BAB 4
“Dia siapa, Hen?” tanya Liana bingung.
“Aku anaknya, p***k!” teriak Senia sedih.
Dia berlari meninggalkanku dan Liana yang sangat marah karena seseorang menyebutnya p***k.
“Kamu punya anak, Hen? Kamu punya anak dan masih mau tidur denganku?” teriak Liana marah.
“Bukan aku yang memaksamu masuk ke dalam kamarku!” jawabku kasar.
Liana menamparku keras dan pergi meninggalkanku sendiri. Suara pintu yang dibanting membuatku yakin kalau dia sudah pergi dari rumahku. Setelah sekian lama, sekian malam penuh dengan kesepian dan si kecil yang selalu tertidur, kesempatan yang datang ini kembali hilang. Ini semua sudah idak bisa di tolerir. Aku berjalan gusar ke kamar Senia dan menemukan anak itu terisak di ranjangnya.
“Apa maumu?!” teriakku marah.
Dia terkejut dan berbalik menatapku. Aku bisa melihat air mata di pelupuk matanya.
“Aku cuma mau Ayah yang sempurna!” balasnya.
“Aku berusaha menjadi seorang Ayah yang sempurna di matamu, berusaha mengisi 2 bulan yang kau inginkan dengan semua kebahagiaan. Apa kamu nggak bisa memberikanku ruang untuk bernafas sejenak?”
“Memang selama ini kamu tidak bisa bernafas? Lima belas tahun kamu meninggalkan aku sama Mama sendiri, tanpa ada kabar apapun! Selama lima belas tahun itu apa pernah Papa memikirkan kami?”
“Dengar, aku yang ditinggalkan, Nadia yang pergi meninggalkanku!”
“Papa tidak pernah berpikir untuk mencari kami sama sekali! Papa meninggalkan kami sendiri, membiarkan Mama sengsara merawatku sendiri! Papa kejam!”
“Memang aku kejam, aku cuma mau meniduri Mamamu saja dan kehadiranmu cuma sebuah kesalahan. Kau puas?”
Aku tak sengaja menyenggol tasnya yang berada di meja dan membuat isinya berhamburan keluar. Beberapa kertas terbang melayang terjatuh dari tasnya. Aku mengenal semua kertas itu. Senia berhambur ke arahku dan berusaha merebut semua kertas itu dariku tapi aku berhasil menghalanginya dan membaca semua tulisan di kertas itu.
“Ini sertifikat perkebunanku! Apa yang kau lakukan? Kapan kau mengambil ini semua?”
“Bukan aku, Pa. Aku juga baru tahu,” jawab Senia gugup.
“Kamu mengambilnya saat kita ke kantor kan? Saat aku dan Leni tidak ada di tempat, kamu mengambil semua ini kan?”
“Papa, aku enggak…”
“Lalu bagaimana semua sertifikat ini ada padamu? Apa sertifkat ini masuk sendiri ke dalam tasmu?”
Senia terdiam, dia mulai menangis.Max berlari menuju ke kamar Senia dan dia terkejut menemukanku membentak anak itu.
“Kamu memang mau menghancurkanku kan?”
“Apa?”
“Sekarang aku mengerti, pertama semua wanita, kemudian perkebunanku, selanjutnya apa? Apa ini semua balas dendammu atas semua perlakuanku terhadapmu dan Mamamu? Kamu mau menghancurkanku kan?”
“Pak, itu keterlaluan,” ujar Max perlahan.
“Diam kamu Max! Ini bukan urusanmu!” sentakku.
“Benar! Aku memang mau menghancurkanmu! Sekarang kamu puas? Setelah sekian lama kamu meninggalkanku dan Mama, ini wujud balas dendamku!
“b******k!”
Aku menggedor pintu kamar Senia keras dan meninggalkannya sendiri. Selama ini, itu semua cuma sandiwara untuk membalas dendam? Aku merasa menjadi kambing congek karena dengan mudahnya tertipu oleh semua perbuatan anak itu. aku membanting semua berkas sertifikat di atas meja kamarku kemudian merebahkan diriku keras ke atas ranjang.
“Senia, ini sudah malam! Kamu mau kemana?”
Aku mendengar teriakan Max yang terdengar panik. Sekarang apalagi? Dia mau pergi? Baguslah, dengan begitu semua kebebasanku kembali. Aku berusaha memejamkan mataku dan melupakan semua yang terjadi.
****
“Dia sudah pergi semalam,” ujar Max ketika aku membuka kamar Senia pagi ini.
Kamar itu terlihat masih sedikit berantakan dan semua pintu lemarinya terbuka lebar, tapi isinya kosong. Senia membawa pergi semua bajunya.
“Baguslah!” jawabku singkat.
Max berdiri marah menantangku.
“Pak, anda tidak khawatir? Sekedar mau tahu bagaimana dia pulang?”
“Itu buka urusanku lagi Max. Aku tidak pernah berurusan lagi dengan pengkhianat,” jawabku singkat sambil meninggalkannya.
Aku memacu mobilku dengan tergesa menuju kantor. Beberapa kali hampir menabrak mobil lain dan menyumpahi orang-orang yang menghalangi jalanku. Sesampainya di kantor aku langsung berteriak memanggil nama Leni. Menghardik semua orang yang menghalangi jalanku atau melakukan kesalahan. Berteriak akan semua kesalahan meskipun itu cuma kesalahan kecil.
Sial!
****
Sudah berapa hari?
Sepertinya sudah nyari seminggu.
Seharusnya aku senang karena sudah seminggu lepas dari Senia, anak Nadia. Walaupun belum mencapai waktu dua bulan, anak itu akhirnya pergi. Setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan kehidupanku kembali. Seharusnya mendapatkan kehidupanku kembali.
Rasa tidak enak apa ini?
Apa mungkin karena tidak ada wanita yang menemaniku? Mungkin sudah saatnya aku mencari wanita baru yang mulai mengisi hari-hariku. Atau mungkin menelpon beberapa kontak dari mereka yang belum terkena kutukan dari Senia. Mungkin itu bisa kulakukan nanti. Saat aku benar-benar sudah berhasrat.
Lalu kenapa hatiku masih terasa belum puas?
Apa mungkin karena pekerjaan?
Sepertinya bukan, karena selama seminggu juga aku tidak mengurus semuanya sama sekali. bahkan panggilan dari Leni juga kuabaikan. Paling tidak, :Leni cukup handal untuk mengerjakan semuanya sendiri.
Kenapa aku ini?
Sampai sosok wanita cantik yang cemberut muncul di depan pintu cafeku.
“Ira?” aku terkejut melihat sosok wanita yang baru saja mengenalkan dirinya yang hadir di depan pintu Cafe-ku.
Cafe ini baru saja kubuka dan dia sudah berdiri di depan pintuku. Tubuhnya yang kecil terlihat cukup anggun dengan kemeja dan celana kain yang dia gunakan. Rambutnya yang panjang diikat tinggi hampir di atas kepala dan bibirnya yang tipis terlihat merah merona. Wajahnya terlihat sangat marah dan alisnya yang tipis terlihat saling bertautan.
“Bisa kita bicara sebentar?”
Aku mempersilahkan dia masuk dan duduk dimanapun dia suka. Dia memilih duduk di dekat pintu masuk. Aku meminta Max membuatkan segelas kopi dan segera menemui Ira kembali. Sudah hampir seminggu aku tidak mendengar kabar Senia dan kali ini tiba-tiba muncul tante sekaligus manajernya di depan Cafe-ku.
“Sudah puas?”
Aku baru saja duduk dan dia sudah memberiku pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya. Max datang membawakan segelas kopi untuk Ira dan dia segera meninggalkan kami kembali.
“Puas maksudmu?”
“Anak itu hidup tanpa ada sosok ayah di sisinya. Selama bertahun-tahun dia hidup hanya memandang penuh harap setiap Ayah dari semua temannya. Ibunya meninggal 5 tahun lalu tanpa pernah mengatakan apapun tentang dirimu! Apa kamu bisa bayangkan betapa bahagianya dia ketika tahu kalau Ayahnya masih hidup?”
“Dia sudah berbohong kepadaku! Dia berniat merampokku, menghancurkan hidupku! Apa kau tahu dia membawa sertifikat perkebunanku?” sanggahku.
“Dia seorang artis terkenal, Bodoh!” teriak Ira. Aku terkejut mendengarnya. “Dia bisa mendapatkan sendiri uang sebanyak yang dia mau! Dia mampu! Bagaimana bisa kau tidak mempercayai anakmu sendiri? Anak yang memiliki darah yang sama denganmu!”
Aku tercengang mendengar semua perkataannya.
“Aku…”
“Seharusnya kau membusuk sendiri di hari tuamu. Seharusnya dia tidak perlu tahu siapa ayahnya. Seharusnya aku membakar buku harian milik Nadia!”
“Apa? Buku harian apa?”
“Kau pria b******k Hendrik! Nadia mengorbankan hidupnya demi dirimu. Mati sendiri dalam kesepiannya. Hidup dengan perjuangan keras dihina semua orang karena mengandung anakmu!”
“Mengorbankan apanya? Dia meninggalkanku, Ira! Aku yang ditinggalkan!” sanggahku lagi.
“Dia meninggalkanmu demi impianmu sebagai Barista! Dia mendukungmu dan lihat yang kau lakukan, kau meninggalkan dia! Kau sama sekali tak pernah mengejarnya atau mencarinya kembali. Sekarang kau melakukan hal yang sama kepada anaknya. Anakmu sendiri!”
Ira mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku jurnal yang terlihat sedikit kusam, buku harian Nadia. Buku itu dia letakkan di meja dan dia bersiap untuk pergi meninggalkanku.
“Aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan padamu. Sekarang semua terserah kepadamu.”
Ira meninggalkanku dan buku jurnal itu sendiri. Kopinya masih utuh dan asapnya terlihat mengepul.
“Max, jaga cafe ini,” perintaku pada Max yang akan membereskan meja di depanku.
Aku meraih buku harian milik Nadia dan membawanya masuk ke dalam kantorku. Kutarik kursi kerjaku dan mulai merebahkan tubuhku di atasnya. Membuka halaman demi halaman dari buku harian itu dan membacanya perlahan. Butuh waktu yang cukup lama untuk membaca semua halaman di buku itu. untung saja Max sudah cukup terlatih menjaga Cafe ini sendiri tanpa diriku.
Aku menghela nafas dalam, udara di sekitarku terasa berat dan mataku terasa perih. Buku harian itu hanya menceritakan semua kejadian Nadia semenjak dia mengetahui kehamilannya hingga Senia berusia tujuh bulan. Menceritakan semua alasannya meninggalkanku yang terasa begitu egois. Menceritakan kehidupannya yang berat ketika semua orang mencaci kehamilannya dan juga harapannya akan diriku. Harapannya agar aku menemuinya kembali, tapi itu tidak pernah terwujud. Menceritakan pula kebahagiaannya ketika dia memiliki Senia. Memeluk bayinya yang tak pernah tahu siapa ayahnya hingga saat dia menemuiku siang itu.
Senia mengharapkan semua pertemuan itu. Daripada ibunya yang hanya menunggu, dia memilih mendatangiku sendiri. Mencari tahu keberadaanku dari semua cerita ibunya. Dan yang terjadi aku menolak kehadirannya. Menolak sosoknya yang memintaku untuk kembali tempat dimana aku seharusnya berada. Tapi kenapa?
Kenapa Senia harus membawa semua sertifikat itu?
****
“Sudah lebih dari seminggu!”
Leni berteriak histeris saat melihatku muncul di kantor perkebunan. Telingaku berdenging dan itu menambah berat sakit di kepalaku. Seharian kemarin aku berdiam diri di rumah dan membaca buku harian milik Nadia. Tidak cukup sekali, tapi beberapa kali. Di dalamnya ada foto-foto Senia dari masih ketika dalam kandungan dalam bentuk USG, sampai saat dia bayi. Wajah yang begitu lucu dan pipi yang bulat itu berubah menjadi wajah cantik Senia saat ini. Satu hal yang tidak pernah berubah hanyalah warna mata Senia yang berwarna coklat tua. Begitu coklat seperti warna tanah. Yang akhirnya kusadari kalau itu mirip dengan warna mataku. Setelah itu, aku menangis, hatiku terasa sesak memikirkan waktu-waktuku dan Senia yang hilang.
Tapi kenapa dia melakukan semua hal itu kepadaku, Papanya sendiri?
Leni mulai panik saat melihatku yang lemas dan juga tidak mengindahkan teriakannya. Dia terkejut melihatku yang terduduk lemas di kursi kerjaku. Sedikit bergegas dia mendatangiku dan menempelkan tangannya ke dahiku.
“Kamu sakit?”