I'm Sorry, James

1945 Kata
Sinar mentari pagi masuk melalui celah jendela kamar Sisil. Dengan malas Sisil membuka matanya. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Sontak Sisil bangun dan meninggalkan kasurnya menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitas pagi harinya. Dengan terburu-buru Sisil membersihkan wajah dan menyikat giginya. Lalu ia membuka lemari dan mengambil celana kulot hitam dan kemeja biru laut dengan lengan sesiku. Sambil mengenakan pakaiannya, Sisil teringat akan Sonya. Dia tidak ada di kasurnya. Itu artinya semalam dia tidak pulang. Secepat kilat Sisil mengambil ponselnya dan kemudian menelpon Sonya. "Halo, Nya. Kamu di mana? Kok ngga pulang semalam?" Sisil langsung memborbardir dengan sederet pertanyaan begitu panggilannya terjawab. "Sonya ada sama aku." Sisil kaget bukan main saat mendengar suara lelaki yang menjawab panggilannya. "Hei, siapa kamu? Kamu apain Sonya? Nanti saya laporin kamu ke kakaknya!" Sisil mendengus kesal karena khawatir akan keadaan sahabatnya. "Tenang saja. Sonya baik-baik saja kok. Dia masih tidur," jawab pria di seberang sana dengan nada santai. Mata Sisil seketika membulat mendengar jawaban pria tersebut. "Kamu siapa? Setahu aku Sonya belum punya kekasih, kenapa dia bisa tidur di tempat kamu?" tanya Sisil dengan nada penuh selidik. "Jangan marah, Cantik. Sonya sendiri yang datang dan meminta untuk tidur di tempatku. Katanya dia sudah kangen," goda pria tersebut. "Dasar pria brengsekk. Jangan pernah kamu sakitin Sonya!" ancam Sisil. "Hei, jangan berprasangka buruk. Aku tidak akan pernah menyakiti perempuan manapun. Apalagi kalau dia adalah adikku sendiri." Sisil terkejut mendengar jawaban pria tersebut. Spontan dia menepuk jidatnya dengan tangan kirinya. "Mmm ... maaf. Jadi Sonya nginep di tempat Bang Ryan?" tanya Sisil dengan gugup dan merasa bersalah. "Iya, habis dari mall dia mampir ke apartemenku. Lalu minta nginep karena sudah terlalu malam. Dia sudah coba hubungi kamu, tapi ponselmu tidak aktif." Ryan mencoba menjelaskan kepada Sisil agar gadis tersebut tidak khawatir tentang Sonya. "Ohh ... seperti itu, Bang. Maaf aku tadi salah sangka." Sisil sangat menyesali kebodohannya sudah mengatakan bahwa Ryan adalah pria b******k. "Tidak perlu minta maaf. Barangkali yang kamu katakan itu benar. Bisa jadi aku ini pria b******k," jawab Ryan sambil terkekeh. "Hmmm, aku rasa itu tidak benar. Ngga mungkin Bang Ryan seperti itu." Tidak mungkin Sisil mengiyakan jawaban Ryan. "Oh, kamu mulai percaya sama aku? Jangan-jangan kamu sudah mulai tertarik ya sama aku?" Ryan tersenyum-senyum sendiri sambil menggoda Sisil. Kalau sudah begini artinya isengnya lagi kumat. Biasanya Sonya yang menjadi korban keisengannya. Tapi saat ini sepertinya dia menemukan mainan baru. "A ... apa?" Sisil terkejut dengan ucapan Ryan barusan. Sisil tidak mengerti berapa kadar kepercayaan dirinya Ryan sampai dia bisa berkata seperti itu kepada gadis yang baru dikenalnya kemarin. "Ya, mungkin saja 'kan kamu itu jatuh cinta pada pandangan pertama sama aku? Aku ini 'kan pria tampan dan mapan." Ryan tidak mau berhenti menggoda Sisil yang saat ini bisa dipastikan pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus. Sisil hanya terdiam mendengar godaan dari Ryan. Tak disangkanya jika Ryan yang berprofesi sebagai seorang dokter bisa seiseng itu. Di mata Sisil, dokter adalah orang yang serius dan tidak banyak bicara. Aneh memang cara pandang Sisil. Dia mungkin lupa bahwa dokter juga manusia. "Kamu tenang saja. Nanti Sonya aku antar pulang sebelum makan siang. Sekalian kita makan siang bareng, ya," ucap Ryan memecah keheningan. Lagi-lagi Sisil hanya bisa tercengang dengan jawaban Ryan. Apaan sih nih orang, baru juga kenal kemarin udah ngajak makan siang bareng, batin Sisil. “Emangnya Abang bolehin Sonya bolos kuliah?" tanya Sisil berharap agar pria itu tidak terus menerus menggodanya. "Kamu ini, Sil. Usia baru dua puluh tapi sepertinya sudah pikun, ya. Begini nih kalau jomblo. Pikirannya kuliah terus," goda Ryan. "Apa hubungannya pikun sama jomblo, Bang?" tanya Sisil penasaran. "Kamu ini polos apa bodoh, sih? Pikun sama jomblo ya ngga ada hubungannya. Tapi ... kalau aku sama kamu, bisa saja kita bangun hubungan, hehehe...." Ryan terkekeh sambil memegang perutnya. 'Sungguh polos gadis ini,' batinnya. Tak ada jawaban dari Sisil karena dia hanya berdiri mematung. Tangan kanannya masih menempel memegang ponsel di telinganya, sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya yang menganga. Masih terkejut dengan rayuan gombal Ryan. "Hehehe, maafkan kekonyolanku ini, ya. Sisil, aku hanya membantu supaya kamu ingat. Ini hari Minggu. Kamu jangan ke kampus, mendingan tungguin orang tampan ini, ya. Nanti kita makan siang bareng, sama Sonya juga. Aku yang traktir." Ryan memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Sisil. Sisil meletakkan ponselnya di atas kasur sambil merutuki kebodohannya. Bagaimana mungkin dirinya bisa lupa kalau ini hari Minggu? Entah mengapa setiap godaan yang diluncurkan oleh Ryan sanggup membuatnya senyum-senyum sendiri. Sisil langsung berganti pakaian. Mengganti celana kulot hitamnya dengan celana pendek selutut dan kemeja biru lautnya dengan kaos putih sedikit ketat yang sanggup menunjukkan kemolekan tubuhnya. Sisil kembali tiduran di kasurnya dengan ponsel di tangan kanannya. Rasa penasaran dengan sosok Ryan membuatnya ingin tahu sedikit atau banyak hal tentang pria itu. Sisil membuka aplikasi media sosial berlogo biru dan membuka profil Sonya. Ada beberapa foto Sonya dengan Ryan. Mereka memang memiliki beberapa kemiripan. Mulai dari hidung yang mancung, iris mata berwarna coklat gelap, dan kulit yang putih. Beneran tampan nih abangnya si Sonya, batin Sisil. Pencarian Sisil tak hanya sampai di situ. Dia pun membuka profil pria itu, Ryan Indrawan. Yang membuat Sisil terkejut adalah melihat beberapa foto Ryan dengan beberapa wanita yang berbeda. Dan buat Sisil, pose yang mereka tunjukkan sepertinya bukan pose yang bisa dilakukan teman biasa. Ada yang bergandengan tangan, ada juga pose di mana Ryan melingkarkan tangannya di bahu atau di pinggang teman wanitanya. Apa jangan-jangan dia beneran cowok b******k? Ah, masa bodo amat, batin Sisil sambil menyentuh layar ponselnya untuk keluar dari aplikasi media sosial tersebut. Tak terasa jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.00. Perut Sisil mulai keroncongan minta diisi. Sisil mengambil cardigan tipis miliknya dan mengenakannya sebelum beranjak keluar dari kamar untuk mencari sarapan. Nasi uduk Mbak Susi menjadi pilihannya. Harga kaki lima rasa bintang lima. Begitu jargon yang tertulis di spanduk di warung nasi uduk ini. "Mbak, pesen nasi uduknya satu, ya," pesan Sisil sambil mendudukkan bokongnya di kursi plastik hijau yang sudah tersedia. "Loh, satu aja? Temennya ngga ikut?" tanya Mbak Susi sambil menuangkan teh tawar hangat ke gelas besar di depan Sisil. "Sonya lagi di rumah abangnya, Mbak," jawab Sisil lalu menyesap teh tawar hangat beraroma melati. "Boleh sarapan bareng?" James menghampiri Sisil dan duduk di kursi plastik di sebelah Sisil. Sisil yang masih meneguk tehnya menjawab dengan memberi anggukan kepala. "Hai, James," sapa Sisil sambil meletakkan gelasnya di atas meja. Diambilnya gelas kosong, mengisinya dengan teh tawar hangat dari teko besar dan memberikannya kepada James. "Pesen apa, Mas Ganteng?" tanya Mbak Susi. Ia meletakkan pesanan Sisil dan mempersilakannya untuk menikmati sarapannya. “Nasi uduk, kasih sambel. Oh ya, kasih telur dua ya, Mbak," jawab James sambil mengacungkan dua jarinya. "Ihh ... si Mas Ganteng. Udah punya telur dua masih mau tambah dua lagi?" goda Mbak Susi sambil mengerling nakal. Mbak Susi memang sering menggoda mahasiswa pria yang menjadi langganannya. Hanya sebatas menggoda, tak lebih. "James, kamu makan telur empat biji? Hati-hati, nanti kolesterol," ucap Sisil serius sambil menepuk-nepuk bahu James. Dia tidak paham akan candaan nakal dari Mbak Susi. "Hahahaha ..." Suara tawa James membahana, mengisi warung nasi uduk Mbak Susi. Sisil hanya bisa melotot tak mengerti mengapa James bisa tertawa sekeras itu. Padahal menurutnya tidak ada yang lucu. "Mbak Susi, jangan bercanda yang aneh-aneh. Di sini ada anak di bawah umur," lanjut James sambil terus tertawa. Hanya saja suara tawanya sudah agak pelan, tidak sekeras tadi. "Di bawah umur? Maksudnya aku?" tanya Sisil sambil menunjuk dirinya sendiri. James hanya mengangguk sambil menahan tawa melihat kepolosan Sisil. "Aku ini sudah dua puluh tahun, mana mungkin di bawah umur?" gumam Sisil kemudian menyuapi sendok ke mulutnya. "Kalau ngga paham maksudnya Mbak Susi, aku anggap kamu masih di bawah umur," ucap James pelan sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Sisil. Sisil merasa aneh sekali. Sepagi ini sudah dua pria tampan menggodanya. Mimpi apa dia semalam? Terserah, gumam Sisil pelan. James tersenyum simpul melihat Sisil yang sepertinya masih bingung. Setelah selesai menikmati sarapan, Sisil memutuskan untuk berjalan bersama James di taman yang tak berapa jauh dari asrama. Suasana Minggu pagi membuat taman itu lebih ramai dari biasanya. Banyak papa dan mama muda membawa balita mereka untuk bermain di playground yang tersedia di taman. Sisil dan James mendapatkan spot nyaman di bawah pohon dan duduk bersisian di atas kursi kayu yang hanya muat untuk dua orang. "James, setelah lulus nanti apa rencana kamu?" Sisil membuka pembicaraan. "Kerjalah, masa nikah? Kalau kamu mau aku nikahin sih aku bersedia," jawab James sekenanya yang dibalas tonjokan Sisil di lengannya. Sisil bingung, dia yang menonjok tapi dia juga yang kesakitan. "Duh, lengan kamu dari besi ya, James? Tangan aku sakit nih," keluh Sisil. "Emang aku Gatot Kaca? Nih, lihat hasil kerja keras aku di gym," James menggulung lengan kaosnya sambil menunjukkan ototnya yang menurut Sisil seperti talas bogor. "Udah, turunin kaosnya. Ngga malu ya, keteknya diliatin banyak orang." James terlihat enggan kembali menurunkan lengan bajunya, masih bangga dengan otot lengannya yang besar. Terpaksa Sisil sendiri yang menurunkan lengan kaos putih James. "Mana bulu keteknya banyak lagi. Dasar, ngga tau malu," gerutu Sisil. "Itu baru jalanannya, belum terminalnya," goda James sambil tersenyum iseng. Dia ingin melihat bagaimana reaksinya Sisil. "Aku lagi ngomongin bulu ketek kamu tuh, James. Malah jawabnya terminal. Yang aku tau cuma terminal Kampung Rambutan sama Kampung Melayu. Itu sih yang paling dekat ke sini. Itu pun setau aku, ya." Sisil memang tak paham kalau dirinya sedang digoda oleh James. Jawabannya malah membuat James terbahak-bahak, malah suara ketawanya lebih keras daripada saat tadi di warungnya Mbak Susi. "Polos banget sih kamu, Sil," ucap James sambil mengacak-acak rambut Sisil. Sisil hanya menggeleng pasrah, membiarkan James mengelus kepalanya. Setiap James melakukan hal tersebut, rasa rindu Sisil kepada Bang Paul bisa terobati. Ya, Sisil sudah menganggap kedekatannya dengan James seperti kedekatannya dengan Bang Paul, abang kandungnya. "Aku ditawari pekerjaan oleh rekanan papa. Jadi teknisi di pabrik mobil di Tangerang," jawab James kembali ke mode serius. "Yah, berarti kita bakal jarang ketemuan dong." Sisil sedih membayangkan kalau dia akan berjauhan dari James. “Kamu jadi pacar aku aja, ya. Nanti tiap malam Minggu aku apelin. Gimana, ideku cemerlang 'kan?" James tetap tak gentar menyatakan cintanya kepada Sisil. Kali aja berhasil, batinnya. "James, please jangan gitu dong. Aku kan sudah berkali-kali bilang kita sahabatan aja. Aku ngga bisa, James," keluh Sisil. Sebenarnya dia tidak enak hati menolak cinta James. Tapi dia juga tidak mungkin membohongi perasaannya sendiri. "Mengapa?" James menatap mata Sisil dalam-dalam. Berharap mendapat jawaban dari sana. Sisil mengalihkan pandangannya dari James. "Aku mencintai orang lain, James. Aku tidak mungkin menerima cinta kamu, sementara aku masih menunggu cintanya. Kamu sahabat aku, ngga mungkin aku menjadikan kamu seperti ban serep." Baru kali ini Sisil menjelaskan kepada James tentang isi hatinya. "Siapa?" tanya James lalu menarik napas dalam-dalam. "Teman masa kecilku, namanya Dion. Sekarang kuliah di Yogya. Jadi, James, setelah ini aku mohon kamu cari cinta yang lain." Sisil tak bisa lagi berbasa-basi dengan James. Dia tak ingin James kehilangan waktunya hanya untuk menunggu Sisil membuka hati. “Kamu bisa coba mengenal Sonya lebih dalam. Dia menyukaimu, lebih dari seorang teman. Dia sudah mulai suka sama kamu sejak kami masih kuliah tingkat satu,” lanjut Sisil. "Tapi, Sil ...." Ada keraguan dalam hati James mengenai Sonya. James bisa merasakan bahwa Sonya menyukainya, tapi ia hanya menganggapnya sebagai teman. "Kamu bisa mencobanya pelan-pelan. Sonya itu anak yang baik, perhatian juga. Please, jangan tunggu aku ya, James." James hanya bisa menunduk. Melihat celana pendek selutut berwarna hitam yang dikenakan Sisil. Bahkan Sisil juga mengenakan sandal jepit hitam dan kaos putih polos, sama seperti yang dikenakan James. Sisil memang memiliki beberapa kesamaan dengan James. Mulai dari makanan, minuman, dan warna kesukaan. Tapi sepertinya dalam percintaan mereka tidak berjodoh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN