Bad News

1720 Kata
Setelah selesai makan nasi goreng di warungnya Pak Kumis, Dion dan Sisil tidak langsung pulang ke rumah. Mereka berdua lanjut berjalan ke taman di ujung komplek rumahnya Sisil. Suasana malam Minggu membuat taman lebih ramai dari biasanya. Beberapa pasang remaja terlihat bergandengan tangan sambil menyusuri taman. Dion dan Sisil berjalan berdampingan. Di pandangan orang lain, mereka pasti dianggap sepasang remaja yang sedang pacaran seperti pasangan-pasangan lainnya. "Duduk di situ yuk, Di," ajak Sisil sambil menunjuk ke bangku panjang di pojok taman. "Maafin aku ya, Sil. Kamu ngga marah lagi, ‘kan?" tanya Dion setelah ia dan Sisil menduduki bangku panjang tersebut. "Ngga lah, Di. Maaf juga ya aku udah bikin suasana makan malam hari ini jadi kacau," sahut Sisil sambil tersenyum. "Oh ya, Sil. Kamu yakin ngga mau ikut aku kuliah di Yogya?" tanya Dion. Ia menatap Sisil dengan serius. "Ngga, Di. Aku mau di Jakarta aja," jawab Sisil. "Yah, 'kan kita dari TK sampai SMA bareng terus. Kuliahnya bareng juga dong," bujuk Dion. Sebenarnya dia khawatir Sisil akan kesulitan jika tidak punya teman di Jakarta. "Bosen ah, dari kecil sampe gede temennya kamu terus," tolak Sisil. "Kalo di Yogya 'kan kamu bisa aku jagain. Angel juga rencananya mau kuliah di Yogya, Sil. Kamu ikut ya," bujuk Dion lagi berharap sahabatnya itu mau mengikuti jejaknya. "Di, aku tuh udah gede. Bisa jaga diri. Lagian di Jakarta ada banyak saudara kok." Sisil kembali menolak tawaran Dion. Sisil mengerti niat baik sahabatnya itu, tapi tidak mungkin juga ia ikut jejak Dion kemana pun lelaki itu pergi. "Ya sudah. Tapi nanti kita tetap saling berkabar ya," ujar Dion disambut anggukan pelan dari Sisil. Malam itu Dion dan Sisil banyak bercerita tentang rencana mereka ke depan. Setelah satu jam berbagi cerita di taman, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Sisil. Angin malam yang berhembus membuat Sisil merasa kedinginan. Ia mengusap kedua tangannya agar bisa merasa lebih hangat. Dengan sigap Dion membuka jaket yang ia pakai dan menyampirkannya ke tubuh Sisil. Perhatian-perhatian kecil memang sering diberikan Dion kepada Sisil, membuat gadis itu seperti melambung tinggi di udara. "Aku langsung balik ya, Sil," ujar Dion ketika ia dan Sisil sampai di teras rumah yang penuh dengan pot berisi bunga. "Nih, jaketnya," ucap Sisil seraya memberikan jaket Dion yang barusan ia pakai. "Pamit sama mama dan papa dulu gih, Di." Sisil mengajak Dion untuk masuk menghampiri mama dan papanya yang sedang asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola. "Om, Tante, Dion pamit dulu ya," pamit Dion sambil menyalami kedua orang tua Sisil yang merupakan sahabat kental orang tuanya. "Iya, Di. Hati-hati di jalan. Titip salam buat Mama kamu," sahut mama Sisil sambil tersenyum. Papa Sisil tak memberi komentar apa-apa karena matanya tetap tertuju ke layar datar yang ada beberapa meter di depannya. "Terimakasih buat makan malam hari ini ya, Tante." Dion berjalan kembali menuju ke teras meninggalkan kedua orang tua Sisil. "Pelan-pelan bawa motornya ya, Di." "Kalo pelan bisa nyampe tengah malam aku, Sil," gurau Dion. "Maksudku hati-hati bawa motornya ya," ucap Sisil sambil memandang ke arah Dion yang sedang mengenakan helm birunya. Dion mengangguk seraya menstarter motornya. Sisil melambaikan tangannya ketika Dion mulai mengendarai motor matic-nya keluar pekarangan rumah. Sisil berbalik masuk ke rumah sambil menarik napas panjang untuk melepaskan penat di hati dan pikirannya. "Ma, Pa, Sisil langsung ke kamar ya," pamit Sisil sambil mencium mama dan papanya bergantian. "Jangan lupa sikat gigi, cuci muka, ganti baju. Jangan langsung tidur!" perintah mama Sisil. Dia memang memperlakukan putri bungsunya itu selayaknya anak sekolah dasar. "Iya, Mama sayang. Sisil ini udah mau kuliah, Ma. Bukan anak SD lagi," jawab Sisil sambil melangkah menuju kamarnya. Sebenarnya Sisil belum terlalu mengantuk. Dia hanya ingin diam sendirian di kamarnya mencerna semua obrolannya dengan Dion ketika mereka berdua di taman. Sisil tahu bahwa Dion menyayanginya dan ingin menjaganya. Namun bagaimana mungkin Sisil bisa melupakan Dion kalau lelaki itu terus-menerus ada di sampingnya? Ditambah lagi akan ada Angel di sisi Dion. Itu semua hanya akan membuat Sisil semakin sedih. Dion hanya menganggap Sisil sebagai sahabat, bukan sebagai seorang wanita. Setelah malam itu, Sisil dan Dion masing-masing sibuk dengan persiapan mereka untuk masuk perguruan tinggi favorit mereka. Dion berencana akan masuk fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Dia memang bercita-cita menjadi kontraktor bangunan seperti papanya. Sedangkan Sisil berencana akan masuk fakultas pendidikan. Dia ingin menjadi guru seperti mamanya. Waktu ujian masuk perguruan tinggi akan diadakan bulan depan. Setelah itu, Sisil maupun Dion akan berangkat ke kota yang akan mereka tuju masing-masing. Dion akan berangkat ke Yogyakarta dan Sisil akan berangkat ke Jakarta untuk memulai kuliah mereka. Namun naas buat Sisil. Seminggu sebelum keberangkatannya ke Jakarta, kedua orangtuanya mengalami sebuah kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi ketika pulang kerja tertabrak bis yang mengalami rem blong. Bak disambar petir di siang bolong, Sisil mendengar kabar tersebut. Dia langsung menuju ke rumah sakit. Di sana kedua kakak dan satu abangnya sudah menunggu. "Gimana keadaan orangtua kami, Dok?" tanya Mira, kakak tertua Sisil. "Maaf, mereka mengalami luka berat di bagian kepala. Keadaan mereka masih kritis dan tidak memungkinkan untuk dioperasi. Kita berdoa saja supaya mereka bisa melewati masa kritis,” jawab sang dokter dengan suara berat. Sisil pun menangis terisak mendengar jawaban sang dokter. Sisil tidak siap kalau harus kehilangan kedua orangtuanya. Sisil anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Mira, sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra. Abangnya, anak kedua, bernama Paul, juga sudah menikah dan memiliki seorang putri. Kakaknya yang ketiga, bernama Rose, juga sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Sudah satu malam kedua orangtua Sisil dirawat di ruang ICU. Menurut dokter, keduanya mengalami pendarahan otak dan kecil kemungkinan dapat melewati masa kritis. Tak henti-hentinya Sisil dan keluarganya berdoa memohon mujizat dari Tuhan agar kedua orangtuanya bisa bertahan hidup. "Sil, nih Bou (bibi) bawakan bubur. Kamu belum sarapan, ‘kan?" tanya Bou Mawar, Mamanya Dion. "Ehh, Om, Bou, Dion," Sisil menyapa ketiganya yang baru saja tiba di ruang tunggu ICU. "Makasih, Bou. Aku ngga lapar," tolak Sisil halus. Dia memang tidak nafsu makan karena kepikiran kondisi papa dan mamanya. "Makan dong, Sil. Kalo ngga mau makan ntar malah kamu ikutan sakit, loh." Dion menyodorkan rantang yang berisi bubur ayam buatan mamanya. "Makan ya, Sil," bujuk Dion lagi. Walaupun sedang tidak nafsu makan, akhirnya Sisil terpaksa makan bubur yang dibawa Mama Dion. Dia tidak mau jatuh sakit. Dia ingin kuat supaya bisa menjaga kedua orangtuanya di rumah sakit. Kedua kakak dan abangnya sudah berkeluarga dan anak-anak mereka juga masih kecil-kecil, jadi tidak bisa stand by jaga di rumah sakit. Perlahan Sisil menyuapi bubur ke mulutnya. Tiba-tiba, seorang perawat keluar dari ruang ICU dengan tergesa-gesa. Lalu perawat itu kembali bersama beberapa dokter dan perawat yang lain. Sisil pun langsung berhenti menyuapi bubur ke mulutnya. Tangannya bergetar, jantungnya berdegup kencang. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang tuanya. Beberapa waktu kemudian, para perawat dan dokter keluar dari ruang ICU. Mereka menghampiri Sisil dan keluarganya Dion di ruang tunggu. "Apakah ini keluarga Pak Jhonson?" tanya sang dokter. "Iya, Dok," jawab Mama Dion. Sisil sudah tidak bisa berkata-kata. Bibirnya tiba-tiba menjadi kelu. Dia punya firasat buruk di dalam hatinya. "Ya, Pak, Bu, Adek-adek. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk Bapak dan Ibu Jhonson. Namun kami mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka berdua.” Sang dokter kemudian menjelaskan keadaan tadi di dalam ICU. Papa Sisil lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya dan disusul Mama Sisil setengah jam kemudian. Seolah-olah mereka memenuhi janji awal pernikahan mereka, bahwa mereka akan bersama sampai maut memisahkan. Belum selesai sang dokter berbicara, Sisil sudah merasa dunianya menggelap tiba-tiba. Dia pun pingsan karena tak kuat mendengar kabar buruk mengenai kepergian kedua orangtuanya. Dengan sigap, Dion menangkap tubuh Sisil sebelum terjatuh ke lantai. Dia membopong Sisil ke sofa panjang di ruang tunggu. *** Seminggu sudah kepergian Papa dan Mama Sisil kembali ke Sang Khalik. Keberangkatan Sisil untuk kuliah ditunda karena dia dan keluarganya masih dalam suasana berduka. Sanak saudara pun berdatangan silih berganti memberikan kata-kata penghiburan buat keluarga Sisil. Tentu, sebagai anak paling bungsu, Sisil menjadi anak yang paling sedih menghadapi kenyataan ini. Ting Nada pesan WA menyadarkan Sisil dari lamunannya. Dia mengusap layar ponselnya. Sudah banyak pesan masuk di sana. Sisil membuka satu per satu pesan yang masuk, lalu matanya tertuju pada nama Dion. "Sil, kamu yang kuat ya. Semua pasti baik-baik saja. Kamu harus tetap semangat." Begitu isi pesan dari Dion. "Thanks, Di," balas Sisil. Tak berapa lama nada dering ponsel Sisil pun berbunyi. Nama Dion tertulis di layar. Sisil mengusap tanda hijau untuk menjawab panggilan dari Dion. "Hai, Sil," Dion mengawali percakapan mereka. "Hai, Dion." Sahut Sisil pelan, masih tak bersemangat. "Aku mau pamit, Sil. Besok aku berangkat ke Yogya.” "Oh ya, Di. Semoga kamu sukses, ya," jawab Sisil pelan. "Sil, kamu juga harus semangat, dong. Kamu juga harus kuliah, ya. Nanti aku akan sering-sering hubungi kamu. Walaupun kita beda kota, tapi kita bisa tetap bersahabat, ‘kan?" lanjut Dion. "Iya, Dion. Nanti aku kabari kamu, ya," jawab Sisil sedih. Tak terasa air matanya kembali mengalir. Ia menahan tangisnya agar di sana Dion tidak bisa mendengar isaknya. "Ok. Kamu yang kuat, ya. Bye, Sisil." "Bye, Dion," jawab Sisil lalu memutuskan panggilan dari Dion. Sisil terus memandangi layar ponselnya. Dia membuka galeri foto yang ada di sana. Yah, dia mengusap foto mama dan papanya. "Ya Tuhan, mengapa aku harus berpisah dari orang-orang yang aku sayangi? Mengapa mereka pergi secepat ini, Tuhan?" gumam Sisil dalam hati. Air matanya mengalir tak terbendung. Ia mengambil guling kesayangannya lalu menutup wajahnya. Sisil terus menangis sampai sarung gulingnya basah. "Dek, udah dong nangisnya. Nanti kamu malah sakit." Bang Paul duduk di pinggir ranjang Sisil sambil megusap rambut Sisil penuh kasih sayang. "Tapi ini ngga adil ‘kan buat Sisil, Bang," protes Sisil. "Sudah, ini semua di luar kemampuan kita. Kepergian Mama dan Papa memang sudah waktunya. Kita harus menerima dengan ikhlas. Kita harus tetap semangat, Dek." Bang Paul tetap mengusap rambut Sisil. Berharap adik bungsunya itu bisa tabah dan kuat menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya. "Sekarang ikut Abang. Kita makan, yuk. Udah jam 7 malam. Kamu belum makan apa-apa dari siang tadi." Bang Paul menarik tangan Sisil untuk turun dari ranjang dan mengajaknya ke ruang makan. Kepergian kedua orangtuanya membawa luka yang mendalam di hati Sisil. Remaja yang biasanya ceria itu berubah menjadi pendiam dan pemurung. Tapi Sisil bertekad untuk bisa menjadi anak yang membanggakan buat keluarganya. Dia tidak ingin terus berlarut-larut dalam kesedihannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN