Bab 5 : Awal dari Semua

1634 Kata
BAB 5 Aku menggeleng lemah dan itu membuat kening Leni berkerut. Dia melihat seluruh tubuhku kemudian menemukan buku harian Nadia dan mengambilnya. Melihat halaman-halamannya sekilas dan kemudian menutupnya. “Aku bersalah kepada Nadia,” ujarku lirih. Leni hanya menatapku sayu. “Kau merindukan dia?” tanya Leni. “Aku merindukan Senia. Kau tahu, dia memang menyebalkan, tapi dia anakku. Aku tidak bisa membohongi semua kedekatan yang terjadi di antara kami. Tapi kenapa dia melakukan itu semua?” “Melakukan apa?” tanya Leni kebingungan. “Mengkhianatiku.” Leni tertegun, kemudian menyeret kursi terdekat untuk mendengarkan ceritaku. “Dia berusaha menghancurkanku, Len. Semua hanyalah untuk balas dendam karena aku meninggalkan ibunya. Mungkin aku memang berhak atas semua perlakuan itu. Tapi kupikir kami sudah sangat dekat dan dia...” Ini mungkin memalukan, tapi aku mulai menangis, meneteskan air mata di  hadapan Leni. Sementara Leni masih terdiam mendengarkan semua ceritaku. Tidak ada senyuman sedikitpun di wajahnya, sekadar menertawakan tangisanku. “Kau menyayangi Senia, tapi tidak percaya kepadanya?” tanya Leni lagi. Aku menunduk lemas. Pikiranku dipenuhi kekalutan, memilih hatiku yang menyayanginya atau logika berpikirku yang melihat Senia sebagai seorang pengkhianat. “Terima dia atau tinggalkan dia sepenuhnya, Hendrik. Cuma itu pilihanmu! Kamu nggak bisa bertingkah lebih egois lagi kepada anak itu,” ujar Leni. “Dia menyayangimu, Hen. Aku sangat yakin sama itu. Dia benar-benar sayang sama kamu.” Aku menatap Leni dalam-dalam. Wanita itu selalu ada di sisiku dan memberikanku semua jawaban atas permasalahanku. “Tapi dia mengakui ingin menghancurkan aku, Len.” Leni mengela napasnya dan memegang tanganku, “Anggaplah itu hanya caranya untuk mendapatkan perhatianmu. Setelah sekian lama kalian tidak bersama apa kamu nggak bisa memberikan dia kata maaf, Hen? Lagipula, setelah hari-hari yang kalian lalui bersama, apa kamu nggak yakin akan perasaan Senia ke kamu? Dia bener-bener sayang sama kamu, Hen. Aku tahu itu.” “Emang kamu peramal?” “Bukan, tapi aku nggak buta!” jawab Leni sinis. “Aku yakin semuanya cuman salah paham, Hen. Temui dia, dia berhak mendapatkan kata maaf darimu.” “Meskipun semua yang sudah dia lakukan ke aku?” tanyaku meragu. “Kamu ninggalin dia dari anak itu dalam kandungan sampai sekitar sebulan yang lalu. Bahkan masih berusaha menolak dia. Bersyukur dia nggak ngeracunin minumanmu, Hen!” Aku tersenyum, merasa lega dengan semua kata-kata Leni. Ada embusan angin semangat berdesir di hati. Membuat jantungku berdebar lebih cepat karena dorongan semangat untuk segera bertemu Senia. Dengan segera kuambil kontak mobil di meja. “Aku akan mempercayainya, Len. Dia anakku, dan aku harus selalu mendukungnya.” “Emangnya kenapa kamu pikir Senia mengkhianatimu, Hen?” tanya Leni penasaran.  Kubanting sertifikat perkebunan di hadapan Leni. “Kutemukan ini di tasnya. Dia berusaha mencuri semua surat-surat ini. Tapi nggak akan peduli. Aku akan memintanya kembali, Len. Dia anakku, dan setiap orang tua selalu memaafkan anaknya kan?” Leni terlihat kebingungan dan pucat saat melihat tumpukan kertas di hadapannya. “Tapi, Hen...,” “Sudah kubilang, aku nggak akan peduli, Len. Aku siap kehilangan semuanya untuk Senia. Aku...”  “Hen, ini aku yang masukin ke dalam tas Senia. Aku pikir lebih baik kamu simpan ini di rumah. Apa aku belum bilang?” ujar Leni kebingungan. Daripada mengamuk, aku jauh lebih merasa lega. Semua pikiran buruk tentang Senia sama sekali tidak terjadi. Anak itu benar-benar suci dan tidak bersalah sama sekali. Semuanya hanya kesalahpahaman. “Leni...” “Sorry, Hendrik. Aku beneran lupa buat ngasih tahu kamu sepertinya. Aku...” “Thanks Len!” aku mengecup keningnya dan segera mengambil jasku yang tergantung di kursi. “Kau mau kemana?” tanya Leni bingung. “Tentu saja menemi anakku!” ujarku meninggalkan Leni yang wajahnya terlihat bersemu merah. ****   Aku mendesah dan berpikir keras cara berbicara dengan Senia. Saat ini aku sudah berada tepat di depan kantor agensi milik Ira, tapi masih belum memasukinya sama sekali. Ini sangat memusingkan bagi. Seorang perayu ulung, tapi kebingungan memikirkan cara untuk bicara dengan anaknya sendiri. Tepat di saat aku akan turun dari mobil, terlihat sosok Senia yang berjalan dengan Ira. Wajahnya terlihat sayu dan keadaannya tampak kacau. “Senia!” teriakku memanggil anak itu. Senia terkejut melihat sosokku yang hadir di hadapannya, begitu juga Ira. Ira tampak akan segera melancarkan semua amarahnya kepadaku sementara Senia berlari segera memasuki kantor agensinya. Mengindahkan larangan Ira, aku berusaha mengejarnya dan memanggil namanya, tapi dia terus berlari. Ira memegang erat lenganku, masih berusaha menahan, bahkan terus menyumpah. “Berhenti untuk nemuin dia. Kamu sudah nggak berhak sama sekali untuk ada di dekat Senia, Hen!” “Aku butuh kesempatan kedua, Ra!” aku berusaha meyakinkan Ira, tapi wanita itu masih memegang lenganku erat. “Kamu sudah melewatkan semua kesempatan. Sudah cukup kamu bikin anak itu semakin sakit. Lebih baik dia nggak punya Papa daripada punya orang tua seperti kamu!” Aku melirik tajam ke arah Ira dan bisa kurasakan genggamannya di lenganku merenggang. Sepertinya Ira terkejut dan sedikit ketakutan. “Lepaskan, biarkan aku bicara dengan anakku, meskipun ini kesempatan terakhirku.” “Nggak akan!” jawabnya kukuh, kali ini mempererat genggamannya lagi. “Lepaskan atau aku memaksa.” “Kamu mau apa? Memukul aku? Lakuin aja. Kita lihat, apa yang bisa kulakukan untuk menghancurkan hidupmu setelahnya, Hendrik. Bahkan mungkin lebih kejam daripada yang kamu lakukan sama Nadia dan Senia,” ejek Ira sinis. Tapi jelas aku tidak akan melakukan hal itu. Tabu bagi seorang Hendrik Falevi untuk memukul wanita. Tangan ini hanya untuk mengelus dan menyayangi wanita, bukan memukulnya. “Lepaskan, ini kesempatan terakhirmu, Ra!” Ira tersenyum sinis dan berusaha mendorongku menjauh. Jelas itu adalah sebuah kesalahan. Aku menarik wanita itu mendekat dan memeluk pinggangnya erat dengan satu tangan, sementara tanganku yang lain menangkup dagunya. “Sudah kubilang, tapi kamu memaksa!” Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung mencium bibir wanita ini. Erat dan juga dalam. Menghisap bibirnya yang lembut dan merasakan manis dari ciuman kami. Begitu intens dan juga erat. Campuran dari rasa terkejut dan juga tindakanku barusan membuatnya kaku tak bergerak. Sampai akhirnya dia terengah-engah di tengah ciuman kami dan melemas. Aku langsung melepaskan pelukanku dan hanya menahannya di tangan, membuat Ira melorot jatuh perlahan ke lantai. Itu baru satu dari sekian banyak pesonaku yang tidak bisa ditolak wanita. Aku tidak akan pernah memukul wanita, tapi mencium, itu bukan pantangan bagi Hendrik. Dan itu cukup untuk menakhlukkan Ira, membuatnya lemas tertunduk sambil terengah-engah. Memberiku kesempatan untuk segera mengejar Senia di dalam kantor. Sementara itu Senia terkejut melihatku bisa melewati halangan dari tantenya dan segera berlari kembali. Sampai di depan sebuah ruangan, dia bergegas memasuki dan langsung menutupnya sebelum aku bisa masuk. Aku berusaha membuka pintu ruangan itu, tapi sepertinya yang pintu itu terkunci dari dalam. “Senia, tolong buka pintunya. Maafkan Papa, Papa tahu semua kebenarannya. Maafkan aku yang tidak percaya!” Pintu itu masih tertutup dan terkunci. Aku mencoba mengetuknya dan memanggil namanya, tapi Senia tetap tidak mau keluar. “Dengar, aku tidak tahu bagaimana dengan ibumu, tapi aku dulu tidak yakin akan cintaku kepada ibumu. Aku selalu menganggap hubunganku dengan ibumu karena ada keinginan untuk selalu bersama. Aku sempat berharap bahwa hubungan kami akan berhasil, tapi kemudian dia menghilang. Meskipun ternyata itu semua dia lakukan untukku. Tapi apa yang kurasakan denganmu beda. Denganmu, aku merasakan perasaan yang lain. Perasaan ingin selalu melihatmu tersenyum, perasaan ingin selalu menjagamu, perasaan ingin selalu memberimu seluruh duniaku. Aku tahu selama ini yang aku lakukan berbeda karena semua keegoisanku sendiri, tapi ternyata aku tidak bisa membohongi apa yang ada di dalam hatiku.” “Kamu nggak berhak bilang seperti itu.” Ira terengah-engah sepertinya berusaha mengejar kami dan berusaha mendorongku menjauh. “Senia, tetap di dalam! Kamu nggak perlu dengerin orang ini. Dia sudah ninggalin kamu sama Mamamu. Dia nggak pantes kamu sebut Papa!” Aku menghela nafas panjang berharap ada jawaban, tapi tetap terasa sunyi. Berusaha bertahan dari dorongan Ira untuk menjauhi pintu itu, pintu yang saat ini memisahkanku dengan Senia. Dari kejauhan, beberapa satpam berlari mendekat. Merasakan rasa putus asa merambat dan mulai meracuni hatiku. Tapi kalau aku meninggalkannya sekarang, sepertinya itu akan untuk selamanya. “Senia, Papa mencintaimu setulus hati Papa. Papa tidak pernah merasa sehancur ini ditinggalkan seseorang, tapi berbeda denganmu. Papa tahu, Papa sudah tidak berhak meminta ini, tapi Papa berharap, Papa ingin kita bersama lagi.” “Berhenti memengaruhi anak itu! Kamu, kamu bakalan aku laporkan karena melakukan pelecehan seksual!” sentak Ira. Kali ini wajahnya terlihat merah padam. Suara kunci yang terbuka menghentikan semua perkataan bahkan dorongan dari Ira. Senia terlihat membuka pintu perlahan. Aku bisa melihat wajahnya yang berantakan dan memerah. Matanya terlihat bengkak dan memerah begitu juga hidungnya. Sepertinya anak itu sudah menangis seharian. Kami semua terdiam, seakan menunggu reaksi dari gadis itu. “Aku cuma pengganggu bagi kehidupan bebasmu.” ujarnya sembari sedikit terisak. “Begitulah…,” Senia melotot mendengar jawabanku, “…tapi aku lebih terganggu saat tidak ada dirimu.” “Waktu dua bulan kita sudah hampir selesai,” ujarnya lagi. “Senia!” rengek Ira dan gadis itu tidak peduli “Bolehkah aku meminta waktu selamanya kepada anakku sendiri?” Kurentangkan kedua tangan berharap pelukan darinya. Senia terisak dan menutup wajahnya yang terlihat mulai berseri. Sebuah pelukan erat kemudian hadir darinya. Membuat hatiku kembali terasa hangat dan tenang. Sementara Ira mendesah kesal kemudian meninggalkan kami. Bahkan meminta semua orang untuk meninggalkan kami. “Aku akan mengusir semua perempuan ganjen yang mendekati Papa!” ujarnya dalam pelukanku sembari terisak. “Sepertinya kamu sudah mengusir semuanya.” “Aku bisa aja bikin Papa kewalahan sama semua fans-ku!” “Siapa tahu ada fans-mu yang cukup cantik untuk Papa” Senia mencubit pinggangku sebal mendengar semua ucapanku. Aku meringis kesakitan sambil tetap memeluknya erat. “Aku mungkin menerima Max jadi pacarku!” “Ya kau bisa…apa?” Senia terdiam sambil mempererat pelukannya. “APA? Tidak akan kubiarkan anakku pacaran!” Akan kubunuh Max nanti. ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN