Bab 7 :Jealousy

1561 Kata
Seiring dengan suara dinding yang dijebol, bertambah pula rasa kesal Hendrik. Terutama setiap dia melihat Max yang sepertinya memang sengaja melewatinya untuk mengejek. Berani-beraninya bocah itu membocorkan soal dinding itu pada Senia. Sia-sia sudah semua uang yang dia keluarkan untuk membayar kontruksi dinding kamar Senia. Sebuah jendela pada akhirnya merusak semua fungsi seharusnya dinding itu, menahan suara dari luar, terutama dari kamar Hendrik.  Dasar bocah tengik.  Bukan hanya Hendrik, tapi tukang yang sedang membuat lubang di kamar Senia juga terlihat kecewa. Tukang yang sama saat Hendrik membuat kontruksi dinding kamar Senia. Pria itu sepertinya merasa sangat berat hati karena harus membongkar hasil karyanya yang sudah dia buat sebelumnya. Apalagi jendela panjang di pojok atas dinding benar-benar sebuah cela dari keindahan dinding. Tidak berguna, hanya merusak pemandangan, tapi uang berbicara. Lihat, bukan cuma Hendrik saja, tapi sampai tukang bangunan pun merasa kesal.  Pria itu datang karena panggilan telepon Hendrik tepat sebelum waktu subuh tiba. Kalau saja bukan karena jumlah uang yang cukup besar yang selalu Hendrik tawarkan, dia sudah memaki Hendrik karena mengganggu waktu tidurnya. Sekali lagi uang berbicara dan itu juga yang membuatnya datang pagi ini, bahkan sebelum anak-anak berangkat sekolah. Setidaknya uang bisa mendinginkan hatinya, sedingin ubin mesjid di kala subuh. Tidak hanya membawa peralatan pertukangan, tapi juga loster kayu yang tersisa di rumahnya. Entah kenapa sampai Hendrik begitu terburu-buru, bahkan memintanya membawa persediaan loster di rumahnya, bukannya membeli sendiri. Dan di sinilah nasib tukang itu. Bergelantungan di atas tangga, sibuk membobol dinding untuk dipasang loster. Seharusnya dinding kamar Hendrik yang mendapat kontruksi seperti itu, kedap suara. Tapi setelah Hendrik pikirkan lagi, sepertinya sia-sia. Kamar bukan satu-satunya tempat untuk b******u dan kalau kamar Hendrik mendapat kontruksi kedap suara, dia tidak akan bisa leluasa untuk memanggil Max. Itu yang sebelumnya Hendrik pikirkan, tapi kali ini dia mulai menyesalinya. “Kok jendelanya tinggi banget, Pa?” tanya Senia yang baru saja datang dari arah dapur, membawa es batu yang terbungkus kain. Perlahan Senia menempelkan es batu itu ke dahi Hendrik. Lebih tepatnya menempelkan ke benjol di dahinya. Hendrik meringis menahan sakit saat kain dingin itu menyentuh kulitnya. Benjol yang hampir sebesar bola bekel berdenyut nyeri dan semakin tenang seiring dingin dari es mulai merasuk. Benjol yang disebabkan tas Calista, wanita yang b******u dengannya semalam. Selain desahannya, ternyata pukulan wanita itu juga cukup keras. Setelah Hendrik mengusirnya dengan halus, padahal mereka sedang menuju ke puncak o*****e. Hendrik ingin membuat sebuah upacara pemakaman untuk o*****e yang langsung hilang saat itu. Setelah susah payah dia membuat wanita itu mencapai o*****e dan ketika hampir tiba gilirannya, tragedi itu datang. Tapi terlebih dulu dia harus mengatasi kemarahan para wanitanya, kali ini Calista. Sebelum pergi, wanita itu memberikan sebuah pukulan dengan tasnya tepat ke muka Hendrik. Entah apa yang ada di dalamnya, sampai membuat benjol sebesar bola bekel di dahi Hendrik. Senia menekan es di kepala Hendrik sembari melotot, menunggu jawaban dari pertanyaannya. Sebetulnya Hendrik paling malas menjawabnya, tapi anak gadisnya bisa jadi manusia yang paling memaksa di dunia. “Papa nggak mau nanti ada yang ngintipin kamu di kamar. Tau sendiri kan kita serumah sama kucing garong!” Sindiran itu jelas ditujukan pada Max, yang saat ini sedang membuat teh di balik meja island. Tapi Max malah bersikap santai dan membantah Hendrik, “Jelas bukan saya, karena saya kucing Ras, Pak!” Bocah kampret! “Oya? Kira-kira kamu kucing Ras apa, Max?” tanya Senia menyelidik dan Hendrik tidak suka itu. Bagaimanapun, dia menyindir Max supaya mereka tidak menjadi dekat, bukannya malah menanyakan status ras dari kucing satu sama lain. Tapi suara bel pintu menghentikan Hendrik untuk membekap mulut Max. Bel pintu yang semakin lama berbunyi semakin sering dan membuat semua orang merasa gerah. Terutama Hendrik karena suara bel itu membuatnya gagal untuk mengeksekusi Max. Walaupun artinya itu menyelamatkannya dari pelototan Senia. Anak gadisnya itu selalu saja membela bocah kampret bernama Max, dan itu menyebalkan. Ding-dong, ding-dong, ding dong, ding-dong.... “Itu yang mencet lagi kebelet kali, Pak!” ujar tukang yang sedang membobol dinding kamar Senia, yang ternyata juga merasa gerah. “Jadi, aku juga yang harus bukain pintunya?” sindir Hendrik keras dan menyesalinya kemudian. Karena semakin keras dia bicara, semakin nyeri benjol di dahinya. “Gak mungkin saya, Pak. Masak saya kudu loncat dari sini cuman buat bukain pintu,” seloroh Pak Tukang dari atas tangga. “Sudah nancep nyaman macem cecak inih!” Hendrik melotot mendengar omongan Tukang yang saat ini cuek kembali mengerjakan dinding di hadapannya. Berharap Max akan sadar dan membukakan pintu, menyambut tamu, malah Senia yang bergegas pergi. Hendrik sangat yakin Senia melakukan itu karena tidak ingin Max kelelahan karena harus membukakan pintu, dan itu lebih dari mengesalkan bagi Hendrik. Kalau saja dia bisa menendang bocah bernama Max itu supaya berhenti membuat Senia memujanya. Kalau saja ada cara. Seharusnya memang ada caranya. “Berhenti, tolong jangan sembarangan!” Terdengar teriakan panik Senia dari ruang tamu dan langsung membuat ketiga pria di ruangan tengah kebingungan. Max langsung meletakkan teko panas di tangannya dan berusaha bergegas menuju ke arah Senia. “Kamu jangan halangin aku!” terdengar suara wanita lain, mendekat ke arah para pria. Suara yang sangat Hendrik kenal. “Lagian kamu ini ngapain sih? Hendrik kebangetan deh kali ini.” Tak lama muncul seorang wanita dengan membawa tas ransel yang cukup besar, diikuti Senia yang kebingungan di belakangnya. Seorang wanita yang benar-benar Hendrik kenal. “Ingka?” ujar Hendrik seakan tak percaya. “Hendriiik!” pekik wanita bernama Ingka itu girang. Tanpa pikir panjang dia melepaskan tas ranselnya sembarangan dan langsung menghambur, memeluk dan mencium pipi Hendrik. Senia tidak sanggup untuk mencegah semua itu karena terhalangi tas ransel besar milik wanita itu. Setelah puas memeluk singkat Hendrik, dia menoleh ke arah Max kemudian berteriak kegirangan lagi. “Max, aku kangen!” “BERHENTI!” teriak Senia kesal saat Ingka memeluk dan mulai mencium pipi Max. Semua orang langsung terkejut dan menatap ke arah Senia. Gadis itu terlihat sangat kesal, membuat dahinya berkerut karena kedua alisnya yang berusaha menyatu. “Jangan seenaknya pegang-pegang orang di sini. Kamu siapa?” Ingka terlihat kebingungan, tapi tidak melepaskan pelukannya dari Max. Sementara Max sendiri sepertinya sama sekali tidak keberatan akan hal itu. “Jadi sekarang kamu merambah ke anak di bawah umur, Ndrik? Kalau di Jepang, sudah masuk penjara tuh!” “Bukan gitu! Senia sini,” Hendrik memanggil Senia, memintanya berdiri di sebelahnya dengan memberikan isyarat lambaian tangan. Dahinya yang benjol kembali terasa nyeri. Saat Senia sudah ada di sebelahnya, Hendrik menggenggam tangan gadis itu. “Ingka, ini Senia, anakku. Senia, itu Ingka, dia itu...” “Ini Senia? Senia yang kamu ceritain ke aku itu?” ujar Ingka yang tiba-tiba menjadi semakin girang. Segera dia melepas pelukannya pada Max kemudian mendekati Senia dan memeluk gadis itu. “Aku Ingka, tantemu!” Senia terlihat kebingungan kemudian menatap Hendrik, berusaha mendapatkan jawaban. Bagaimanapun juga, Senia bisa memperkirakan kalau wanita di hadapannya ini, umurnya tidak terpaut jauh dengannya. Jadi bagaimana bisa dia mengaku sebagai tantenya. Tapi raut muka Hendrik mengatakan bahwa itu kebenaran. “Kemari, deh!” Ingka kemudian menggandeng Senia dan mengajaknya duduk di sofa terdekat. “Jadi gimana keadaan kamu setelah ketemu sama Hendrik, Papa kamu.” “Itu...” “Jadi, kamu mulai menyesali hubungan darahmu sama Hendrik?”potong Ingka dan langsung dijawab gelengan keras Senia. Ingka tertawa renyah untuk kesekian kalinya, kemudian membelai lembut wajah Senia. “Ya ampun, kamu manis banget sih! Seneng banget punya ponakan kayak begini.” “Dia artis, Ka. Lagian dia anakku, ya jelas cakep lah!” tukas Hendrik sambil terus menekan benjolnya dengan es. “Iya, emang dia mirip sama kamu. Aku jadi kasihan, anak secantik ini harus dapat banyak kesulitan gara-gara kamu!” ejek Ingka yang langsung dibalas dengan cibiran Hendrik. Sekali lagi Ingka tertawa, kemudian memeluk Senia gemas, seakan memeluk anak anjing yang lucu. “Pasti kamu sudah dapet banyak kesulitan gara-gara Hendrik ya?” “Enggak, Papa baik kok. Senia sayang sama Papa,” jawab Senia tegas dan kembali mendapat pelukan gemas dari Ingka. Samar-samar Senia mencium wangi melati dari parfum di badan Ingka. “Dia sering dapat kesulitan gara-gara kelakuan Pak Hendrik,” potong Max tiba-tiba sambil meletakkan gelas berisi teh yang masih hangat. “Yang ini buat kamu. Gulanya sedikit, suhunya cenderung ke dingin.” Alih-alih meletakkan ke atas meja seperti milik Senia, Max menyerahkan langsung teh milik Ingka dan membuat wanita raut wajah wanita itu semakin riang. “Aww, thank you, Dear. Perhatianmu emang yang paling juara deh, Max. Makin cinta aku gini ini. Kamu masih kosong kan?” Max hanya tertawa menjawab pertanyaan Ingka, tapi tidak ada penolakan di sana dan itu membuat Senia merasa sangat kesal. Sayangnya dia tidak bisa mengungkapkan kekesalannya. Pertama karena wanita di hadapannya ini masih berhubungan darah dengannya. Apalagi tantenya ini begitu ramah, menyebarkan aura kegembiraan bagi semua orang dan Senia tidak mau merusak itu semua. Yang kedua, karena tidak ada status di antara Max dan juga Senia. Senia sangat menyadari kalau dia tidak berhak marah saat wanita lain berusaha merayu Max.  Dan walaupun sesaat, Hendrik bisa menangkap ekspresi kesal milik Senia. Mungkin menendang Max dari hati anaknya tidaklah sesulit yang Hendrik bayangkan. Semua jalannya sudah tersedia di depan mata. “Jadi, kamu bakalan nginep di sini, Ka?” tanya Hendrik memancing. “Jelas dong!” jawab Ingka cepat. “Kamar tamu di atas masih kosong kan?” “Yang sebelah kanan kosong. Sebelah kiri kamarku,” jawab Max. Ingka terpekik kegirangan, “Aku sebelahan sama kamu, Max? Seneng deh! Malemnya kita bisa ngabisin waktu barengan dong!” Hendrik tertawa keras di dalam hati. Terutama saat Senia semakin merengut kesal dan Max kebingungan saat melihatnya. Semesta memang adil. Setelah berkali-kali bocah kampret bernama Max itu mengganggu dan berusaha mendekati Senia, anaknya, hari ini dia bisa membalasnya. Setelah ini, riwayat Max dan Senia akan berhasil. Yang Hendrik perlukan hanya sedikit percikan api. “Betul, kamu tidur di kamar sebelah Max!” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN