“Aaah...”
“Ssst...”
“Hendrik!”
Senia sebelumnya mengira itu hanyalah mimpinya, tapi entah kenapa erangan itu semakin terasa nyata di telinganya. Perlahan dia membuka matanya, kemudian mengernyit saat hanya menemukan kegelapan. Selimutnya masih terlalu hangat dan ranjangnya terlalu empuk untuk ditinggalkan. Pada akhirnya Senia memilih untuk berbaring dan kembali memejamkan matanya, tapi kali ini dengan telinga terjaga. Menunggu suara-suara itu kembali muncul memastikan kalau itu semua hanya mimpinya saja.
“Ssstt..!”
Senia mengernyit, kali ini berusaha membuka mata. Bagaimanapun desisan itu tidak terdengar seperti mimpi, tapi juga tak bisa diyakini kalau itu nyata. Separuh terpejam, Senia berusaha duduk di ranjangnya yang nyaman, tapi tetap di dalam selimut. Berusaha mempertahankan kehangatan yang tersisa. Kepalanya terasa sedikit berputar yang akhirnya mengharuskan ditopangnya dengan kedua tangan. Berusaha mengumpulkan semua kesadaran, Senia mengerjapkan mata. Di tengah cahaya remang-remang dari lampu tidur, Senia melihat ke sekeliling, memastikan suara itu bukan dari dalam kamar.
Alih-alih terus merasa penasaran, gadis itu malah tersenyum simpul. Ada sebersit rasa puas saat melihat kamar yang ditempatinya. Ini akan menjadi kamar yang dia tempati seterusnya di rumah ini. Rumah dari papanya, orang tua kandung terakhir yang dia punya, Hendrik Falevi. Pria yang baru dia temui setelah bertahun-tahun terpisah. Walaupun ada gejolak di awal pertemuan, tapi pada akhirnya mereka bersatu, membalas saat-saat yang pernah hilang. Dan sekarang Senia mendapatkan kamar sendiri di rumah Hendrik, rumah mereka berdua. Kamar yang berada di sebelah kamar Hendrik di lantai satu.
Sebetulnya sedikit mengecewakan saat mengetahu kamarnya jauh dari kamar Max. Pria itu jelas sudah berusaha masuk dan membuat hatinya penasaran, bagaimana sebenarnya perasaannya kepada Senia. Kalau saja kamar mereka bersebelahan, mungkin akan ada obrolan intim di balkon lantai dua. Hanya terpisahkan dinding sehingga mereka perlu saling melongok, tapi cukup puas untuk memperhatikan satu sama lain. Sayangnya, itu hal yang mustahil saat Papanya ikut campur dalam hubungan asmara Senia.
Menjadi seorang playboy kawakan, tidak serta merta membuat Hendrik memberikan Senia kebebasan dalam berhubungan dengan pria. Malah papanya berubah menjadi pria yang sangat over protektif, terutama soal hubungan Senia dengan Max. Bahkan Hendrik bersedia mengorbankan kehidupan seksualnya, yang selalu Senia ganggu, dengan memberikan Senia kamar tidur di sebelah kamarnya. Kamar yang hanya terpisah dengan lorong kecil yang tidak lebih dari satu meter.
Ambil sisi positifnya, Sen. Bagaimana juga, Papa tidak akan mengajak semua wanitanya untuk masuk ke dalam kamarnya. Atau aku akan dengan senang hati menghancurkan momen-momen intim mereka.
Yang artinya...
Selamat datang ejakulasi dini.
Dengan jarak yang begitu dekat, jelas sekali Papanya tidak akan bisa membawa wanita masuk ke dalam kamarnya untuk diajak bercinta. Tentu saja karena Senia akan dengan mudah mendengarkan setiap erangan-erangan yang cukup keras dan mungkin terjadi. Papanya jelas tidak akan suka efek setelahnya. Sudah cukup semua keluhan tentang kanker prostat akibat ejakulasi yang tidak tuntas. Jelas saja itu cuma khayalan bodoh Papanya supaya Senia bersedia memberinya kelonggaran, yang jelas tidak akan pernah kuberikan. Bahkan sampai Max menjadi seorang Jawa tulen.
Ya ampun, kenapa harus inget Max lagi sih? Bikin seneng hati ini aja!
Senia berguling-guling kegirangan di atas ranjang saat kembali membayangkan wajah rupawan Max. Cowok itu, kenapa harus menempati peringkat satu dari jajaran lelaki ngegemesin di hati Senia. Tapi sekali lagi Senia harus kecewa saat mengingat kamar mereka terpisah tangga. Max harus puas menempati kamar kecil di lantai atas, sementara Senia berada di lantai dasar. Walaupun begitu membayangkan kamar Max tepat berada di atas kamar Senia saja sudah membuatnya senang.. Siapa tahu ranjang Max juga berada tepat di atas ranjang Senia. Sekali lagi Senia berguling-guling malu di ranjangnya.
Sekali lagi kamar ini menunjukkan sisi positif yang membuatnya menjadi tempat ternyaman bagi Senia. Bahkan kamar ini di desain sendiri oleh Hendrik. Hendrik mendekorasi bahkan merenovasi total kamar ini supaya Senia merasa lebih nyaman. Kamar yang luas dengan cat dinding berwarna biru muda dan sedikit perabotan. Hanya ada ranjang, meja rias dan lemari yang berwarna senada, putih. Bukannya Hendrik pelit karena tidak mau mengisi kamar ini, tapi papanya memberikan kebebasan untuk Senia mengisinya sendiri sesuai seleranya. Bahkan di dalam dompet Senia sudah terselip kartu kredit papanya. Hanya ada satu syarat dari Hendrik untuk Senia bahwa tidak boleh ada foto pria, selain dirinya, terpasang di dinding kamar ini. Tapi bukankah itu berarti Senia boleh menyimpan foto pria yang dia sukai. Bukankah syarat Papa tidak terpampang di dinding. Mungkin suatu saat nanti foto Max akan ada di dalam bingkai di atas meja riasnya.
Senia kembali tersenyum membayangkan hal itu dan kembali menatap ruang-ruang kosong di kamarnya. Mungkin besok pagi dia akan mengajak Papanya berbelanja beberapa perabotan. Seperti membeli sebuah bean bag chair berwarna pink dan rak buku yang cukup besar kemudian mengisinya dengan novel-novel yang sudah dia incar selama ini. Novel-novel yang selalu dia inginkan, tapi hanya sekadar menjadi wishlist belaka karena kesibukan pekerjaannya kemarin. Setelah menyelesaikan syuting film layar lebar yang akan muncul beberapa bulan lagi, alih-alih berlibur, Tante Ira malah menawarkan proyek iklan.
Dulu, Senia akan menerima semuanya, tapi tidak kali ini. Setelah bertemu Hendrik, papanya, mereka memutuskan untuk menikmati waktu bersama disetiap kesempatan. Lima belas tahun Senia begitu merindukan sosok ayah, dan saat mengetahui bahwa pria itu masih hidup, dia langsung menemuinya. Seakan berusaha mengganti tahun-tahun yang sempat hilang karena kesalahan di masa lalu. Walau berat di awalnya, tapi Hendrik bukanlah pria b******k seperti yang Tante Ira katakan. Papanya, walaupun memang b******k untuk urusan nafsu, tapi sangat baik, bahkan menyayangi Senia. Untung saja sekolah masih libur dan Senia bisa bebas tinggal di rumah papanya.
“Aaaah, Hendrik! Teruskan di situ! Aaah...”
“SSSTTTT!”
Ingat bagian b******k soal nafsu.
Kali ini Senia yakin akan suara yang dia dengarkan. Jelas itu sama sekali bukan mimpi. Seorang wanita sedang mendesah seakan dia merasakan sakit dan juga nikmat secara bersamaan. Seorang pria berkali-kali mendesis, seakan meminta wanita itu untuk memelankan suaranya.
“Hendriik, aaaaahh... jangan berhenti! Iya, teruskan, itu di situ, teruskaaan, please!”
Please?
Kali ini Senia benar-benar kesal. Dia langsung melemparkan selimut, yang menutup tubuhnya, ke samping dan lompat menjauh dari kenyamanan ranjangnya. Mengindahkan rasa kantuk yang menggelayutinya dari tadi. Bagaimana bisa Papa melakukan itu? Kapan mereka masuk? Semua tanya berkecamuk di kepala Senia, dan membuatnya semakin terkejut saat membuka pintu.
Suara yang sebelumnya terdengar lirih dari dalam kamarnya ternyata begitu keras saat dia membuka pintu. Suara desahan dan erangan yang sangat provokatif dan membuat Senia keheranan. Bagaimana bisa dia tidak menyadari suara ini sebelumnya. Belum selesai keheranannya, jantung Senia dibuat nyaris copot karena melihat sosok Max yang duduk di sofa di tengah kegelapan malam. Hanya cahaya temaram lampu taman yang menerobos masuk melalui jendela yang membuat Senia menyadari bahwa sosok itu adalah Max. Dengan keadaan seperti itu, siapapun bisa salah paham dan mengira Max sejenis makhluk halus yang sedang menikmati segelas minuman hangat. Senia langsung menyalakan lampu dan membuat Max menyadari kehadirannya. Sementara suara-suara mendesah itu masih terus terdengar dari kamar Hendrik.
“Kamu baru bangun?” tanya Max keheranan melihat sosok Senia yang berdiri di sebelahnya.
“Baru?”
“Mereka sudah menggila dari setengah jam yang lalu. Dan biasanya cewek ini akan terus meraung sampai sejam ke depan. Karena itu daripada terjaga di kamar, lebih baik aku di sini, bikin coklat panas.” Max tersenyum menatap Senia. Wajahnya yang tampan terlihat kelelahan. Ada bayangan kehitaman di bawah matanya. Beberapa kali dia menahan kuap, kemudian menawarkan gelasnya, “Mau?”
“Sudah setengah jam dan aku baru aja dengar suara teriakan ini?” tanya Senia bingung sembari beberapa kali memicingkan matanya karena mendengar teriakan-teriakan wanita penuh nafsu kembali. “Sementara kamu yang di lantai dua aja sudah denger dari tadi?”
“Dindingmu yang paling tebal dari semua kamar di sini. Pak Hendrik bahkan sampai berkonsultasi dengan pemborong kenamaan hanya untuk masalah dinding itu,” jawab Max sambil meminum coklat panas di gelasnya lagi.
Jadi ini alasan Papanya merenovasi kamar Senia. Semua hanya untuk membuat Senia tidak bisa mendengar semua desahan-desahan yang mungkin terjadi selama dia ada di rumah ini. Bagaimana bisa Papanya melakukan hal ini. Sudah berkali-kali Senia menggagalkan kegiatan penuh nafsu Papanya dengan wanita sembarangan dan yang Hendrik lakukan malah menambah ketebalan dinding kamarnya. Nafsu yang terjepit memang selalu membuat seseorang lebih kreatif, dalam hal ini seseorang bernama Hendrik Falevi, ayahnya.
Mata Senia berkilat dipenuhi rasa marah dan juga kesal. Hendrik masih saja bandel dan mengikuti panggilan dari jiwa playboynya. Dengan tergesa Senia mendekati kamar Hendrik, diikuti Max di belakangnya. Ini tidak boleh diteruskan. Senia hampir menggedor pintu kamar Hendrik kalau saja Max tidak menahan tangannya. Masih marah, Senia berusaha melepaskan genggaman tangan Max di lengannya.
“Lepasin, Papa kebangetan bener!” perintah Senia, tapi Max bergeming.
“Kamu lupa siapa Papamu? Pak Hendrik selalu punya sejuta alasan untuk menutupi kelakuannya.”
“Terus aku harus gimana?” tanya Senia, kali ini jauh lebih tenang. Max meminum sekali lagi coklat di gelasnya.
“Aku juga sebel banget sama kebiasaan ini, apalagi setelah kamarku pindah ke atas kamar Pak Hendrik.”
“Apa? Bukannya kamarmu...”
“Dipindah, dengan alasan, supaya aku sejauh mungkin dari kamu,” jawab Max. Raut kesal muncul di wajahnya yang tampan dan itu sedikit menggelitik Senia. Membuat dadanya berdebar sedikit lebih kencang. Apalagi setelah sebuah senyuman manis muncul di bibir Max.
Tapi semua debaran itu langsung berubah semakin kencang karena terkejut mendengar suara erangan yang cukup keras dari dalam kamar Hendrik. Membuat Senia kembali teringat akan kelakuan Papanya. Kelakuan yang akan membuat pria itu menyesal setelah ini. Senia melirik ke arah Max, dan wajah pria itu bersemu merah sambil menatap pintu kamar Hendrik.
Apa-apaan ini?
Untuk apa semu merah itu muncul di wajah Max?
Jangan-jangan, apa Max membayangkan bercinta dengan wanita di kamar ini? Karena memang suara erangan wanita ini sangat provokatif, tapi alih-alih terangsang, Senia malah semakin sebal. Terutama setelah Max terlihat malu-malu setelah mendengarkan suara erangan yang terakhir.
Seharusnya hanya suara eranganku yang membuatnya bersemu merah seperti ini.
Satu hal yang tidak Senia tahu, Max membayangkan Senia yang sedang bercinta dengannya saat mendengarkan erangan dari kamar Hendrik. Dan itu menyiksa Max saat ini. Senia menyenggol perut Max dengan sikunya dan membuat pria itu tersadar. Wajahnya jelas memperlihatkan kemarahan dan itu disadari Max.
“Jadi kita cuma diem aja seperti sekarang?” tanya Senia kesal. “Kalau itu maumu, mending aku gedor kamar ini.”
“Dan ngebiarin Pak Hendrik kabur sama ceweknya lewat jendela besar di kamarnya? Kamu yakin mau itu?” tanya Max retorik. “Aku punya ide yang lebih bagus.”
Jantung Senia nyaris berhenti saat Max mendekatkan wajah ke wajah Senia. Hampir saja dadanya meledak, mengira pria tampan itu akan menciumnya. Ternyata Max mendekat ke telinga Senia dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. Senia mendengarkan dengan seksama kemudian tersenyum geli, membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia melakukan yang Max minta.
“Tunggu dulu,” perintah Max sambil menempelkan telinganya ke daun pintu kamar Hendrik. “Yak, sekarang!”
“MAX, JANGAN DICIUM DI SITU, NANTI PAPA TAHU! MAX, GELI! AAH!” teriak Senia lengkap dengan desahan yang sangat kentara sengaja dikeraskan suaranya. Tapi kemampuan akting Senia sepertinya sudah mendarah daging. Membuat dialog itu cukup erotis walaupun dia mengucapkannya dengan sedikit berteriak.
Terbukti, suara penuh nafsu di dalam kamar Hendrik berhenti seketika, berganti dengan suara dari sesuatu yang terburu-buru. Suara erangan wanita di dalam kamar berganti menjadi suara penuh emosi, kemarahan.
“MAX, AKU BUNUH KAMU KALAU BERANI...”
Pintu kamar Hendrik terbuka, dan memperlihatkan seorang pria dipenuhi amarah yang hanya memakai celana boxer-nya. Rambut Hendrik yang berantakan, keringat yang masih mengalir dan juga tanda bekas cupang yang tersebar di d**a putihnya tidak membuat Hendrik kehilangan ketampanannya. Hanya saja wajah tampan yang sebelumnya penuh kemarahan itu sekarang berubah menjadi ketakutan. Apalagi saat melihat Senia, anaknya yang berdiri kesal di depan pintunya. Di tengah kegelapan kamar Hendrik, Senia melihat sosok wanita di dalam selimut dan kebingungan. Itu jelas membuat Senia lebih marah lagi.
“Halo, Sayang,” sapa Hendrik ketakutan dan berusaha menutup pintu kamarnya perlahan-lahan. Senia langsung menahan pintu itu dengan kaki dan lengannya dan itu pertanda bahwa tidak ada kesempatan kabur lagi.
“Kamu lihat kan kalau ini cara yang sangat efektif?” ujar Max sambil meminum coklat di gelasnya dan tersenyum sinis pada Hendrik.
“PAPAAAAA!”
*****