Ryan dan Sisil masuk ke sebuah kedai kopi yang di depannya ada plang bertuliskan Kedai Kopi Senja. Aroma kopi langsung memanjakan tiap pengunjungnya bila mereka memasuki kedai kopi tersebut. Ryan mengajak Sisil untuk duduk di kursi yang terletak di pojokan dekat kaca sehingga mereka bisa dengan bebas melihat keluar.
"Mau pesan apa, Pak, Bu?' tanya seorang gadis muda yang merupakan pelayan di kedai kopi tersebut.
"Black coffee 2, gula terpisah sama cheese cake 2 ya," pesan Ryan. Sang waitress mencatat pesanannya.
"Ada lagi yang mau ditambah, Bu?" tanya pelayan tersebut.
"Cukup, Mba," jawab Sisil. Sang pelayan beranjak meninggalkan mereka berdua.
"Bang Ryan masih inget aja menu favoritku," ucap Sisil.
"Iyalah, mana mungkin aku lupa. Aku 'kan ngga amnesia," gurau Ryan.
"Bang, aku mau tanya serius nih. Kira-kira chance mama untuk sembuh kira-kira gimana ya?" Sisil berubah ke mode serius.
"Kalo itu aku ngga bisa jawab, Sil. Kamu sama suamimu harus bisa membagikan semangat positif supaya Tante Mawar juga ikut semangat untuk berobat," jawab Ryan tak kalah serius. "Hidup dan mati itu di tangan Tuhan. Kita hanya bisa mengupayakan yang terbaik. Toh orang sehat juga bisa mati tiba-tiba," lanjut Ryan.
"Iya sih, Bang." Sisil manggut-manggut mendengar penjelasan Ryan yang tumben bisa serius.
"Ini pesanannya, Pak, Bu," ucap sang waitress sambil meletakkan pesanan di atas meja.
"Terimakasih, Mba," ucap Sisil. Pelayan tersebut mengangguk lalu meninggalkan Ryan dan Sisil. "Sekarang Abang yang cerita," ucap Sisil sambil menuangkan satu sachet gula ke dalam kopinya.
"Cerita apa?" tanya Ryan sambil menggedikkan bahunya.
"Cerita tentang pengalaman Abang jadi duda most wanted." Ryan terkekeh pelan mendengar gelar yang diberikan Sisil untuknya.
"Pokoknya jadi duda most wanted itu paling menyenangkan, kemana-mana pasti dapat penggemar." Ryan meniup kopinya yang masih panas dan menyeruputnya pelan sambil menghirup aromanya yang khas.
"Jadi Abang udah ada rencana menikah lagi?" Sisil mendelikkan matanya tak percaya.
"Sisil ... Sisil. Kamu itu memang belum paham tentang saya. Saya itu kalo udah sayang sama seseorang mana bisa langsung lupa. Jujur nih, sebenarnya saya itu cuma keliatan happy di luarnya saja. Tapi dalam hati ini pasti ada rasa sedih. Setiap malam saya harus selalu tidur berdua saja dengan Bimo. Belum lagi kalau dia nangis tiap malam minta s**u. Kasihan aku lihat Bimo, Sil. Tapi mau bagaimana lagi, saya ngga bisa langsung cari wanita lain untuk jadi ibu pengganti buat Bimo." Ryan menghembuskan nafasnya pelan. Raut wajahnya yang biasa ceria tiba-tiba berubah masam.
"Kok bisa sih Mba Miranda pergi secepat itu, Bang?" tanya Sisil penasaran.
"Miranda meninggal karena komplikasi eklampsia setelah melahirkan. Dia mengalami kejang tak berapa lama setelah melahirkan Bimo, lalu koma selama seminggu, dan akhirnya harus menyerah dan berpulang kepada Yang Maha Kuasa." Ryan memutarkan telunjuknya pada pinggiran gelas kopinya.
"Turut berduka cita ya, Bang," lirih Sisil pelan. Ia tak dapat membayangkan betapa sedih dan sepinya kehidupan yang harus dijalani Ryan.
"Dulu waktu mama jodohin aku dengan dia, aku menolak tegas. Sifat Miranda yang manja benar-benar tak sesuai dengan kriteria wanita pilihanku. Tapi seiring waktu berjalan, sifat manjanya itu membuatku jatuh cinta. Setelah hampir dua tahun pernikahan, akhirnya dia melahirkan seorang bayi buah cinta kami. Dia memang punya riwayat darah tinggi dan aku harus kehilangan dia secepat ini."
"Bang Ryan yang sabar, ya," hibur Sisil. Ryan tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Ia kembali menyesap kopinya lalu memotong cheese cake dan menyuapkannya ke dalam mulutnya. Keduanya pun terdiam sebentar.
***
Seorang wanita berbaju dress biru bermotif bunga tak berlengan memasuki Kedai Kopi Senja. Ia duduk di spot yang tak jauh dari pintu masuk. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.
[Aku udah di Kedai Kopi Senja. Aku tunggu kamu ya, Di.] Tak berapa lama pesan itu dibalas.
[Lima menit lagi aku sampai.]
Hati Angel berdetak tak karuan. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Dion setelah ia menikah dengan pria pilihannya. Tujuannya mengajak bertemu kali ini adalah untuk meminta maaf dan menceritakan persoalan pelik yang sedang dihadapinya. Ia tahu status Dion sekarang bukanlah pria single lagi. Tapi mau bagaimana lagi, Dion adalah satu-satunya pria yang pasti mau mendengarkan keluh kesahnya dan menolongnya.
"Mau pesan apa, Mba?" tanya waitress cantik yang tadi melayani Sisil dan Ryan.
"Pesannya nanti ya, Mba. Saya lagi nungguin teman saya," jawab Angel.
"Baik, Mba," sahut sang waitress lalu meninggalkan Angel.
Lima menit kemudian, Dion masuk ke Kedai Kopi Senja. Matanya langsung menangkap sosok Angel yang tentu saja masih cantik seperti dulu, malah lebih cantik.
'Hai, Angel," sapa Dion. Ia menarik kursi yang ada di depan Angel dan mendudukinya.
"Hai, Di," jawab Angel. Matanya berbinar melihat Dion yang makin hari makin tampan. Tubuhnya lebih berisi daripada dulu ketika masih kuliah. Rambutnya yang biasa dibiarkan agak berantakan saat ini terlihat rapi dan klimis karena sudah tersapukan gel. Kedua mantan kekasih itu saling bertatap lama lalu berjabat tangan, erat.
"Terimakasih ya kamu mau datang, Di," ujar Angel.
"Iya, kebetulan juga aku lagi ngga banyak kerjaan," bohong Dion. Dalam hati ia tersenyum mengingat Bara yang pasti masih sibuk mengecek tumpukan berkas-berkas.
Angel melambaikan tangannya kepada sang waitress.
"Pesan apa Bu, Pak?" tanya si pelayan.
"Black coffee tanpa gula, hot chocolate, sama cheese cake dan red velvet." Sang pelayan mencatat pesanan yang disebutkan Angel.
"Masih hapal sama pesanan favoritku?" tanya Dion sambil tersenyum
"Masih, Di. Seumur hidup pun aku tak akan pernah lupa. Kecuali kamunya yang berubah," jawab Angel sambil membalas senyuman Dion. "Maaf ya, Di. Aku sudah sia-siain kamu," lirih Angel. Dion hanya diam melihat Angel yang tertunduk seraya memainkan jari-jari yang dulu sering digenggamnya.
Angel mengangkat kepalanya dan memandang Dion, tepat di matanya. "Kamu udah maafin aku kan, Di?" tanya Angel.
Dion diam sambil menatap mata mantan kekasihnya itu. "Ya, aku sudah maafin kamu, Angel. Lagipula itu sudah lebih dari setahun. Aku bukan anak-anak yang suka menyimpan dendam. Jadi kamu tenang aja. Kita bisa tetap berteman. Aku juga sudah menikah," sahut Dion.
"Ini pesanannya Pak, Bu. Selamat menikmati," ujar si pelayan sambil meletakkan minuman dan cake sesuai pesanan Angel.
Kedua mantan kekasih itu terlibat dalam percakapan ringan sambil sesekali menyesap minuman dan menikmati kue yang mereka pesan. Dion melayangkan pandangan ke sekeliling dan tak sengaja melihat sesosok wanita yang begitu ia kenal. Walaupun wanita itu membelakanginya, ia tak akan salah. Itu adalah Sisil, istrinya, yang baru ia nikahi dua bulan lalu. Sisil terlihat sedang asyik berbincang dengan seorang pria tampan yang tak dikenal Dion. Sesekali Sisil tertawa mendengar perkataan dari pria tersebut. Dion terkejut saat pria itu mengusap ujung bibir Sisil dengan tisu yang tersedia di meja. Ada rasa tidak suka muncul di dalam hati Dion melihat pria itu memperlakukan Sisil seperti itu. Cemburukah Dion? Entahlah, yang pasti ia tiba-tiba merasa gerah dan kesal sendiri.
"Di, kamu itu lihatin apa sih?' tanya Angel. Sadar barusan melamun, Dion menggeleng kepalanya lemah. "Dari tadi aku mau ngobrol sama kamu, Di. Kamunya malah diem aja," rengek Angel.
"Kita pindah tempat yuk, Angel," ajak Dion.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Angel heran.
"Mau cari makanan berat. Perutku lapar," jawab Dion. Ia melambaikan tangan kepada pelayan.
Setelah membayar bill, Dion mengajak Angel keluar dari kedai kopi tersebut. Ia tak tahan terus-menerus melihat Sisil yang terlihat dekat dengan pria yang tak kalah tampan dari dirinya. Ia juga tak mau ambil resiko jika Sisil tiba-tiba melihatnya berdua dengan Angel di tempat itu. Mereka berjalan bersisian menuju mobil yang terparkir tepat di depan kedai.
Sisil yang duduk di pinggir jendela tidak sengaja menangkap sosok pria yang sedang berjalan dengan seorang wanita. Mana mungkin Sisil lupa, tadi pagi ia yang menyiapkan kemeja yang dipakai pria yang tak lain adalah Dion, suaminya. Dari kejauhan Sisil mencoba mengamati dan menebak siapa wanita yang berjalan bersama Dion. Dalam hati, ia berharap wanita itu adalah rekan kerja Dion. Namun saat wanita itu membalikkan badannya Sisil sangat terkejut. Ada rasa cemas dalam hatinya ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah Angel, mantan kekasih suaminya. Mata Sisil tak beralih sampai mobil yang ditumpangi kedua orang yang sangat dikenalnya itu hilang dari pandangannya. Untuk apa Angel datang kemari? Apakah Dion tahu kalau aku juga ada di sini? batin Sisil.
"Liatin apa sih, Sil?" tanya Ryan. Ia menggerakkan telapak tangannya di depan mata Sisil. Sejenak Sisil tersadar dan menunduk. "Ada apa?" tanya Ryan lagi.
"Ngga ada apa-apa, Bang," jawab Sisil. Ia pura-pura melihat jam yang melingkar di tangannya. "Pulang yuk, Bang. Sudah sore. Pasti mama udah nyariin." Sisil mengajak Ryan pulang. Suasana hatinya langsung tak karuan setelah melihat Dion dan Angel yang bertemu diam-diam di belakangnya.
"Ok deh, kita pulang. Bimo juga pasti sudah kangen sama aku." Ryan memanggil pelayan dan membayar pesanan mereka.
Ryan dan Sisil berjalan menuju taksi online yang sudah dipesan sebelumnya. Sisil sudah berkeras ia akan naik taksi sendiri, tetapi Ryan tetap memaksa Sisil untuk menaiki taksi yang ia pesan dan mengantarnya terlebih dahulu lalu pulang ke rumahnya. Padahal waktu yang dibutuhkan Ryan untuk sampai di rumahnya bisa menjadi dua kali lipat. Namun itulah Ryan, sebagai pria tampan dan dewasa ia ingin bersikap gentleman.
Beberapa waktu berlalu dan taksi yang mereka tumpangi sudah memasuki area perumahan tempat tinggal Sisil.
"Sil, kamu jangan lupa komunikasikan sama suamimu perihal rencana kemoterapi untuk Tante Mawar. Jelaskan juga sama dia tentang efek yang mungkin timbul," ucap Ryan ketika taksi tiba tepat di depan gerbang rumah Dion.
"Baik, Bang. Aku usahain dia nanti bisa ikut ketemu sama Bang Ryan. Aku juga mau dia mengerti keadaan mama," sahut Sisil sambil membuka pintu mobil. Ia melambaikan tangannya saat taksi yang barusan ia tumpangi perlahan meninggalkannya.
Pikiran Sisil masih berkecamuk mengingat Dion yang tadi bersama Angel. Ke mana mereka pergi? Apa yang mereka lakukan sekarang? Untuk apa mereka bertemu? Berbagai pertanyaan melintas dalam benaknya sambil melangkah kecil masuk ke dalam rumah. Dalam hati ia bertekad untuk menanyakan Dion mengenai hal ini. Semoga saja Dion tak akan berbohong, harapnya dalam hati.