Setelah menghabiskan beberapa waktu di taman, James mengajak Sisil untuk berjalan pulang ke asrama. Sinar matahari yang cerah membuat Sisil kegerahan dan membuka cardigan-nya dan menentengnya di pergelangan tangannya. Berjalan bersisian di taman bersama James kembali mengingatkan Sisil kepada Dion. Dia juga dulu sering berjalan berdua di taman yang tak jauh dari komplek rumah Sisil.
Sisil yang masih melamun terkejut ketika James berbisik di telinganya. "Pakai lagi cardigan-nya." Sisil mendongak menatap mata James lalu mengangkat kedua bahunya.
"Dari tadi cowok-cowok perhatiin kamu. Bajumu itu loh, udah putih, ketat, pake daleman warna item," bisiknya lagi. Sisil masih terbengong saat James mengambil cardigan dari pergelangan tangannya, menggantungnya di kedua bahunya.
"Begini lebih baik," ucap James pelan lalu melingkarkan tangan kanannya di bahu Sisil.
"Jadi kamu juga perhatiin aku?" tanya Sisil malu. Mukanya sudah memerah sambil menyesali diri karena sudah melepas cardigan-nya.
"Ya, iyalah. Pemandangan indah kok dilewatkan." James mengerutkan wajahnya menahan tawa melihat reaksi Sisil. Sisil marah hendak melepaskan tangan James dari bahunya tapi tak berhasil. Semakin kuat Sisil mencoba menurunkan tangan James, semakin keras cengkeraman pria itu di bahunya.
"Jangan dilepas. Biar cowok-cowok itu berhenti liatin kamu." James mengeratkan rangkulannya di bahu Sisil. Benar saja, Sisil perhatikan cowok-cowok yang sedang berkumpul di pinggir taman mulai mengalihkan pandangan mereka. Mungkin mereka menganggap James adalah pacar Sisil yang siap menerkam kalau mereka betah memandang Sisil berlama-lama.
"Makanya, jangan terlalu cantik. Kalau keluar rumah jangan terlalu seksi. Nanti mengundang niat jahat," nasihat James tulus. Tak rela dia bila Sisil menjadi santapan pria tak bertanggung jawab. Apalagi Sisil itu polosnya minta ampun. Sisil hanya bisa mengangguk mendengar nasihat dari James.
"James, terimakasih ya sudah jadi sahabat yang baik buat aku," ucap Sisil pelan tanpa memandang James.
"Apa sih yang ngga buat cewek secantik kamu," goda James yang dihadiahi cubitan di perutnya. Tapi Sisil bingung karena tidak ada lemak di perut James yang bisa dicubitnya.
"Lengan kamu keras, perut kamu keras. Ini badan kamu kok keras kayak papan, sih?" Sisil mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Aku kan rajin gym. Yang keras itu ngga cuma lengan sama perut aku loh."
"What? Ada lagi yang keras?" Sisil keheranan dengan jawaban James.
James menganggukkan kepalanya. "Di bagian bawah ada yang keras banget," ujarnya dengan wajah pura-pura serius.
Sisil menyepakkan kaki kanannya ke betis James seakan-akan menguji seberapa kerasnya betis itu. James melihat itu tak bergeming. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sesuatu di bawah sana memang mengeras seketika melihat Sisil membuka cardigan-nya. Kaos putih Sisil memang tak begitu ketat, tapi berbahan agak tipis sehingga mampu mencetak apa yang ada di dalamnya. James sempat berpikiran kotor melihat pemandangan indah tadi. Beruntung Sisil tak menyadari apa maksud perkataan James. Kalau tidak, dia pasti salah tingkah sekarang.
"Udah puas? Terus aja sepak betisku. Nanti kulaporkan dengan pasal KDRT." Spontan Sisil menghentikan aksinya menyepak betis James. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sisil sibuk berpikir mengenai bagaimana caranya agar James mau mendekati Sonya. Sedangkan James sibuk untuk membuang pikirannya tentang isi kaos putihnya Sisil. Setelah 15 menit berjalan pelan, keduanya sampai di gerbang asrama
"Nanti makan siang bareng, yuk." Sisil kembali teringat akan ajakan Ryan. Nanti Bang Ryan mau traktir, sama Sonya juga. "Nanti kalo Sonya udah nyampe aku kabari kamu, ya." James hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangan ke arah Sisil yang sudah melangkahkan kakinya ke pintu gerbang asrama perempuan.
Tepat jam 12 siang, Sisil sudah siap dengan blouse hitam yang sedikit longgar, dipadankan dengan jeans ketat biru dan sneakers putih senada dengan tas kecil yang sudah diselempangkan di bahunya. Disapunya wajah mulusnya dengan bedak tipis dan dipolesnya sedikit blush on di pipinya. Tak lupa dia memoleskan sedikit lipstick berwarna softpink di bibirnya. Sekali lagi Sisil merapikan rambutnya yang hitam legam sebahu.
Tak berapa lama terdengar suara notifikasi pesan di ponsel Sisil yang masih di atas kasur. Pesan itu dari Sonya. Dia dan Ryan sudah ada di luar gerbang asrama. Sisil keluar kamar, mengunci pintu lalu berjalan menuruni tangga sambil menelepon James, memintanya keluar dan bertemu di gerbang asrama.
"Tuh, kita kayaknya jodoh, Sil. Tadi pagi kita samaan pakai baju putih, celana dan sandal jepit hitam. Sekarang, kita samaan. Baju hitam, jeans biru, sneakers putih." Sisil hanya diam mendengar celotehan James. Merasa diabaikan, James pun diam dan berjalan bersisian dengan Sisil menuju mobil hitam milik Ryan. Sonya sudah melambaikan tangan dan berteriak memanggil mereka.
"Anak gadis ngga bagus teriak-teriak, kayak di hutan aja," ujar Ryan sambil memperhatikan Sisil yang tampak cantik. Tapi dia langsung cemberut melihat pria di sebelah Sisil yang terus berjalan sambil merangkulkan tangan di bahunya.
"Mereka pacaran?" tanya Ryan kepada Sonya.
"James naksir berat sama Sisil. Dua tahun ini udah berkali-kali cintanya ditolak. Tapi tetap aja ngebet," jawab Sonya dengan sedikit nada kecewa. Dia pikir setelah ditolak sekali, James akan berhenti mengejar Sisil dan bisa melihat keberadaannya yang diam-diam mengagumi pria tampan tersebut.
"Oh, jadi cinta segitiga nih? Kamu suka James, James suka Sisil?" tanya Ryan penuh selidik. Dia mengerti kalau adiknya itu jatuh cinta kepada James. Dia sudah melihatnya saat pertemuan mereka beberapa hari lalu, saat Ryan ikut makan malam bersama James dan Sisil.
"Bukan segitiga, tapi segiempat. Sisil itu selalu menolak cintanya James karena dia masih mencintai sahabatnya sejak kecil. Tapi sahabatnya sudah punya pacar. Ah, bukan segiempat, tapi segilima" sepertinya. Ryan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari sang adik tersayang. Sejujurnya, Ryan suka dengan Sisil dari awal pertemuan mereka. Sisil yang cantik, ramah, sopan, dan polos. Ryan masih ingat mimik wajah Sisil saat dia membantu gadis itu membuka seatbelt-nya.
"Hai Nya," sapa James sambil membukakan pintu mobil Ryan dan mempersilakan Sisil untuk masuk terlebih dahulu.
"Kalian janjian ya pakai baju hitam?" Sonya menyesal tadi tidak jadi memakai baju hitam malah menggantinya dengan baju merah tua.
"Kayaknya sih kami jodoh, Nya. Ngga janjian tapi baju, celana, sepatu, warnanya samaan." Sisil menginjak kaki James mendengar jawabannya yang absurd itu.
"Jangan-jangan Sisil berjodohnya sama aku," ujar Ryan sambil menunjukkan kaos hitamnya. Benar saja, baju, celana, dan sneakers-nya berwarna senada dengan yang dikenakan James dan Sisil. Sisil hanya bisa mendelikkan matanya ke arah Ryan. Pasti Ryan akan menggodanya lagi.
"Hahahaha, jangan dibawa ke hati. Aku cuma bercanda. Hari ini aku traktir kalian makan dan nonton." Ryan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan asrama.
"Abang lagi kenapa nih, kok hari ini baik banget?" Sonya terheran-heran dengan tingkah abangnya. Ini adalah kali pertama abangnya itu mentraktirnya dengan teman-temannya. Biasanya dia hanya mengajak Sonya sendiri. Itu pun jarang sekali.
"Pria tampan dan mapan kayak aku wajar dong traktir kalian makan sama nonton. Anggap aja ini double date. Aku sama Sisil, Sonya sama James." Ucapan Ryan membuat Sisil terkejut. Apa? Dating? batinnya. Begitu juga dengan Sonya. Dia terperangah mendengar ucapan abangnya, khawatir kalau abangnya akan bilang ke James kalau dia menyukai pria itu. James sendiri kesal dengan Ryan. Tau begini, mending aku ajak Sisil nonton berdua aja, batinnya.
Acara makan siang pun usai dan dilanjutkan dengan acara menonton. Ryan memilih film yang bercerita tentang peperangan dua negara. Sepasang tentara yang berasal dari dua negara terperangkap dalam cinta yang mengakibatkan keduanya harus diberikan hukuman mati. Akhir cerita yang sedih membuat Sisil dan Sonya ikut menangis sesenggukan. Hal ini menjadi kesempatan buat Ryan untuk mengelus puncak kepala Sisil agar ia berhenti menangis. James hanya bisa melihat tak dapat meraih Sisil karena di sebelahnya ada Sonya. Ada rasa kesal dalam hati James melihat kelakuan Ryan yang memang seakan-akan mengatur semuanya agar dia bisa lebih dekat dengan Sisil. Di restoran juga Ryan menempatkan Sisil untuk duduk berdampingan dengannya.
Setelah menonton selama hampir dua jam, keempat anak muda tersebut mulai meninggalkan gedung bioskop bersama dengan para pengunjung yang lain. Senyum mengembang di mulut Ryan menunjukkan betapa bahagia hatinya saat ini.
"Aku senang jalan sama kalian," ucap Ryan sambil mulai menyetir mobilnya meninggalkan parkiran. "Berasa balik lagi kayak anak kuliahan," lanjutnya.
"Besok-besok traktir lagi ya, Bang," balas Sonya yang duduk di jok tengah bersama Sisil.
"Iya, tapi ngga rame-rame begini. Aku berdua sama Sisil aja date-nya." Ryan menggoda Sisil sambil mencuri pandang lewat kaca spion. Sisil hanya bisa melongo tidak menyangka Ryan akan terang-terangan menjadikannya target.
"Ehem," James hanya bisa berdehem berharap Ryan akan menghentikan aksinya menggoda Sisil. Dia dapat melihat ada yang berbeda dari pandangan Ryan kepada Sisil. Sekarang mereka sedang menjadi rival untuk mengejar cinta Sisil.
"Bagaimana, Sisil mau nge-date sama aku?" tawar Ryan. Sisil merasa terpojok mendengar tawaran Ryan. Diterima salah, ditolak mentah-mentah juga tidak enak.
"Next time aja diomonginnya, Bang. Aku minggu-minggu ini lagi agak sibuk. Banyak tugas, trus anak-anak les mau pada ujian," tolak Sisil halus. Jantungnya bergemuruh kencang seperti habis lari sprint. Baru kali ini ada pria yang mengajaknya dating setelah dua kali bertemu. Dulu James baru berani mengajaknya jalan berdua setelah kenalan selama tiga bulan.
"Ok, kita bicarain lain kali aja. Tapi pastinya hanya kita berdua ya, Sil. Sonya biar jalan sama James saja, hehehe," kekeh Ryan sambil masih sesekali mencuri pandang ke arah Sisil dari kaca spion. James hanya bisa mengumpat dalam hati melihat kelakuan Ryan yang di matanya sudah seperti ABG tua. Ngga sadar umur, batinnya.
Setelah melajukan mobilnya selama tiga puluh menit, Ryan menghentikan mobilnya di pintu gerbang asrama. James langsung turun dari mobil setelah berbasa-basi mengucapkan terimakasih kepada Ryan atas traktirannya hari ini. Sisil dan Sonya pun ikut turun dari mobil secara bergantian dan mengucapkan selamat tinggal kepada Ryan yang langsung kembali ke apartemennya.
"Sisil ... Sisil, baru dua kali bertemu sudah bisa membuatku jatuh cinta. Ahh jadi kayak ABG aku," gumam Ryan. Senyuman mengembang lebar di kedua bibirnya. "Kamu harus bisa aku miliki," lanjutnya penuh harap sambil melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen.
Sisil dan Sonya sudah selesai membersihkan diri dan sedang asyik bergosip ria di kasur. Mereka masih sibuk membicarakan kelakuan Ryan yang menurut Sonya sungguh aneh bin ajaib.
"Bang Ryan kayaknya bener-bener naksir kamu deh, Sil," ucap Sonya.
"Ahh, ngga mungkin, Nya. Baru juga ketemu dua kali."
"Kalo Bang Ryan serius gimana?" tanya Sonya. Kali ini dia serius, tidak ada tatapan menggoda. "Abangku itu jarang deket sama cewek loh. Bisa aku jamin kalo sekarang dia jones, jomblo ngenes," lanjut Sonya.
"Nya, aku mau tanya sesuatu. Tapi kamu jangan ketawain aku, ya." Sisil menatap Sonya. Ada rasa malu di hatinya untuk menanyakan rasa penasaran yang ada di hatinya.
"Tentu kamu boleh tanya."
"Ehm, jadi gini. Aku sempat buka sosmednya Bang Ryan. Kok banyak foto sama cewek sih, Nya?" tanya Sisil dengan sedikit tersipu.
" Hahahaha ... jadi kamu diem-diem stalking sosmednya abang aku, Sil?" kekeh Sonya.
"Ya, kan aku perlu tahu juga sedikit tentang Bang Ryan," jawab Sisil malu-malu.
"Ohh ... udah mulai jatuh cinta nih?" goda Sonya. Sisil hanya geleng-geleng. "Itu bukan pacarnya Bang Ryan. Abangku itu dulu sempat jadi model untuk beberapa iklan baju, wajar dong foto agak mesra sama cewek-cewek."
"Jadi itu bukan pacarnya Bang Ryan?" tanya Sisil.
"Bang Ryan itu masih jomblo. Mama juga udah sering protes karena Bang Ryan cuma sibuk sama karirnya. Abangku punya kesempatan ngga nih, Sil?" goda Sonya lagi.
"Ehm ... gimana ya, Nya. Aku belum ngerasain apa-apa sama Bang Ryan," jawab Sisil.
Ting
Sisil mengusap layar ponselnya. Ada beberapa pesan masuk yang belum sempat dibaca.
Ryan [Thanks ya udah mau jalan sama aku hari ini. Lain kali kita jalan lagi, ya. Goodnight, Sisil. Jangan lupa mimpiin aku, ya.]
James [Sil, Sabtu depan kita jalan berdua ya. Pliss kasih aku kesempatan untuk kejar cinta kamu ya, Sil.]
Dion [Sil, gimana kabar kamu?]
Sisil membulatkan matanya ketika membaca pesan dari Dion. Sudah lama dia tidak mendapatkan pesan dari sahabatnya itu. Walaupun hanya pesan singkat, tapi itu sanggup membuat jantungnya berdegup kencang. Sedikit senyum mengembang di wajahnya, merasa bahagia karena Dion masih mengingatnya. Dengan cepat ia membalas pesan dari Dion dan mengabaikan pesan-pesan lainnya. Pesan singkat Dion berlanjut dengan video call selama 10 menit. Rasa rindu dalam hati Sisil pun terobati.
"Kenapa kamu senyum-senyum, Sil?" tanya Sonya yang sedari tadi memperhatikan gelagat Sisil.
"Ngga ada apa-apa, Nya. Cuma kayaknya aku ngga bisa deh kasih harapan ke Bang Ryan," jawab Sisil pelan. Percakapannya dengan Dion makin membuatnya sadar bahwa hatinya masih untuk lelaki itu.
"Si Dion itu lagi?" selidik Sonya. Sisil mengangguk pelan.
"Sil, kamu 'kan tahu dia ngga punya perasaan apa-apa ke kamu. Kok masih nungguin, sih?" decak Sonya kesal.
"Sonya, aku ngga bisa terima cowok lain kalo hatiku masih buat Dion." Sisil menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ya sudah. Kalo gitu aku ngga bisa ngomong apa-apa lagi. Tapi sebaiknya kamu langsung kasih lampu merah ke Bang Ryan, biar dia ngga berharap terus. Mama pengen dia nikah soalnya." Sisil mengangguk setuju. Usia Ryan memang sudah terbilang siap untuk menikah. Apalagi dia memiliki karir yang cerah dan wajah yang tampan. Pasti banyak gadis yang tergila-gila padanya. Kedua gadis itu masih melanjutkan obrolan sampai akhirnya mereka terlelap.