Kissing

1603 Kata
Sebulan sudah berlalu semenjak pernikahan Sisil dan Dion. Saat ini mereka sudah kembali ke Jakarta dan Sisil sudah menghubungi Dokter Ryan untuk penjadwalan pengobatan mama mertuanya. "Sisil?" sapa sang dokter saat Sisil memasuki sebuah ruangan di rumah sakit pusat kanker nasional. "Iya, Dok." Sisil menjabat tangan sang dokter. "Makin cantik aja kamu ini." Sang dokter berwajah tampan menjabat tangan Sisil lama. "Mertuaku ada di luar, Dok." Sisil melepaskan jabatan tangannya. Sang dokter tak lain adalah Ryan, abangnya Sonya. Pria itu dulu beberapa kali mencoba mendekati Sisil, tetapi tak berhasil. Sisil melangkah keluar ruangan dan kembali masuk dengan mendorong kursi roda yang diduduki Mama Dion. Beberapa waktu ini kondisinya agak lemah dan cepat letih sehingga membutuhkan kursi roda karena tak kuat berjalan lama. "Ma, kenalin ini Dokter Ryan. Dokter ini abang kandungnya Sonya." Mama Dion menyambut tangan sang dokter yang menjabat tangannya. "Senang bisa bertemu dengan Tante," sambut Ryan dengan sopan. "Ya. Tante juga senang bertemu denganmu, Nak Ryan," sahut Mama Dion. "Ok, Tan. Sisil sudah sempat cerita tentang riwayat pengobatan Tante. Di sini kita lanjutkan lagi ya pengobatan sebelumnya," jelas Ryan. "Keluhan-keluhan apa yang sering Tante rasakan?" lanjut Ryan. “Akhir-akhir ini Mama sering merasa cepat capek, nafsu makannya juga berkurang, Dok." Sisil menyahut. "Ya, kita observasi lagi ya. Tante harus menjalani serangkaian tes dulu sebelum nantinya kita ambil tindakan," jelas Ryan sambil mengisi beberapa form mengenai tes yang harus dilakukan oleh Mama Dion. Setelah membicarakan beberapa hal, Sisil dan Mama Dion meninggalkan ruangan praktik Dokter Ryan. "Sil, kalian di mana? Apa masih di ruangan?" tanya Dion melalui sambungan telepon. "Baru aja selesai, Di. Ini mau ke lobby," sahut Sisil. "Tunggu di situ ya. Aku udah mau sampai," ucap Dion sambil mematikan sambungan teleponnya. Lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah sudah berganti hijau. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. "Hai, Di." Sisil memanggil Dion dan melambaikan tangannya ke arah Dion. Dion melangkah cepat menghampiri mama dan istrinya. “Gimana hasil konsul hari ini?" tanya Dion sambil mendorong pelan kursi roda yang diduduki mamanya. "Mama harus ikut serangkaian tes, Di. Nanti setelah ada hasilnya baru Dokter Ryan bisa kasih keputusan treatment apa yang harus diambil," jawab Sisil. "Maaf ya, Sil. Tadi ada rapat yang tidak bisa aku tinggalkan, jadi ngga bisa temenin kamu." "Ngga apa-apa kok, Di," jawab Sisil dengan penuh kesungguhan. Dia paham kondisi Dion yang baru mengawali karirnya dan tidak mau memaksa suaminya itu meninggalkan pekerjaan untuk sesuatu hal yang masih bisa ia lakukan sendiri. *** Butuh waktu sekitar sebulan penuh bagi Mama Dion untuk menjalani observasi guna mengetahui penyakit yang bersarang di tubuhnya. Kondisinya kian hari kian melemah. "Di, besok bisa ikut ketemu Dokter Ryan?" tanya Sisil. Dion yang baru saja selesai mandi sedang memakai kaus yang disediakan Sisil. "Aku usahain ya, Sil. Paling bisanya agak sorean," sahut Dion seraya membaringkan tubuhnya di sebuah sofa bed yang langsung ia beli sekembalinya dari Bangka. Dua bulan menikah tetapi tak pernah semalam pun dihabiskannya bersama Sisil di ranjang yang sama. "Ok deh. Kalo kamu ngga bisa ngga usah dipaksa. Mama juga ngga perlu ikut, kok. Biar Mama di rumah aja ditemenin Mbak Minah sama Suster Reni." Suster Reni adalah perawat yang dipercaya untuk membantu merawat Mama Dion di rumah. "Terimakasih ya, Sil. Kamu memang sahabat terbaikku." Perlahan Dion melangkah mendekati Sisil dan duduk di sebelahnya. Ia mengambil kedua tangan mulus Sisil dan menggenggamnya erat. Sisil membalas tatapan Dion yang sedang menatapnya dalam. Dion mendekatkan wajahnya ke wajah Sisil. Sepersekian detik berlalu dan wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti meter. Jantung Sisil berdetak dan bergemuruh kencang. Dalam hati ia begitu berharap Dion bisa menerimanya seutuhnya sebagai istri dan bukan lagi sebagai sahabat terbaik. Sisil tak menolak ketika bibir Dion hinggap di bibirnya. Ini adalah kali ketiga kedua bibir itu bersatu. Tangan Dion makin erat menggenggam kedua tangan istrinya. Bibirnya pun meluncur makin dalam menjelajahi bibir Sisil. Drrttt ... Drrttt Suara getar dari ponsel Dion yang sedari tadi tergeletak di atas sofa bed menghentikan adegan ciuman yang baru berjalan sekitar dua puluh detik. "Aku angkat telpon dulu ya, Sil." Dion beranjak bangkit dari ranjang dan berjalan menuju sofa bed berwarna hitam miliknya. Suara getaran sudah berhenti dan Dion memutuskan untuk kembali menelepon setelah membaca nomor yang sudah sangat dihapalnya di luar kepala. "Ada apa, Angel?" tanya Dion setelah ia menutup pintu kamar dan meninggalkan Sisil di dalam. "Di, besok bisa kita ketemu?" Angel balik bertanya. "Ada hal penting yang mau aku obrolin sama kamu," lanjut Angel. "Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, Angel." Dion menjawab pelan. Ia tak mau ada yang mengetahui kalau saat ini ia sedang berbicara dengan mantan kekasihnya. "Tapi ini penting banget, Di. Aku ngga tau mau bicara sama siapa. Kamu juga 'kan teman aku. Please ya, Di." Angel memohon. Suaranya terdengar sedikit serak seperti habis menangis. "Kamu nangis?" tanya Dion penasaran. "Di, aku lagi ada masalah besar. Aku mohon besok kita ketemu ya. Terserah kamu deh mau ketemuan di mana," pinta Angel. Rasa iba muncul di hati Dion. Jauh dalam lubuk hatinya ia juga ikut merasa sedih mendengar Angel sedang dirundung masalah besar. "Ok. Tapi kamu 'kan tinggal di Yogya, gimana mau ketemuan?" tanya Dion lagi. “Aku lagi di Jakarta, Di. Sementara aku tinggal di sini sampai masalahku bisa tuntas." Angel menjawab pelan. "Ya udah. Besok aku shareloc tempat ketemuan kita." Dion tak dapat menolak. "Terima kasih ya, Di." "Iya. Sampai ketemu besok." Dion mematikan sambungan teleponnya. Dalam dua bulan ini sudah dua kali Angel menghubunginya. Ada rasa bersalah dalam hati Dion terhadap Sisil setelah mengiyakan permintaan Angel untuk bertemu. Bergegas ia melangkah kembali masuk ke kamar tidur. Melihat istrinya sedang sibuk, Dion berinisiatif membantu. "Ada yang bisa aku bantu, Sil?" Dion menawarkan bantuan. "Ngga usah, Di. Ini aku cuma siapin semua dokumen hasil pemeriksaan mama buat dibawa besok," tolak Sisil halus. Ia belum berani menatap suaminya setelah kejadian ciuman yang harus berakhir karena telepon. "Kalo ada yang perlu dibantu bilang aja ya, Sil." Dion merasa tak enak hati karena semua urusan pengobatan mamanya diurus oleh Sisil. "Iya, tenang aja. Kalo aku ada butuh apa-apa nanti aku pasti bilang kok," jawab Sisil seraya memasukkan amplop besar berisi hasil PET-Scan ke dalam tas. "Udah mau jam 10 nih, kamu tidur ya. Jangan begadang. Aku liat kamu belakangan ini suka tidurnya telat," nasihat Dion kepada istrinya. "Oh iya, Di. Itu si Sonya. Dia baru-baru ini release novel cetak pertamanya. Jadilah aku pembaca setianya," jawab Sisil sambil menunjukkan buku yang bersampul merah hati. "Ya, tapi kamu juga harus tetap jaga kesehatan kamu ya. Inget ngga dulu, kamu 'kan jadi anak paling gampang tidurnya. Baru aja ketemu bantal langsung molor, udah gitu ilernya kemana-mana sampe nempel ke rambut." Dion terkekeh mengingat kebiasaan tidur Sisil ketika masih kecil. "Ihhh ... Dion. Itu aja masih diinget-inget," keluh Sisil sambil melempar Dion dengan gulingnya. Tak terima dilempari, Dion kembali melempar Sisil dengan guling itu lalu lari menghindar saat Sisil ingin melemparinya lagi. Kejar-kejaran di kamar yang berukuran cukup luas itu pun tak dapat dihindari. Kedua sahabat yang saat ini berstatus sebagai suami istri itu tertawa terbahak-bahak sambil kejar-kejaran. Sisil terus mengejar Dion berharap ia bisa memukul suaminya itu dengan guling yang ada di tangannya. Kaki Sisil tak sengaja menabrak kaki meja rias dan tubuhnya langsung terhuyung ke depan. Brukkk Sisil terjatuh tengkurap di lantai. Beruntung guling yang tadi ada di tangannya mendarat terlebih dahulu sehingga menopang kepala Sisil. Kalau tidak sudah bisa dipastikan kepalanya akan benjol terantuk lantai. "Hahahaha ... kualat sama suami itu sih namanya. Jatoh 'kan?" Sisil hanya memonyongkan bibirnya mendengar ledekan dari suaminya. 'Sakitnya sih ngga seberapa, malunya itu loh,' batinnya.     "Sini aku bantu." Dion mengulurkan tangannya untuk membantu Sisil bangun. "Ngga usah, aku bisa sendiri," tolak Sisil. "Udah, suami mau bantu malah ditolak." Dion meraih tangan Sisil dan membantunya untuk bangun. "Mana yang sakit?" tanya Dion setelah mereka duduk bersisian di tepi ranjang. Sisil hanya menggeleng, terlalu malu ia menjawab. "Ditanya malah diem. Di mana yang sakit?" tanya Dion lagi. Ia mengusap-usap kening Sisil. "Sakit hati. Orang jatuh malah diketawain," rengek Sisil manja. Dion mendekatkan wajahnya ke wajah Sisil. Sisil berpikir bahwa Dion akan melanjutkan sesi ciuman yang tadi sempat tertunda. Cepat ia menutup matanya sambil mengatur nafasnya yang mulai memburu karena jantungnya pun berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Satu detik, dua detik, tiga detik, ciuman yang diharapkan Sisil tak kunjung terjadi. Fuuhhh ... fuhhh Sisil segera membuka matanya saat ia merasakan ada angin pelan bertiup di keningnya. Dalam hati ia mengumpat. Ia berpikir bahwa Dion mendekat untuk menciumnya, tapi ternyata pria itu hanya meniup keningnya untuk mengurangi sedikit rasa sakit yang ia rasakan akibat jatuh tadi. "Udah ngga sakit, 'kan?" tanya Dion. "Ehm ... iya." Sisil menjawab pelan. "Ya udah, kamu tidur duluan. Udah malem nih," suruh Dion. "Iya. Kamu belum mau tidur?" tanya Sisil. "Bentar lagi. Masih mau cek email masuk," jawab Dion sambil membaringkan tubuhnya di sofa bed dan membuka layar ponselnya. "Kamu juga jangan kemaleman tidurnya ya, Di." "Iya. Met tidur ya, Sil," ucap Dion. Sisil membaringkan tubuhnya di ranjang. Beberapa kali ia mencuri pandang ke arah suaminya yang terlihat makin seksi dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Belum lagi bulu-bulu halus yang tumbuh di pipi dan dagunya. Dion juga punya kebiasaan tidak mengancing tiga kancing teratas pada piyamanya, membuat Sisil bisa mengintip d**a bidang suaminya yang ditumbuhi bulu. Memandangi Dion terus-menerus membuat Sisil sakit kepala. Belum sempat ia mengalihkan pandangannya, suara bariton Dion terdengar mengejutkannya. "Aku tau kalo aku ini ganteng, Sil. Jangan diliatin terus, dong. Aku 'kan jadi ngga konsentrasi nih," goda Dion. "Dasar kegeeran kamu, Di. Aku tidur dulu," jawab Sisil malu sambil membalikkan tubuhnya menghadap tembok. Dion hanya tersenyum mendengar jawaban sang istri dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN