Sisil's PoV
Besok adalah hari pernikahanku dengan Dion. Di satu sisi aku merasa senang. Namun di sisi lain, aku merasa sedih dan khawatir. Ya, aku sedih karena pernikahan ini terjadi karena perjodohan demi kesembuhan Bou Mawar, calon mertuaku. Aku tak tahu apakah pernikahan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini akan berakhir bahagia atau tidak. Rasa cinta yang ada dalam hati Dion untuk Angel merupakan tembok yang kuat antara kami berdua. Aku hanya berharap semoga semua akan baik-baik saja.
Jarum jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sudah dua jam aku mencoba untuk tidur namun mata ini tetap tak mau terpejam. Rasa resah dan gelisah terus mengganggu pikiranku. Seandainya saja Dion bisa melupakan Angel, pasti aku sangat antusias menghadapi pernikahan ini.
Tok, tok, tok
Kudengar suara ketukan di pintu. Tanpa kujawab Kak Mira sudah masuk membawakan segelas s**u.
"Dek, minum dulu nih susunya." Kak Mira memberikanku segelas s**u hangat.
"Terima kasih, Kak." Aku menerima gelas keramik dari tangan Kak Mira dan meminumnya perlahan.
"Ada yang mau kamu ceritakan sama Kakak, Dek?" Kak Mira menatap wajahku dengan penuh selidik.
"Aku takut, Kak. Pernikahan ini memang aku inginkan. Tapi bagaimana dengan Dion?" Kutaruh gelas s**u yang sudah kosong ke meja kecil di sebelah ranjangku.
"Dek, percaya deh. Cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Lagipula kamu dan Dion sudah saling mengenal sejak kecil, bahkan kalian bersahabat. Dion pasti ngga akan menyakiti kamu." Kak Mira mencoba menenangkan pikiranku.
"Ya, Kak. Aku berharap seperti itu," jawabku sambil menundukkan kepala dan meremas jemariku. "Seandainya Mama dan Papa masih ada," gumamku lirih sambil menyenderkan kepala di pundak Kak Mira. Bulir-bulir bening mengalir dari kedua mataku.
"Hei, calon pengantin ngga boleh nangis." Kak Mira mengusap air mataku dengan lembut.
"Besok hari pernikahanmu. Kamu mau nanti jadi pengantin bermata sembab?" gurau Kak Mira sambil tersenyum. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya dan mencubit pipiku pelan. Aku tahu sebetulnya dia juga sedih melihat adik bungsunya ini menikah dengan status sebagai yatim piatu. Beruntung aku memiliki abang dan kakak yang begitu perhatian dan sayang padaku.
"Sekarang kamu tidur. Besok sebelum subuh perias pengantin akan datang. Jadi kamu harus cukup istirahat. Ngga mau 'kan besok kamu tidur sambil dengerin khotbah? Papa dan Mama sudah senang di sana, jadi kita ngga perlu sedih-sedih lagi," ujar Kak Mira seraya beranjak dari ranjang dan mematikan lampu kamarku.
Aku berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhku. Yah, aku pasti bisa menjalani semua ini. Harus bisa , gumamku dalam hati.
Tepat pukul 07.00 pagi. Aku sudah siap dengan balutan kebaya putih dan sarung songket berwarna oranye terang. Rambutku disanggul bak ibu-ibu pejabat. Kupandangi wajahku di cermin. Sungguh berbeda dari biasanya. Aku berharap Dion akan suka dengan penampilanku saat ini. Hatiku harap-harap cemas menunggu kedatangan keluarga Dion untuk menjemputku.
Beberapa waktu berselang, mobil keluarga Dion sudah mulai berdatangan memasuki halaman rumahku. Aku dan keluarga yang sedari tadi duduk di ruang tamu berdiri menghampiri pintu untuk menyambut kedatangan mereka. Sungguh, aku sangat gugup. Dion dan keluarga dekatnya sudah memasuki teras rumahku. Ia tampak sangat tampan dengan setelan jas abu-abu gelap dan kemeja putih di dalamnya. Tubuhnya yang tinggi tegap berjalan pelan tapi pasti ke arahku. Pria itu sudah di depanku sekarang. Wajahnya amat tampan dengan rahang yang persegi terlihat tegas. Hidungnya yang mancung menambah ketampanannya. Bola matanya yang hitam dengan sorot yang tajam menatapku seolah-olah akan menusuk sampai ke ragaku. Aku mencoba untuk memberikan senyuman termanisku untuk Dion. Dia pun membalas dengan senyuman tipisnya. Alamak, hatiku benar-benar lumer. Ku terima hand bouquet dari Dion lalu kuserahkan kepada Sonya, yang hari ini bertugas menjadi bridesmaid-ku. Sebagai balasannya, kusematkan sebuah bunga kecil ke saku jas Dion.
Selepas acara di rumah, kami pun beriringan menuju ke Gereja tempat pemberkatan kami. Jalanan kota Pangkal Pinang yang tak begitu ramai membuat kami bisa tiba di Gereja hanya dalam waktu 15 menit. Dalam perjalanan, walaupun kami ada dalam mobil yang sama dan duduk berdampingan tak ada kata yang terucap baik dari bibirku maupun dari bibir Dion. Semua terasa aneh. Padahal dulu, aku tak pernah bisa diam kalau sedang bersama Dion. Selalu saja ada topik yang kubicarakan walaupun Dion kadang hanya menjawab dengan satu kata dari sepuluh kata yang kuucapkan. Tapi itu dulu.
Acara Gereja berlangsung dengan khidmat. Khotbah Pendeta tentang nasihat pernikahan kuserap dengan sempurna. Aku bertekad untuk dapat melakukannya dalam pernikahan kami. Selanjutnya kami akan mengucapkan janji suci pernikahan kami.
"Di hadapan Tuhan, hamba-Nya, dan jemaat-Nya yang kudus, saya Dion Christian mengambil engkau Sisilia Novita sebagai isteri satu-satunya dan sah di dalam Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kelimpahan maupun kekurangan, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Dion mengucapkan janji nikahnya sambil menggenggam kedua tanganku. Kutatap matanya yang sedikit berkaca-kaca. Setelah jeda beberapa saat aku pun mengucapkan janji pernikahanku.
Prosesi dilanjutkan dengan kami berlutut untuk menerima berkat dari Pendeta. Setelah diberkati dan didoakan, Pendeta mengangkat kedua tangan kami untuk kembali ke posisi berdiri lalu menyalami kami secara bergantian. Tampak si kecil Hanna, keponakanku berjalan membawa sebuah kotak kecil berisi cincin pernikahan kami. Dion menyematkan sebuah cincin ke jari manisku lalu aku melakukan hal yang sama padanya. Kami pun bersalaman. Dion menunduk mendekat ke wajahku. Dikecupnya ringan dahiku. Sah, sekarang kami adalah sepasang suami istri. Prosesi acara pemberkatan pernikahan kami sudah selesai.
Oh I wonder what God was thinking
When He created you
I wonder if He knew everything I would need
Because He made all my dreams come true
When God made you
He must have been thinking about me
Kudengar Sonya dan James berduet menyanyikan lagu super romantis berjudul When God Made You milik Newsong dan Natalie Grant. Dulu aku punya impian untuk menyanyikan lagu ini dengan pasangan yang akan menikahiku di hari pernikahan kami, tapi Dion pasti tak akan setuju kalau aku mengajaknya untuk duet. Surprise dari Sonya dan James benar-benar membuatku lumer. Air mata bahagia mulai mengalir di pipiku sambil menyalami keluarga dan tamu yang menghadiri acara pemberkatan kami.
Acara demi acara sudah selesai dilaksanakan. Upacara pernikahan adat Batak memang benar-benar ruwet dan memakan waktu yang lama, membuatku begitu lelah dan ingin segera meluruskan tubuh di kasur. Ya, sekarang aku dan Dion sudah berada di kamar pengantin kami. Kakak Dion sudah mendekor kamar ini dengan sepenuh hatinya agar terasa romantis. Kusapu pandanganku ke sekeliling kamar. Begitu indah, pikirku.
Kududukkan tubuhku di depan meja rias sambil membuka satu per satu perhiasan yang kupakai. Kulihat dari pantulan cermin Dion sedang duduk di tepi ranjang sambil menunduk. Tiba-tiba dia mengangkat wajahnya dan pandangan kami bersirobok di dalam cermin. Langsung kualihkan pandanganku darinya dan menyibukkan diri dengan membuka aksesoris yang ada di rambutku.
"Dion, aku pakai kamar mandi kamu, ya," ucapku memecah keheningan.
"Iya, Sil. Aku bisa pakai kamar mandi yang di bawah," jawab Dion.
Aku langsung melenggang masuk ke kamar mandi masih lengkap dengan kebaya dan songketku. Sungguh ribet rasanya memakai pakaian seperti ini. Belum lagi kemben yang super ketat dalam kebayaku membuat aku merasa sesak. Setibanya di kamar mandi, kubuka kancing-kancing kebaya yang menurutku cukup banyak. 'Waduh, bagaimana membuka kemben ini?' pikirku. Kemben yang kupakai menggunakan tali di belakang. Aku memang suka dengan aksen tali seperti ini. Tapi bagaimana aku membukanya? Tidak mungkin aku memakainya sampai besok pagi. Tidak mungkin juga aku turun ke kamar kakaknya Dion dan meminta pertolongannya membuka kemben ini. Menyusahkan memang.
Kubuka pintu kamar mandi. Kuberanikan diri melangkah ke kamar dengan memegang handuk di dadaku. Dion yang masih duduk di pinggir ranjang terkejut melihat ke arahku. Aku berjalan perlahan mendekatinya.
"Maaf, Di. Bisa tolong bukain kemben ini, ngga? Talinya ada di belakang. Aku sudah coba dari tadi tapi ngga bisa juga." Kuharap Dion mengerti dan mau menolongku.
Dion bangkit dari duduknya lalu berdiri tepat di hadapanku. Kemudian ia memegang pundakku dan membalikkan tubuhku. Walaupun saat ini aku membelakanginya, dapat kurasakan jantungku berdebar kencang bak orang habis lari maraton. Dion membuka simpul yang ada di bagian belakang kembenku. Dengan sekali sentak, kemben itu pun terbuka. Beruntung aku membelakangi Dion. Aku tak ingin Dion melihat wajahku yang sudah merah bak kepiting rebus. Kurasakan kembali tangannya berada di pundakku. Tak berani aku menatapnya sehingga kuputuskan untuk tetap dalam posisi membelakanginya.
"Sudah, mandi gih sana," ucap Dion membuatku kembali ke kesadaranku.
Aku hanya bisa menunduk sambil berjalan masuk ke kamar mandi. Beruntung aku sudah siap dengan handuk di dadaku. Tapi bodohnya, aku lupa melilitkan handuk ke bagian punggungku. Itu berarti selama aku berjalan dari kamar menuju kamar mandi, Dion melihat punggungku yang polos. Kukutuki diriku sambil kuguyur tubuhku dengan air dingin.
"Sil, bisa kita bicara sebentar?" tanya Dion setelah aku selesai mandi dan mengeringkan rambut. Kuanggukkan kepala dan duduk di pinggir ranjang, bersebelahan dengan Dion.
Dion menatapku dalam dan terdiam untuk sementara. Ia menghembuskan napasnya lalu kuedengar ia berkata, "Sil, terima kasih kamu sudah mau menerima pernikahan ini. Aku harap mama akan semakin sehat dan kumohon kamu mau menolong kami untuk merawat mama."
Kutatap wajah Dion sambil mengangguk tanda setuju. Kulihat tatapan matanya yang biasanya tajam sekarang sendu. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin dia sedih mengingat penyakit yang diderita mamanya. Mungkin juga dia sedih karena keadaan memaksanya untuk menikah dengan wanita yang tidak dicintainya.
“Namun aku minta maaf. Mungkin pernikahan kita akan berbeda dari pernikahan-pernikahan yang lain-"
Aku tak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Dion karena itu hanya akan menyakitiku. Kuberanikan diri untuk mendekatinya. Aku memegang wajahnya dan menangkupnya dalam kedua tanganku. Kututup mataku dan kudekatkan bibirku ke bibirnya. Pelan aku membasahi bibir Dion yang sudah pernah mengecupku beberapa tahun lalu. Aku memang tidak ahli dalam berciuman karena aku tak pernah pacaran. Namun, aku tetap berusaha memberikan ciuman yang baik untuk Dion. Tak kusangka Dion pun membalas ciumanku. Awalnya aku yang memimpin namun sekarang Dion yang mendominasi. Dia mencecap bibirku dengan agak keras. Kurasakan bibirku sudah menjadi basah karena ciumannya. Kubuka sedikit bibirku agar lidah Dion mendapatkan akses masuk. Tangan Dion sudah berada di belakang kepalaku seolah-olah menekan dan tak mau melepaskan. Tanganku yang satu sudah melingkar di leher Dion dan yang satunya lagi menempel di dadanya. Entah dari mana kudapatkan keberanian ini.
Tangan Dion sudah mendarat di tubuh bagian atasku. Kurasakan pijatan lembutnya di sana. Suasana pun terasa makin panas. Tanganku juga tak bisa diam, menari-nari di tubuh Dion yang memang tidak memasang kancing piyamanya. Tangan Dion seolah tak puas memijat tubuhku dari luar. Telapak tangannya yang dingin sudah mulai masuk merayap di perut rataku, lalu perlahan bergerak naik. Diselipkan satu tangannya ke baju dalamku dan mulai melancarkan aksinya di sana.
Sensasi-sensasi aneh yang tak pernah kurasakan membuatku menjadi bukan seperti diriku yang biasanya. Aku mulai mengerang karena merasakan geli ketika bibir Dion mulai menjelajahi leherku, memberikan stempel kepemilikan di sana. Tubuhku sudah mulai menuntut sesuatu yang lebih, sesuatu yang aku sendiri tidak pahami.
But it's over. Saat tubuhku sudah mulai siap untuk tahap selanjutnya, Dion berhenti dan merapikan kembali piyamaku yang sudah mulai berantakan. Dipasangnya kembali kancing-kancing piyamaku yang tadi sudah dibukanya setelah merapikan pakaian dalamku. Dua kalimat meluncur dari bibir seksinya, kalimat yang sangat aku takutkan.
"Maaf, aku tak bisa melakukannya, Sil. Di hatiku masih ada Angel." Dion berbalik meninggalkan ranjang menuju balkon dan mulai mengisap rokoknya.
Aku hanya bisa menangis. Kubenamkan wajahku di dalam bantal agar suara isakku tak bisa didengar Dion. Betapa sakitnya perasaanku ketika pria yang kucintai dan yang sudah kunikahi mengucapkan bahwa dia masih mencintai wanita lain secara terang-terangan di depanku. Apalagi itu terjadi di malam pertama kami. Silly, stupid, entah apalagi kata yang dapat mendeskripsikan tingkat kebodohanku yang berharap lebih kepada Dion. Malam pertamaku sama saja seperti ciuman pertamaku. Dion hanya memikirkan satu wanita yang sama, tapi itu bukanlah diriku.
Sisil's PoV ends