New Life

1676 Kata
Dua minggu setelah kepergian orangtuanya, Sisil diboyong oleh keluarga pamannya untuk tinggal dan kuliah di Jakarta. Sesuai dengan rencana, Sisil mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta yang berlokasi di sebelah timur kota Jakarta. Sisil tinggal di sebuah asrama yang disediakan pihak kampus karena rumah pamannya agak jauh dari tempat Sisil kuliah. Banyak hal baru yang dihadapi Sisil di kampusnya. Tidak begitu sulit bagi Sisil untuk beradaptasi dengan suasana di tempat yang baru ia kunjungi. Teman sekamarnya juga langsung akrab dengan Sisil. Sifat Sisil yang supel membuatnya mudah untuk mendapatkan teman. Sisil baru saja masuk ke kamarnya ketika ponsel yang ada di ranselnya bergetar. Dia tersenyum melihat nama yang muncul di layar. "Halo, Di. Gimana kabarnya?" Sisil mengawali pembicaraan dengan nada bahagia. "Baik. Kamu gimana di sana?" tanya Dion tak kalah gembira. "Baik juga, Di,” sahut Sisil. "Syukur deh kalo gitu. Dengar kamu happy gini aku udah tenang," lanjut Dion. Kedua sahabat itu melanjutkan pembicaraan mengenai hal-hal yang mereka jalani setelah seminggu tak bertukar kabar. "Udah ya, Sil. Aku mau jemput Angel dulu. Nanti aku call kamu lagi," tutup Dion sambil mengakhiri pembicaraan hangat mereka. Setelah tinggal di kota yang berbeda, Sisil dan Dion tetap sering bertukar kabar. Walaupun sebentar, Dion tetap menyempatkan diri untuk menelepon Sisil. Hal ini membuat Sisil lebih bersemangat dan bisa menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa dan mulai merelakan kepergian kedua orangtuanya. "Duh, siapa tuh barusan yang nelpon?" sapa Sonya, teman sekamar Sisil. "Hai, Nya. Kamu udah pulang? Tumben, biasanya jam segini masih kelayapan?" balas Sisil tanpa menghiraukan pertanyaan Sonya. "Iya, lagi ngga mood. Pengen rebahan aja. Hayo, siapa tadi yang telpon? Pacar ya?' goda Sonya. "Oh, yang tadi temen aku," jawab Sisil masih dengan senyum simpul di bibirnya. "Temen apa temen? Kok kayaknya happy banget, sih?" selidik Sonya. "Iya, dia temen SMA aku. Namanya Dion, sekarang kuliah di Yogya," jawab Sisil sambil melenggang masuk ke kamar mandi meninggalkan Sonya yang memonyongkan bibirnya karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Sisil. "Sil, tebak tadi aku ketemu sama siapa?" ucap Sonya setelah Sisil selesai berganti pakaian. "Siapa, Nya?" tanya Sisil penasaran. "James, dia titip salam sama kamu. Kayaknya dia naksir kamu, Sil," goda Sonya sambil mengerlingkan sebelah matanya. "Ngga mungkin, Nya," jawab Sisil. Tak ada rencana memulai hubungan pacaran di benaknya. Selain karena ingin serius kuliah, Sisil juga belum bisa melupakan sosok Dion yang masih memenuhi relung di hatinya. "Tapi kayaknya dia beneran suka sama kamu, Sil. Tadi dia minta nomor telepon kamu, ya aku kasih deh." "Aku ngga mau pacaran dulu, Nya. Baru juga mulai kuliah dah mau pacaran," ujar Sisil sambil merebahkan diri di kasurnya. Drrttt drrtttt Ponsel Sisil di atas meja bergetar. Sisil meraih ponselnya dan melihat nomor asing yang tertera di layar. 'Ya, halo. Maaf ini dengan siapa ya?” Sisil mengawali pembicaraan. "Ini Sisil, ya?" Suara bariton khas lelaki dewasa terdengar di ujung telepon. "Iya. Ini siapa ya?" Sisil bertanya dengan sambil mengernyitkan dahinya tanda penasaran. "Ini James, jangan lupa save nomorku ya," ucap pria tampan tersebut. "Oh iya, James," jawab Sisil. Setelah mengobrol sekitar 15 menit, Sisil mengakhiri pembicaraan karena memang tidak tahu lagi topik apa yang mau dibicarakan. Sonya senyum-senyum saja menggoda setelah Sisil kembali meletakkan ponsel di atas meja. "Panjang umur tuh orang. Baru aja diomongin, hehehe," kekeh Sonya. "Udah, dijalanin aja dulu, Sil. James itu ‘kan ganteng, kayaknya juga baik. Pengenalan aja dulu," ucap Sonya serius. "Udah ah, jangan diomongin terus. Jangan-jangan kamu suka ya sama James," goda Sisil. "Ya, kalau dideketin aku mah terima aja. Mana mungkin nolak cowok ganteng kayak dia. Kebetulan aku ini masih jomblo," jawab Sonya yang dihadiahi lemparan bantal oleh Sisil. Sebenarnya Sisil juga mengagumi sosok James, anak fakultas teknik tingkat tiga itu. Usianya dua tahun di atas Sisil. Pertemuan mereka saat itu di pintu gerbang asrama. Sisil kebingungan karena harus mengangkat kopernya ke lantai dua. Baru beberapa anak tangga, Sisil sudah kewalahan karena kopernya yang besar dan berat. Flashback on "Sini aku bantu," ucap James sambil meraih koper dari tangan Sisil dan mengangkatnya menaiki anak tangga. Sisil hanya terdiam dan mengikuti pria itu dari belakang. "Kamarnya nomor berapa?" tanya James. "121," sahut Sisil pendek. James menarik koper Sisil menuju pintu bertuliskan nomor 121. "Nih, kopernya.” James menyerahkan koper yang tadi dipegangnya ke depan Sisil setelah mereka tepat berada di depan pintu kamar Sisil. "Terimakasih, ya," ucap Sisil. "Kenalin, namaku James. Aku tinggal di seberang, di asrama cowok," ucap James saat itu sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Sisil. "Namaku Sisil," jawab Sisil sambil menerima jabatan tangan James. Ia masih terpana dengan pemandangan yang ada di depannya. James memang berparas tampan. Tingginya sekitar 180 cm membuat Sisil harus mendongak untuk menatap matanya. Flashback off Sejak pertemuan itu, Sisil beberapa kali bertemu James karena mereka tergabung dalam kelompok paduan suara kampus. Namun Sisil masih agak canggung untuk berbincang lama dengan James karena tiap mereka berdua sedang bercakap-cakap, Sisil sering mendapatkan tatapan tajam dari mahasiswi-mahasiswi cantik yang juga mengagumi James. Hari-hari Sisil di kampus diisi dengan kegiatan kuliah, paduan suara, dan menjadi seorang pengajar paruh waktu di sebuah tempat kursus untuk anak-anak sekolah dasar. Kesibukannya mampu mengubur kesepian akibat kepergian orangtuanya. Ia bisa sedikit melupakan rasa rindunya untuk keluarganya dan tentunya juga untuk Dion. Dalam sekejap mata, sudah dua tahun Sisil menjalani masa kuliahnya. Hubungan persahabatannya dengan Sonya semakin erat walaupun sekarang mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. James tetap melancarkan usahanya untuk mendekati Sisil walaupun setelah berkali-kali mengungkapkan perasaannya jawaban Sisil selalu sama. Menolak cintanya dan hanya minta untuk bersahabat. Sisil juga terkadang memperlakukan James seperti abangnya sendiri. Saat mahasiswa tampan itu sibuk mengerjakan skripsinya, Sisil selalu bersedia menemaninya mengunjungi perpustakaan untuk tambahan referensi yang ia butuhkan. Namun ada satu hal yang berubah. Dion semakin mengurangi frekuensinya menghubungi Sisil dengan alasan banyak tugas yang harus dikerjakan. Sisil tahu bahwa pria itu tak hanya sibuk dengan tugasnya, tapi juga sibuk dengan urusannya dengan sang kekasih hati, yaitu Angel. Sisil masih berusaha untuk menata hatinya dan menerima kenyataan bahwa cintanya tetap bertepuk sebelah tangan. Hari ini Sisil ada janji untuk bertemu dengan James dan Sonya. James sudah menyelesaikan sidang skripsinya dengan hasil yang baik dan dia ingin berbagi kebahagiaan dengan mentraktir kedua sahabat cantiknya itu. "Sil, di sini," panggil James dan Sonya yang sudah sampai terlebih dahulu di restoran sea food langganan mereka. Sisil berjalan menghampiri. "Sori banget ya, aku telat. Tadi bantuin Agung, murid aku kerjain PR-nya.” Sisil meletakkan tas kecilnya di atas meja dan duduk di kursi kosong yang berada di samping James. "Iya, ngga apa-apa, Bu Guru Cantik," goda James yang dihadiahi Sisil dengan tepukan halus di bahunya. "Ayo, pesen. Aku udah laper nih," ujar Sonya sambil meremas perutnya. James mengambil buku menu dan menuliskan pesanan mereka. "Kok pesennya banyak banget, sih?" tanya Sisil melihat daftar pesanan yang dibuat James. "Iya, Sil. Nanti abangku mau ikutan, kebetulan tadi dia yang antar aku ke sini," jawab Sonya. "Bang Ryan?" tanya Sisil. Ryan adalah abangnya Sonya. Dia seorang dokter kandungan di sebuah rumah sakit swasta dan saat ini sedang mengambil subspesialis onkologi. "Yup, tuh dia dateng," tunjuk Sonya ke arah pintu masuk. "Hai, aku Ryan, Abangnya Sonya. Ikutan gabung boleh 'kan?" sapa Ryan disambut anggukan kepala oleh James dan Sisil. "Sisil," ucap Sisil sambil tersenyum dan membalas jabatan tangan Ryan. Dia memang sudah sedikit tahu tentang Ryan dari Sonya, tapi baru pertama kali bertemu dengannya. "James," ucap James sambil menjabat tangan Ryan. Setelah makan, keempat orang itu lanjut mengobrol dengan hangat. Ada satu hal yang membuat Sisil kurang nyaman. Selama mengobrol, Ryan selalu memberikan senyuman termanisnya kepada Sisil. Ia juga sesekali menangkap Ryan yang sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Setelah selesai acara makan malam, Sonya meminta Ryan untuk mengantar Sisil pulang ke asrama dengan alasan dia mau menemani James ke mall untuk mencari kemeja yang mau dipakainya untuk acara wisuda nanti. Ryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jarak dari restoran ke asrama Sisil bisa memakan waktu satu jam. Suasana di dalam mobil pun terasa kikuk. Sisil sadar bahwa ini adalah skenario yang dibuat Sonya. Sudah beberapa kali Sonya mencoba untuk menjodohkan Sisil dengan beberapa pria dan semuanya tidak ada yang bisa membuat Sisil jatuh cinta. "Sil, aku dengar dari Sonya kamu kuliah sambil ngajar part time, ya?" tanya Ryan memecahkan keheningan. "Iya, Bang,' jawab Sisil pendek. "Bagus itu. Tapi jangan sampai ganggu kuliah kamu ya," lanjut Ryan. "Iya pasti, Bang. Terimakasih untuk perhatiannya," ucap Sisil sambil menoleh ke pria di sampingnya. Usia Ryan yang terpaut sekitar tujuh tahun dari Sisil membuat pria itu terlihat dewasa dan bersahaja. Parasnya tak kalah tampan dari James. Ada rasa nyaman seketika hinggap di hati Sisil ketika berada di sampingnya. Setelah beberapa waktu, mobil Ryan sudah terparkir di halaman depan asrama tempat Sisil tinggal. Ryan mengambil ponsel dari saku celananya kemudian memberikannya kepada Sisil. Sisil hanya menerima sambil mengangkat pelan kedua bahunya tanda kebingungan. "Minta nomor telepon kamu," ujar Ryan sambil tersenyum melihat Sisil yang kebingungan. Jari-jari lentik Sisil mengetikkan nomor ponselnya dan menyimpannya di ponsel Ryan lalu mengembalikan ponsel itu kembali ke tangan Ryan. Drrttt Drrttt Sisil mengeluarkan ponsel dari tasnya. "Itu nomorku. Jangan lupa di-save ya," ujar Ryan. Seketika Sisil seperti terhipnotis mendengar suara bariton Ryan. "Sini ponselnya," ucap Ryan sambil mengambil ponsel dari tangan Sisil. Kemudian dia mengetik namanya dan menyimpannya di ponsel Sisil, lalu mengembalikan ponsel itu ke tangan Sisil. Sisil masih saja terpana ketika Ryan mendekatkan wajahnya ke wajah Sisil. Spontan Sisil memundurkan wajahnya. "Seatbelt," ucap Ryan pelan seraya tersenyum dan melepaskan seatbelt Sisil. Sisil bisa mencium aroma parfum yang dipakai Ryan. d**a Sisil bergemuruh tak karuan dan salah tingkah sampai dia lupa untuk turun dari mobil. "Belum mau pulang? Atau mau jalan-jalan dulu sama aku?" goda Ryan sambil tersenyum. "Eh, iya. Aku ... aku pulang ya, Bang," jawab Sisil seraya mengutuki kegugupannya. "Ya udah, langsung masuk kamar ya," ucap Ryan ketika Sisil turun dari mobil. Sisil melambaikan tangannya kepada Ryan saat mobilnya mulai bergerak meninggalkan parkiran di halaman asrama tempat tinggal Sisil. Entah rasa apa yang hinggap di hati Sisil. Yang pasti dia tidak berhenti tersenyum sampai masuk ke kamarnya. Apa mungkin aku sedang jatuh cinta? Ahhh ... sepertinya tak mungkin. Aku belum begitu mengenalnya, gumam Sisil dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN