Hari-hari berlalu begitu cepat. Tak terasa Sisil sudah menyelesaikan pendidikannya. Saat ini ia menjadi seorang pengajar di sebuah SMA. Ia masih betah dengan kesendiriannya. Sonya sudah bisa merebut hati James. Perjuangannya tidak berakhir sia-sia. Dulu Sonya harus mati-matian menaklukkan hati James, sekarang keadaan berbalik. James terkenal sudah menjadi b***k cintanya. Ryan sudah menikah dengan gadis pilihan mamanya. Awalnya ia menolak, tapi melihat ketulusan gadis itu Ryan mulai jatuh hati padanya.
Kabar yang menggemparkan buat Sisil adalah putusnya hubungan Dion dengan Angel. Angel meninggalkan Dion dan menikah dengan seorang pria yang merupakan pewaris sebuah perusahaan mebel terkenal di Yogyakarta. Dion pun memilih untuk meninggalkan kota pelajar tersebut dan pindah ke Jakarta untuk bekerja di perusahaan konstruksi milik keluarga pamannya.
Berada di kota yang sama tidak membuat hubungan Sisil dan Dion kembali seperti yang dulu. Mereka sempat bertemu beberapa kali, tetapi tidak ada yang istimewa. Dion masih belum bisa melupakan kekecewaannya kepada Angel sehingga ia pun menutup diri dari setiap gadis yang mencoba untuk mendekatinya. Dalam setiap pertemuan, ia selalu menjadikan Sisil sebagai tempat curhatnya jika ia sedang sedih mengingat kisah cintanya yang berakhir tragis.
Hari ini Sisil mempunyai janji untuk bertemu dengan Dion. Entah mengapa tiba-tiba pria itu menelepon Sisil dan memberitahukan bahwa ia akan mampir ke kost tempat tinggalnya. Jam di tangan kiri Sisil sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ia langsung membenahi meja kerjanya dan meninggalkan kantor setelah berbasa-basi dengan beberapa rekannya sesama guru lalu berjalan ke parkiran dan pulang dengan mengendarai motor matic-nya.
Jarak antara sekolah tempat Sisil bekerja dengan kost-nya hanya sekitar 3 kilometer. Tak lama ia sampai di kost dan membersihkan diri. Berdandan sedikit sambil menunggu kedatangan Dion.
Tok tok tok
Sisil membuka pintu kamar kost-nya. Dion sudah menunggu di depan pintu.
"Kita langsung jalan aja ya, Sil," ajak Dion.
"Iya, Di. Tunggu sebentar aku ambil tas dulu." Sisil masuk mengambil tasnya kemudian mengunci pintu kamarnya.
"Di, kita mau kemana sih? Kok ngga ada angin ngga ada hujan tiba-tiba ngajak keluar?" tanya Sisil sambil memasang sabuk pengaman di tubuh rampingnya.
"Ke rumahku," jawab Dion pendek. Raut wajahnya terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa sih, Di? Lagi ada masalah?" selidik Sisil. Ia menatap lekat pria yang duduk di sebelahnya.
"Kita bahas di rumahku aja ya, Sil." Sisil hanya mengangguk setelah mendengar jawaban Dion.
Selanjutnya tak ada pembicaraan apa pun di antara keduanya. Dion terus memandang ke depan tanpa menoleh ke arah Sisil. Sisil yang masih penasaran tetap saja diam, menahan semua pertanyaan di dalam hatinya. Beberapa waktu kemudian mereka berdua sampai di rumah Dion. Rumah yang cukup besar berlantai dua. Rumah ini dibeli sebelum papa Dion meninggal setahun yang lalu.
"Sil, di dalam ada mama," ucap Dion pelan.
"Ohh, kapan datangnya?" tanya Sisil sambil berjalan berdampingan dengan Dion meninggalkan mobil hitam yang sudah terparkir di halaman samping rumah Dion.
"Udah ada sebulan sih. Tapi belum sempat kabarin kamu," jawab Dion. Ia membuka pintu rumah dan mempersilakan Sisil masuk. Ini adalah kali pertama Sisil masuk ke rumah itu.
"Kamu tunggu di sini ya. Aku panggil mama dulu." Dion meninggalkan Sisil yang sudah duduk di sofa abu-abu. Tak berapa lama sosok seseorang yang Sisil rindukan tiba di ruang tamu.
"Bou Mawar," panggil Sisil. Ia bangkit dari duduknya dan memeluk Bou Mawar, mamanya Dion. Wanita tersebut tersenyum dan kembali memeluk Sisil dengan erat.
"Sisil, kamu tambah cantik. Tambah mirip mamamu. Ahh, aku jadi kangen sama mamamu," gumam Bou Mawar. Mereka berpelukan beberapa saat lalu duduk di sofa.
"Kok kamu baru sekarang sih datang temuin Bou?" tanya mama Dion.
"Maaf, Bou. Sisil ngga tau kalo Bou datang ke Jakarta." Sisil menjawab jujur.
"Loh, jadi Dion ngga bilang sama kamu?" Sisil menggeleng.
"Sisil sibuk, Ma. Dion ngga mau ganggu dia. Dia 'kan kerja juga," kilah Dion sebelum dapat omelan dari mamanya.
"Jadi Bou ada acara apa nih datang ke Jakarta?" tanya Sisil.
"Nanti kita omongin ya, Sil. Kita makan malam dulu," jawab Dion.
Sisil yang masih bingung terpaksa menurut. Perutnya juga sudah keroncongan minta untuk diisi. Mereka bertiga makan dalam diam. Ada raut sedih yang ditunjukkan Dion dan mamanya, membuat Sisil penasaran akan apa yang sedang terjadi. Beberapa saat setelah makan malam mereka kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong.
"Sil, Bou sakit." Mama Dion membuka pembicaraan.
"Bou sakit apa?" balas Sisil penasaran. Mama Dion tak menjawab. Air mata mulai mengalir di pipinya. Dion mengusap punggung wanita itu pelan.
"Mama kena kanker rahim, Sil." Sisil terkejut. Ia hanya bisa menggenggam erat tangan wanita yang masih menangis di depannya, tak bisa berbicara.
"Dokter di Pangkal Pinang merujuk mama untuk berobat di sini karena peralatan di sana belum memadai," lanjut Dion.
"Bou yang kuat, ya," gumam Sisil pelan. Ingin ia menangis, tapi ia tahu itu hanya akan menambah kesedihan Bou Mawar.
"Mama ngga usah nangis lagi. Mama pasti sembuh." Dion mengusap air mata di pipi mamanya kemudian memijat pelan pundaknya.
"Iya. Bou pasti sembuh." Sisil mencoba menyemangati wanita yang merupakan sahabat kental mamanya dulu.
"Di, kamu udah bawa bou ketemu dokter?" tanya Sisil kepada Dion.
"Udah, Sil. Emm ... sebenarnya ada yang mau Mama omongin sama kamu," gumam Dion pelan. Sisil terdiam. Beberapa menit tak ada yang bicara. Sisil masih menunggu kelanjutan kalimat Dion.
"Bou boleh minta tolong sama kamu, Sil?" ucap Mama Dion memecah keheningan. Ia menatap dalam ke mata Sisil. Ada tatapan menghiba di sana.
Sisil mengangguk. "Iya, Bou. Selama Sisil bisa, pasti Sisil akan bantu," jawabnya.
Mama Dion menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ada beban berat di dalam hatinya. Ada juga rasa khawatir kalau anak gadis di hadapannya itu akan menolak permintaannya.
"Sil, kalau Bou minta kamu menikah dengan Dion apa kamu bersedia?" Sisil terkejut mendengar permintaan sahabat mamanya itu. Sisil hanya diam tak bisa menjawab.
"Bou tahu kalau permintaan ini keterlaluan. Tapi Bou kenal kamu dari kecil. Bou juga sayang sama kamu seperti anak Bou sendiri." Wanita itu mengelus puncak kepala Sisil.
"Sil, kalau kamu ngga keberatan tolong iyakan permintaan Mama ya," timpal Dion. Kali ini Sisil yang tadi hanya menunduk mengarahkan pandangannya kepada Dion. Sejak dulu impiannya adalah menikah dengan pria itu, tapi bukan seperti ini caranya. Ia ingin pria itu menikahinya karena cinta, bukan perjodohan seperti ini.
"Mungkin umur Bou ngga lama lagi, Sil. Jadi sebelum Bou menyusul papanya Dion dan kedua orangtuamu impian Bou hanya ingin melihat Dion menikah dan mempunyai anak," lirih mama Dion. Ia kembali menunduk dan menangis. Kali ini tangisannya lebih keras dari sebelumnya.
"Maaf, Bou. Sisil minta waktu untuk berpikir dulu, ya. Bou harus tetap semangat, jaga kesehatan. Jangan sedih-sedih terus." Wanita di depan Sisil hanya mengangguk.
"Mama istirahat dulu ya, Ma. Dion mau ngobrol dulu sama Sisil." Dion meraih kedua tangan mamanya dan mengajaknya ke kamar setelah berpamitan dengan Sisil.
Sisil yang sekarang sendirian di ruang tamu hanya terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam benaknya. Menerima atau menolak tawaran ini. Tak lama Dion kembali ke ruang tamu.
Duduk di teras yuk, Sil, ajak Dion. Sisil hanya mengangguk dan mengikuti langkah Dion keluar rumah. Mbak Minah, ART di rumah Dion, membawa dua gelas teh hangat dan meletakkannya di meja kecil yang menjadi pembatas kursi Sisil dan Dion dan kemudian meninggalkan keduanya yang masih saja terdiam.
"Mmmm ... maaf ya, Sil. Aku juga kaget waktu mama jodohin aku sama kamu," ucap Dion membuka pembicaraan.
"Maaf aku ngga bisa jawab sekarang, Di. Aku butuh waktu berpikir," jawab Sisil pelan. Tak enak menolak, tapi tak mungkin juga dia menerima jika harus menikah dengan pria yang tidak mencintainya.
"Iya. Tolong kamu pertimbangkan ya, Sil. Mungkin itu yang akan buat mama kuat dan sembuh. Lagipula aku ngga bisa terus-terus izin membawa mama ke dokter. Kakak tinggal di Kalimantan dan ngga bisa tinggalin suami dan anak-anaknya di sana." Dion sadar bahwa saat ini mungkin dia sudah layak mendapatkan predikat sebagai lelaki teregois sedunia. Tapi apa pun dia lakukan kalau memang itu bisa membuat mamanya sembuh. Dia belum siap kalau harus kehilangan mamanya untuk selama-lamanya.
"Di, buat aku menikah itu perkara serius. Buat aku pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Jadi aku ngga boleh gegabah," ujar Sisil. Sesekali ia menyesap teh melati yang disediakan Mbak Minah. "Lagipula umurku masih 24 tahun, perjalananku masih panjang," lanjut Sisil.
"Atau ... mungkin saat ini kamu sudah punya pacar?" selidik Dion. Sisil menggeleng pelan.
"Bukan karena itu, Di. Pernikahan butuh cinta, bukan hanya kesepakatan," sahut Sisil.
"Sil, bukannya kamu dulu pernah bilang kalau orangtua kamu menikah karena perjodohan? Begitu juga mama papaku. Mereka juga menikah karena perjodohan. Tapi mereka bisa bersama sampai maut memisahkan." Sisil terdiam mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Dion. Pelan Dion meraih tangan Sisil, membawanya ke dalam genggamannya.
"Kita masih sahabat 'kan, Sil? Tolong bantu aku, ya." Sisil menatap Dion yang saat ini sedang memohon padanya.
"Aku akan mencoba untuk melakukan yang terbaik. Dengan berjalannya waktu kita bisa belajar untuk saling mencintai," mohonnya lagi.
"Apa mungkin kamu bisa mencintaiku, Di?" tanya Sisil. Dadanya bergemuruh keras menunggu jawaban dari Dion.
"Aku akan coba, Sil. Tapi kamu harus sabar ya, "pinta Dion.
"Bagaimana dengan Angel? Apa kamu sudah melupakannya?" Sisil bertanya lagi.
"Kami bersama selama empat tahun. Hal yang sulit untuk melupakannya, tapi aku akan mencoba," sahut Dion. Tatapan memohon yang ia pancarkan perlahan meluluhkan hati Sisil. "Lagipula dia sudah bahagia dengan pilihan hatinya. Aku juga ingin membangun kebahagiaanku sendiri. Mungkin bahagiaku adalah bersama kamu," lanjut Dion.
Sekian menit Sisil terdiam. Janji yang diucapkan Dion terdengar menggiurkan. Sisil juga tak ingin Bou Mawar bersedih apabila ia menolak perjodohan ini.
"Baiklah, aku setuju. Aku akan bicarakan ini dengan abang dan kakak-kakakku," putus Sisil. Tak sanggup ia mengecewakan Bou Mawar. 'Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk menjodohkan kami berdua,' batin Sisil. Dion terkesiap mendengar jawaban dari Sisil. Ia mengeratkan genggamannya di tangan Sisil sambil mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Sil. Kamu memang sahabatku yang terbaik. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku juga akan selalu berusaha untuk menjaga kamu dan pernikahan kita," janji Dion. Ada senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Wajah yang tadinya kusut langsung berubah menjadi cerah.
Malam itu Sisil tidak bisa tidur membayangkan pernikahan yang akan dijalaninya bersama Dion. Ada rasa bahagia karena sebentar lagi ia akan menikahi pria yang sudah dicintainya selama bertahun-tahun. Ada juga rasa khawatir, apakah Dion bisa membalas cintanya atau tidak. Namun Sisil memutuskan untuk menjalani dan membiarkan waktu yang menentukan akhirnya.
Setelah malam itu, semua persiapan untuk pernikahan Sisil dan Dion mulai dilakukan. Mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan di kampung halaman, tepatnya di kota Pangkal Pinang.
Urusan persiapan pernikahan diurus oleh Bang Paul. Sisil memutuskan untuk berhenti dari tempatnya bekerja dan membantu mengurus Bou Mawar. Dalam kesibukan pekerjaannya, Dion tetap ingat untuk membantu Sisil mencari desainer untuk baju pengantin Sisil. Ia juga menyempatkan diri untuk mengantar Sisil dan Bou Mawar ke rumah sakit jika ada jadwal kontrol ke dokter.