Chubby Cheeks

1357 Kata
Cahaya pagi yang masuk melalui celah jendela membangunkan Sisil. Dengan malas dia beranjak dari kasurnya dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah melakukan rutinitasnya di kamar mandi, Sisil mengambil ponselnya dan melangkah ke dapur untuk sarapan. "Pagi, Mama cantik," sapa Sisil sambil mendekati mamanya yang sedang sibuk di depan kompor. "Pagi, Sayang. Gimana acaranya semalam?" tanya mama Sisil. "Seru, Ma. Lulus semuanya. Si Dion jadi lulusan terbaik loh, Ma," jawab Sisil sambil menyalakan ponselnya. "Hebat, dong. Dari dulu Dion memang selalu juara 1, kan?" tegas mama Sisil. "Iya, Ma. Oh ya, nanti Dion mau main ke sini. Minta dibikinin nasi goreng sosis yang spesial. Katanya dia udah kangen sama masakan Mama," ujar Sisil sambil memeriksa notifikasi di ponselnya. "Kangen? Bukannya dua hari yang lalu dia juga udah makan malam di sini?" ucap Mama Sisil sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Sil, Dion itu baik, pinter, ganteng lagi. Udah punya pacar belum dia?" tanya Mama Sisil sambil meletakkan sup ayam kesukaan Sisil ke atas meja makan. "Belum. Emang kenapa, Ma?" tanya Sisil yang sudah mulai ngiler karena mencium aroma masakan mamanya. "Boleh tuh jadi calon menantu Mama. Kamu mau ga?" goda Mama Sisil. "Mama, Sisil belum juga 18 tahun udah mau dicariin calon suami? Mama ngga sayang ya sama Sisil? Mama pengen Sisil cepat nikah terus keluar dari rumah ikut suami, biar Mama berduaan terus sama Papa?" ucap Sisil sambil memonyongkan bibirnya pura-pura ngambek. "Sayang banget, Nak. Justru Mama pikir Dion itu kandidat yang cocok buat kamu. Kalian kan sudah saling kenal sejak dulu," lanjut Mama Sisil masih dengan nada menggoda. "Ah Mama, Sisil ngga mau dijodohin ya. Dion itu sekarang lagi pedekate sama teman Sisil, Ma," jawab Sisil. "Oh, gitu. Hmm...padahal Mama sama Mamanya Dion pernah ada rencana mau jodohin kamu sama Dion. Tapi kalau kalian keberatan ya kami ngga bisa memaksa. Ya udah kalo gitu panggil Papamu biar sarapan." Mama Sisil lanjut memindahkan masakannya ke atas meja makan. Setelah selesai sarapan dan mencuci piring, Sisil kembali sibuk dengan ponselnya sementara Mama dan Papanya sibuk mengobrol sambil berjemur di depan rumah. "Banyak banget sih nih WA masuk," gumam Sisil seraya membuka pesan-pesan yang ada di ponselnya. "Ya ampun, Sil. Ternyata waktu kecil kamu tuh chubby banget ya, pengen aku cubit deh. Gemesss...." Dahi Sisil berkerut saat membaca pesan dari Dedi. "Sil, kamu waktu kecil 'ndut banget sih." Kerutan di dahi Sisil makin menjadi ketika membaca pesan-pesan masuk. Hampir semuanya mengomentari badan Sisil yang termasuk  gemuk untuk anak seusianya saat itu. "Apaan, sih? Kok semuanya bilang aku gendut?" Sisil tak sabaran lagi membalas pesan-pesan dan memilih langsung menelepon Dedi. “Pagi, Sil," sapa Dedi. "Ded, kamu tuh ngomong apaan sih? Kok WA nya kek gitu?" tanya Sisil penasaran. "Sil, kamu waktu kecil bener-bener imut. Kalo pipi kamu masih chubby begitu pengen aku cubit deh," jawab Dedi dilanjut dengan suara terkekeh. "Ada apa sih? Kok hari ini isi WA aku bilang aku lucu, imut, chubby?” Sisil memberondong Dedi dengan bermacam pertanyaan. "Udah lihat statusnya Dion, Sil?" "Belum. Emang ada apa, Ded?" "Coba cek aja dulu biar kamu tahu,"  saran Dedi. "Ya udah, aku matiin dulu. Nanti aku hubungi lagi," jawab Sisil makin penasaran. Tak lama Sisil langsung membuka status w******p Dion yang berisi fotonya waktu kecil. Benar saja, di foto itu Sisil memang masih berpipi chubby dan berbadan gempal. Sangat menggemaskan. "Ihhh...Dion, awas kamu ya," geram Sisil. Sengaja dia tidak menelepon Dion karena memilih untuk melampiaskan kemarahannya saat Dion tiba di rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore saat Dion tiba di rumah Sisil. "Hai, Sil," sapa Dion disertai dengan senyuman termanisnya saat Sisil membuka pintu. "Hai, Di. Ayo masuk," jawab Sisil mempersilakan Dion masuk ke rumahnya. Sisil sengaja pura-pura cuek dengan tingkah usilnya Dion karena dia juga sudah menyiapkan strategi untuk balas dendam. "Hai, Tante, Om," sapa Dion kepada mama dan papa Sisil yang sedang duduk sambil menonton berita di TV. "Halo, Dion. Ayo duduk sini." Papa Sisil mengajak Dion untuk duduk bersama meraka. "Selamat ya, Dion. Sisil bilang kamu jadi lulusan terbaik tahun ini." Mama Sisil membuka pembicaraan. "Terimakasih, Tante," balas Dion. "Nanti rencananya mau kuliah di mana?" tanya papa Sisil. "Di Yogya, Om," jawab Dion. "Sil, kamu nanti kuliah di Yogya saja biar ada temen," ucap mama Sisil. "Ngga ah, Ma. Sisil mau kuliah di Jakarta aja," tolak Sisil. Bukannya tanpa alasan, Sisil menolak karena ia akan menggunakan kesempatan jauh dari Dion sebagai ajang agar bisa lupa pada sosok lelaki yang sudah mengisi hatinya selama empat tahun belakangan ini. "Ya, di Jakarta juga boleh. Di sana ada banyak keluarga Mama. Jadi ada yang bisa bantu Mama jaga kamu nanti," jawab mama Sisil menyetujui rencana Sisil. "Di, ayo kita makan malam. Tadi kata Sisil kamu minta dibuatin nasi goreng spesial. Udah Tante siapin," ajak mama Sisil sambil menarik Sisil ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sisil mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi goreng spesial kesukaan Dion. "Nih, khusus buat Dion, siswa terbaik di SMA Harapan Bangsa," ucap Sisil sambil meletakkan piring di depan Dion. "Biasa aja dong, Sil. Jangan terlalu memuji. Ntar kuping aku naik nih," canda Dion. "Selamat makan," ucap papa Sisil setelah dia selesai memimpin doa makan. Satu suapan pertama membuat Dion merasa ada yang aneh dengan makanannya. "Ngga biasanya nih nasi goreng mama Sisil rasanya aneh begini," ucap Dion dalam hati. Namun karena menghargai perasaan mama Sisil, Dion terpaksa melanjutkan makannya. Uhuk, uhuk, Dion tersedak. Dengan cepat Sisil memberikan segelas air kepada Dion. "Kenapa, Di?" tanya mama Sisil. "Maaf, Tan. Nasi goreng Tante hari ini kok asin banget, ya?" ucap Dion setelah selesai meminum segelas air yang diberikan Sisil. "Keasinan? Tadi Tante cicipin udah pas kok rasanya. Sisil juga ikut cobain. Iya kan, Sil?" tanya mama kepada Sisil. "Iya, nih nasi goreng Sisil enak banget kok, Di," jawab Sisil sambil menyuapkan sendok ke mulutnya. Dion mengerutkan dahi tanda heran. "Nyam, nyam, nyam, enak banget sih nasi gorengnya. Nasi goreng mamaku emang yang the best deh," ucap Sisil sambil mengunyah makanan di mulutnya. Sisil terus mengamati wajah Dion. "Hahahahah...." Sisil tergelak dengan keras setelah menelan makanannya. "Makanya, jadi orang jangan suka usil. Gimana pembalasan dendamku?" goda Sisil sambil tertawa. "Sisil , jadi kamu yang tambahin garam ke makanannya Dion?" Mama Sisil bertanya dengan geram. "Itu karena Dion sudah usilin Sisil, Ma. Biar tau rasa," jawab Sisil masih terus tertawa puas. "Sisil," ucap Dion menahan rasa kesal yang ada di hatinya. Mau teriak ngga mungkin karena ada papa dan mamanya Sisil. Namun Dion tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Sisil sebagai balasan keusilannya. Suasana makan malam pun menjadi kacau karena tingkah laku Sisil. "Aduhhh kalian berdua ini. Masih kayak anak SD aja. Sisil, kamu sama Dion makan nasi goreng di warungnya Pak Kumis aja. Kasian si Dion pasti masih laper." Suara papa Sisil menghentikan gelak tawa Sisil. Dion pun melepaskan serangan cubitannya. "Maafin Sisil ya, Di. Dia memang kadang suka pecicilan kayak masih bocah," ujar mama Sisil. "Ihh Mama, ya. Malah belain Dion. Mama ngga tau, sih. Ini yang usil Dion duluan kok," jawab Sisil sambil cemberut karena papa dan mamanya membela Dion. "Udah sana, makan di tempatnya Pak Kumis. Biarin Mama yang beresin mejanya." Dion dan Sisil beranjak dari meja makan dan berjalan keluar. Warung nasi goreng Pak Kumis hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah Sisil. "Gimana, Di? Enak kan nasi goreng buatan mamaku?" goda Sisil setelah berada di halaman rumah. Dion tidak menjawab melainkan melanjutkan serangan cubitannya kepada Sisil. "Duhh, sakit tau, Di," rengek Sisil. "Lagian kamu tuh ya. Ngapain sih posting foto aku? Kan temen-temen jadi godain aku. Aku dibilang gendut, chubby, gembul-" Ucapan Sisil terhenti karena mendengar suara tawa dari Dion. "Hahahaha, emang kamu chubby, kan?" goda Dion yang disambut dengan cubitan Sisil di perutnya. "Ampun, ampun, maaf deh, Sil. Udah dong ngambeknya. Tapi walaupun chubby kan yang penting cantik," goda Dion. "Ya, awas kalo iseng lagi!" ancam Sisil. "Suerrr aku ngga bakalan iseng kek gitu lagi," janji Dion sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan. "Ok. Kali ini aku maafin. Tapi kalo berani ngulangin lagi aku pastikan pembalasanku pasti lebih ngeri," ancam Sisil lagi. "Iya iya. Beneran aku janji." Sepasang remaja itu berjalan bersisian menuju warung nasi goreng Pak Kumis sambil bercanda dan tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN