik ketakutan dan panik yang tadi mampir di wajahnya sudah tidak terdeteksi sepenuhnya. Bagaimana bisa aku lupa kalau anakku ini adalah seorang aktris. Berakting ketakutan itu adalah hal yang sangat mudah untuknya. “Papa nggak ganti baju? Nanti masuk angin lho,” ujar Senia tanpa menyiratkan rasa bersalah sama sekali. aku mendengus keras dan langsung berbalik berjalan cepat kembali ke kantor. Untung saja Cafe masih belum terisi pelanggan sehingga kejadian memalukan itu tidak diketahui siapapun, kecuali Senia dan… “Kupecat kau nanti!” Aku menendang Max yang berjongkok di depan Bar sambil menahan tawa. Hampir terguling, Max terkejut melihatku yang sudah berada di belakangnya. Bocah tengik ini melihat semua kejadian itu dan cuma tertawa daripada menolongku. Aku bergegas menuju kantor dan mengambil baju ganti meninggalkan mereka berdua. Kampret! Malam ini ranjangku kembali terasa dingin. ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN