BAB 3
“Pa, Senia minta maaf soal tadi!”
Anak itu sudah berada di sebelahku sembari tertunduk sedih. Aku berusaha tidak memperhatikan dan melanjutkan membersihkan mesin grinder. Aku cuma berdehem menjawabnya.
“Biar Senia bantu, Pa!”
“Jangan!” teriakku melarang.
Senia terlihat sangat terkejut dan ketakutan mendengarku barusan. Sialan! Bukan maksudku untuk membuatnya ketakutan, hanya saja perasaanku sedikit tidak enak setelah kejadian Rowena tadi. Tak lama Max mendatangi Senia dan mengajaknya menyingkir dari hadapanku. Aku melihat mata Senia sedikit berkaca-kaca ketika Max menariknya pergi.
Sebersit perasaan bersalah muncul di hatiku. Apa-apaan ini? Kenapa perasaan itu muncul? Bukan aku yang salah saat ini, tapi anak itu. Dia sudah membuat penyalur gairahku untuk malam ini menghilang. Aku meninggalkan mesin grinder di hadapanku dan berjalan menuju ke arah dispenser. Aku bisa melihat Max dan Senia dari belakang dispenser. Senia terlihat membantu Max mengelap gelas-gelas yang sudah dicuci. Sekali lagi aku melihat wajah Max yang memerah ketika menatap wajah Senia.
“Jangan marah, memang seperti itu Pak Hendrik.” Aku terkejut mendengar namaku disebut Max. Sedikit bersembunyi, aku menguping pembicaraan mereka.
“Aku cuma mau mengenal Papa lebih dekat. Aku selama ini cuma bisa membayangkan, seperti apa rasanya punya Papa,” jawab Senia.
“Lalu seperti apa?”
“Aku selalu membayangkan bisa bercanda dengan Papa, pergi jalan-jalan, atau membahas bagaimana hariku,” Senia mengambil nafas sejenak dan terlihat lebih murung, ”Tapi entahlah, aku merasa hanya menjadi anak yang merepotkan baginya saja.”
Max menepuk punggungnya pelan.
“Dia cuma butuh waktu untuk lebih terbiasa dengan keberadaanmu. Bagaimanapun juga kehadiranmu terlalu mendadak. Seseorang kadang butuh waktu 9 bulan untuk menerima kehadiran anak di dalam hidupnya, kadang ada juga yang sepertimu, dihadapkan dalam waktu singkat menerima kehadiran anaknya. Semua hanya butuh waktu,” jelas Max.
Aku termenung mendengar semua perkataan Max. Bocah tengik itu kadangkala terdengar bijaksana dalam setiap perkataannya. Padahal usianya baru 20 tahun dan aku adalah seorang pria yang 15 tahun lebih tua dari dirinya. Tunggu dulu, mau apa bocah tengik itu? Aku melihat Max mendekatkan wajahnya ke arah Senia yang terlihat menunduk. Kampret, aku tau modus itu.
“Jangan macam-macam!” ujarku sembari menarik kening Max menjauhi Senia.
Senia menahan tawanya melihat wajah Max yang terlihat bersungut-sungut. Aku menatap Senia kemudian menghela nafas pelan.
“Ayo kita makan malam di luar,” ujarku, “Tidak denganmu Max!” ketika aku melihat wajah Max berseri-seri.
Senia terlihat sangat senang dia mengangguk mantap dan mulai mengikutiku. Aku mengambil kunci mobil dan segera berjalan ke arah parkiran. Sekali lagi aku berharap ini adalah keputusan yang tepat.
Selama perjalanan, dia bercerita banyak tentang pekerjaannya selama menjadi aktris. Mulai dari proses pengambilan gambar, skandal-skandal aktris di sekitarnya, sampai bagaimana dia bisa menjadi seorang aktris dengan bantuan manajemen dari tantenya, Ira, yang juga adik dari Nadia. Cerita itu terus berlanjut sampai kami tiba di tempat makan dan menunggu pesanan.
“Jadi, kenapa artis?” tanyaku pada Senia yang terlihat sibuk memakan hidangan makan malamnya. Dia tersenyum dan terlihat berpikir.
“Karena di dalam akting aku bisa menemui sosok seseorang yang kuinginkan,” jawabnya.
“Oh ya? Selama ini kamu selalu menemui sosok itu?”
Dia mengangguk mantap.
“Sayangnya begitu film itu berakhir, kamera itu turun, aku kembali kehilangan sosok itu,” jawabnya sedih.
Aku meminum air milikku dan berusaha mencerna semua perkataannya.
“Baiklah, besok pagi aku akan ke kantor sebentar. Kamu mau ikut?” tanyaku menawarkan.
“Kantor Cafe?”
“Bukan, kantor pengolahan kopi milikku.”
Dia terlihat berseri-seri, dan kembali mengangguk.
****
Sudah hampir sebulan ini, aku dan Senia semakin dekat satu sama lain. Dan dalam kurun waktu yang sama, wanita-wanita yang selalu menemaniku menghilang satu persatu. Selalu menghilang karena alasan yang sama, tidak terima akan adanya Senia sebagai anakku. Kalau semisal mereka masih bisa menerima anak itu, pada akhirnya mereka tidak tahan dengan kelakuannya. Sialnya para wanita itu selalu bertemu dengan Senia tanpa bisa kutanggulangi terlebih dahulu. Seakan-akan Senia selalu hadir di mana saja saat mereka muncul, meskipun kami bersembunyi. Aku mengambil nafas dalam dan menghelanya keras-keras. Hanya tinggal beberapa minggu lagi, aku bisa kembali mendapatkan semua kebebasanku. Sampai saat itu tiba, aku akan menjadi sosok ayah bagi Senia.
“Leni!” sapa Senia ketika kami memasuki kantor pengolahan kopi milikku.
Wanita yang bernama Leni tersenyum ketika melihat Senia datang dan menyapanya. Leni, menjadi sekretaris pribadiku selama beberapa tahun ini. Dia yang mengurus semua pekerjaanku termasuk mengatur tes DNA bagiku dan Senia. Leni menjadi satu-satunya wanita yang dekat denganku dan tidak pernah kutiduri sama sekali.
“Jadi, hari ini si cantik Senia ikut bersama Papa lagi?” sindir Leni sambil melihat ke arahku. Aku hanya tersenyum sambil memeriksa berkas-berkas yang diberikan Leni kepadaku.
“Dua bulan penuh!” jawab Senia bersemangat.
“Omong-omong kemarin aku melihat namamu disebut di salah satu infotainmen. Sepertinya wartawan mulai mencarimu,” ujar Leni.
Aku sedikit terkejut mendengar hal itu, sementara Senia terlihat biasa saja.
“Mereka tidak akan menemukanku di sini,” jawabnya yakin. “Pa, aku mau ke kamar mandi sebentar!”
Aku mengangguk dan melihatnya berlari kecil menuju kamar mandi. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dari percakapanku dengan Senia beberapa mnggu yang lalu.
“Len, kamu pernah nonton film yang diperankan Senia?” tanyaku pada Leni yang masih menunggu tanda tanganku di atas berkas yang dia berikan kepadaku.
“Cuma film layar lebarnya saja. Setahuku dia main di tiga film layar lebar.”
“Apa yang dia perankan?”
Leni terdiam dan berusaha mengingat semua film itu.
“Setahuku dia memainkan berbagai peran, tapi yang jelas beberapa peran itu memiliki satu kesamaan.”
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Sebagai seorang anak.”
Belum sempat pembicaraan kami berlangsung, Senia tiba-tiba memasuki kantorku sambil berteriak kegirangan. Tangannya yang tertangkup dibuka di hadapanku dan menunjukkan seekor belalang bersembunyi di sana.
“Lucu kan, Pa!” ujarnya kegirangan.
Leni terkekeh, “Gitu aja udah seneng ya, Sen?”
“Banget. Aku suka lihat perkebunan Papa. Luas banget. Bisa mainan sambil lari-larian kalau di sini,” jawabnya riang.
“Emang biasanya nggak bisa mainan gitu?” tanya Leni lagi yang dibalas dengan gelengan dari Senia. Tiba-tiba dia berteriak terkejut karena belalang di tangannya meloncat kabur.
“Susah mau main kalau harus kerja. Nggak enak juga kalau misal harus main disela-sela kerjaan.”
Suasana sempat hening sesaat dan membuat perasaan tidak nyaman. “Memang kamu mau kemana kalau bisa liburan?”
Senia berpikir sesaat kemudian tersenyum penuh harap. “Aku mau naik Roller Coaster.”
“Besok kita berangkat!”
****
“Kamu senang?”
Senia masih berusaha mengatur nafasnya, tapi senyumnya masih terus terkembang. Sepertinya Roller Coster tadi membuat nafasnya sedikit tersengal-sengal karena terus berteriak. Hari ini kami memutuskan untuk bersenang-senang di Taman Bermain. Aku memutuskan menutup Cafe dan pergi bersama Senia juga Max. Seharusnya Max tidak ikut, tapi bocah itu terus menerus merengek dan membuat Senia akhirnya ikut merayuku untuk mengajaknya. Max masih setengah pingsan di sebelahku karena efek permainan tadi. Mulutnya terus menyumpahi apa yang baru saja dia alami bahkan sembari terpejam.
“Aku beli minum dulu,” pamitku meninggalkan Max dan Senia berdua.
Tiga gelas minuman dingin sudah terkumpul di dalam satu kantung plastik. Sesekali aku tersenyum mengingat kembali semua senyum Senia hari ini. Dia terlihat sangat senang dan tidak pernah melepaskan pegangan tanganku. Dan saat ini dia…
Sialan.
Sekali lagi aku melihat Max mengambil kesempatan ketika aku tidak ada. Saat ini dia sedang tertidur di pangkuan Senia. Sialan! Beraninya dia menyentuh anakku. Apapun keadaannya, dia tidak berhak melakukan itu.
“Berdiri sana!” aku menendang kaki Max yang sedang tertidur di paha Senia.
“Papa, dia pusing, kasihan!” bela Senia.
Itu membuatku semakin ingin berbuat kejam kepada Max. Aku hampir menendang kaki Max lagi kalau saja dan tidak segera bangun. Apanya yang sakit, apanya yang pusing? Bahkan wajahnya sudah tidak pucat lagi sama sekali. Bocah tengik, dia benar-benar pintar memanfaatkan kesempatan. Darimana dia belajar membuat semua kesempatan itu?
“Ayo pulang!” sentakku.
Selama perjalanan kami mengisi sebagian besar waktu dengan diam. Terkadang aku melihat Max yang sesekali melihat sosok Senia yang duduk di belakang melewati spion. Bocah tengik sialan, berani sekali dia melakukan itu di hadapanku. Benar-benar cari mati. Semua kekesalanku kulampiaskan saat kami sudah sampai di rumah. Ketika Senia memasuki rumah, aku menepuk keras punggung Max.
“Jangan pernah mencari kesempatan lagi!” ancamku sembari berbisik.
Senia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan menyandarkan kepalanya ke bahuku saat aku duduk di sebelahnya.
“Makasih buat hari ini, Pa!” ujarnya senang. Aku berdehem pelan.
“Cepat tidur sana!” perintahku.
Aku melihat Max tersenyum kepada Senia sebelum dia memasuki kamarnya.
“Jangan lupa kunci kamarmu supaya kucing asing tidak bisa masuk!” teriakku pada Senia. Max mendengus keras dan mengeong keras membalas sindiranku.
Aku sudah hampir tertidur saat bel pintu berbunyi. Siapa yang datang malam-malam begini? Aku sudah hampir tertidur dan saat ini harus kembali menerima tamu. Saat pintu rumaku terbuka, aku menemukan sosok seksi di depan sana. Seorang wanita yang memakai gaun ketat dengan rok mini dan potongan gaun yang memperlihatkan belahan dadanya yang besar. Aku menelan ludahku ketika melihat sosok itu. Setelah sekian lama tertidur, si kecil yang tinggal di antara selangkanganku kembali menggeliat ketika melihat sosok itu.
“Liana?”
“Hai Hendrik, aku merindukanmu. Kupikir daripada menelponmu, lebih baik aku langsung menemuimu. Keberatan?”
“Tidak,” jawabku singkat.
Dia terkekeh kemudian mendorongku memasuki rumah. Dengan beringas mencium mulutku dan melumatnya di dalam bibirnya sambil terus meringsek mendorongku memasuki kamarku. Jari-jarinya yang lentik mulai membuka kancing bajuku satu persatu. Ketika kami sudah berada di atas ranjang, kemejaku sudah terlepas dan Liana sudah bersiap membuka bajunya. Si kecil di antara selangkanganku sudah begitu membesar dan meminta keluar menemui Liana. Sesaat sebelum tanganku membelai d**a ranum Liana, pintu kamarku terbuka keras.
Liana terlihat begitu terkejut, dia terperanjat dan segera meloncat dari atas tubuhku. Senia terlihat begitu marah dan juga sedih secara bersamaan. Dia terlihat gemetar melihat Liana di dalam kamarku dan juga keadaan kami.