Pasir Padi

1827 Kata
Tepat jam sebelas siang, sebuah taksi online memasuki halaman rumah Dion. Sisil menyambut kedua sahabatnya dengan penuh sukacita. Sonya menyerahkan sebuah plastik berisi buah-buahan kepada Sisil. "Wah ... jadi repot begini," basa-basi Sisil sambil menerima oleh-oleh dari Sonya. "Buat mertuamu," jawab Sonya. Ia dan Sisil saling memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan. "Boleh dong, aku cium pipi kiri kanan juga," goda James sambil menyalami Sisil. Sonya yang sudah resmi menjadi pacarnya memberinya tatapan membunuh. Tak cukup dengan tatapan membunuhnya, Sonya menginjak keras kaki James yang sudah terbalut oleh sneakers berwarna biru dongker. "Ampun, Ratuku. Aku 'kan sahabatnya Sisil juga," ucap James memelas. "Jangan coba-coba, ya. Kulempar nanti kamu ke kandang buaya. Awas kalo macem-macem!" ancam Sonya. "Iya ... iya. Maaf deh, orang becanda juga," kekeh James. "Masuk yuk, ajak Sisil." Sonya dan James ikut melangkah masuk ke rumah Dion. "Kalian duduk dulu, ya. Aku panggilin Dion," pamit Sisil meninggalkan kedua sahabatnya. "Wah ... ada tamu," sambut Mama Dion menghampiri Sonya dan James. "Iya, Tante. Kami berdua sahabatnya Sisil semasa kuliah. Namaku Sonya dan ini James." Sonya dan James bergiliran menyalami Mama Dion yang tubuhnya semakin kurus, membuatnya terlihat lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Mereka bertiga terlibat pembicaraan ringan sambil menunggu Sisil dan Dion. Tak lama, Sisil dan Dion berjalan berdua menuruni tangga. Dion berjalan ke ruang tamu sedangkan Sisil berjalan ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka nikmati bersama. "Hai, Di," sapa James melihat Dion yang datang menghampiri. Mereka lalu berjabat tangan diikuti oleh Sonya. "Ma, nanti kami jalan ke pantai ya," ujar Dion sambil mengambil posisi duduk di sebelah mamanya. "Oh iya. Jarang-jarang 'kan orang Jakarta main ke Bangka. Mumpung di sini Sonya sama James diajakin aja jalan-jalan, sekalian liburan," jawab Mama Dion sambil menganggukkan kepalanya. "Betul, Tante. Aku udah dengar banyak tentang pantai di Bangka dari Sisil. Katanya di sini banyak pantai yang indah, aku jadi penasaran," timpal Sonya. "Bilang aja kamu doyan jalan," goda James. Sonya memajukan bibirnya sambil mencubit paha James. Mama Dion hanya tertawa melihat kedua pemuda yang sedang kasmaran itu. "Nah, jadi pasangan tuh yang mesra kayak Sonya sama James ini. Kamu contohin tuh dari mereka, Di," ucap Mama Dion sambil melirik ke arah Dion. "Iya, iya," jawab Dion pendek. Sisil memasuki ruang tamu dengan nampan berisi es jeruk dan jus buah naga. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja dan memberikan es jeruk buat James, Sonya, dan Dion. "Jus buah naga buat Bou, ngga pakai gula," ujar Sisil sambil meletakkan gelas yang terisi jus buah naga yang berwarna ungu kemerahan. "Loh kok panggil Bou? Panggil aku Mama!" titah Mama Dion kepada Sisil. "Oh iya ... maaf, Ma. Sisil belum terbiasa," jawab Sisil. "Ya, banyak-banyak latihan panggil aku Mama." Mama Dion berpindah tempat duduk dan menyuruh Sisil untuk duduk di sebelah Dion. "Pengantin baru itu harus mesra, masa duduk aja jauh-jauhan. Lihat tuh Sonya sama James, dari tadi aja gandengan terus." Sonya langsung melepaskan gandengannya dari tangan James. "Mau nyebrang ya gandengan terus?" goda Sisil. "Tenang aja, di sini ngga ada anak gadis. Ngga ada yang mau ngerebut si James kok, Nya," lanjut Sisil. James dan Sonya tersipu malu. "Oh ya, Tante. Kata Sisil, Tante kena kanker rahim?" tanya Sonya pelan. Mama Dion mengangguk mengiyakan. "Kebetulan abangku dokter kandungan, Tante. Sekarang tugas di rumah sakit pusat kanker di Jakarta. Kalo Tante mau berobat ke sana nanti aku kabarin ke abang," jelas Sonya. Ryan, abangnya, saat ini sudah menjadi dokter spesialis kandungan yang memang khusus menangani pasien yang terkena kanker. "Wah ... kebetulan. Tante memang ada rencana untuk berobat di sana, karena tempat berobat Tante yang sekarang peralatannya kurang memadai," jawab Mama Dion. Ia senang mendengar bahwa ada dokter yang merupakan saudara dari sahabat menantunya. "Iya. Sisil sama Dion atur aja kapan waktunya, nanti aku kabari Bang Ryan," timpal Sonya. Ia berharap bahwa abangnya bisa membantu menangani penyakit yang sedang diderita mertua sahabatnya itu. Sedikit banyak Sonya tahu tentang pernikahan Sisil dan Dion. Setelah berbincang selama beberapa waktu, kedua pasang anak muda itu berpamitan dengan Mama Dion dan berangkat menjelajahi kota Pangkal Pinang. Dion mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan yang sangat ia kenal, sementara Sisil sibuk menjelaskan kepada Sonya dan James mengenai daerah-daerah yang sedang mereka lewati. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju, yaitu pantai Pasir Padi. Sonya tak sabaran langsung keluar dari mobil begitu kendaraan roda empat itu terparkir sempurna. James yang takut Sonya nyasar langsung menarik lengan kekasihnya itu dan memintanya untuk menunggu Sisil dan Dion. Keempat anak muda itu berjalan menyusuri bibir pantai. Angin pantai yang segar berhembus pelan. Mereka mampir di sebuah saung untuk makan siang. "Kamu pesan apa, Nya? tanya Sisil sambil bersiap menulis pesanan. "Aku mau cah kangkung, cumi asem manis, gurame krispi, bawal bakar, kerang rebus, sambel terasi‒” “Banyak banget sih, Sayang,” potong James. Ia terkejut dengan selera Sonya. “James, kamu ‘kan tahu aku penggemar sea food. Ngga pa-pa dong aku pesan agak banyak. Lagian kapan lagi kita ditraktir pengantin baru," jawab Sonya kesal. "Ya udah, ngga pa-pa. Hari ini biarin Sonya yang pesan makanan buat kita semua." Sisil mencoba menengahi. Sonya menambah lagi pesanan yang ingin ia makan. "Ehm ... kamu ngga lagi ngidam kan, Nya?" goda Sisil. "Apa? Ngidam? Ya ampun, Sil. Gimana mau ngidam, buat aja ngga pernah," Sonya menggedikkan kedua bahunya. James terkekeh melihat reaksi kekasihnya itu. "Mau bikin? Kalau mau sih aku bersedia," goda James lagi. "Enak aja. Ngelamar aja belum udah ajak bikin anak. Kutenggelamkan nanti kamu di pantai ini!" ancam Sonya. "Cuma bercanda kok, Sayang. Kamu ini kok jadi galak begini sih? Main tenggelamin aja," protes James. "Hahaha .... Aku juga bercanda kok, Sayang. Makanya buruan lamar aku biar kita bisa jadi pengantin baru nih kayak Sisil sama Dion," kekeh Sonya. "Ditunggu undangannya," balas Sisil. "Siapin amplop yang tebal ya, Di." Sonya menggoda Dion yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum kecil mendengar percakapan mereka. "Ok. Pasti aku sama Sisil datang kalo dapet undangan dari kalian," jawab Dion. "Ini pesanannya Kak, Bang." Dua orang pelayan membawakan nampan berisi pesanan yang tadi sudah dibuat Sonya. Sisil dan Sonya membantu para pelayan menata makanan di meja mereka. Setelah semua pesanan tertata rapi, keempat anak muda itu mulai menikmati makanan sambil sesekali bercerita. Acara makan siang kali ini terasa begitu istimewa buat Sisil. Ini bukan kali pertama ia makan di saung ini bersama Dion. Tapi yang membuat suasana kali ini lebih istimewa karena Dion sedari tadi sibuk membantu Sisil memisahkan daging ikan dari durinya. Hal yang baru kali ini dilakukan Dion untuknya. 'Sayang, kamu tuh ngga peka banget sih. Lihat tuh si Dion, dari tadi bantuin Sisil misahin ikan dari durinya," rengek Sonya. James langsung mengangguk dan melakukan permintaan Sonya daripada nanti diprotes lagi. "Siap, Ratu," jawab James cepat. Ia tahu bahwa kekasihnya itu kadang manjanya minta ampun dan tidak ada untungnya kalau ia menolak permintaannya. "Di, kamu tahu ngga? Dulu si James ini naksir berat sama Sisil. Tapi bertahun-tahun ditolak terus dan itu karna Sisil suka sama ka‒.” Ucapan Sonya terhenti seketika saat Sisil menendang kakinya. “Hei, masa lalu pacar sendiri kok diumbar-umbar,” protes James sambil mengupas kerang dan menaruh daging kerang di piring Sonya. "Jadi ... dulu kamu sama James?" Dion menatap wajah Sisil dengan penuh tanya. "Udah, ngga usah dibahas. Lagian 'kan sekarang Sonya udah jalan sama James," jawab Sisil. Tak mungkin ia mengungkapkan bagaimana dulu James mengejar cintanya dan ia selalu menolak demi perasaannya terhadap Dion. "Yang lalu biar berlalu. Aku sekarang murni menganggap Sisil sebagai sahabat. Jadi ngga perlu diragukan dan dipertanyakan, ok?" James juga merasa heran mengapa kekasihnya itu malah mengungkit masa lalunya. Sisil, Dion, dan Sonya mengangguk. Dalam hati Sonya menyesal karena kelepasan ngomong. Sesekali Sonya mencoba melemparkan candaan demi menebus kesalahannya. Setelah selesai makan siang, keempat anak muda itu kembali berjalan menyusuri bibir pantai. Ombak kecil sesekali membasahi kaki telanjang mereka. Pasir yang terhampar di pantai ini berbentuk menyerupai bulir-bulir padi, sehingga pantai ini dinamakan Pasir Padi. Sonya dan James berdecak kagum melihat batu-batu granit berukuran raksasa yang menambah kadar keindahan pantai tersebut. James dan Dion mencoba memanjat dan duduk di batu granit berukuran kecil. Sisil dan sonya duduk di pasir, membiarkan tubuh bagian bawah mereka basah tersapu ombak. "Gimana pengalaman malam pertamamu, Sil?" tanya Sonya. Sedari tadi pertanyaan itu sudah membuncah di kepalanya. "Hmmm ... ngga ada malam pertama, Nya." Jawaban Sisil membuat Sonya terkejut. Melihat tingkah manis Dion ketika mereka makan di saung membuatnya mengira bahwa Dion sudah bisa menerima Sisil seutuhnya. "Dia masih belum bisa ngelupain mantannya," lirih Sisil pelan. "Kalo dia masih dingin, kamu duluan dong yang mulai, Sil. Dia itu suami kamu, wajar dong kalau kalian mesra-mesraan." "Aku udah coba, Nya. Dia malah menolak. Sumpah, aku malu banget semalam," jawab Sisil pelan. Ada nada sedih di sana. "Kamu udah buka kado aku belum?" tanya Sonya. Sisil menggelengkan kepalanya. "Ya udah, nanti malam buka ya. Kamu pakai di depan Dion. Pasti dia bakal klepek-klepek, hehe ...." Sonya terkekeh pelan. Matanya menatap Sisil penuh makna. "Emang isinya apa?" tanya Sisil penasaran. Sonya menggeleng kepalanya dengan senyum mengembang lebar di bibir tipisnya. "Rahasia," godanya. "Tapi janji ya, kamu harus pakai," lanjut Sonya. "Ok," jawab Sisil. Mereka berdua mengaitkan jari kelingking tanda pinky promise. "Yuk, kita nyusul James sama Dion," ajak Sonya. "Yuk," balas Sisil. Mereka menghampiri kedua pria tampan yang sedang duduk di atas batu granit dan ikut berbincang-bincang. "Kapan kalian balik ke Jakarta?" tanya Dion kepada James. "Lusa, Di," jawab James. "Kalian kapan?" James balik bertanya. "Minggu depan. Nanti kalau kalian balik ke Jakarta kami antar ke bandara," ucap Dion. "Oh ya, Di. Usulanku tentang Bang Ryan boleh dipikir-pikir dulu, ya," ujar Sonya. "Ok, Nya. Terimakasih, ya. Nanti kami bicarakan dulu di rumah," sahut Dion. "Betul, Nya. Nanti aku kabari kamu, ya," timpal Sisil. Keempat pemuda itu pun lanjut menyusuri bibir pantai sambil menikmati sinar matahari yang sedang masuk ke peraduannya. Setelah puas menikmati keindahan pantai, mereka kembali pulang. "Jadi kamu kenal sama Dokter Ryan, Sil?" tanya Dion. Mereka berdua sudah selesai makan malam dan membersihkan diri. "Ya, aku kenal. "Sisil menjawab sambil merapikan seprai. "Pendapat kamu tentang dia gimana?" Dion naik ke atas ranjang dan duduk besebelahan dengan Sisil. "Dia orangnya baik, ramah, dan supel. Setahu aku sih dia kompeten dalam pekerjaannya," papar Sisil. "Kamu kenal dekat sama dia?" tanya Dion sedikit menyelidik. "Mmm ... ngga sih," jawab Sisil pendek. Sempat terlintas kembali dalam pikirannya kalau dulu Ryan mencoba mendekatinya. "Nanti kita coba temuin dia, ya. Aku hanya berharap penyakit mama bisa disembuhkan." Sisil menggangguk mendengarkan kalimat yang diucapkan Dion. "Iya, Di. Aku juga berharap mama bisa sembuh." "Ya udah. Sekarang kita istirahat dulu. Besok kita ajak Sonya sama James cari oleh-oleh buat dibawa ke Jakarta," ucap Dion. Ia mematikan lampu tidur yang ada di atas meja di sebelah ranjangnya. Sisil juga ikut mematikan lampu tidurnya. Kegelapan menyelimuti keduanya. Penolakan Dion di malam pertama mereka membuat Sisil tahu diri dan tidak berani berharap Dion akan menyentuhnya. Tak menunggu lama, keduanya terlelap dengan posisi saling memunggungi satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN