Meeting

2027 Kata
"Sil, nanti ketemuan sama Dokter Ryan jam berapa?" tanya Dion sambil memandang pantulan wajahnya di cermin. Ia sedang berusaha memasangkan dasinya. "Habis jam makan siang aja, Di. Biar enak ngobrolnya," jawab Sisil. Ia melangkah mendekati Dion dan membantunya merapikan dasi yang menurut Sisil tidak terpasang rapi. "Agak miring sedikit, tapi sekarang sudah rapi." Sisil menepuk pelan bahu suaminya. "Terimakasih. Dari jaman sekolah 'kan kamu tau aku memang ngga bisa rapi kalau pasangin dasi." "Iya, pasti ada miringnya dikit. Untung aja orangnya ngga," ledek Sisil. "Hahaha bisa aja kamu, Sil. Nanti siang aku kabarin deh bisa apa ngga temanin kamu ke rumah sakit ya, Sil." Dion mengambil tas kerjanya dan beranjak keluar dari kamar bersama dengan Sisil menuju ke ruang makan untuk sarapan. Pagi ini mereka hanya sarapan berdua karena Mama Dion minta sarapannya untuk dibawa ke kamar saja. Ia memang sudah merasa kesulitan untuk bangun. Sepasang suami istri itu menikmati sarapan sambil sesekali berbincang mengenai kegiatan yang akan mereka lakukan sepanjang hari ini. Sisil melambaikan tangan saat mobil Dion mulai beranjak meninggalkan pekarangan. Dalam hatinya ada rasa senang karena sejauh ini hubungan yang mereka jalani berjalan dengan baik. Sisil bisa menerima kalau sampai saat ini Dion belum mencintainya. Namun ia tetap bertekad untuk menjaga hubungan ini dan tidak mau menyerah begitu saja. Ia akan tetap berusaha melakukan yang terbaik sampai suatu hari nanti Dion akan bertekuk lutut pada cintanya. *** Jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul satu siang. Sisil beranjak mengambil tasnya dan tas yang berisi dokumen observasi Mama Dion. Taksi online yang dipesannya sudah menunggu di depan gerbang. Setelah berpamitan dengan Mama Dion, Sisil berjalan menghampiri taksi yang sudah menjemputnya. "Ke rumah sakit KD ya, Pak," ucap Sisil setelah masuk dan menutup pintu mobil. "Baik, Bu." Pak sopir melajukan mobil keluar dari komplek perumahan tempat tinggal Sisil dan Dion. "Siapa yang sakit, Bu?" tanya sang sopir. "Mertua saya, Pak," jawab Sisil pendek. Ia tak berniat melanjutkan percakapan. Tiga puluh menit berlalu akhirnya taksi yang ditumpangi Sisil tiba di tempat tujuan. Hati Sisil yang sebenarnya gundah berubah menjadi agak tenang. Sepanjang perjalanan, pak sopir mengajak Sisil mengobrol. Gurauan yang diucapkan pak sopir sanggup membuat Sisil yang awalnya berniat bungkam berubah menjadi ramah. Sisil melangkah masuk ke rumah sakit pusat kanker nasional. Suasana sudah mulai agak sepi karena pasien banyak yang datang ke tempat itu pada pagi hari. Sisil masuk ke lift dan naik ke lantai dua, tempat praktiknya Dokter Ryan. Ting Suara pesan dari ponsel Sisil berbunyi bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Setelah melangkah keluar dari lift ia membuka pesan yang ternyata dari suaminya. Dion [Maaf aku ngga bisa ke rumah sakit ya, Sil. Masih ada kerjaan yang belum selesai.] [Ok, Di.] Sisil membalas pesan itu dengan mengirimkan voice note. "Sus, apa saya bisa bertemu dengan Dokter Ryan?" tanya Sisil pada suster yang berjaga di depan ruangan yang di pintunya terpampang tulisan dr. Ryan Indrawan , Sp.OG (K) Onk. "Sudah bikin janji, Bu?" tanya sang suster. "Sudah, Sus. Nama saya Sisil," jawab Sisil. Suster berkacamata tersebut meninggalkan Sisil yang memilih untuk duduk di kursi tunggu. "Bu Sisil boleh masuk sekarang," ucap sang suster begitu ia keluar dari ruangan dokter Ryan. "Terimakasih, Sus." Sang suster menganggukkan kepala. "Hai, Dok," sapa Sisil ketika melihat dokter Ryan yang duduk di kursi kebesarannya. "Hai, Sil. Duduk," jawab dokter Ryan disertai dengan senyuman yang menambah tingkat ketampanannya. "Ini semua hasil observasinya, Dok." Setelah berbasa-basi sebentar kemudian Sisil menyerahkan beberapa amplop dari ukuran sedang sampai yang berukuran besar. "Ngga usah formal gitulah, Sil. Panggil aja aku Bang Ryan, kayak dulu." Ryan menerima amplop-amplop yang diserahkan Sisil. "Tapi 'kan sekarang udah beda, Dok," tolak Sisil. Sebenarnya ia juga merasa janggal memanggil pria itu dengan sapaan 'Dok' dan lebih suka memanggilnya dengan sapaan 'Bang’. "Udah, pokoknya panggil aku Bang Ryan aja. OK?" pinta Ryan setengah memaksa. Sisil mengangguk mengiyakan. Toh hanya sekedar panggilan, pikirnya. "Jadi hasilnya gimana, Bang?" tanya Sisil penasaran. Ryan diam dan masih berkonsentrasi melihat kertas-kertas yang ada di atas mejanya. Tak lama ia menggelengkan kepalanya. "Maaf, tapi ini sudah sangat terlambat, Sil." Ryan melanjutkan penjelasannya. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya membuat Sisil lemas karena menurut dokter tersebut, kanker yang diidap Mama Dion sudah mengalami penyebaran. Harapan untuk bertahan hidup pun makin tipis. "Iya, Bang. Menurut Dion, mama sempat menghindar dari pengobatan medis dan beralih ke pengobatan herbal," lirih Sisil. "Nah, jadi kanker itu kalau ketahuannya lebih awal maka kesempatan untuk sembuh masih tinggi, tapi kalau sudah ada metastase atau penyebaran seperti ini jadi sangat sulit. Namun kamu jangan terlalu khawatir. Kita tetap akan coba lakukan kemoterapi," saran Ryan. "Baiklah, Bang. Kami akan ikuti saran Abang. Semoga usaha kita berhasil," harap Sisil. "Amin," sahut Ryan sembari merapikan kembali kertas-kertas yang baru saja dibacanya. "Oh ya, Sil. Jam praktik aku sudah selesai. Bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu sambil ngopi?" ajak Ryan. Sisil berpikir sejenak. Mengingat ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Ryan akhirnya ia pun menyetujui ajakan pria tersebut. Setelah berkemas selama beberapa menit, Ryan sudah siap untuk meninggalkan ruang praktiknya. Pria tampan tersebut sudah berganti pakaian dengan pakaian kasual, kaos lengan panjang berwarna hitam dan jeans warna abu-abu. Penampilannya membuat Sisil berdecak kagum dalam hati. "Hei ... kenapa melamun? Kamu terpesona dengan ketampananku, Sil?" ujar Ryan sambil menggulung lengan bajunya hingga ke siku. "Hahaahha ... Bang Ryan masih seperti dulu ya, tingkat percaya dirinya ngga luntur. Menurutku sih Bang Ryan cocoknya jadi model aja," puji Sisil tulus. "Kamu orang yang ke sekian ribu ngomong gitu sama aku. Bahkan ada pasien yang udah sehat terus mau konsultasi biar ketemu sama aku," jawab Ryan sambil manggut-manggut. "Ya udah kita jalan sekarang yuk, Bang. Hari ini aku yang traktir." Sisil melangkah membuka pintu ruang praktik Ryan. "Aku aja yang traktir. Masa pria tampan dan mapan kayak aku ini membiarkan cewek cantik yang traktir?" tolak Ryan sambil menggoda Sisil. "Hmm ... ya udah kalo gitu. Aku terima deh," jawab Sisil. Dia tersenyum melihat tingkah Ryan yang tidak berubah setelah beberapa tahun tidak bertemu. Kedua teman lama itu melangkah meninggalkan lantai yang dikhususkan untuk poli onkologi. "Suami kamu kok ngga temenin kamu ke sini?" tanya Ryan sambil menekan tombol angka satu pada lift yang mereka tumpangi. "Biasalah, Bang. Dia masih ada kerjaan," sahut Sisil. "Sonya udah cerita sedikit tentang suami kamu itu," ucap Ryan lagi. "Jadi ternyata pria itu ya yang dulu buat kamu menolak cintaku, hmm?" selidik Ryan. Sisil tiba-tiba jadi merasa tak enak hati dan memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Ryan. 'Toh tak usah dijawab juga Ryan sudah tahu kan?' gumamnya dalam hati. "Aku jadi penasaran. Seperti apa sih dia tampangnya? Apa iya dia lebih tampan dari aku?" gumam Ryan. Sisil hanya tersenyum simpul sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Ting Lift yang mereka berdua tumpangi sampai di lantai satu. Ryan mempersilakan Sisil untuk keluar terlebih dahulu. Beberapa kali Ryan menyapa orang-orang yang lalu lalang di lobby. Ada dokter, perawat, juga cleaning service. Pria itu memang mempunyai kepribadian yang ramah dan mudah bergaul. Tak heran jika ia sangat dikenal oleh karyawan-karyawan yang bekerja di rumah sakit tersebut. "Ehm ... ini pasien apa pasien, Dok?" goda seorang suster yang kebetulan berpapasan dengan Sisil dan Ryan. "Pastinya dia bukan pasien saya, Sus. Tapi kalau dia mau konsultasi tiap hari gratis juga saya ngga bakalan menolak," jawab Ryan usil. "Wahhh ternyata udah ketemu tambatan hati ya, Dok? Yahh kecewa deh aku," jawab sang suster dengan pura-pura memasang wajah sedih. Ryan hanya tergelak mendengar jawaban ngaco dari suster tersebut. "Yang di rumah mau diapain? Awas nanti aku laporin kamu ke suamimu." Sang suster tertawa dan berjalan menuju ke apotek meninggalkan Sisil dan Ryan. "Heran sama emak-emak ini. Udah punya suami masih godain pria lain. Susah loh jadi orang tampan, Sil. Kemana-mana pasti ada yang suka." Ryan pura-pura mengeluh. Sisil menggelengkan kepalanya melihat sikap Ryan yang benar-benar berbeda dari beberapa dokter yang pernah ia temui sebelumnya. Ryan memesan taksi online via aplikasi yang ada di ponselnya. Hari ini mobilnya harus masuk bengkel untuk servis rutin. Selang beberapa waktu taksi yang dipesannya datang. Sisil duduk di jok belakang sementara Ryan duduk di jok depan. Seperti biasa, sepanjang perjalanan mulut Ryan tak berhenti berkicau. Tak hanya Sisil, pak sopir yang terlihat beberapa kali menguap ikut tertawa saat ia mengumbar humor garingnya.  Itulah Ryan, ia selalu bisa membuat suasana yang hidup menjadi lebih hidup. *** Di sebuah perkantoran di tengah kota, seorang pria sedang sibuk dengan tumpukan kertas yang berisi rencana-rencana proyek yang akan ditangani. Wajahnya terlihat lebih tampan walaupun ia sedang tenggelam dalam keseriusannya memeriksa setiap angka dan huruf yang tertera dalam tiap lembar kertas yang sedari tadi tertumpuk di atas meja kerjanya. Sesekali ia memijat pelipisnya karena merasa lelah. Tok tok tok Suara pintu kantornya terdengar. Belum sempat ia menjawab, seorang pria tinggi besar melangkah masuk dan duduk di depannya. "Masih sibuk aja, Bro," sapa pria itu. "Iya nih, Bar. Lagi ngecek berkas buat proyek terbarunya Pak Bos," jawab Dion. "Katanya hari ini ada janji mau nemenin istri ke dokter." Bara melanjutkan pembicaraan. "Gue bener-bener sibuk, Bar. Ini mesti selesai paling telat besok," sahut Dion. "Ada yang perlu gue bantu ngga nih?" tawar Bara. "Emang lagi kosong ngga ada kerjaan lu?" "Udah beres. Tadi laporan mingguan udah gue setor," jawab Bara. "Nih, bantuin gue cek berkas-berkas yang ini ya." Dion membagi tumpukan kertasnya dan memberikan kepada Bara. "Ngga sebanyak ini juga kali, Di," ujar Bara. "Kalo bantuin orang jangan tanggung-tanggung. Hitung-hitung nambah pahala," bujuk Dion. "Tapi ntar lu traktir gue makan ya," pinta Bara. "Nolongin orang itu ngga mesti ada imbalan," jawab Dion. "Gue bukannya mau imbalan. Gue males makan sendiri, Di." "Ohh ... jadi lu bantuin gue karena kesepian? Emang cewek lu kemana? Siapa tuh namanya? Dinda? Mila? Atau siapa gitu?" "Shinta. Dia putusin gue, katanya dia mau dijodohin sama anak temen papanya," lirih Bara. Wajahnya yang cemberut membuat Dion tertawa. "Hahaahha ... pantesan, tumben-tumben lu ikhlas mau bantuin gue. Akhirnya tau 'kan rasanya diputusin cewek trus mau ditinggal kawin?" Dion terkekeh melihat reaksi wajah Bara. "Udah, udah. Sesama pernah sakit hati karena mau ditinggal kawin harus saling mengormati." Bara menundukkan kepala mulai melihat berkas yang ada di depannya. 'Hahaahha, muka lu jangan sedih gitu dong. Gue jadi ngga bisa berenti ketawa ini," kekeh Dion. "Jangan banyak bacot deh. Ntar gue ngga jadi bantuin deh." Bara bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruang kerja Dion. "Ahh lu kayak cewek lagi PMS, ngambekan," ledek Dion. Bara kembali duduk dan membantu Dion memeriksa berkas-berkas yang diperlukan untuk proyek yang akan ditangani bos mereka, yang tak lain adalah pamannya Dion. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore ketika ponsel Dion berdering. Ia langsung mengusap layar dan menjawab panggilan tersebut. "Halo, Angel," sapa Dion. "Di, kamu lupa ya kita mau ketemuan hari ini?" tanya Angel begitu mendengar suara Dion. "Oh iya. Ya ampun aku lupa, Sil," jawab Dion sambil menepuk jidatnya pelan. Ia betul-betul lupa tentang janji yang ia buat dengan Angel semalam. "Aku tunggu di kedai kopi Senja ya, Di. Bisa kan?" pinta Angel. Ia benar-benar berharap Dion mau menemuinya. "Ok. Aku kesitu. Kamu kirim lokasinya ke aku ya," jawab Dion. Senyuman mengembang lebar di bibir Angel yang semakin hari semakin seksi. "Ok, aku share loc sekarang ya," sahut Angel dengan nada bahagia. "Ya. Nanti aku langsung jalan ke sana. Kamu tunggu aja ya." "See you, Di.” "Ya." Dion mematikan sambungan telepon. Bagaimana pun juga Angel adalah teman dan mantan kekasihnya. Tak sanggup ia menolak permintaan wanita itu. Apalagi mendengarnya sedang tertimpa masalah besar membuat Dion ikut merasa kasihan dan ingin menolong. "Bar, gue ada urusan mendadak. Gue harus ketemu sama seseorang, ngga bisa ditunda. Tolongin gue cek berkas-berkas ini ya. Kalo lu mampu semuanya juga boleh," ujar Dion sambil mengambil jas yang tersampir di atas kursinya. "Lah, ini kan kerjaan lu kok jadi gue yang kudu urus semua?" protes Bara. "Lu harus banyak kerja biar bisa lupa sama mantan lu itu, Bar,” nasihat Dion. "Alesan lu aja itu. Ya udah lu pergi aja. Gue lanjutin dulu semampu gue ya, Di." "Terimakasih, Bro. Lu memang rekan kerja gue yang paling baik deh. Besok gue temenin lu makan malam, sekalian gue traktir, ya." Dion bersiap-siap meninggalkan ruang kerjanya. Ia mengambil kunci mobil yang ada di laci dan berjalan tergesa-gesa keluar lingkungan kantornya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN