"Sumpah ini sih enak banget, Sil." Sisil hanya bisa tersenyum melihat Sonya yang kalap mengunyah otak-otak ikan tenggiri khas Bangka. "Kalo gini sih aku jadi betah, pengen tinggal di sini aja. Makanannya enak-enak," lanjut Sonya.
"Makan jangan sambil ngomong, ntar keselek loh." Sisil memperingatkan Sonya.
"Ohh, jadi betah tinggal di sini? Trus aku gimana dong? Cari pacar baru?" goda James sambil mengambil tisu dan membersihkan ujung bibir Sonya yang belepotan dengan kuah tauco.
"Aduhhh...." James meringis karena perutnya dicubit sang kekasih.
"Awas kalo macem-macem ya!" ancam Sonya.
Dion hanya diam melihat tingkah sepasang kekasih yang ada di depannya. Ia kembali teringat akan Angel yang juga termasuk tipe pacar yang cemburuan dan dominan seperti Sonya. Diam-diam, rasa rindu kepada Angel menyelimuti hatinya. Pikirannya tiba-tiba melayang pada kejadian beberapa tahun lalu saat mereka berstatus sebagai kekasih.
"Di, janji ya kamu bakal setia terus sama aku," ucap Angel sambil menggenggam tangan Dion.
"Iya. Pasti, Sayang. Kamu juga, ya." Dion membalas genggaman tangan Angel.
"Iya, Sayang. Kamu yang pertama dan akan jadi yang terakhir buat aku. I love you, Di."
"I love you more, Sayang. Nanti setelah lulus dan dapat perkerjaan aku akan segera minta mama untuk melamar kamu," janji Dion.
"Aku pasti menunggu," sahut Angel yang sudah bersandar di bahu kekar sang kekasih. Dion segera membawa gadis itu ke dalam pelukan dan mengecup keningnya lama.
"Di, minumannya udah habis," ucap Sisil saat melihat Dion hendak minum dari gelasnya.
"Loh, kapan habisnya? Gelasnya bocor ya?" gurau Dion. 'Shittt, mengapa juga aku tiba-tiba jadi ingat si Angel?' batinnya. Ia lalu menuang teh dari teko ke dalam gelasnya dan meminumnya dengan cepat.
"Lagian, mikirin apa sih Di? Bengong aja," ujar Sonya.
"Emm ... ngga ada kok, Nya. Yuk, kita cari oleh-oleh buat kalian bawa pulang." Dion mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia bangkit dari duduknya menuju ke kasir lalu mengajak Sisil dan kedua sahabatnya meninggalkan tempat itu.
Perburuan oleh-oleh dan menikmati jajanan khas Bangka sudah selesai. Keempat anak muda itu kembali menjelajahi tempat-tempat pariwisata yang menarik. Salah satunya adalah Danau Kaolin, danau yang berair biru dengan bukit-bukit berwarna putih. Dulunya, danau ini adalah bekas penambangan timah. Sisil dan Sonya yang merupakan ratu selfie langsung sibuk meminta untuk berfoto dengan pasangan masing-masing. Kesempatan ini digunakan Sisil untuk berfoto dengan pose mesra bersama suaminya. Dion tak menolak saat Sisil memintanya untuk memeluknya dari belakang. Puas berfoto bersama, mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.
Setelah makan malam dan mengantar James dan Sonya ke hotel tempat mereka menginap, Sisil dan Dion memilih untuk langsung pulang ke rumah. Mama Dion sudah menunggu anak dan menantunya di depan teras rumah.
"Gimana jalan-jalannya?" sambut Mama Dion.
"Seru, Ma. Beberapa tahun ngga pulang aja tempat wisata di sini sudah berkembang pesat," jawab Sisil. Ia menggandeng tangan mertuanya itu dan mengajaknya masuk.
"Kalian udah makan malam?" tanya Mama Dion.
"Udah, Ma. Tadi sama James dan Sonya," sahut Dion.
"Ya udah. Kalian mandi terus istirahat aja. Mama mau tidur dulu. Tadi sore teman-teman Mama mampir ke sini. Kelamaan ngobrol badan Mama mulai pegel." Dion mengantar mamanya ke kamar dan menemaninya di sana.
"Sudah mandi?" tanya Dion ketika melihat Sisil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Sudah dong. Kamu mandi gih sana, udah bau keringet," sahut Sisil.
"Ah, ngga tuh," jawab Dion seraya mengangkat tangan dan mengendus ketiaknya.
"Dasar jorok," gumam Sisil. Dion melangkah menuju kamar mandi. Ketika melewati Sisil, dia kembali mengangkat tangan dan mengarahkan ketiaknya ke arah sang istri.
"Dioooonnnnn," geram Sisil. Mau teriak ngga mungkin, takut mertuanya dengar. Sisir di atas meja rias melayang ke arah Dion. Namun dengan sigap Dion menutup pintu kamar mandi sehingga sisir itu tidak mengenai tubuhnya. Sisil yang masih kesal terus mengumpat sambil mendengar suara tawa Dion dari kamar mandi.
Sisil membaringkan tubuhnya di kasur dan membuka ponselnya. Ditatapnya kembali foto-fotonya bersama Dion di Danau Kaolin. Sisil memilih satu foto terbaik dan menjadikannya foto profil di akun sosmednya. Foto yang ia bagikan langsung mendapatkan banyak likes termasuk dari Angel. Ia juga membalas ucapan selamat yang dikirim Angel ke kolom komentar di fotonya.
Ting
Sisil mengusap layar ponselnya dan membuka pesan yang baru saja ia terima.
"Jangan lupa buka kado dari aku, Sil." Siapa lagi kalau bukan dari Sonya. Sisil hanya membalas dengan memberi emoji jempol berwarna kuning. Kemudian ia membongkar tumpukan kado yang diterimanya di hari pernikahannya. Ada sebuah kado berbentuk kotak dengan sampul berwarna biru muda. Nama Sonya dan James tertera jelas di sana. Rasa penasaran yang membuncah membuat Sisil langsung merobek sampulnya.
"Lagi ngapain?" tanya Dion yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mau buka kado dari Sonya. Kayaknya aku dikerjain deh. Ini sampulnya berlapis-lapis. Kamu aja deh yang buka." Dion menerima kado itu dari tangan Sisil dan langsung merobek lagi sampulnya.
"Dasar si Sonya kurang kerjaan," decak Sisil. Setelah membuka lapisan ke sepuluh terlihat sebuah kotak berwarna silver. Sisil merebut kadonya dari Dion dan membuka tutup kotak tersebut.
"Whatttt? Apa-apaan nih?" Sisil mengambil isi kado yang ternyata adalah 3 set lingerie berwana putih tulang, merah maroon, dan hitam.
Muka Sisil seketika memerah. Dalam hati ia mengumpat kesal akan keusilan Sonya. Dion tak kalah jengah melihat pakaian seksi yang ada di hadapannya. Otaknya seketika traveling memikirkan bagaimana kalau Sisil yang memakai pakaian tersebut. Sisil buru-buru memasukkan lingerie tersebut ke dalam kotaknya.
"Pinter banget sahabat kamu itu pilih kado." Dion menggoda Sisil menambah rona merah di pipinya.
"Tau ah," decak Sisil kesal.
Drrttt... Drrttt
Dion mengambil ponselnya dari atas nakas dan pamit kepada Sisil lalu melangkah ke balkon. Diusapnya ikon hijau setelah melihat nomor yang sangat dikenalnya.
"Halo," sapa Dion pelan setengah berbisik.
"Hai, Di. Apa kabar?"
"Baik. Kabarmu gimana?"
"Aku baik juga. Selamat ya untuk pernikahanmu, Di."
"Iya, terimakasih."
"I miss you, Di."
"Hah?"
"Aku kangen sama kamu." Wanita itu langsung memutuskan sambungan telepon. Dion kembali mengamati nomor yang baru saja memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Angel. Dion menelpon balik, tapi yang ia dapatkan adalah nada sibuk. Ia pun kembali ke kamar sambil bertanya-tanya mengapa mantannya itu tiba-tiba menelpon dan menyatakan kerinduannya.
"Siapa, Di?" tanya Sisil. Kado yang tadi membuatnya kaget dan malu sudah disembunyikan di dalam koper.
"Teman kerja. Dia titip salam buat kamu," bohong Dion. Tak mungkin ia jujur kepada Sisil kalau yang baru menelepon adalah Angel.
"Oh ya. Tadi Angel ucapin selamat buat pernikahan kita." Ucapan Sisil sedikit mengagetkan buat Dion.
"Oh." Dion membulatkan bibirnya sambil mengangguk pelan.
"Aku tidur duluan ya, Di," ucap Sisil.
"Iya. Aku mau ke bawah dulu lihat mama." Dion meninggalkan Sisil yang sudah bersembunyi di balik selimut.
Ceklek
Dion membuka pintu kamar mamanya. Wanita yang berumur lebih dari setengah abad itu ternyata belum tidur dan sedang sibuk membaca buku tentang pengalaman beberapa tokoh terkenal yang bisa bertahan setelah berperang dengan kanker.
"Ada apa, Di?" tanya Mama Dion seraya menutup bukunya dan menaruhnya di atas nakas.
"Ngga ada apa-apa, Ma. Cuma kangen aja pengen deket Mama." Dion membaringkan tubuh di sebelah mamanya.
"Loh, udah punya istri malah tidur sama Mama. Kasian si Sisil sendirian." Mama Dion menatap putranya dengan pandangan yang menyelidik.
"Dion mau ngobrol sebentar aja kok, Ma." Dion menjawab dan mengelus tangan kurus mamanya.
"Ya udah. Tapi sebentar aja," jawab Mama Dion.
"Ma, sebenernya Dion belum bisa mengganggap Sisil lebih dari sahabat. Canggung aja, Ma. Biasanya cuma temenan tiba-tiba jadi istri." Dion mencoba menjelaskan perasaannya kepada mamanya.
"Cinta itu bisa datang perlahan. Dijalanin aja dulu. Sisil itu sudah berkorban banyak buat kita. Jadi jangan sampai kamu berbuat yang tidak baik sama dia. Lagipula Mama perhatiin sepertinya Sisil punya perasaan yang bukan sekedar sahabat sama kamu. Mama yakin Sisil cinta sama kamu." Mama Dion mengelus lembut rambut putra bungsunya itu.
"Masa sih, Ma? Dari dulu juga Sisil udah seperti itu sama Dion."
"Dion, buka matamu lebar-lebar. Perhatikan tiap tingkahnya, perhatiannya ke kamu itu lebih dari sahabat. Kalau Sisil tidak cinta sama kamu ngga mungkin dia mau terima permintaan Mama." Dion memperhatikan dan mencerna setiap perkataan mamanya.
"Ma, tadi Angel telpon Dion," lirih Dion.
"Apa? Mau apa perempuan itu telpon kamu?" cecar Mama Dion.
"Cuma ucapin selamat aja atas pernikahan Dion sama Sisil. Dia juga sudah ucapin selamat langsung ke Sisil, Ma." Tentu saja Dion tidak menceritakan ke mamanya perihal Angel yang bilang kangen padanya.
"Dion, Mama peringatin kamu ya. Angel itu bukan perempuan baik-baik. Buktinya dia malah tinggalin kamu dan nikah sama orang lain karena kamu kalah dalam hal materi. Jadi Mama harap kamu jangan kasih celah sama dia. Bisa-bisa dia nanti bikin rumah tanggamu hancur. Biar bagaimana pun pasti dia masih punya perasaan sama kamu. Kalian sudah pacaran selama empat tahun, tidak mungkin perasaannya tiba-tiba hilang begitu saja," nasihat Mama Dion.
"Iya, Ma. Dion ngga mungkin deketin dia lagi kok, Ma," sahut Dion.
"Mama harap kamu bisa jaga Sisil dan jangan pernah menduakan dia. Entah itu dengan Angel atau sama perempuan yang lain. Cobalah untuk mencintai Sisil. Sana gih, temanin istrimu. Sering-sering temenin dia tidur. Nanti juga bisa jatuh cinta. Ngerti 'kan maksud Mama?" Mama Dion mengerlingkan sebelah mata menggoda putra bungsunya itu.
"Belum bisa sampai ke tahap itu, Ma." Jawaban Dion membuat mamanya membelalakkan matanya.
"Jadi kalian belum ... belum itu?" tanya Mama Dion sambil menggelengkan kepalanya. Dion hanya menjawab dengan menggeleng juga.
"Dasar anak ini. Masa itu aja harus disuruh-suruh? Pokoknya Mama mau Sisil segera hamil. Mama udah pengen nimang cucu dari kamu. Nanti Mama aja yang bilang sama Sisil. Kalau kamu tidak ada pergerakan biar dia duluan yang maju. Udah sana, Mama mau tidur." Mama Dion mengusir putranya dan mematikan lampu yang ada di atas nakas agar Dion segera meninggalkannya.
Perlahan Dion beranjak dari kasur dan melangkah keluar dari kamar, mengucapkan salam tidur dan meninggalkan mamanya. Dalam pikirannya berkecamuk setiap kalimat yang diucapkan mamanya. Sungguh sebuah hal yang sulit baginya untuk memenuhi permintaan mamanya. Ditambah lagi perkataan Angel yang sudah meninggalkannya untuk menikahi pria lain. Dalam benak Dion muncul sebuah pertanyaan, apakah Angel mengalami masalah dalam rumah tangganya? Entahlah. Yang pasti saat ini Dion merasa belum siap untuk memberikan nafkah biologis untuk istrinya.