Triiinggg ... Triiinggg
Suara alarm berkumandang dari ponsel Sisil yang tergeletak di atas meja nakas. Pelan ia membuka matanya, bulu matanya yang lentik ikut bergerak-gerak. Belum sempurna matanya terbuka ketika ia merasakan badannya yang pegal-pegal. Ada rasa berat seperti tertindih di bagian perut dan kakinya.
"Aaawwww...," pekik Sisil. Ia terkejut melihat sesosok pria yang berada dalam satu selimut dengannya.
"Ehh ... ada apa, Sil?" tanya Dion yang ikut terbangun mendengar suara pekikan Sisil. Sisil membuka selimut yang membungkus tubuh mereka berdua. Dion terlihat jengah setelah memperhatikan posisi tubuhnya yang menempel begitu intim dengan tubuh Sisil.
"Sorry, Di. Aku kaget aja bangun-bangun ada cowok di kasur. Biasanya 'kan aku tidur sendiri," sahut Sisil.
"Kamu lupa kalau kita udah nikah?"
"Di, pantesan aja badanku pegal semua," rengek Sisil sambil memegang tangan Dion.
"Maaf ya, Sil." Dion mengangkat tangannya yang melingkar dari tubuh ramping Sisil dan kakinya yang mengunci kedua kaki Sisil.
"Dikira aku ini guling apa?" protes Sisil.
"Ya enak juga sih kalo punya guling hidup," goda Dion.
"Enak aja. Udah ah mau ke toilet dulu." Sisil mencebikkan bibirnya dan meninggalkan Dion menuju ke toilet.
Dion yang sendirian di kasur tersenyum sendiri mengingat posisi tidurnya yang terlihat sangat mesra dengan Sisil. Ia pun berandai-andai sekiranya wanita yang tidur bersamanya semalam adalah Angel. Sudah pasti dia akan membuat wanita itu kelelahan dan tidak bisa bangun sepagi ini. Sementara Sisil yang sedang berada di kamar mandi mencoba menetralkan degup jantungnya. Ia memang begitu shock saat melihat ada pria lain dalam selimutnya, terlebih lagi pria itu adalah Dion. Masih tercetak jelas dalam ingatannya perihal apa yang sempat terjadi semalam. Ada rasa malu jika harus bertatapan dengan pria itu lagi. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya bisa berpura-pura bertingkah seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi di malam pertama mereka.
Sepuluh menit kemudian Sisil sudah kembali ke kamar. Sisil memperhatikan Dion yang tersenyum-senyum sendiri. Tangannya sudah menggenggam ponselnya. Pasti ada sesuatu yang menarik di sana sehingga Dion tak menyadari kedatangan Sisil. Sisil berjingkat pelan menghampiri Dion dan diam-diam melirik apa yang sedang diperhatikan Dion di ponselnya. Kaget dan sedih, itu yang dirasakan Sisil.
"Ehm ... ehm." Suara berdehem dari Sisil membangunkan Dion dari lamunannya. Dengan cepat ia mengunci layar ponselnya sambil berharap Sisil tidak melihat apa yang baru saja ia lihat.
"Aku udah lihat kok, Di." Sisil duduk di samping Dion.
"Ehm ... maaf ya, Sil." Dion tak enak hati karena sudah kepergok memperhatikan foto sang mantan di galeri ponselnya. Bagaimanapun juga ia tetap merasa bersalah kepada sahabat sekaligus istri sahnya yang sudah mau membantunya dengan mengabulkan permintaan mamanya.
"Boleh kita bicara serius tentang ini, Di?" tanya Sisil. Dion mengangguk lemah. "Aku tahu sulit buat kita menjalani pernikahan ini. Tapi aku mohon agar kamu menepati janjimu untuk berusaha menjaga pernikahan kita," pinta Sisil.
Dion mengangguk pelan. "Baik, Sil. Aku pasti ingat dengan janjiku, tapi kumohon kamu sabar menghadapi aku, ya. Tolong bantu aku melupakannya," sambungnya.
"Di, aku pernah dalam situasi seperti kamu. Aku tidak bisa menerima cinta dari lelaki manapun karena hatiku masih tertambat pada seseorang." Sisil paham bagaimana perasaan Dion sekarang. Ditinggal menikah oleh pacarnya kemudian harus menikahi seseorang yang hanya dianggapnya sahabat. Itu pasti bukan perkara mudah.
"Siapa pria itu?" Dion sama sekali tidak berpikir bahwa pria yang dimaksud Sisil adalah dirinya sendiri.
"Kamu tak perlu tahu," sahut Sisil pelan. "Yang penting kita harus mencoba untuk bisa menjaga pernikahan ini." Dion mengangguk setuju.
"Terimakasih, kamu sudah mau mem--,"
"Sudah. Dari tadi kamu hanya minta maaf dan berterimakasih. Kita sama-sama berusaha, ya." Sisil memotong pembicaraan Dion.
"Baiklah. Aku akan berusaha bertindak seperti seorang suami pada umumnya. Aku harap kamu ngga canggung ya. Hanya saja ... aku minta maaf soal semalam. Untuk hal yang satu itu mungkin kita masih harus menunggu waktu yang tepat," jawab Dion. Dalam hati sebetulnya ia merasa sangat bersalah. Namun saat melakukan kontak fisik dengan Sisil yang ada dalam otaknya adalah sosok Angel.
"Aku mengerti. Aku juga minta maaf kalau tingkahku semalam sudah membuatmu merasa tak nyaman. Ya udah, aku tinggal ke bawah dulu ya, Di. Mau bantu kakak bikin sarapan," pamit Sisil. Tak betah ia kalau harus berlama-lama membicarakan tentang insiden memalukan semalam.
"Buatin nasi goreng kesukaanku dong, Sil." Dion tiba-tiba teringat nasi goreng khas buatan mama Sisil. Sisil tak menjawab, hanya mengacungkan jempol kanannya lalu meninggalkan kamar dan menutup pintu.
Sepeninggal Sisil, Dion kembali membaringkan tubuhnya di kasur. Memandang langit-langit kamarnya yang dihiasi lukisan awan. Mengingat kembali betapa manisnya persahabatan yang dulu ia jalani bersama Sisil. Dion meraih ponselnya kembali dan membuka album galeri fotonya. Ia menghapus semua fotonya bersama Angel yang masih terpampang di sana. Tak lupa ia juga menghapus foto-foto Angel dari semua media sosialnya sambil berharap pernikahannya akan menjadi pernikahan yang termanis di dunia. Sudah bulat tekadnya untuk melupakan wanita yang sudah dipacarinya selama empat tahun terakhir. Membuang semua kenangan manis dan harapan-harapan yang pernah mereka torehkan berdua. Setelah selesai dengan langkah pertamanya untuk melupakan sang mantan, Dion beranjak ke toilet untuk melakukan rutinitas paginya dan kemudian turun untuk membantu Sisil menyiapkan sarapan.
"Udah bangun, Di," sapa Kak Meli, kakaknya Dion, yang sibuk memotong wortel.
"Udah dong," jawab Dion menghampiri dua wanita yang berada di dapur. Yang satu istrinya dan yang satu lagi kakaknya.
"Pengantin baru kok bangunnya pagi-pagi gini, ngga capek habis tempur semalam?" goda Kak Meli. Sisil yang sedang mengiris bawang bombai terkejut dengan guyonan Kak Meli. Ingatannya langsung melayang kepada kejadian semalam membuat wajahnya memerah karena tersipu malu. Tak sengaja tatapannya bersirobok dengan tatapan Dion yang sedari tadi menatapnya.
"Semalam kurang, Kak. Jadi bangunnya pagi-pagi buta buat lanjut lagi," kekeh Dion. Sisil tak menyangka Dion bisa seusil itu memberi jawaban kepada kakaknya.
"Lagian bukannya tidur di hotel. Kalo di hotel 'kan ngga perlu repot-repot siapin makanan kayak gini. Kerjaannya mesra-mesraan aja, Kakak dulu juga gitu. Lagian kayaknya Dion ngga mantep ya, Sil? Kok kamu masih bisa gagah begini? Kakak dulu ngga bisa bangun seharian, dikerjain habis-habisan sama abang kamu tuh." Kak Meli menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mengingat kenangan malam pertama bersama pria yang menikahinya hampir satu dekade yang lalu.
"Aku 'kan mainnya ngga kasar, Kak. Lagian mana mungkin aku tega kalo sampai nyakitin Sisil," jawab Dion. Sekali bohong maka harus terus berbohong. Semalam bahkan Dion tak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan lain pada umumnya di malam pertama.
"Kamu beruntung banget punya suami lembut kayak si Dion ini, Sil," ujar Kak Meli yang masih sibuk memotong sayur-sayuran.
"Iya. Aku beruntung, Kak," jawab Sisil kemudian memandang Dion dengan tatapan penuh arti. Dion mengembangkan senyuman termanisnya.
"Buat pagi ini aku yang masak," ucap Dion.
"Loh, katanya mau dibikinin nasi goreng sosis? Emangnya kamu bisa masak?" tanya Sisil. Dia tak pernah tahu kalau Dion bisa memasak.
"Kamu lupa kalau aku jadi anak kost selama empat tahun? Aku sering masak di kost, Sil. Percaya deh pasti masakanku enak. Dulu Angel ...." Dion menghentikan ucapannya sendiri. Ia mengutuki mulutnya yang tak tahu diri menyebut nama wanita lain di depan istri dan kakaknya. "Lupain, pokoknya pasti kalian suka nasi goreng buatanku," ucap Dion sambil mengambil alih semua bahan yang sudah disiapkan oleh Sisil dan Kak Meli. Sisil kembali tertegun dan seperti ada rasa sesak di dadanya mendengar nama Angel yang kembali diucapkan Dion.
"Kalau gitu Kakak tinggal dulu ya. Kalian masak berdua aja biar tambah mesra. Sisil ngga usah banyak jalan dulu, duduk aja. Biarin suami kamu yang kerja, semalam 'kan dia udah ngerjain kamu," goda Kak Meli lagi. Sebetulnya Sisil jengah mendengar guyonan dari Kak Meli, tapi ia tetap untuk berusaha terlihat biasa saja.
"Pasangin celemeknya dong, Sil." Dion kesulitan memasang celemek. Di tangan kanannya ada penggorengan dan di tangan kirinya ada sebuah sutil. Sisil mengambil celemek berwarna merah dari gantungannya dan mencoba memasangkannya kepada Dion. Tubuhnya yang hanya sebahu Dion membuatnya sedikit kesulitan untuk menggantungkan celemek itu ke leher suaminya. Dion pun menunduk, tatapannya terkunci dengan tatapan Sisil untuk beberapa saat. Sisil menunduk menghindari tatapan Dion. Ia meraih kedua tali celemek yang ada sisi kanan dan kiri lalu mengikatnya ke belakang tubuh Dion. Mau tak mau ia maju mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dion. Aroma segar dari tubuh pria tampan itu menusuk masuk ke hidungnya. Sisil memejamkan matanya seraya menikmati aroma tubuh Dion.
"Kamu duduk aja. Minum s**u dulu ya," biar aku yang masak. Dion meletakkan penggorengan di atas kompor. Sisil tetap berdiri di samping Dion, tak meninggalkannya.
"Hey, kok bengong sih? Penasaran mau lihat orang ganteng masak?” goda Dion. Sisil melotot mendengarkan godaan Dion.
"Sambil nunggu nasi gorengnya masak kamu minum s**u dulu ya biar ngga kelaparan." Dion mengusap pelan puncak kepala Sisil membuat Sisil menunduk dalam menyembunyikan senyuman yang mulai merekah di bibir mungilnya. Perlakuan manis yang didapatnya dari Dion mampu membuat hatinya melambung tinggi. Ia meninggalkan Dion menuju ke ruang makan dan mengambil segelas s**u hangat yang sudah tersedia di sana. Ia menyesap s**u dengan pelan sambil melirik Dion yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
Tiga puluh menit setelah bertempur dengan peralatan masak, Dion masuk ke ruang makan sambil membawa mangkuk besar berisi nasi goreng. Aromanya yang sungguh menggoda membuat perut Sisil berbunyi karena memang sudah kelaparan. Karena kelelahan dia melewatkan makan malam setelah resepsi pernikahannya semalam.
"Jadi kamu udah kelaparan?" goda Dion. Sisil menggangguk cepat tak sabar ingin mencicipi makanan hasil karya pria yang ia cintai. Dion menyendoki nasi goreng ke piring keramik dan memberikannya kepada Sisil.
'Aku panggilin kakak sama mama dulu ya," pamit Dion meninggalkan Sisil di meja makan. Beberapa saat kemudian mereka sudah berkumpul di meja makan berbentuk oval. Di sana ada Dion, Sisil, Mama Dion, Kak Meli beserta suami dan kedua anaknya. Mereka sarapan dengan penuh sukacita. Terlebih mama Dion yang tersenyum sumringah melihat Dion yang sibuk menyodorkan makanan buat Sisil.
"Gimana, masakanku enak 'kan?' tanya Dion setelah semua selesai menikmati sarapan.
"Hmmm ... enak banget," sahut Bani, keponakan Dion.
"Sippp ... lain kali Paman masak lagi ya, khusus buat keponakan tersayang," timpal Dion.
"Masak buat istrimu juga dong, Dion." Mama Dion yang sedari tadi diam menimpali percakapan anak dan cucunya.
"Pasti dong, Ma." Tiap hari juga Dion bisa kok masakin buat istri tersayang. Dion mengerlingkan sebelah mata ke Sisil yang hanya bisa tersenyum simpul sambil berharap bahwa ia akan bisa merebut hati Dion.
Setelah sarapan Sisil mencuci peralatan makan dibantu oleh Dion. Sisil sibuk menyabuni piring dan gelas dengan sabun cuci piring berwarna hijau, sementara Dion sibuk membilasnya dengan air bersih dan meletakkannya di rak piring.
"Di, ntar bisa temenin aku ngga?" tanya Sisil di sela-sela menyabuni piring.
"Boleh, ke mana?" jawab Dion yang sedang membilas piring dengan air bersih.
"Itu loh. Sonya sama James ngajakin jalan ke pantai. Katanya mau lihat-lihat pantai yang ada di sini," jelas Sisil. Ia berharap Dion akan setuju untuk menemaninya jalan dengan sahabatnya.
"Ok. Ntar kita bawa mereka ke pantai Pasir Padi. Pasti mereka suka. Gimana, kamu setuju ngga, Sil?" tanya Dion.
"Ya, setuju banget. Eh iya, Di. Kamu inget ngga, waktu kecil kita sering ke sana?" Sisil balik bertanya.
"Pasti ingetlah. Mana mungkin aku lupa."
"Masih inget kejadian celana melorot?" goda Sisil. Pikiran Dion langsung melayang ke kejadian saat dia kelas 6 SD. Ketika itu, ia, Sisil dan beberapa teman mereka sedang berenang di pinggiran pantai. Puas berenang, bocah-bocah itu bermain kejar-kejaran dan perang pasir. Celana Dion yang berat karena basah tiba-tiba melorot. Sontak ia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Sampai kapanpun kejadian itu tak akan bisa hilang dari ingatannya.
"Sisil ...." Dion kesal karena diingatkan lagi dengan kejadian memalukan itu. Ia mengambil busa sabun dan mencolekkannya ke pipi dan hidung Sisil. Sisil hanya terbahak-bahak tak membalas.